共有

BAB 262

作者: Langit Parama
last update 公開日: 2026-02-19 07:00:58

“Mama benar-benar tidak mengerti dengan masalah yang terjadi di keluarga Sultan, Pa,” ucap Linda pagi itu, sambil mengaduk teh hangatnya saat mereka sarapan di rumah.

Hanum menghela napas panjang. “Tidak usah terlalu dipikirkan. Keluarga kita sendiri juga tidak lepas dari masalah.”

“Masalah anak kita pun melibatkan laki-laki dari keluarga itu,” balas Linda pelan sambil menggeleng. “Rasanya, akar persoalannya memang ada pada mereka, bukan sepenuhnya pada Fairish.”
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (11)
goodnovel comment avatar
niayaya
jangan2 kakeknya djiwa blm meninggal tp lg diumpetin dulu sm Radja biar aman. sepertinya ada yg mngincar nyawa kakeknya djiwa. aku mau berpikir bgtu aja ah aku GK mau mikir Radja bunuh kakeknya djiwa nggak nggak jangan smpe lah Thor...
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklanya buat emosi
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
kemana kira2 jiwa ya
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 525

    “Kamu … apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Djiwa dingin, tatapannya lurus menembus Bagas di hadapannya. Ada jarak yang tiba-tiba tercipta, bukan sekadar antara mantan guru les dan orang tua murid, tapi sesuatu yang lebih tajam lebih berhati-hati. Bagas tampak sedikit terkejut. Apalagi saat beberapa detik sebelumnya, Djiwa dengan refleks meraih tangan Ratu dari genggamannya—seolah sedang menarik anaknya menjauh dari sesuatu yang berbahaya. Padahal mereka saling mengenal. Karena sebelumnya dia sudah mengajar tiga anak kembar itu beberapa bulan. Namun sebelum Bagas sempat membuka suara, Ratu sudah lebih dulu berbicara dengan wajah berbinar. “Mommy, ini Kak Bagas. Dia jadi guru sekarang di sekolah Ratu. Ngajarnya juga di kelas Ratu!” Djiwa menelan ludahnya pelan. Sorot matanya sempat turun ke seragam yang dikenakan Bagas, rapi, lengkap, tak terbantahkan. Ia sebenarnya sudah tahu jawabannya, seragam itu sudah menjelaskan semua. Namun entah kenapa, pertanyaan itu tetap keluar. “B

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 524

    “Kak … Kak Bagas?” lirihnya. Di sana, beberapa meter di depannya—seorang pria berdiri mengenakan seragam guru SD Lumina, rapi dan profesional. Bagas. Tanpa berpikir panjang, Ratu langsung berlari. “Kak Bagaaaas!” teriaknya nyaring, menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Bagas yang semula sedang berbincang dengan salah satu guru menoleh cepat. Dan detik berikutnya, tubuh kecil itu sudah menabrak pelukannya. Memeluknya erat. Bagas sedikit terkejut, namun refleks tangannya membalas pelukan itu. “Ratu?” ucapnya pelan. Bocah itu mendongak, matanya sudah berkaca-kaca. “Kak Bagas balik?” suaranya bergetar, antara bahagia dan tak percaya. Di belakangnya, Regan dan Naren berhenti melangkah. Keduanya saling berpandangan. Lalu menatap ke arah Bagas yang kini berdiri di tengah lobi sekolah mereka sebagai seorang guru. _____ “Saya cukup terkejut setelah mendapatkan informasi itu, Pak,” ucap Arga siang itu, berdiri di hadapan meja kerja Radja. “Apa ini ada hubungannya dengan kec

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 523

    Pagi itu, Djiwa terbangun di kamarnya karena cahaya matahari yang menyusup dari celah tirai yang sedikit terbuka. Hangatnya sinar itu jatuh tepat di wajahnya, memaksanya membuka mata perlahan. Tubuhnya masih terbalut selimut tebal. Refleks, ia menoleh ke kanan dan kiri. Kosong. Tak ada sosok Radja di sana. Keningnya berkerut. Ingatannya kembali pada semalam—pelukan hangat itu, tangis yang pecah, dan dirinya yang akhirnya tertidur di ruang kerja. “Mas Radja …,” gumamnya lirih. Lalu ia menghela napas pelan. “Jadi dia gak tidur sama aku?” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Apa dia balik lagi ke ruang kerja setelah anter aku ke sini?” Djiwa mendengus pelan, menahan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang. “Aku kira dia udah maafin aku setelah peluk aku semalem,” lanjutnya pelan. “Tapi ternyata belum tentu.” Senyum tipis terukir di bibirnya, pahit. Seolah ia terlalu cepat berharap. _____ Di sisi lain, Radja sudah tampil rapi dengan setelan kerjanya. Kem

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 522

    Lampu ruang kerja itu redup, hanya menyisakan cahaya dari layar laptop yang memantul di wajah Radja. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, seolah dunia di luar ruangan itu tak lagi penting. Tok. Tok. Tok. Tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka. Radja tidak langsung menoleh. Sementara Djiwa berdiri di ambang pintu, napasnya tertahan sejenak. Ia mengenakan kimono tipis berwarna lembut, rambutnya terurai, langkahnya pelan namun pasti saat masuk ke dalam. Ia mendekat. “Aku ganggu?” tanyanya pelan, tapi jelas. Radja tetap fokus pada layar. “Kalau sudah masuk ke sini, untuk apa tanya lagi?” Djiwa menarik napas dalam, menahan sesuatu di dadanya. Ia berdiri di sisi meja kerja, menatap suaminya lekat. “Kamu sengaja, ya?” ucapnya tiba-tiba. Baru kali ini jari Radja berhenti. Namun kepalanya belum terangkat, tatapannya fokus pada layar laptop. “Sengaja apa?” tanyanya dingin. Djiwa mendengus pelan. “Cari guru les perempuan, cantik lagi.” Akhirnya Radja menoleh. Tatapannya lurus.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 521

    “Kenapa Ratu gak ikut les, ya?” tanya Naren begitu sesi belajar mereka selesai. Ia menoleh ke arah kakaknya yang tengah merapikan buku-bukunya ke dalam tas. “Mungkin adek lagi gak enak badan,” jawab Regan tenang, meski sorot matanya menyiratkan keraguan. “Ayo kita ke kamarnya. Kita lihat sendiri.” Naren mengangguk cepat. Keduanya bergegas menaiki tangga menuju lantai dua, langkah kaki mereka terdengar ringan namun penuh rasa penasaran. Setibanya di depan kamar Ratu, pintunya terbuka sedikit. Regan mendorongnya perlahan. Di atas ranjang, mereka menemukan Ratu meringkuk, tubuh kecilnya memeluk bantal. Wajah mungil itu tampak pucat, dengan jejak air mata yang sudah mengering di pipinya—tanda bahwa ia telah menangis cukup lama tanpa ada yang menemani. Naren langsung mendekat, menempelkan punggung tangannya ke kening sang adik. “Gak panas, Mas,” gumamnya pelan. Regan menghela napas panjang, dadanya terasa sesak melihat kondisi adiknya. “Apa karena tadi pagi?” ucapnya lirih. Naren m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 520

    Drrtt. Ponsel di atas nakas bergetar, membuat Bagas langsung meraihnya dengan sedikit malas. “Halo?” “Bagas, ini aku. Bulan depan aku mau nikah, dan banyak yang harus aku siapin.” Bagas menghela napas panjang, berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. “Terus … urusannya sama aku apa?” “Kamu lagi sibuk, gak?” tanya suara di seberang sana. “Langsung aja,” potong Bagas datar. Terdengar kekehan kecil dari seberang. “Gantiin aku satu setengah bulan ke depan buat ngajar, ya.” “Ngajar di mana?” tanya Bagas, masih terdengar biasa saja. “SD Lumina. Tenang, anak-anaknya gampang diatur. Orang tuanya juga tipe yang serius soal pendidikan.” Bagas yang semula bersandar santai, langsung berubah posisi. Ia duduk tegak. “Lumina?” ulangnya, kali ini lebih pelan. “Hm, Lumina. Bantuin kakakmu ini, ya, dek. Siapa tahu kalau kinerjamu bagus, kamu bisa dilirik kepala sekolah. Lumayan buat nambah pengalaman.” Bagas terdiam. Lumina. Nama itu terlalu familiar, sekolah tempat anak-anak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 131

    “Djiwa nggak mau, Mas.” Suara Djiwa terdengar pelan, namun tegas. Tatapannya lurus ke depan, menolak menoleh. Radja melirik singkat ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan. “Maksudnya?” “Djiwa gak mau ke dokter obgyn. Apalagi USG untuk tahu jenis kelamin anak ini.” Sudut bibir Radja terangka

    last update最終更新日 : 2026-03-24
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 127

    “Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya

    last update最終更新日 : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last update最終更新日 : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 112

    Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama

    last update最終更新日 : 2026-03-23
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status