LOGINNarendra mengusap wajahnya pelan begitu panggilan vidio dari Aluna tersambung. Wajahnya tampak lelah setelah beberapa hari memikirkan Ratu, ditambah pikirannya yang tak kunjung tenang. “Kamu udah gak punya waktu lagi buat aku, Ren,” keluh Aluna tanpa basa-basi. Bibirnya mengerucut kecewa. "Kamu lagi gak ada jadwal terbang, kan? Tapi beberapa hari ini kamu hampir gak pernah ngabarin aku. Chat dibalas lama, telepon juga susah.” Narendra menghembuskan napas panjang. “Maaf. Akhir-akhir ini keadaan di rumah memang lagi kacau. Ratu pergi dari rumah beberapa hari lalu. Sampai sekarang belum mau pulang.” Narendra menatap kosong ke luar jendela kamarnya. “Kami semua sempat mencarinya ke mana-mana. Mommy bahkan syok sampai harus dirawat di rumah sakit. Dan ... sampai sekarang masalahnya juga belum benar-benar selesai.” Aluna terdiam sesaat, tetapi ekspresi iba yang biasanya menghiasi wajahnya tak muncul. Sebaliknya, ia menghembuskan napas pelan. “Menurut aku ... adik kamu berlebihan, deh.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada adik saya?” desis Narendra dengan rahang mengeras. Sankara tidak bereaksi berlebihan, tatapannya tetap tenang menatap kakak kekasihnya itu. Narendra justru semakin emosi melihat ketenangan tersebut. “Karena kamu, Ratu memilih kabur dari rumah! Karena kamu, dia lebih memilih tinggal di apartemen laki-laki yang baru dikenalnya dibanding pulang ke keluarganya!” Cengkeramannya semakin kuat. “Jangan bilang kamu tidak sedang mendoktrin dia. Jangan bilang kamu tidak sedang memanfaatkan keadaan adik saya yang sedang rapuh.” Koridor apartemen seketika dipenuhi ketegangan. Namun Sankara sama sekali tidak berusaha melepaskan tangan Narendra. Ia membiarkan kerah bajunya dicengkeram, bahkan ekspresinya tetap setenang biasanya. “Saya mengerti kenapa Mas marah.” Kalimat datar itu justru membuat Narendra mengernyit. “Saya juga seorang laki-laki. Kalau saya berada di posisi Mas, mungkin saya akan melakukan hal yang sama demi adik saya.” Narendra mendengu
Usai menyelesaikan makan malam bersama Mahatma, Kaisar, Karin, dan Bianca, Sankara akhirnya berpamitan lebih dulu. Meski jamuan makan malam itu diawali dengan kesalahpahaman yang cukup memalukan, suasananya berakhir jauh lebih hangat dari yang ia bayangkan. Kini mobilnya melaju membelah jalanan kota yang masih dipadati kendaraan. Cahaya lampu jalan dan deretan gedung tinggi silih berganti memantul di kaca depan mobil. Tatapan Sankara tetap lurus ke depan, fokus pada kemudi. Tepat ketika lampu lalu lintas berubah hijau, ponsel yang terhubung dengan sistem mobil berdering. Sebuah nomor asing muncul di layar. Keningnya berkerut tipis. “Siapa?” gumamnya pelan. Tanpa berpikir lama, ia menekan tombol penerima panggilan melalui setir. “Halo, selamat malam.” Beberapa detik kemudian, suara berat dari seberang membuat Sankara langsung mengenalinya. “Maaf mengganggu waktumu malam-malam begini, Nak.” Sankara sedikit meluruskan duduknya. “Om Radja. Selamat malam, Om. Ada yang bisa saya b
“Selamat malam, Om, Tante,” sapa Sankara sopan begitu memasuki ruang makan. Ia menganggukkan kepala kepada Kaisar dan Karin, lalu mengalihkan pandangannya pada perempuan muda yang duduk di samping Karin. “Halo.” Bianca membalas dengan senyum ramah. “Hai, Mas.” Suasana sempat dipenuhi keheningan singkat. Di sisi lain meja, Mahatma memperhatikan interaksi keduanya dengan senyum puas yang perlahan melebar. “Nah, akhirnya bertemu juga,” ujarnya santai. “Kenapa jadi canggung begitu? Apa karena ada orang tua di sini?” Sankara mengalihkan pandangan kepada ayahnya. “Tentu saja canggung, Pa. Ini pertama kalinya kami bertemu.” Ucapan itu membuat senyum Mahatma perlahan memudar. “Pertama kali?” ulangnya pelan. “Iya.” Mahatma mengernyit semakin dalam. “Kalau begitu ... selama ini kalian dekatnya bagaimana? Lewat telepon saja?” Kini giliran Bianca yang tampak kebingungan. Perempuan itu menatap Mahatma, lalu bergantian melihat Sankara. “Maaf, Om ...,” ucap Bianca hati-hati. “Maksud Om a
“Mas ...?” Suara Ratu membuyarkan lamunan Sankara. Gadis itu menatapnya penuh tanda tanya setelah melihat perubahan raut wajah pria di hadapannya. “Ada apa?” Sankara menghembuskan napas pelan. Jemarinya mematikan layar ponsel, lalu memasukkannya kembali ke saku celana. “Papa menghubungi saya. Beliau mengajak makan malam, dan ada sesuatu yang ingin beliau bicarakan.” Ratu tersenyum tipis. “Kalau begitu, Mas dateng aja.” Sankara tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju pada Ratu. Sejak pagi ia meninggalkan gadis itu sendirian di apartemen. Kini, baru beberapa saat mereka bersama, ia harus pergi lagi. Entah mengapa ada rasa bersalah yang menyelinap di hatinya. “Saya tidak enak meninggalkan kamu lagi.” Ratu menggeleng pelan, raut wajahnya melembut. “Gak usah mikirin aku terus, Mas. Aku baik-baik aja. Sekarang aku juga udah jauh lebih tenang dibanding semalam.” Ia bahkan tersenyum kecil, berusaha meyakinkan pria itu. “Sana temui Papa Mas, jangan sampai beliau menunggu.”
Malam mulai menyelimuti kota. Aroma masakan hangat perlahan memenuhi apartemen Sankara.Seorang asisten rumah tangga yang datang setiap pagi dan sore untuk menyiapkan makanan serta merapikan apartemen baru saja selesai menata hidangan di atas meja makan.Ia menghampiri Ratu yang masih duduk diam di ruang keluarga. “Non, makan malamnya sudah siap,” ucap wanita paruh baya itu dengan ramah. “Silakan dimakan sebelum dingin.”Ratu yang sejak tadi melamun perlahan mengangkat kepalanya. “Iya, Bi,” balasnya sambil tersenyum tipis. “Tapi saya tunggu Mas Sankara dulu.”“Baik, Non.”Setelah pembantu itu kembali ke dapur, Ratu melirik ke arah lorong kamar.“Kayaknya Mas belum keluar juga.”Ia bangkit dari sofa, lalu melangkah pelan menyusuri lorong apartemen. Sesampainya di depan kamar utama, Ratu mengetuk pintu dua kali.Tok. Tok. Tok.Tak ada jawaban.“Apa gak denger, ya?”Perlahan ia memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. “Mas ….”Baru satu langkah memasuki kamar, suara pintu kamar






