Compartir

BAB 437

last update Fecha de publicación: 2026-04-17 00:10:20

“Bagaimana menurut kalian guru les tadi?” tanya Djiwa pada ketiga anaknya yang baru saja selesai belajar selama lebih dari satu setengah jam.

Ia menyandarkan tubuhnya santai di sofa sambil menatap mereka bergantian. “Rate pilihan Mommy, dong.”

Regan mengangkat bahu kecil. “Hm … belum tahu, Mom,” jawabnya tenang. “Baru sehari juga.”

Djiwa terkekeh pelan. “Bener juga.” Ia kemudian menepuk pelan paha anak-anaknya. “Kalau begitu sekarang kalian tidur siang dulu, ya.”

Ketiganya mengangguk. Regan
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
No comment utk pasangan baru ini , males ...
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 498

    Ruangan intensif itu dipenuhi cahaya putih yang redup namun dingin. Suara mesin medis berdenting pelan—ritmis, konstan, seolah menjadi satu-satunya tanda bahwa kehidupan masih bertahan di sana. Radja terbaring di atas ranjang. Tubuhnya nyaris tak bergerak. Selang nasal kanul terpasang di hidungnya, membantu pernapasan yang masih lemah. Beberapa kabel monitor menempel di tubuhnya, menampilkan garis-garis kehidupan yang naik turun di layar. Wajahnya pucat. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang biasanya penuh kendali. Di sisi ruangan, Djiwa duduk di kursi, tak jauh dari ranjang. Tatapannya tak lepas dari wajah suaminya. Matanya sembab, namun kini tak ada lagi tangis yang pecah—yang tersisa hanya kesedihan yang diam, dalam, dan menyesakkan. Regan berdiri di sampingnya. Diam. Anak itu tak banyak bicara, hanya sesekali menatap layar monitor, lalu kembali ke wajah ayahnya. Sementara di ruangan lain, di ruang rawat inap Djiwa sebelumnya—Ratu terlelap di atas sofa, tubuh kecilny

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 497

    Kelopak mata Djiwa bergerak pelan. Ia mengerjap beberapa kali, pandangannya masih buram—hingga perlahan fokus. Hal pertama yang ia lihat Regan dan Naren. “Mommy udah bangun,” ucap Regan cepat, langsung berdiri dari kursinya. Naren yang sejak tadi duduk di samping ranjang, langsung menggenggam tangan ibunya erat. “Mommy ….” Djiwa langsung tersentak, refleks ingin bangun. “Ratu …? Ratu di mana?” suaranya panik, tubuhnya berusaha terangkat dari baringannya. “Mommy, jangan banyak gerak,” cegah Regan cepat, menahan bahu ibunya dengan hati-hati. “Nanti infusnya lepas.” “Ratu dibawa Om Sultan ke ruang operasi, Mom,” tambah Naren, mencoba menenangkan. Djiwa terdiam sejenak. Lalu menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. “Syukurlah ….” Ia melirik punggung tangan kanannya—jarum infus tertancap di sana. Namun pikirannya tidak berhenti di situ. “Daddy …,” gumamnya lirih. “Gimana keadaan Daddy, Nak?” Regan dan Naren saling melirik, lalu menggeleng pelan. “Kita belum ke sana, Mom,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 496

    Sultan akhirnya tiba di rumah sakit. Ia datang seorang diri. Fairish tidak ikut—bukan karena tidak peduli, melainkan karena Binar sudah terlelap. Mereka tidak tega meninggalkan anak itu sendirian, takut terbangun dan tidak menemukan kedua orang tuanya. Langkah Sultan cepat, nyaris berlari menyusuri lorong menuju UGD. “Di mana kakak saya?” tanyanya pada salah satu perawat yang melintas. Perawat itu langsung berhenti. “Sudah dipindahkan ke ruang operasi, Dok. Bagian kepala pasien mengalami benturan cukup keras. Dokter bedah saraf sudah standby, dan operasi akan segera dimulai.” Sultan menelan ludah. “Dan … keluarganya?” “Sudah datang. Istri dan anak-anaknya juga ada di sini.” “Di mana mereka sekarang?” “Istri Tuan Radja sempat pingsan. Saat ini sedang di ruang VIP, bersama ketiga anaknya.” Napas Sultan tercekat. “Baik, terima kasih,” ucapnya singkat, lalu segera melangkah cepat menuju ruang VIP. Begitu pintu terbuka, suasana di dalam terasa sunyi namun berat. Ratu duduk di s

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 495

    Sekar baru saja memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya, ketika ketukan keras di pintu kamarnya memecah keheningan. Tok! Tok! Tok! Ia tersentak, refleks langsung bangkit duduk. “Mi, buka pintunya!” suara Kaisar terdengar tergesa dari luar. Sekar menghela napas berat, lalu turun dari ranjang dengan langkah hati-hati. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Pintu dibuka. “Ada apa, Kai?” tanyanya. “Kita ke rumah sakit sekarang,” jawab Kaisar tanpa basa-basi. Sekar mengernyit. “Ngapain ke rumah sakit?” Namun tatapannya teralihkan. Ke arah Karin yang berdiri di samping Kaisar, menggenggam sesuatu di tangannya. “Loh, itu apa?” Sekar melangkah mendekat, lalu mengambil benda tersebut. Matanya menyipit, membaca hasilnya. Detik berikutnya. “Kamu … hamil, Rin?” Karin tersenyum kecil. “Iya, Mi. Aku hamil.” Wajah Sekar langsung berubah. Kaget, lalu bahagia. “Ya Tuhan …,” ia langsung menarik Karin ke dalam pelukan hangat. “Akhirnya kamu hamil anak Kai juga. Kai

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 494

    “Daddy … kecelakaan.” Kalimat itu jatuh pelan, tapi dampaknya seperti menghantam keras. “Hah?!” Ratu langsung menangis. “Mommy bohong, kan?! Daddy gak apa-apa, kan?!” Air matanya mengalir deras, tubuh kecilnya gemetar. Naren ikut panik. “Gimana maksudnya kecelakaan, Mom?! Daddy di mana sekarang?! Kita ke sana, kan?! Kita ke sana sekarang?!” Suasana langsung kacau. Hanya Regan yang tetap diam. Wajahnya tegang, tapi ia tidak menangis. Tatapannya langsung tertuju pada ibunya—mencari kepastian. Djiwa sendiri nyaris kehilangan keseimbangan. Kakinya terasa lemas, tangannya gemetar hebat. Namun ia menahan diri. Ia tidak boleh runtuh, tidak di depan anak-anaknya. “Iya, kita ke sana sekarang,” ucapnya pelan, berusaha menguatkan suara yang hampir pecah. Ia meraih tangan Ratu yang menangis, lalu menoleh pada Naren dan Regan. “Ayo … kita ke rumah sakit.” Regan langsung berdiri, sigap. Ia menggenggam tangan Ratu, mencoba menenangkan adiknya yang terus terisak. “Ratu … kita ke Daddy seka

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 493

    Kamar Sankara kembali sunyi. Djiwa masih berdiri di sana, di tempat yang sama, seolah kakinya enggan melangkah pergi. Matanya menatap kosong ke arah jendela, namun pikirannya berputar ke mana-mana. Ucapan Radja sebelumnya terus terngiang. Tentang anak-anak. Tentang keluarga. Tentang bagaimana semuanya pernah baik-baik saja. Napasnya perlahan memburu. “Aku … keterlaluan,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Tangannya terangkat, menutup mulutnya sendiri, seakan menahan sesal yang tiba-tiba datang tanpa permisi. “Tadi aku bilang cerai.” Kata itu terasa asing sekarang. “Aku marah, aku kecewa, aku sakit, tapi …,” suaranya bergetar, “Aku gak seharusnya bilang itu.” Ia menggeleng pelan, tubuhnya melemah. Dalam bayangannya, terlintas wajah anak-anaknya. Ratu yang selalu memeluknya tanpa alasan. Naren yang cerewet. Regan yang diam tapi selalu memperhatikan. Lalu Radja. Cara laki-laki itu menatapnya tadi. Cara dia menahan emosi. Cara dia tetap berdiri tanpa mundur. Djiwa mengusap wa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 65

    “Kamu serius?” desis Kaisar. Ia langsung bangkit dari duduknya, dan berdiri di hadapan sang istri. Tatapannya dingin dan menusuk. “Iya, Djiwa serius. Djiwa emang lihat Mas sama perempuan itu kemarin malam,” balas Djiwa tenang. Dan sebelum Kaisar sempat membalas—Djiwa menambahkan dengan suara yan

    last updateÚltima actualización : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 69

    “M-mas ... jangan bercanda,” Djiwa mengerucutkan bibirnya sebal, takut diberi harapan palsu. Radja tersenyum miring. “Untuk apa saya bercanda? Memangnya ada saya katakan kalau kita ke sini untuk kerja?” satu alisnya terangkat tipis. Napas Djiwa tercekat di tenggorokan. “Ta-tapi, schedule yang Pa

    last updateÚltima actualización : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 61

    “Sultan, kamu di mana?” tanya Radja pada sang adik melalui telepon. Saat ini dia masih berada di depan ruangan rawat inap kakek Djiwa yang tiba-tiba menghilang dari ruangan. Sementara Djiwa di hadapannya tampak cemas dan gelisah. “Saya baru saja keluar dari ruangan radiologi, kenapa?” suara Sulta

    last updateÚltima actualización : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 64

    “Mas, harus banget ke Belanda berdua sama Djiwa?” tanya Inggrit begitu mereka berdua kembali ke kamar. Radja tak menjawab. Pria itu melangkah dengan penuh wibawa menuju meja, kemudian menyandarkan punggungnya di sana, sementara kedua tangannya terlipat di dada. Tatapannya yang dingin namun berbah

    last updateÚltima actualización : 2026-03-20
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status