Mag-log in“Bu dokter, maaf ….” Dokter obgyn yang dipanggil itu menoleh ke arah perawat yang menyapanya. “Ada apa?” “Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bu dokter.” “Siapa?” tanyanya, sambil mengalihkan pandangan ke pintu. Pintu ruangan terbuka perlahan, menampilkan seorang pria berdiri di ambang. Sultan. Ia mengenakan jas putih, rapi, nametag dokter tersemat di saku dada. Dokter obgyn itu segera bangkit dari duduknya. “Ada yang bisa saya bantu, dok?” Matanya melirik sekilas nametag Sultan. “Oh … Dokter Sultan.” “Maaf kalau saya mengganggu waktu Anda,” ucap Sultan dengan nada profesional. “Apalagi saya datang tanpa membuat janji lebih dulu.” Dokter itu tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, dok. Kebetulan saya sedang kosong. Ada yang bisa saya bantu?” Sultan berdehem pelan, seolah menimbang kalimatnya. “Saya ingin meminta hasil cetak USG dari istri saya yang tadi siang. Saya harap itu tidak menjadi masalah.” Ia berhenti sejenak, sebelum kembali melanjutkan. “Saya juga tidak akan memberita
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya yang tak jauh dari ranjang pasien. “Em, dok,” Fairish lantas turun dari ranjang, meraih tas mahalnya yang diletakkan di atas meja. “Gak usah dicetak, saya gak terlalu butuh foto hasil USG-nya. Yang penting udah tahu jenis kelaminnya.” Dokter itu terdiam beberapa saat, karena baru pertama kalinya menemukan pasien yang menolak hasil USG-nya untuk dicetak. Sebagai kenang-kenangan mungkin. “Oh, Ibu yakin? Fotonya bisa Ibu simpan di dompet sebagai kenang-kenangan. Atau untuk ditunjukkan keluarga mungkin?” tanya dokter itu memastikan, tak ingin Fairish menyesal. Fairish tetap teguh, menggeleng tegas. “Nggak usah, dok. Karena saya mau kasih kejutan ke mereka. Meski saya sendiri penasaran juga,
“Pemandangannya bagus banget ya, Mas?” gumam Djiwa sambil menatap keluar jendela ruang kerja Radja di perusahaan. Gedung-gedung tinggi berdiri anggun di bawah cahaya siang, seolah menjadi latar sempurna untuk ketenangan yang jarang ia rasakan. Radja tak menjawab. Pria itu justru terus memperhatikan Djiwa yang duduk di atas pangkuannya, tanpa berkedip sedikit pun. Tatapannya tenang, dalam, seolah sedang menghafal setiap detail wajah wanita itu. Sudut bibir Radja terangkat samar. Cantik. Itu kata yang terlalu sederhana, tapi paling jujur. Wajah Djiwa terlihat lembut, hidungnya mungil namun mancung, bibirnya tipis dengan garis senyum yang menenangkan, dan matanya terlalu indah untuk sekadar dilewatkan. Djiwa akhirnya menurunkan pandangan. Ia mendapati Radja masih menatapnya seperti itu. Kedua tangannya reflek bertumpu di dada bidang pria tersebut. “Kenapa Mas ngelihatin Djiwa segitunya?” tanyanya pelan, senyum kecil tersungging di bibirnya. “Karena kamu cantik,” jawab Radja ringan
“Kai ….” lirih Fairish. “Buruan, Rish, ke rumah sakit. Atau hubungi dokter kandungan kamu sekarang,” suara Kaisar terdengar makin cemas, nyaris panik. “Atau biar aku yang hubungi dokter, aku minta dia datang ke rumah buat periksa kamu.” Lanjutnya, mencari solusi lebih baik daripada meminta Sultan untuk pulang. Tiba-tiba Fairish tertawa terbahak. Tawa yang sama sekali tak selaras dengan kepanikan di seberang sana. Kaisar mengernyit bingung. “Kamu masih sempat-sempatnya ketawa di kondisi kayak gini, Rish?” Fairish masih tergelak. “Aku tuh gak makan, Kai. Aku cuma nge-prank kamu.” Suaranya ringan, nyaris ceria. “Aku penasaran aja, gimana reaksi kamu kalau aku bilang makan nanas muda.” Ia berhenti tertawa, lalu tersenyum kecil. “Ternyata kamu segitu khawatirnya sama aku. Jadi makin sayang deh sama kamu.” Nada suaranya melembut. “Tenang, aku gak makan buah itu kok.” Di seberang sana, Kaisar menghela napas berat. “Kamu keterlaluan.” Suaranya terdengar ditekan. “Jangan pernah
“Ternyata yang licik di rumah ini bukan cuma aku,” gumam Inggrit dalam hati. “Yang punya anak tapi bukan anak kandung suaminya bukan cuma aku.” Wajahnya tetap datar, meski dadanya bergejolak. “Terlepas dari kehamilan Djiwa itu karena permintaan Kaisar atau bukan,” batinnya lagi, “pada intinya, anak yang dia kandung bukan darah Reinard. Jadi kehamilannya gak perlu diagung-agungkan berlebihan.” Inggrit memejamkan mata sesaat, lalu menghela napas panjang, seolah sedang menata ulang emosinya. “Tadi ada masalah di kamar Djiwa yang di lantai bawah,” Sekar membuka suara, menjawab pertanyaan Fairish. Nada bicaranya tenang, namun tajam. “Inggrit cemburu karena Radja terlalu perhatian pada Djiwa. Dan dia menuduh kalau anak yang dikandung Djiwa bukan anak Kaisar,” jelasnya tanpa ditutup-tutupi. Fairish membulatkan mata. Napasnya tercekat. “Bu-bukan anaknya Kaisar?” tanyanya terbata, wajahnya seketika memucat. Sekar mengedikkan bahu ringan. “Itu yang sedang Mami tanyakan sekarang. Mami sen
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok Inem berjalan ke meja rias, meraih sisir, lalu kembali menghampiri. Dengan gerakan lembut, ia menyisir rambut Djiwa, merapikannya agar tak lagi kusut akibat insiden tadi. Kamar itu kini sepi. Hanya mereka berdua. Radja, Inggrit, dan Sekar memilih menyelesaikan urusan di luar agar Djiwa bisa beristirahat dengan tenang. “Kepalanya sakit, Non?” tanya Mbok Inem pelan, jemarinya cekatan memijat pelipis Djiwa. “Biar Mbok pijetin, supaya gak pusing.” Djiwa menelan ludah pelan. “Terima kasih ya, Mbok. Tapi Mbok sendiri gimana keadaannya? Pasti sakit, kan, dijambak?” Tangannya terulur hendak memeriksa kepala Mbok Inem, namun cepat-cepat ditahan oleh wanita itu. “Mbok gak apa-apa, Non. Jangan kh







