分享

BAB 458

作者: Langit Parama
last update publish date: 2026-04-24 00:04:11

Sekar yang semula duduk santai di ruang tengah, seketika bangkit saat melihat sosok anak keduanya memasuki mansion—setelah terakhir kali pria itu datang hanya untuk menghadiri pernikahan Kaisar.

“Sultan,” panggilnya, nada suaranya menyiratkan keterkejutan yang tak disembunyikan.

“Mi,” sahut Sultan singkat, langkahnya mantap.

Di belakangnya, Fairish menyusul dengan langkah anggun, membawa sebuah parsel buah-buahan premium di tangannya.

“Selamat siang, Mi,” ucap Fairish sopan, sebelum menyera
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (1)
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Yah terserahlah Djiwa , semoga kamu & anak kamu selamat & sehat , semua pembaca cuma bisa bantu doa , Thor tolong ya anaknya lahir selamat & ibunya jg selamat , sya sedih loh Thor klo sad ending , walaupun sya suka ngatain Djiwa goblok tpi sya tetep sayang Radjiwa & si kembar 3 terutama Ragen hehe
查看全部評論

最新章節

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 513

    Kaisar mengernyit, jelas tak menyangka. “Mas … tahu kalau aku dengar itu dari istriku?” Radja menyunggingkan senyum tipis, terlalu tipis untuk disebut ramah. “Tentu saja.” Nada suaranya tenang, tapi justru itu yang membuat suasana terasa makin menekan. Sultan menatap kakaknya tanpa berkedip. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang Radja tahu. Tapi sebelum salah satu dari mereka sempat membuka suara lagi. Klek. Pintu kamar terbuka. Djiwa masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan berisi makanan. Aroma hangat segera memenuhi ruangan, memotong ketegangan yang sejak tadi menggantung. “Mas Radja, waktunya makan siang,” ucapnya lembut. Sultan langsung bangkit dari duduknya, menangkap isyarat itu sebagai penutup pembicaraan. “Benar. Mas Radja juga harus istirahat setelah ini,” ujarnya, lalu melirik Kaisar. “Aku juga mau pulang. Kamu, Kai?” Kaisar masih diam beberapa detik. Tatapannya belum lepas dari Radja, seolah masih menyimpan pertanyaan yang belum selesai. Namun akhirnya ia

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 512

    Djiwa duduk di tepi ranjang, semangkuk bubur hangat di tangannya. Uap tipis masih mengepul, menandakan makanan itu baru saja disiapkan. Sementara Radja bersandar setengah duduk, punggungnya ditopang bantal. “Pelan-pelan, ya, Mas. Masih panas,” ucap Djiwa lembut, meniup sesendok bubur sebelum menyuapkannya. Radja tidak menolak. Tidak seperti sebelumnya. Ia membuka mulutnya perlahan, menerima suapan itu tanpa banyak bicara. Tatapannya sesekali jatuh pada wajah istrinya—yang tampak lebih pucat dari biasanya, namun penuh perhatian. Djiwa menunduk sedikit, fokus pada setiap suapan yang ia berikan. “Jangan buru-buru,” lanjutnya pelan. “Dokter bilang, lambung kamu juga harus dijaga. Jadi makannya pelan, ya.” Radja menghela napas ringan. “Kamu ingat semua yang dokter bilang?” “Aku catat,” jawab Djiwa singkat, hampir berbisik. Ada jeda. Sendok berikutnya kembali terangkat, disuapkan dengan hati-hati. Kali ini, tanpa diminta, Radja membuka mulutnya sendiri. Sikapnya tidak lagi sekeras

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 511

    Pagi itu, setelah Regan, Naren, dan Ratu berangkat sekolah, suasana rumah terasa jauh lebih sepi. Djiwa masuk ke kamar, membawa handuk bersih dan pakaian ganti. Tatapannya langsung tertuju pada Radja yang duduk di tepi ranjang, tampak sudah lebih segar, meski jelas belum sepenuhnya pulih. “Mas, ayo mandi dulu,” ucapnya lembut. Radja mengangkat pandangannya. “Saya bisa sendiri.” Djiwa menghela napas pelan, sudah menduga jawaban itu. “Iya, bisa,” balasnya santai. “Tapi hari ini aku yang bantu.” Radja menatapnya datar. “Tidak perlu.” Namun Djiwa tidak membalas. Ia justru berjalan lebih dulu ke kamar mandi, menyalakan air hangat. Beberapa detik kemudian, Radja tetap masuk. Ia berdiri di bawah pancuran, mulai membuka bathrobe-nya sendiri. Dan saat itulah, pintu kamar mandi kembali terbuka. Radja menoleh. Djiwa masuk begitu saja. Tanpa ragu, tanpa izin. “Djiwa ….” panggil Radja pelan, sedikit mengernyit. Namun wanita itu sudah berdiri di hadapannya, meraih bathrobe pria itu dan me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 510

    Pagi itu, Radja terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Denyut halus di pelipisnya belum sepenuhnya hilang. Selang oksigen terpasang di hidungnya, dan kamar mewah itu kini berubah layaknya ruang medis darurat. Ada sesuatu yang mengganjal di perutnya. Ia menoleh pelan. Lengan kecil Djiwa melingkar di sana, tubuh wanita itu terlelap di sisi kirinya dengan napas teratur. Radja mengangkat tangannya perlahan, melepas nasal kanul dari hidungnya. Pandangannya sempat bertahan beberapa detik pada wajah istrinya—tenang, namun menyimpan lelah. Tok. Tok. Tok. Ketukan di pintu membuatnya menoleh. Di saat bersamaan, Djiwa mengerjap pelan, terbangun dari tidurnya. “Daddy … Mommy …!” Suara anak-anak dari luar terdengar cemas. Refleks, Radja kembali memejamkan mata. Djiwa langsung mengangkat kepalanya. “Anak-anak?” Ia menoleh ke arah jam dinding. “Jam enam.” Tatapannya beralih pada Radja—yang tampak masih terpejam. “Mas … kamu belum sadar juga dari semalam? Tapi kenapa selang oksig

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 509

    Usai makan malam, Djiwa membersihkan diri di kamar mandi—mencuci wajah, menggosok gigi, lalu menyiapkan air hangat untuk Radja mandi. Pria itu masih berada di ruang keluarga bersama ketiga anak mereka, tertawa ringan, seolah ingin meyakinkan bahwa dirinya benar-benar sudah pulih. Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Djiwa kembali ke kamar, duduk di depan meja rias. “Setidaknya … tadi dia gak marah. Nggak nolak aku layani di meja makan,” gumamnya lirih, menatap bayangannya sendiri di cermin. “Walaupun … sikapnya tetep dingin.” Di hadapannya, berjejer botol-botol skincare yang sudah beberapa hari tak tersentuh. Malam ini, ia mencoba kembali pada rutinitasnya—sesuatu yang dulu terasa biasa, kini justru terasa asing. Klek. Pintu wardrobe terbuka. Radja masuk dengan langkah tenang namun tetap tegas, aura wibawanya tak pernah benar-benar pudar. “Mas …,” Djiwa langsung berdiri. “Air hangatnya udah aku siapin buat kamu mandi.” “Hm,” sahut Radja singkat. Djiwa menelan ludahnya,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 508

    “Mommy, kok Kak Bagas gak datang buat ngajar?” tanya Ratu sore itu, keningnya berkerut polos. “Padahal udah lewat setengah jam. Mommy suruh Kak Bagas libur, ya?” Djiwa yang baru saja keluar dari kamar mandi sempat terdiam. Jemarinya yang masih mengeringkan rambut berhenti sejenak. Ucapan Radja sebelum kecelakaan itu kembali terngiang—tegas, tanpa celah. Bagas tidak perlu mengajar lagi. Djiwa menarik napas pelan, lalu menurunkan handuk dari rambutnya. “Kak Bagas … mengundurkan diri, sayang,” ucapnya akhirnya, berusaha terdengar setenang mungkin. “Dia ada urusan lain yang harus diselesaikan. Jadi untuk sementara, dia gak bisa ngajar lagi.” Ratu langsung menggeleng cepat, bibirnya mencebik. “Ratu maunya Kak Bagas. Dia lebih seru, terus baik juga.” Djiwa tersenyum tipis, meski hatinya terasa tak nyaman. “Semua orang juga baik, Nak. Nanti Mommy carikan guru les yang lain, ya. Yang perempuan.” “Nggak mau,” tolak Ratu tanpa ragu. “Kenapa harus diganti? Kak Bagas ke mana? Urusan ap

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 49

    Kaisar menghela napas panjang begitu mobilnya masuk gerbang kantor. Langit siang yang terik tak mampu menghangatkan dinginnya pikiran yang menggulung di kepalanya sejak sesi konsultasi tadi. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, iramanya tak beraturan—tanda jelas bahwa hatinya sedang kacau karena renc

    last update最後更新 : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 56

    Inggrit baru saja tiba di mansion. Langkah kakinya menghentak keras, cepat, dan penuh amarah—seolah dia sengaja ingin seluruh penjuru rumah tahu bahwa saat ini dia sedang berada di titik paling emosional. Di belakangnya, Anggita menyusul dalam keadaan terisak halus. Arga mengantar bocah itu pu

    last update最後更新 : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 58

    “Simbiosis mutualisme?” Radja mengulang dua kata itu pelan, dengan senyum miring yang tidak sepenuhnya bisa dibaca. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seolah mencoba memahami isi kepala perempuan di hadapannya. Djiwa menunduk. Napasnya tercekat. “Biarin Djiwa sendiri dulu, Mas …

    last update最後更新 : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 48

    Sudah satu jam yang lalu Djiwa terlelap di pelukan Radja. Pria itu bahkan absen dari kantornya hari ini hanya untuk menemani wanita itu tidur di hotel. Entah apa yang membuatnya memilih menetap di sini. Jika bicara soal khawatir, harusnya dia tetap bisa meninggalkan Djiwa seorang diri setelah mema

    last update最後更新 : 2026-03-19
更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status