Share

BAB 51

Author: Langit Parama
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-13 08:09:58

“Semalam Non Djiwa cantik bangeeettt,” puji Mbok Iyam malam itu, ketika Djiwa berada di paviliun belakang untuk menjemur kebaya dan rok batik miliknya.

Djiwa tersenyum kecil mendengarnya.

Setelah menggantung pakaiannya di jemuran, ia melangkah mendekati kursi santai di mana Mbok Iyam dan Mbok Inem tengah duduk, lalu ikut bergabung bersama mereka.

“Terima kasih banyak, Mbok,” ucapnya tulus.

“Kebaya kamu itu loh, Non,” sahut Mbok Inem sambil menggerakkan tangannya dramatis. “Cakep bener. Pas
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (12)
goodnovel comment avatar
Juniar silondae
good radja
goodnovel comment avatar
Bacakan Bang Yudi
serrrruuuuuuuuuu
goodnovel comment avatar
Dhin Vyo Kar
makin seru
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 528

    Pagi itu, langkah Djiwa terhenti begitu memasuki ruang makan. Tatapannya langsung tertuju pada satu pemandangan yang tak ia duga. Radja duduk di kursinya seperti biasa—namun kali ini, Ratu berada di pangkuannya. Keduanya tampak begitu dekat. Seolah tak pernah ada jarak di antara mereka sebelumnya. Sejak kapan? Djiwa menelan ludahnya pelan. Semalam, ia memilih tidak bergabung di meja makan. Dengan alasan sudah kenyang, ia menghindari kebersamaan yang terasa canggung—meninggalkan ketiga anaknya yang sempat bertanya ke mana ia pergi. Dan pagi ini semuanya terasa berubah. “Ratu mau roti lagi, Dad,” ucap bocah itu manja, sambil memeluk leher ayahnya. Radja tersenyum tipis, lalu mengecup kening putrinya tanpa ragu. “Ayo makan yang banyak, biar kuat,” balasnya lembut, nada suaranya jauh berbeda dari dingin yang biasa Djiwa rasakan. Ratu terkikik kecil, tampak begitu nyaman di pangkuan ayahnya. Radja kembali mengecup pipinya sekilas, memperlakukan gadis kecil itu seolah dunia hanya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 527

    Tubuh Radja sedikit terhuyung oleh dorongan kecil itu. Ia terdiam. Dua tangan kecil yang melingkar di tubuhnya terasa hangat dan tulus. “Daddy ….” suara Ratu bergetar di dada Radja. Pelukannya semakin erat, seolah takut ayahnya akan menjauh lagi. “Ratu kangen, Daddy,” lirihnya, wajah kecil itu menempel di tubuh sang ayah. “Ratu kangen banget ….” Radja terdiam. Detik itu juga, sesuatu di dalam dirinya runtuh. Perlahan, kedua tangannya terangkat lalu membalas pelukan putrinya. Erat. Hangat. Seolah tak ingin melepas. “Ratu,” suaranya lebih pelan dari biasanya. Bocah itu mendongak, matanya sudah berkaca-kaca. “Maafin Ratu ya, Dad … Ratu gak boleh marah sama Daddy, Ratu salah,” ucapnya terputus-putus, menahan tangis. Rahang Radja mengeras sesaat, bukan karena marah—tapi karena menahan perasaan yang tiba-tiba menyerbu. Tanpa banyak kata, ia membungkuk sedikit, lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Ratu langsung melingkarkan kedua tangannya di leher ayahnya. Rad

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 526

    Djiwa membulatkan matanya, terkejut. Dadanya langsung berdegup tak karuan. Dari mana Radja tahu? Tentang dirinya yang setengah hari tidak ada di rumah, tentang Bagas, tentang sekolah Lumina. Radja menghembuskan napas kasar, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi mengendap di dadanya. “Kamu mau bilang ini kebetulan?” suaranya rendah, namun tajam. “Atau … salah paham?” Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk seringai yang nyaris tak terlihat—pahit, dingin. “Terlalu banyak kebetulan dan salah paham yang kamu pakai, Djiwa,” lanjutnya pelan, namun menekan. “Bukannya menghapus kecurigaan saya, justru semakin menguatkannya.” Ia melangkah mendekat satu langkah. “Bahkan bukan cuma kamu,” sambungnya, sorot matanya mengeras. “Saya melihat sendiri, putri saya mulai lebih nyaman dengan laki-laki itu.” Jeda sejenak. “Hebat,” bisiknya dingin. “Kamu berhasil memperkenalkan sosok baru dalam hidup anak saya, tanpa saya tahu.” Djiwa menggigit bibirnya kuat. Rasa perih menjalar hingga ke dada.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 525

    “Kamu … apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Djiwa dingin, tatapannya lurus menembus Bagas di hadapannya. Ada jarak yang tiba-tiba tercipta, bukan sekadar antara mantan guru les dan orang tua murid, tapi sesuatu yang lebih tajam lebih berhati-hati. Bagas tampak sedikit terkejut. Apalagi saat beberapa detik sebelumnya, Djiwa dengan refleks meraih tangan Ratu dari genggamannya—seolah sedang menarik anaknya menjauh dari sesuatu yang berbahaya. Padahal mereka saling mengenal. Karena sebelumnya dia sudah mengajar tiga anak kembar itu beberapa bulan. Namun sebelum Bagas sempat membuka suara, Ratu sudah lebih dulu berbicara dengan wajah berbinar. “Mommy, ini Kak Bagas. Dia jadi guru sekarang di sekolah Ratu. Ngajarnya juga di kelas Ratu!” Djiwa menelan ludahnya pelan. Sorot matanya sempat turun ke seragam yang dikenakan Bagas, rapi, lengkap, tak terbantahkan. Ia sebenarnya sudah tahu jawabannya, seragam itu sudah menjelaskan semua. Namun entah kenapa, pertanyaan itu tetap keluar. “B

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 524

    “Kak … Kak Bagas?” lirihnya. Di sana, beberapa meter di depannya—seorang pria berdiri mengenakan seragam guru SD Lumina, rapi dan profesional. Bagas. Tanpa berpikir panjang, Ratu langsung berlari. “Kak Bagaaaas!” teriaknya nyaring, menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Bagas yang semula sedang berbincang dengan salah satu guru menoleh cepat. Dan detik berikutnya, tubuh kecil itu sudah menabrak pelukannya. Memeluknya erat. Bagas sedikit terkejut, namun refleks tangannya membalas pelukan itu. “Ratu?” ucapnya pelan. Bocah itu mendongak, matanya sudah berkaca-kaca. “Kak Bagas balik?” suaranya bergetar, antara bahagia dan tak percaya. Di belakangnya, Regan dan Naren berhenti melangkah. Keduanya saling berpandangan. Lalu menatap ke arah Bagas yang kini berdiri di tengah lobi sekolah mereka sebagai seorang guru. _____ “Saya cukup terkejut setelah mendapatkan informasi itu, Pak,” ucap Arga siang itu, berdiri di hadapan meja kerja Radja. “Apa ini ada hubungannya dengan kec

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 523

    Pagi itu, Djiwa terbangun di kamarnya karena cahaya matahari yang menyusup dari celah tirai yang sedikit terbuka. Hangatnya sinar itu jatuh tepat di wajahnya, memaksanya membuka mata perlahan. Tubuhnya masih terbalut selimut tebal. Refleks, ia menoleh ke kanan dan kiri. Kosong. Tak ada sosok Radja di sana. Keningnya berkerut. Ingatannya kembali pada semalam—pelukan hangat itu, tangis yang pecah, dan dirinya yang akhirnya tertidur di ruang kerja. “Mas Radja …,” gumamnya lirih. Lalu ia menghela napas pelan. “Jadi dia gak tidur sama aku?” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Apa dia balik lagi ke ruang kerja setelah anter aku ke sini?” Djiwa mendengus pelan, menahan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang. “Aku kira dia udah maafin aku setelah peluk aku semalem,” lanjutnya pelan. “Tapi ternyata belum tentu.” Senyum tipis terukir di bibirnya, pahit. Seolah ia terlalu cepat berharap. _____ Di sisi lain, Radja sudah tampil rapi dengan setelan kerjanya. Kem

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 63

    Ruang tunggu klinik fertilitas itu sunyi, hanya bunyi jam dinding yang terdengar pelan. Fairish duduk merapat pada Sultan, kedua tangannya dingin dan saling menggenggam erat di pangkuannya. Pintu ruangan dokter Hans terbuka. “Nyonya Fairish, Dokter Sultan. Maaf membuat kalian menunggu lama.” “Ti

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 65

    “Kamu serius?” desis Kaisar. Ia langsung bangkit dari duduknya, dan berdiri di hadapan sang istri. Tatapannya dingin dan menusuk. “Iya, Djiwa serius. Djiwa emang lihat Mas sama perempuan itu kemarin malam,” balas Djiwa tenang. Dan sebelum Kaisar sempat membalas—Djiwa menambahkan dengan suara yan

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 69

    “M-mas ... jangan bercanda,” Djiwa mengerucutkan bibirnya sebal, takut diberi harapan palsu. Radja tersenyum miring. “Untuk apa saya bercanda? Memangnya ada saya katakan kalau kita ke sini untuk kerja?” satu alisnya terangkat tipis. Napas Djiwa tercekat di tenggorokan. “Ta-tapi, schedule yang Pa

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 61

    “Sultan, kamu di mana?” tanya Radja pada sang adik melalui telepon. Saat ini dia masih berada di depan ruangan rawat inap kakek Djiwa yang tiba-tiba menghilang dari ruangan. Sementara Djiwa di hadapannya tampak cemas dan gelisah. “Saya baru saja keluar dari ruangan radiologi, kenapa?” suara Sulta

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status