LOGIN“Thalita, Thalita, apa selama ini kamu nggak pernah menyadari perhatianku ke kamu? Bukankah biasanya kamu selalu peka akan keadaan sekitar? Kenapa kamu nggak peka sama sekali dengan perasaanku?” Junior kembali mengungkap rasa. “Aku nggak pernah mengira bahwa kamu…” ucapan yang bersumber dari mulutnya kini terhenti. Wanita itu merasa tak enak hati karena banyak hal, salah satunya, ia tak menyadari bahwa orang yang selama ini selalu bersamanya memiliki perasaan padanya.“Hanya menganggap kamu sebagai sahabat?” Pria itu menyerobot cepat. “Dari awal aku kenal sama kamu, aku sudah kagum sama kamu, Ta. Kamu perempuan yang kuat, pintar, bertalenta, dan tentu saja kamu cantik. Banyak laki-laki yang suka sama kamu. Bisa dekat sama kamu sebagai sahabat saja aku sudah seneng banget, Ta. Tapi entah kenapa, perasaan suka dan cinta mulai bertumbuh di hatiku buat kamu. Aku berusaha selalu ada di samping kamu, agar kamu bisa lihat aku dan mempertimbangkan aku sebagai orang yang spesial. Tapi aku kal
Di sinilah Thalita berada sekarang… Thalita beradu pandang dengan Junior, sahabatnya. Yang tidak lain tidak bukan pemilik kamar apartemen di sebelah kanan huniannya. Walau jarang dihuni oleh Junior dan hanya sesekali datang saat butuh, pria itu tak akan dengan mudah menyewakan kamar apartemen tersebut pada orang asing. Junior juga sepertinya belum mengenal Baskara, pikir wanita berusia 24 tahun itu. “Kamu butuh uang?” desak Thalita penasaran. Wanita itu menopang dagu dengan mata yang terus tertuju pada lawan bicaranya. Thalita merasakan rasa ingin tahu yang besar. Ia tahu benar sikap dan sifat Junior yang telah lama dikenalnya. Tidak mungkin semudah ini menerima penawaran dari seseorang. Sangat susah untuk disuap. Ya seperti itulah… Junior bingung. “Maksud kamu apa, Ta?” “Kamu dulu pernah bilang, kamar apartemen yang ada di sebelah kamarku nggak akan kamu sewakan sama orang lain. Tapi kenapa sekarang Stefani yang menghuni kamar itu?” Thalita mengingatkan kembali memori lama.
Pikiran Thalita menerka-nerka. Siapa wanita bertubuh atletis di depan sana? Apakah mereka saling kenal? Apakah itu tetangga baru apartemennya?“Aku nggak akan tahu siapa dia kalau aku cuma nebak-nebak di sini. Aku akan tanya sendiri. Kalau misal dia orang jahat, aku akan langsung telepon security,” gumamnya sebelum membuka pintu. Kedua wanita itu saling bersitatap sebelum pada akhirnya Thalita buka suara. “Maaf, Anda siapa, ya?” “Jangan terlalu sungkan sama saya, Nona! Mulai hari ini saya adalah asisten anda. Nama saya Stefani. Saya ditugaskan oleh Pak Baskara untuk menemani dan menjaga anda ke manapun dan kapanpun.”Wanita di hadapannya memperkenalkan diri. Thalita masih tak percaya. Wanita cantik itu bengong mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Stefani padanya.“Tunggu. Kamu tunggu di sini dulu, ya. Jangan ke mana-mana!” pinta Thalita dengan memberi kode melalui hari telunjuknya pada Stefani untuk tetap berada di sana. Tak boleh beranjak sedikit pun. Langkah Thalita cepat
“Selamat ya, anda akan segera menjadi ibu.” Ucapan dokter yang memeriksa Thalita membuat pasangan muda di hadapannya saling bersilang pandang. “Anda nggak salah kan, Dok?” Thalita mencoba menepis. “Selama hampir dua puluh tahun saya menjadi dokter, pemeriksaan yang sudah saya lakukan selalu akurat dan tepat. Anda memang sedang hamil, Nona. Kandungan anda masih sangat muda. Mungkin sekitar 6 minggu. Selama trimester pertama, anda harus benar-benar menjaganya. Kurangi stres dan atur pola makan sehat dengan baik.” Thalita masih merasa hal ini tidaklah masuk akal. Pikirannya menerawang jauh.“Saat itu, aku nggak pakai pengaman. Wajar kalau saat ini kamu hamil.” Bisikan Baskara di telinga wanita cantik itu membuat kedua mata Thalita membola.Syok. Ya. Mana mungkin tidak?“Terima kasih, Dok.” Thalita hanya mampu menjawab demikian. Baskara dengan penuh ketulusan dan tanggung jawab segera membantu Thalita bangkit dari posisinya. Kedua muda-mudi tersebut keluar dari ruangan dokter denga
“Maaf, Nyonya. Saya—”“Thalita, kamu nggak perlu minta maaf. Memangnya kesalahan apa yang telah kamu perbuat sampai untuk menjawab saja kamu nggak sanggup?” cecar Seruni yang tanpa ia tahu membuat lawan bicaranya merasakan kegalauan luar biasa lebih dari sebelumnya.“Saya, saya jatuh cinta pada Mas Baskara karena… huweek, huweeek.” Rasa mual berat kini dialami Thalita. Ia merasa ada yang aneh pada dirinya. ‘Aku nggak mungkin hamil, kan? Mas Baskara selalu pakai pengaman kok,’ batin Thalita. Wanita itu mengelus dadanya untuk mendapatkan perasaan yang jauh lebih tenang. Punggung Thalita terasa hangat. Seruni mengelusnya lembut. Sungkan, kata inilah yang tepat menunjukkan ekspresi Thalita saat ini. “Nyonya—”“Nggak apa-apa, biasanya kalau saya mual atau masuk angin, suami saya selalu melakukan hal ini. Katanya akan membuat kita merasa aman, nyaman dan tenang. Apa hal itu juga kamu rasakan saat saya melakukannya?” Thalita mengangguk pelan. Namun rasa yang disebut sungkan itu masih ber
Seolah meminta persetujuan, Thalita menatap mata sang kekasih untuk sejenak sebelum memberikan jawaban. Baskara mengangguk mengijinkan. Ia tahu hari seperti ini akan datang. Mungkin inilah waktunya dua wanita berbeda generasi itu berbicara sesuatu yang lebih serius. “Nenek tidak akan lama mengajak Thalita pergi. Nenek hanya ingin membicarakan suatu hal dengannya. Kamu nggak keberatan, kan?” Seruni mengambil alih tindakan. Ia tahu gelagat pasangan muda di hadapannya yang saling memberikan kode satu sama lain. Baskara menggeleng cepat. “Aku nggak keberatan, Nek.”“Baiklah kalau begitu, terima kasih atas pengertianmu, Bas,” ucap Seruni sebelum meletakkan tangannya di lengan Thalita. “Ayo, Thalita!”Kini kegundahan meliputi hati Thalita. Baru kali ini Seruni melakukan hal intens padanya. Biasanya mereka hanya terlibat pembicaraan sepatah dua patah kata mengenai pekerjaan atau kegiatan Baskara di kantor. Kini, situasi dan kondisi sudah berbeda. Ada hal yang benar-benar penting di antara







