Se connecter“Kamu pikir saya tidak bisa mengenali kamu,” ucap Radja sambil melangkah maju satu langkah, membuat Djiwa refleks mundur hingga punggungnya nyaris menyentuh daun pintu toilet. Pikiran Djiwa kacau. Kepalanya dipenuhi satu pertanyaan yang berputar-putar tanpa jawaban, bagaimana Radja bisa tahu? Radja berhenti tepat di hadapannya. Terlalu dekat. Tubuh besar pria itu mengurungnya, menyisakan ruang sempit yang membuat napas Djiwa semakin sesak. Djiwa menunduk, jemarinya gemetar. Ia tak sanggup menatap wajah itu. “Sudah lima tahun,” suara Radja rendah, tertahan, “Dan kamu pikir saya lupa seperti apa wajah istri saya?” Jantung Djiwa berdegup kencang, begitu keras hingga terasa menyakitkan. Lututnya melemas. “Istri saya,” lanjut Radja, suaranya bergetar namun sarat tekanan, “Perempuan yang sangat saya cintai. Mustahil saya tidak mengenalinya. Bahkan hanya dari punggungnya.” Radja mendekat setengah langkah lagi. “Ganti warna rambut. Potong pendek. Pakai topeng sekalipun,” rahan
“Radja, ada apa kamu datang ke sini?” tanya Satya. Nada paniknya gagal ia sembunyikan. Tatapannya sempat melirik sosok perempuan yang masih berdiri kaku di depan meja kerjanya. Radja tak langsung menjawab. Pandangan pria itu terkunci pada wanita yang berdiri hanya satu langkah darinya. Ia menatapnya dari atas sampai bawah. Blazer abu-abu membingkai tubuh rampingnya, rok mini ketat senada menegaskan siluet kakinya. Rambut pendek pirang itu terasa asing, tapi yang jelas bukan sekretaris Satya yang tadi terlihat di depan ruangan. Siapa dia? Di sisi lain, tubuh Djiwa menegang hebat. Kepalanya tertunduk dalam, seolah ingin menghilang. Lututnya terasa lemas, dadanya berdegup cepat tak beraturan. Telapak tangannya basah oleh keringat dingin yang merayap pelan. Tidak. Dia tidak boleh ketahuan ada di sini. Ia menggigit bibirnya pelan, berdoa dalam hati agar Radja tak mengenalinya. Rambutnya memang masih pirang, tapi kini pendek. Sangat berbeda dari Djiwa yang pernah dikenalnya.
“Halo, di kelas ini ada yang namanya Rana?” tanya Narendra dengan suara lantang. Ia berdiri di ambang pintu kelas TK bersama saudara kembarnya dan sepupunya, Binar. Regantara berdiri tepat di belakangnya, kedua tangan terlipat di dada, wajahnya datar. Tatapannya menyapu isi kelas, menunggu satu nama yang terasa begitu akrab di kepalanya. Entah sudah kelas ke berapa mereka datangi hari itu. Narendra mulai memijat lututnya yang pegal karena terlalu banyak berjalan, sementara Binar mengelap keringat di dahinya dengan tisu, napasnya sedikit tersengal. “Rana, kamu dipanggil,” ujar salah satu murid di dalam kelas itu. Sekejap, mata ketiganya berbinar. Narendra dan Binar langsung melangkah masuk, Regantara menyusul dengan langkah lebih tenang. Seorang gadis kecil bangkit dari tempat duduknya. “Halo, aku Rana,” ucapnya polos. Narendra dan Binar saling pandang. Regantara justru menghela napas pelan, nyaris tak terdengar. “Bukan kamu,” celetuk Binar jujur. Gadis kecil itu me
“Pagi, Daddy,” sapa Narendra dengan suara paling nyaring di antara yang lain, wajahnya langsung berseri ketika melihat Radja ikut bergabung di meja makan. “Pagi, Nak,” balas Radja singkat, lalu menarik kursi dan duduk. Nada suaranya datar, tetapi itu sudah cukup membuat Narendra tersenyum bangga. Ia melirik Regantara yang duduk di sebelahnya. Sang kakak sama sekali tak bereaksi, tetap fokus menyuap sarapannya dengan sikap tenang khasnya. Ketiga bocah itu sudah rapi mengenakan seragam Lumina Kids Academy—biru langit, bersih, mahal. Seragam yang secara tak langsung menegaskan status keluarga mereka. “Oh iya, Mas,” Narendra menyenggol lengan kakaknya pelan. “Rana sekolah di mana, ya? Jangan-jangan diam-diam satu sekolah sama kita.” “Kenapa kemarin gak sekalian nanya ke orangnya?” Binar ikut menimpali, duduk manis di antara Sultan dan Fairish. “Rana itu siapa?” Sekar akhirnya bertanya, penasaran.
Radja berdiri seorang diri di balkon kamarnya. Angin malam menyapu wajahnya, dingin, namun tak mampu menenangkan gejolak di dadanya. Di sela jemari besarnya, sebatang rokok menyala, ujungnya merah membara. Sejak lima tahun lalu, sejak Djiwa pergi tanpa pamit—Radja mulai mengenal rokok dan alkohol. Bukan karena ingin, melainkan karena itulah satu-satunya cara yang ia tahu untuk meredam stres, menekan rasa kehilangan yang tak pernah benar-benar sembuh. Seperti malam ini. Ucapan polos kedua anaknya tentang gadis kecil itu kembali mengorek luka lama. Luka yang selama ini ia kubur rapi, ia timbun dengan kesibukan dan dinginnya sikap. “Tidak mungkin,” gumamnya pelan, lalu menghembuskan asap putih dari bibirnya. Ia menggeleng, berusaha meyakinkan diri sendiri. “Kalau memang benar seperti kata si kembar, Kaisar pasti sudah sadar lebih dulu.” Radja berdecak kesal. Dengan gerakan kasar, ia
“Mirip siapa?” tanya Radja, pandangannya tertuju pada putra sulungnya. “Mirip aku sama Naren, Dad,” jawab Regantara tenang. “Tapi lebih mirip Mommy,” sela Narendra cepat. “Yang fotonya ada di HP Daddy.” Rahang Radja mengeras seketika. Otot di pelipisnya menegang. “Usia berapa dia?” tanyanya, nada suaranya dibuat sedatar mungkin. Regantara tampak berpikir. Keningnya berkerut kecil, lalu ia menggeleng pelan. “Regan gak tahu. Regan gak nanya. Tapi dia kecil, lebih pendek dari Regan.” Radja menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang tiba-tiba berisik. Mustahil. Wajah mirip itu hal yang biasa. Banyak orang di dunia ini yang punya kemiripan tanpa hubungan apa pun. Lagipula, setahunya Djiwa hanya mengandung anak kembar laki-laki. Tidak pernah ada anak perempuan. Tidak pernah. Kecuali— Tidak. Radja cepat-cepat me







