Masuk“Ini ujian untuk kamu, sayang. Antara percaya sahabat kamu, atau suamimu sendiri.” Ucapan Radja semalam terus terngiang di kepala Djiwa. Bahkan hingga pagi itu, saat tangannya sibuk menata sarapan di meja makan, pikirannya tetap dipenuhi kalimat tersebut. “Tapi rasanya gak mungkin ….” gumamnya lirih pada diri sendiri. “Apanya yang gak mungkin, Mom?” Djiwa tersentak. Ia menoleh cepat dan mendapati Regan berdiri di belakangnya, sudah rapi dengan seragam sekolah lengkap. Djiwa buru-buru menggeleng. “Gak ada, sayang.” Regan mengernyit tipis, jelas tidak sepenuhnya percaya, namun memilih tak bertanya lagi. “Ayo, duduk dulu,” ucap Djiwa sambil tersenyum kecil. “Adik-adik kamu mana?” Belum sempat Regan menjawab, Naren dan Ratu sudah muncul berlari kecil menuju meja makan. Di belakang mereka Radja menyusul dengan kursi rodanya. Tatapan Djiwa otomatis bertemu dengan mata suaminya. Dan seketika ucapan semalam kembali menghantam benaknya. Antara percaya sahabatmu, atau suamimu sendir
Jantung Djiwa seperti berhenti berdetak. “A-Apa maksud kamu …?” bisiknya. Tatapan Radja menajam. “Yang menyebabkan kecelakaan saya,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan, “Memang Karin.” Seketika darah Djiwa serasa surut dari wajahnya. Matanya membulat. Bibirnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Radja menatap istrinya lurus tanpa sedikit pun keraguan. “Sekarang pertanyaannya …,” ia menyipitkan mata tipis, “Kamu siap dengar bagaimana saya bisa tahu itu?” Napas Djiwa tercekat di tenggorokan. Refleks, kepalanya menggeleng pelan. “Mas …,” suaranya lirih, nyaris berbisik. “Itu gak mungkin.” Radja hanya menatapnya diam. “Aku kenal Karin,” lanjut Djiwa, kini lebih tegas meski matanya masih dipenuhi kebingungan. “Dia gak mungkin ngelakuin itu. Dan kalaupun iya …,” tenggorokannya terasa kering, “Alasannya apa?” Ada jeda panjang. Radja menatap istrinya lama, seolah membaca setiap keyakinan yang masih bertahan di wajah perempuan itu. “Kamu langsung menyimpulkan Karin tidak mungkin
Malam itu, Djiwa baru kembali setelah menidurkan ketiga anak mereka. Dulu, rutinitas itu selalu dilakukan Radja. Namun kini, sejak kondisi suaminya berubah, Djiwa memilih mengambil alih semuanya sendiri. Ia naik ke atas ranjang sambil tersenyum jahil. “Sekarang,” godanya pelan, merangkak mendekat, “Giliran aku nidurin Daddy-nya anak-anak.” Radja mengangkat satu alis. “Tapi sebelum itu …,” lanjut Djiwa, melirik ke bawah selimut, “Kamu mau ke kamar mandi dulu, gak?” “Untuk apa?” tanya Radja datar. “Mungkin mau pipis sebelum tidur?” Radja hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Tangannya terulur, menarik tubuh Djiwa hingga wanita itu jatuh bersandar di dada bidangnya. Tanpa protes, Djiwa langsung memeluk pinggang suaminya, menikmati hangat tubuh yang begitu ia rindukan setelah hari-hari penuh ketakutan. “Selama saya di Jerman,” ujar Radja pelan sambil mengusap puncak kepala istrinya, “Apa saja yang terjadi di sini?” Djiwa terdiam sejenak. “Ban
“Sebelumnya aku udah bilang ke Mami kalau aku gak ikut,” ucap Karin lirih begitu memasuki kamar mereka di mansion. “Aku tahu Mbak Fairish gak akan suka lihat aku dateng.” Kaisar yang masuk setelahnya menutup pintu pelan, lalu menyusul sang istri ke tepi ranjang. Ia duduk di samping Karin, menghembuskan napas panjang. “Fairish memang seperti itu,” ujarnya tenang, pandangannya lurus ke depan. “Saya sudah kenal dia cukup lama.” Karin hanya tersenyum tipis. Ia tahu persis seperti apa hubungan masa lalu suaminya dengan Fairish. “Dulu dia bahkan sangat membenci Djiwa,” lanjut Kaisar. “Tapi lihat sekarang, mereka bisa dekat.” Karin menoleh cepat. “Jadi Mas mau aku gimana? Nerima aja semuanya? Dan nunggu momen di mana aku bisa diterima di keluarga ini kayak Djiwa dulu?” Sudut bibir Kaisar terangkat tipis. “Bukan begitu.” Ia akhirnya menatap istrinya. “Saya cuma mau kamu berhenti terlalu memikirkan orang yang memang tidak suka sama kamu.” Nada suaranya rendah, tegas. “Selama kamu tid
Lorong rumah sakit itu lengang, hanya suara langkah kaki yang samar dan dengung alat medis dari kejauhan. Radja menghentikan kursi rodanya. Tatapannya lurus, dingin. Karin berdiri beberapa langkah di depannya, tubuhnya seolah membeku di tempat. Napasnya tercekat saat menyadari tak ada lagi jalan untuk menghindar. “Mas ….” panggilnya pelan, nyaris tak terdengar. Radja tak menjawab, hanya menatap datar, kosong, dan sulit ditebak. Karin menelan ludahnya susah payah. Jari-jarinya saling meremas, gugup tanpa sebab yang jelas, atau mungkin dia sendiri tahu alasannya. “Aku … aku dengar kondisi Mas sekarang,” ucapnya hati-hati. “Tentang … kaki Mas.” Tak ada respon. Keheningan itu justru membuatnya semakin panik. “Dulu … Mas Adrian juga begitu,” lanjut Karin, sudut bibirnya terangkat tipis. “Waktu kecelakaan itu, dia juga lumpuh. Kena edema otak, dan dokter bilang umurnya gak lama.” Radja masih diam. Namun kali ini, sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum yang sama sekali tak hangat, t
“Jenis kelaminnya laki-laki, Dok,” ucap bidan itu lembut, lalu menyerahkan bayi mungil yang masih merah kepada Sultan. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Sultan menerima putranya. Senyum lebar langsung terukir di wajahnya—campuran haru, lega, dan tak percaya. Tatapannya perlahan beralih pada Fairish yang terbaring lemah di atas ranjang, napasnya masih belum teratur, keringat dingin membasahi pelipisnya. “Anak kita laki-laki, Rish,” bisik Sultan, suaranya melembut. Fairish tersenyum tipis. Lelahnya begitu nyata, tapi ada kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan. “Adipati ….” gumamnya lirih. Sultan tertegun. Nama itu, nama yang dulu sempat ia simpan, andai Binar terlahir sebagai anak laki-laki. Matanya kembali menatap bayi di pelukannya, lalu pada istrinya. “Terima kasih,” ucapnya tulus, nyaris berbisik. Di luar ruang persalinan, suasana jauh lebih riuh. “Mama!” Binar terus mengetuk pintu, wajahnya dipenuhi kecemasan dan rasa tidak sabar. Ia sempat menangis saat mendengar je
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
Ruang tunggu klinik fertilitas itu sunyi, hanya bunyi jam dinding yang terdengar pelan. Fairish duduk merapat pada Sultan, kedua tangannya dingin dan saling menggenggam erat di pangkuannya. Pintu ruangan dokter Hans terbuka. “Nyonya Fairish, Dokter Sultan. Maaf membuat kalian menunggu lama.” “Ti
“Sultan, kamu di mana?” tanya Radja pada sang adik melalui telepon. Saat ini dia masih berada di depan ruangan rawat inap kakek Djiwa yang tiba-tiba menghilang dari ruangan. Sementara Djiwa di hadapannya tampak cemas dan gelisah. “Saya baru saja keluar dari ruangan radiologi, kenapa?” suara Sulta







