LOGINSebuah sedan putih perlahan memasuki halaman luas kediaman keluarga Reinard. Mobil itu berhenti tepat di depan teras utama. Pintunya terbuka. Aluna turun dengan langkah tergesa, masih mengenakan pakaian kerja yang belum sempat ia ganti. Wajah cantiknya terlihat lelah, tetapi sorot matanya dipenuhi tekad. Selama beberapa hari terakhir, Narendra benar-benar menghilang dari hidupnya. Tak ada balasan pesan. Tak ada panggilan telepon. Bahkan, hubungan mereka telah diakhiri hanya dengan beberapa kalimat yang masih terus terngiang di kepalanya. Aluna mengepalkan kedua tangannya. “Aku gak bisa nyerah sampe di sini, aku harus ketemu Naren malam ini. Aku harus jelasin semuanya.” "Kalau dia denger penjelasan aku, pasti dia mau kasih aku kesempatan lagi.” Ia menarik napas panjang, lalu melangkah menaiki anak tangga menuju teras rumah. Namun, belum sempat jarinya menyentuh bel pintu. Pintu utama justru terbuka dari dalam. Aluna sontak menghentikan langkah. Di hadapannya, berdiri seluruh an
Malam itu, Sankara mengenakan setelan jas navy yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambutnya tertata rapi, sementara jam tangan klasik di pergelangan kirinya semakin menambah kesan elegan. Tatapan pria itu yang semula tertuju pada Radja perlahan beralih. Begitu melihat Ratu muncul dari balik lorong bersama Djiwa, sorot matanya seketika melembut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Tak mencolok. Namun cukup untuk membuat jantung Ratu kembali berdebar. Di sisi lain, Mahatma ikut menoleh. Pria paruh baya itu berdiri lebih dulu ketika melihat Djiwa dan Ratu menghampiri. Sementara Radja yang sejak tadi menemani kedua tamunya segera melangkah mendekati istri dan putrinya. Di belakangnya, Regan dan Narendra turut berdiri. Malam itu, keduanya mengenakan setelan jas gelap yang serasi, memancarkan wibawa khas keluarga Reinard. Regan lebih dulu mengulas senyum tipis kepada adiknya. “Sudah siap?” Ratu tersenyum gugup sambil mengangguk kecil. “Semoga.” Narendra yang
Di kediaman keluarga Reinard juga dipenuhi suasana yang tak kalah sibuk. Beberapa pelayan menata ruang tamu dan ruang makan, memastikan semuanya siap menyambut tamu istimewa malam itu. Sementara itu, di kamar lantai dua, Ratu berdiri di depan cermin besar dengan gaun berwarna krem lembut yang membalut tubuhnya anggun. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan ujung yang dibuat bergelombang, sementara riasan tipis di wajahnya justru semakin menonjolkan kecantikannya. Entah sudah berapa kali ia mematut diri. Sesekali merapikan anak rambut. Sesekali memeriksa lipstiknya. Lalu kembali mengamati keseluruhan penampilannya. Djiwa yang sedari tadi memperhatikan tingkah putrinya hanya bisa tersenyum geli. “Kalau kamu berkaca terus, nanti cerminnya yang minder.” Ratu langsung menoleh. “Mommy,” ia berjalan mendekati sang ibu dengan raut wajah penuh harap. “Jujur, ya. Aku udah cantik belum?” Tatapannya turun meneliti dirinya sendiri. “Apa lipstiknya terlalu tebel? Blush on-nya kebanyaka
Sore mulai merambat menuju malam. Di kediaman Mahatma, suasana rumah tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa pelayan hilir mudik menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah keluarga Reinard malam ini. Di ruang keluarga, Mahatma yang telah rapi mengenakan setelan jas hitam klasik sesekali melirik arloji mahal di pergelangan tangan kirinya. Alisnya berkerut tipis. “Sankara,” suara pria paruh baya itu menggema hingga ke lantai atas. “Berapa lama lagi?” Tak ada jawaban. Beberapa detik berlalu, keadaan tetap hening. Mahatma mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya memutuskan menaiki tangga menuju kamar putra tunggalnya. Tok. Tok. Tok. Tak menunggu jawaban, ia memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Pemandangan di dalam kamar membuat sudut bibirnya langsung terangkat. Sankara berdiri di depan ranjang dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya berpindah-pindah dari satu setelan jas ke setelan jas lain yang berjajar rapi di atas kasur. Ada jas hitam, abu-abu, navy,
“Kalian lahir sebelum Daddy dan Mommy menikah.” Narendra membeku di tempat, tatapannya kosong menatap ayahnya. Sementara Regan masih mempertahankan ketenangannya, meski jemarinya perlahan mengepal di bawah meja. Radja menarik napas panjang. “Artinya secara hukum dan agama saat itu, kalian memang lahir sebelum pernikahan Daddy dan Mommy berlangsung.” Ia menundukkan kepala. “Daddy minta maaf. Maaf karena kalian harus menerima kenyataan ini. Maaf karena sejak lahir, Daddy sudah mewariskan beban yang seharusnya tidak pernah kalian tanggung.” Djiwa yang sejak tadi menahan tangis akhirnya tak mampu lagi. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. “Maafkan Mommy …,” suara wanita itu bergetar hebat. “Mommy juga bersalah. Mommy yang egois. Mommy yang memilih tetap bersama Daddy. Dan karena keputusan Mommy, kalian bertiga harus menanggung akibatnya sampai sekarang.” Tangisnya pecah, kedua tangannya menutupi wajah. “Maaf … maafkan Mommy.” Ratu ikut menangis di kursinya. Melihat ibunya kemba
Ratu terdiam beberapa saat, tatapannya perlahan menunduk. Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya setiap kali mengingat hari itu. Namun kali ini, ia tidak ingin lagi lari. Perlahan ia mengangkat wajahnya. “Aku bakal cerita, Mas. Tapi …,” ia menggeleng pelan. “Bukan sekarang.” Narendra mengernyit tipis. “Kenapa?” “Karena ini bukan cuma tentang aku.” Tatapan Ratu berubah sendu. “Ada Daddy sama Mommy juga di dalam cerita itu. Aku gak berhak menjelaskan semuanya sendirian.” Narendra memandang adiknya lekat-lekat. Sementara Ratu melanjutkan dengan suara yang nyaris berbisik, “Nanti kalau Mas Regan udah pulang, kita berkumpul berempat sama Daddy dan Mommy.” “Di situ, Daddy dan Mommy akan ceritain semuanya langsung ke Mas sama Mas Regan.” Ratu tersenyum tipis, meski matanya kembali berkaca. “Tapi aku cuma minta satu hal.” Narendra menunggu. “Tolong … dengerin semuanya sampe selesai. Jangan langsung marah. Jangan langsung menyalahkan Daddy sama Mommy.” Kalimat itu membuat Narend







