Share

BAB 441

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-04-18 00:08:44
“Selamat sore, Bu,” sapa Bagas sopan ketika melihat Djiwa sedang berjalan santai di halaman mansion.

Wanita itu tampak menikmati sore hari sambil memperhatikan tanaman yang berjajar rapi di sepanjang jalan setapak.

“Sore,” balas Djiwa dengan senyum kecil. “Saya sebaiknya memanggil Anda apa, ya? Pak Bagas? Tapi sepertinya Anda masih cukup muda.”

Bagas tersenyum tipis. “Ibu bisa langsung memanggil saya Bagas saja.”

Djiwa mengangguk pelan. “Kalau boleh tahu, usia Anda berapa?”

“Saya … bar
Langit Parama

Hallooo, pantengin IG-ku ya, entar info cerita Sasqia lanjut ada di sana☺️ ditunggu, ya ... setelah end Radjiwa(✿◠‿◠)🫶🏻

| 49
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Evi Widayanti
Hayo loh Bagas ngapain liat² ......
goodnovel comment avatar
rianur378
hhhmmm,,,Bagas pawang nya Djiwa udah pulang tuch🫣🫣🫣
goodnovel comment avatar
One Letter
kirain g ada kelanjutanya,ditunggu bsb selanjutnya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 486

    “Tunggu, Tuan,” dokter itu tampak sedikit tercengang. “Anda menyalahkan saya atas kebocoran ini?” Radja menyipitkan mata, senyum tipis tersungging di bibirnya, dingin, tanpa emosi. “Lalu siapa lagi? Hanya kita berdua yang tahu.” Dokter itu mengangguk pelan, mencoba tetap tenang meski kegelisahan jelas terpancar di wajahnya. “Tapi saya tidak pernah membocorkan hal ini kepada siapa pun, Tuan. Apalagi untuk keuntungan pribadi.” “Saya tidak mengatakan kamu melakukannya demi keuntungan pribadi,” potong Radja tegas, suaranya merendah namun menekan. “Kamu sendiri yang menyimpulkan itu.” Kalimat itu seperti menjebak. Dokter itu terdiam, tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah dengan susah payah. “Jadi benar, kamu yang lalai?” satu alis Radja terangkat tipis, tatapannya menusuk tanpa ampun. “Saya tidak cukup bodoh untuk membuka rahasia ini sendiri. Maka sudah jelas, kamu yang menjadi sumbernya.” “Saya berani bersumpah atas nama Tuhan, saya tidak pernah membocorkannya kepada sia

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 485

    “Kadang …,” suara Bagas merendah, nyaris seperti bisikan yang hati-hati, “Yang menentukan siapa yang bertahan bukan hanya medis.” Djiwa membeku. Degup jantungnya mendadak tak beraturan. “Apa maksud kamu?” tanyanya, kali ini lebih tegas, meski ada sesuatu yang mulai merambat di dadanya—gelisah yang tak bisa ia jelaskan. Bagas menarik napas panjang, seakan menimbang setiap kata yang akan keluar. “Saya dengar … Anda memilih mengorbankan diri, demi memastikan anak Anda tetap hidup.” Kalimat itu membuat jemari Djiwa yang semula mengepal perlahan mengendur. “Dan itu cukup menjelaskan …,” lanjut Bagas pelan, “Bahwa dalam keadaan tertentu, manusia juga bisa menjadi penentu.” Ada jeda singkat. “Tapi …,” Bagas kembali bersuara, kali ini lebih berat, “Ternyata ada seseorang yang menginginkan sebaliknya.” Kening Djiwa berkerut dalam. Ada firasat buruk yang mulai menyesakkan napasnya. “Suami Anda,” ucap Bagas akhirnya, menatapnya lurus. “Beliau ingin Anda yang tetap hidup.” Napas Djiwa s

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 484

    “Kamu tega banget sama aku, Mas …,” suara Djiwa pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, membasahi pipinya. “Kamu juga tega sama anak kamu sendiri. Kamu jahat!” Radja tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Diamnya terlalu lama. “Kamu khianatin aku,” lanjut Djiwa, suaranya kini lebih tajam meski bergetar. “Kamu bilang kamu terima keputusan aku, tapi ternyata selama ini kamu cuma pura-pura?” Radja masih tidak bersuara. Itu justru membuat dada Djiwa semakin sesak. “Mas …,” suaranya melemah, tapi penuh desakan. “Aku tanya baik-baik. Ini bener atau nggak?” Radja akhirnya mengalihkan pandangannya, menatap sang istri. Dalam. Datar. “Dari siapa kamu dengar itu?” Bukan jawaban yang Radja berikan, melainkan sebuah pertanyaan. Djiwa tertawa kecil, pahit. “Itu gak penting.” Ia menggeleng pelan, air matanya jatuh lagi. “Yang penting aku dengar itu dari seseorang. Dan sekarang aku tanya langsung ke kamu.” Langkahnya mendekat satu langkah. “Mau j

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 483

    “Djiwa,” panggil Radja, suaranya berat, tertahan. Namun perempuan itu tidak berhenti. Ia tetap melangkah, meninggalkan pusara kecil itu, juga meninggalkan suaminya sendirian di belakang. Radja perlahan bangkit dari posisinya. Tatapannya tertuju pada punggung Djiwa yang semakin menjauh. Rahangnya mengeras, jemarinya mengepal di sisi tubuh. Tanpa pikir panjang, ia mempercepat langkah, menyusul hingga akhirnya berhasil meraih lengan sang istri. “Sayang, dengarkan saya,” pintanya rendah. Namun Djiwa langsung menepis tangan itu—tegas, tanpa ragu. Ia kembali melangkah. “Djiwa!” panggil Radja kali ini lebih keras. Ia kembali menarik lengan perempuan itu, lebih kuat dari sebelumnya. “Lihat saya.” Genggamannya tak memberi ruang untuk lepas. “Sayang … kamu kenapa?” desisnya pelan, suaranya ditekan, namun jelas menyimpan emosi. Djiwa tetap diam. Tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. “Kamu marah?” lanjut Radja, alisnya terangkat tipis. “Saya salah apa, hm? Justru seharusnya saya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 482

    Berkali-kali Radja mencoba menghubungi nomor Djiwa, namun tak satu pun panggilannya mendapat jawaban. Bukan ditolak, melainkan ponsel sang istri benar-benar tidak aktif. Meski begitu, jemarinya terus menekan tombol panggil, lagi dan lagi, seolah berharap pada percobaan berikutnya keajaiban kecil akan terjadi. Ponsel itu kembali menyala, dan suara Djiwa menjawab di seberang sana. “Pergi ke mana kamu, sayang?” gumamnya lirih, nyaris putus asa. Akhirnya, ia menjatuhkan iPad di atas ranjang dengan gerakan lelah, lalu berbalik meninggalkan kamar tanpa sempat mengganti pakaian. “Daddy gak jadi mandi?” tanya Ratu heran saat melihat ayahnya keluar dengan langkah tergesa, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Radja berhenti sejenak, menatap putrinya. “Daddy ada urusan penting mendadak, Nak. Jadi harus keluar lagi. Kalian di rumah aja, ya. Nanti makan malam nggak usah nunggu Daddy.” Ratu langsung mencebik, bibirnya maju ke depan. “Ratu tungguin sampe Daddy pulang.” “Tidak, Ratu,” jawab Radja te

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 481

    “Kami kangen banget sama Kak Bagas. Udah lama gak ketemu,” ucap Ratu begitu ia tiba di ruang tengah, langsung mengambil tempat di meja belajar yang telah disiapkan. Naren spontan menoleh pada adiknya. “Ratu aja, Kak. Aku nggak, kok,” ujarnya cepat, seolah ingin meluruskan. Ratu mendengus pelan, melirik tajam ke arah kakaknya. Bagas tersenyum tipis, hangat. “Iya. Kak Bagas juga kangen sama kalian, terutama Non Ratu.” Senyum Ratu seketika merekah. “Ratu juga mau cerita, Mommy udah lahiran. Tapi—” “Kak Bagas udah tahu, Dek,” sela Regan lembut. “Beberapa hari ini Kak Bagas gak dateng karena tahu kita sedang berduka atas kepergian Dek Sankara.” “Oh …,” Ratu menatap Bagas, ragu. “Jadi Kakak udah tahu?” Bagas mengangguk pelan. “Iya, Non. Sudah. Tapi kalian harus tetap semangat belajar, ya, dan jangan putus mendoakan adek.” Ratu mengerutkan keningnya polos. “Tapi kan … adeknya udah gak ada, Kak. Buat apa didoain lagi? Dia kan udah gak bisa diselamatkan.” Bagas menahan senyum, lalu me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 219

    “Papa!” seru Inggrit begitu melangkah masuk ke rumahnya, suaranya menggema keras memecah keheningan. Satya yang tengah mengamati lukisan mahal yang baru saja dibelinya langsung mengernyit. Ia menoleh, lalu melangkah menghampiri sang anak dengan langkah tenang, kedua tangannya bertaut di belakang

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 208

    “Apa?” Linda bergumam pelan, lalu menoleh pada putrinya dengan tatapan yang tak lagi lembut. Ada keterkejutan yang bercampur luka di sana. “Kamu … kamu serius mengatakan itu, Sultan?” “Tentu, Ma,” jawab Sultan tanpa ragu. Suaranya tenang, nyaris datar. “Saya tidak menyampaikan ini untuk memperma

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 213

    Malam itu, suasana makan malam terasa jauh lebih menegangkan dari malam-malam sebelumnya. Udara di ruang makan seolah mengeras, dipenuhi beban yang tak terucap. Setiap orang membawa pikirannya masing-masing, hingga tak satu pun sanggup membuka suara lebih dulu. Sekar yang biasanya menjadi pusat

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 184

    “Mi,” panggil Kaisar sambil melirik Sekar yang duduk di kursi penumpang. Sekar menoleh singkat. “Apa?” Kaisar menggigit bibirnya pelan sebelum akhirnya bicara. “Di antara ketiga anak Mami, apa cuma aku yang berandalan?” Sekar tak langsung menjawab. “Maksud aku,” lanjut Kaisar, matanya tetap fok

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status