MasukHai, jangan lupa, hari ini hari kamis(✿◠‿◠) Seperti biasa, ya˚₊· ͟͟͞͞➳❥ 𝐿𝒶𝓃ℊ𝒾𝓉 𝒫𝒶𝓇𝒶𝓂𝒶 ❥·˚₊୨୧
Begitu Sekar jatuh dengan tangan mencengkeram dada, Fairish langsung sigap memanggil ambulans, sementara Djiwa berdiri membeku beberapa detik sebelum akhirnya tersadar dan ikut membantu. Kaisar tidak ikut. Ia memilih tetap di mansion, menjaga Karin yang masih terbaring lemah—atau setidaknya terlihat seperti itu. Sultan tidak bisa dihubungi. Dan Radja jauh di Jerman. Lampu merah bertuliskan UGD menyala terang di atas pintu rumah sakit. Pintu dorong terbuka, lalu tertutup kembali dengan cepat saat tubuh Sekar dibawa masuk oleh tim medis. “Dok, pasien serangan jantung, tekanan turun!” terdengar suara panik perawat. Fairish berdiri tepat di depan pintu itu, napasnya masih memburu. Kedua tangannya mengepal tanpa sadar, menahan cemas yang terus merayap naik. Sementara itu di sudut ruang tunggu, Djiwa duduk sendiri. Tubuhnya lemas, bahunya turun, dan tatapannya kosong lurus ke depan. Air mata masih terus mengalir tanpa suara, seolah tak ada lagi yang bisa ia tahan. Semua terasa sepert
“Bagaimana kondisi menantu saya, Dok?” tanya Sekar begitu dokter kandungan yang ia panggil selesai memeriksa Karin. Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia melepas stetoskop dari telinganya, lalu mengalungkannya kembali ke leher dengan tenang. “Secara keseluruhan, kondisinya baik,” ujarnya akhirnya. “Tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Hanya kelelahan dan sedikit stres. Jadi Anda tidak perlu terlalu cemas, Nyonya.” Sekar mengangguk pelan, meski sorot matanya masih menyimpan kegelisahan. “Baik, Dok. Terima kasih.” Dokter itu tersenyum sopan sambil merapikan tas medisnya. “Kalau begitu saya pamit.” “Hati-hati di jalan, Dok,” balas Sekar. Pintu kamar itu terbuka sesaat, lalu kembali tertutup rapat. Di luar, Fairish dan Djiwa berdiri tak jauh dari sana. Keduanya terdiam, namun jelas menangkap setiap kata yang keluar dari dalam. Tak ada yang serius. Kalimat itu seharusnya menenangkan. Namun entah kenapa, justru membuat dada Djiwa terasa semakin sesak. Ia menunduk, menarik
“Jenis kelamin bayinya perempuan, ya, Pak, Bu,” ucap dokter obgyn itu lembut, matanya masih tertuju pada layar USG. Karin dan Kaisar saling menoleh hampir bersamaan. Ada jeda sesaat. Lalu senyum itu muncul pelan, tapi penuh. Keduanya sama-sama tidak pernah mempermasalahkan jenis kelamin sejak awal. Namun tetap saja, mendengar kabar itu secara langsung ada rasa hangat yang menjalar di dada. “Terima kasih banyak, Dok,” ucap Kaisar tulus. Dokter itu mengangguk, lalu mulai membersihkan gel di perut Karin dengan hati-hati. Setelahnya, ia membantu Karin untuk duduk perlahan. “Saya cetakkan hasilnya dulu, ya,” ujar dokter tersebut sambil berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Karin mengusap perutnya pelan, senyum tipis masih terukir di wajahnya. Sementara Kaisar tak bisa berhenti menatap layar yang tadi menampilkan bayinya. Beberapa saat kemudian, dokter kembali dengan selembar hasil cetakan. “Ini, bisa disimpan sebagai kenang-kenangan,” ucapnya sambil menyerahkan kertas itu. Ka
“Kalau anaknya laki-laki, kamu mau kasih nama siapa, Mas? Masih Adipati, kayak yang pernah kamu bilang dulu?” tanya Fairish sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit. Sultan hanya bergumam singkat tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Hm.” Fairish mendengus pelan, sedikit kesal. “Mas, bisa simpan dulu gak HP-nya?” Sultan melirik sekilas. “Ada yang sedang saya urus, Rish.” “Soal rumah sakit? Atau lagi baca jurnal medis?” cecar Fairish, nada suaranya mulai terdengar tidak sabar. Tanpa menjawab lebih jauh, Sultan meletakkan ponselnya di atas nakas. “Saya ke kamar mandi sebentar.” Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Pintu tertutup. Fairish melirik ke arah pintu kamar mandi, lalu kembali pada ponsel di atas nakas. Tangannya terulur perlahan, ragu—namun rasa penasaran mengalahkan segalanya. Ting. Satu notifikasi masuk. Jantungnya seketika berdegup lebih cepat. “Dia chat-tan sama siapa sih dari tadi?” gumamnya pelan. Ia mengambil ponsel itu, matanya
“Kamu bener-bener mau pergi, Mas?” suara Djiwa terdengar tertahan pagi itu, saat melihat Radja sudah berdiri rapi dengan setelan kerjanya, satu koper berukuran sedang berada di samping kaki pria itu. Radja hanya mengangguk singkat. “Iya, sayang. Ada hal penting yang harus saya urus di sana.” Djiwa menggeleng pelan, langkahnya mendekat. “Aku udah bilang semalem, jangan pergi,” ucapnya pelan, namun sarat penekanan. Satu alis Radja terangkat tipis. “Kamu tidak paham arti ‘penting’, hm?” Kalimat itu membuat dada Djiwa terasa semakin sesak. “Berapa lama?” tanyanya lagi, kali ini suaranya bergetar. “Saya belum tahu. Tidak bisa dipastikan.” “Sepuluh hari kayak biasanya?” Djiwa mencoba menebak, meski hatinya menolak jawaban itu. Radja menggeleng pelan. “Bisa lebih.” Hening sejenak. Djiwa menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan diri yang mulai runtuh. “Aku ikut,” ucapnya tiba-tiba. “Aku harus pastiin kamu baik-baik aja di sana.” “Djiwa ….” sua
“Akhir-akhir ini kamu kelihatan, menyimpan sesuatu,” ucap Kaisar pelan malam itu. Suaranya tenang, tapi cukup tajam untuk menembus diam yang dibangun Karin. “Kamu takut?” Karin yang sejak tadi duduk termenung di tepi ranjang hanya menggeleng pelan, meski jemarinya saling menggenggam gelisah di atas pangkuan. “Jangan seperti itu,” lanjut Kaisar, kini menoleh sepenuhnya ke arahnya. “Kalau ada apa-apa, kamu harus cerita sama saya.” Hening sejenak. Karin akhirnya menoleh, menatap suaminya dengan sorot mata yang sulit ditebak—campuran antara ragu dan sesuatu yang lebih dalam. “Kalau aku takut …,” suaranya lirih, hampir seperti berbisik, “Kamu mau lindungin aku?” Kaisar tak ragu. Tangannya terulur, menyentuh perut istrinya dengan lembut, seolah memberi rasa aman. “Tentu saja,” jawabnya tegas. Tatapan Karin melembut, namun ada kegelisahan yang tak sepenuhnya hilang. “Kamu harus janji, ya,” lanjutnya, menatap Kaisar lekat-lekat. “Lindungin aku dari apa pun itu.” Kaisar mengangguk ta
Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama
“Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.
“Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radj
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok







