Share

BAB 510

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2026-05-11 00:00:37

Pagi itu, Radja terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Denyut halus di pelipisnya belum sepenuhnya hilang.

Selang oksigen terpasang di hidungnya, dan kamar mewah itu kini berubah layaknya ruang medis darurat.

Ada sesuatu yang mengganjal di perutnya. Ia menoleh pelan. Lengan kecil Djiwa melingkar di sana, tubuh wanita itu terlelap di sisi kirinya dengan napas teratur.

Radja mengangkat tangannya perlahan, melepas nasal kanul dari hidungnya. Pandangannya sempat bertahan beberapa detik
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Chenlily678 Lily
emm lumyan bab nya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 510

    Pagi itu, Radja terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Denyut halus di pelipisnya belum sepenuhnya hilang. Selang oksigen terpasang di hidungnya, dan kamar mewah itu kini berubah layaknya ruang medis darurat. Ada sesuatu yang mengganjal di perutnya. Ia menoleh pelan. Lengan kecil Djiwa melingkar di sana, tubuh wanita itu terlelap di sisi kirinya dengan napas teratur. Radja mengangkat tangannya perlahan, melepas nasal kanul dari hidungnya. Pandangannya sempat bertahan beberapa detik pada wajah istrinya—tenang, namun menyimpan lelah. Tok. Tok. Tok. Ketukan di pintu membuatnya menoleh. Di saat bersamaan, Djiwa mengerjap pelan, terbangun dari tidurnya. “Daddy … Mommy …!” Suara anak-anak dari luar terdengar cemas. Refleks, Radja kembali memejamkan mata. Djiwa langsung mengangkat kepalanya. “Anak-anak?” Ia menoleh ke arah jam dinding. “Jam enam.” Tatapannya beralih pada Radja—yang tampak masih terpejam. “Mas … kamu belum sadar juga dari semalam? Tapi kenapa selang oksig

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 509

    Usai makan malam, Djiwa membersihkan diri di kamar mandi—mencuci wajah, menggosok gigi, lalu menyiapkan air hangat untuk Radja mandi. Pria itu masih berada di ruang keluarga bersama ketiga anak mereka, tertawa ringan, seolah ingin meyakinkan bahwa dirinya benar-benar sudah pulih. Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Djiwa kembali ke kamar, duduk di depan meja rias. “Setidaknya … tadi dia gak marah. Nggak nolak aku layani di meja makan,” gumamnya lirih, menatap bayangannya sendiri di cermin. “Walaupun … sikapnya tetep dingin.” Di hadapannya, berjejer botol-botol skincare yang sudah beberapa hari tak tersentuh. Malam ini, ia mencoba kembali pada rutinitasnya—sesuatu yang dulu terasa biasa, kini justru terasa asing. Klek. Pintu wardrobe terbuka. Radja masuk dengan langkah tenang namun tetap tegas, aura wibawanya tak pernah benar-benar pudar. “Mas …,” Djiwa langsung berdiri. “Air hangatnya udah aku siapin buat kamu mandi.” “Hm,” sahut Radja singkat. Djiwa menelan ludahnya,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 508

    “Mommy, kok Kak Bagas gak datang buat ngajar?” tanya Ratu sore itu, keningnya berkerut polos. “Padahal udah lewat setengah jam. Mommy suruh Kak Bagas libur, ya?” Djiwa yang baru saja keluar dari kamar mandi sempat terdiam. Jemarinya yang masih mengeringkan rambut berhenti sejenak. Ucapan Radja sebelum kecelakaan itu kembali terngiang—tegas, tanpa celah. Bagas tidak perlu mengajar lagi. Djiwa menarik napas pelan, lalu menurunkan handuk dari rambutnya. “Kak Bagas … mengundurkan diri, sayang,” ucapnya akhirnya, berusaha terdengar setenang mungkin. “Dia ada urusan lain yang harus diselesaikan. Jadi untuk sementara, dia gak bisa ngajar lagi.” Ratu langsung menggeleng cepat, bibirnya mencebik. “Ratu maunya Kak Bagas. Dia lebih seru, terus baik juga.” Djiwa tersenyum tipis, meski hatinya terasa tak nyaman. “Semua orang juga baik, Nak. Nanti Mommy carikan guru les yang lain, ya. Yang perempuan.” “Nggak mau,” tolak Ratu tanpa ragu. “Kenapa harus diganti? Kak Bagas ke mana? Urusan ap

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 507

    Djiwa menatap tas tenteng di sampingnya, berisi pakaian ganti untuk ketiga anaknya yang semula ia siapkan untuk di rumah sakit. Rencana itu kini terasa sia-sia, buyar begitu saja sejak Radja memutuskan pulang dan bahkan langsung kembali bekerja. Kini ia duduk diam di dalam mobil, terparkir di halaman Sekolah Dasar Lumina, menunggu anak-anaknya pulang dengan perasaan yang tak menentu. Tak lama, tiga sosok kecil yang selalu menjadi penguatnya muncul dari gerbang sekolah. Regan, Naren, dan Ratu berjalan berdampingan bersama Binar, tangan mereka saling bertaut. “Itu Mommy udah jemput!” seru Ratu riang, langsung melepaskan genggaman tangannya dari Binar. “Kak, Ratu duluan, ya!” “Iya,” balas Binar sambil tersenyum. Ketiga anak itu berlari kecil menuju mobil dan segera masuk ke dalam. “Kita langsung ke rumah sakit, kan, Mom?” tanya Ratu begitu duduk di samping Djiwa. Wajahnya penuh harap. “Gimana keadaan Daddy sekarang?” Djiwa tersenyum tipis, meski ada yang terasa pahit di dadanya.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 506

    Ucapan itu menghantam Djiwa tanpa ampun. Ia terdiam. Benar-benar terdiam. Bibirnya terbuka sedikit, seolah ingin membalas, namun tak satu kata pun mampu keluar. Tatapannya terpaku pada Radja. Seseorang yang biasanya selalu bisa ia ajak bicara, kini terasa begitu jauh. Tak ada kelembutan seperti biasa. Hanya sikap dingin yang terasa asing. Radja tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Djiwa sekilas, lalu berbalik. Langkahnya tegas. Seakan tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Arga yang sejak tadi berdiri kaku, segera mengikuti di belakangnya tanpa berani menoleh. Pintu terbuka lalu tertutup kembali. Meninggalkan Djiwa sendirian. Begitu sunyi hingga suara detak jantungnya sendiri terasa menyakitkan. Djiwa masih berdiri di tempatnya. Tak bergerak. Namun perlahan dadanya mulai terasa sesak. Napasnya memburu. Kata-kata Radja kembali terngiang. ‘Ini tubuh saya … dan ini keputusan saya.’ Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Salah … ya, aku?” bisiknya lirih. Tangannya terangkat, m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 505

    “Kalian mulai hari ini masuk sekolah lagi, ya,” ucap Djiwa lembut pada ketiga anaknya. “Udah hampir satu minggu kalian libur. Jadi setelah sarapan, langsung siap-siap. Mommy yang anter.” Ketiganya saling pandang, lalu mengangguk bersamaan. “Oke, Mom.” “Tapi nanti pulang sekolah kita ke rumah sakit lagi, ya, Mom. Mau ketemu Daddy,” sahut Ratu sebelum bangkit dari kursinya. Djiwa tersenyum kecil. “Iya, sayang.” “Langsung dari sekolah aja, ya. Nggak usah pulang dulu,” tambah Ratu antusias. “Bawa baju ganti dari sekarang biar praktis.” “Iya, Nak,” jawab Djiwa sabar. Naren ikut menimpali, “Terus Mommy, habis anter kita langsung ke rumah sakit, ya. Temenin Daddy. Kasihan Daddy sendirian.” Djiwa mengangguk pelan, hatinya menghangat sekaligus sesak. “Iya, sayang.” “Kalau gitu, yang sudah selesai makan langsung siap-siap, ya.” “Oke!” _____ Setelah mengantar ketiga anaknya ke sekolah, Djiwa langsung meminta Aslan membawa mobil ke rumah sakit. Namun alih-alih saat tiba di sana langsu

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 111

    “Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radj

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 99

    Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Djiwa tak lepas dari sikap Radja terhadap Anggita. Ia bisa memahami alasan Radja menjaga jarak dari Inggrit, karena sikap wanita itu memang kerap tak pantas dijadikan teladan. Namun Anggita? Anak kecil itu sama sekali tak bersalah. Tak ada satu pun ala

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 79

    Pupil mata Inggrit membesar, bibirnya bergetar tanpa suara. Langkahnya mundur setengah tapak, seolah lantai di bawah kakinya mendadak runtuh. “Mas …,” napasnya tercekat. “A-apa maksud kamu?” Radja hanya menatapnya—diam, tajam, dan terlalu tenang. “Maksud saya jelas. Kalau kurang jelas, berarti ad

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 84

    “Mas Radja,” Djiwa menghampiri pria itu, refleks satu tangannya menutupi hidung ketika aroma alkohol menyergap tajam. “Djiwa?” mata Radja menyipit. Pandangannya sedikit kabur, namun ia tetap bisa mengenali siluet wanita itu—bahkan di tengah kepalanya yang berat, aroma khas Djiwa tak pernah salah.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status