Partager

BAB 577

Auteur: Langit Parama
last update Date de publication: 2026-06-06 00:02:04

“Kamu sakit lagi, Mas?” Kaisar mendekat, berdiri di sisi ranjang sang kakak.

Radja tak menjawab. Tatapannya jatuh pada kedua kakinya yang tertutup selimut, seolah ada sesuatu yang terus ia pikirkan.

“Iya,” sahut Sultan tenang. “Mas Radja sakit sejak di Jerman.”

Ia melirik Kaisar dalam. “Sampai Djiwa harus menyusul ke sana untuk menjemputnya.”

Kaisar terhenyak. “Sejak kapan? Terus anak-anak gimana?”

“Sudah lebih dari seminggu Djiwa di sana,” jawab Sultan. “Anak-anak sama saya di rumah.”

Uc
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Suci Nurindah
semoga kebusukan karin cepat kebongkar n lgs masuk penjara aja jangan kasih ampun dah buat radja menderita sampe djiwa n anak"nya juga ikut menderita karin harus membayar setiap perbuatan yang telah dia lakukan ke djiwa n radja buat karin n kaisar menyesal
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 578

    Kaisar berdiri di balkon kamarnya siang itu. Di sela jemarinya, sebatang rokok menyala pelan. Sesekali ia mengisapnya, lalu menghembuskan asap ke udara, menguap, hilang, seperti pikirannya yang tak kunjung menemukan ujung. Fokusnya hanya satu, kondisi sang kakak. Dan sosok sang istri yang sampai sekarang disebut-sebut sebagai pelaku utama kecelakaan tersebut. “Bukan …,” gumamnya pelan. “Bukan karin pelakunya. Akan kupastikan kalau istriku tidak bersalah.” Suara pintu terbuka pelan dari dalam kamar. Langkah ringan mendekat. Karin muncul di ambang balkon, membawa nampan kecil berisi minuman dingin dan beberapa camilan. Ia melangkah pelan, lalu meletakkan nampan itu di meja kecil di samping kursi. “Kamu masih di sini,” ucapnya lembut. Kaisar tak langsung menoleh. Karin berdiri di sampingnya, menatap ke arah yang sama, hamparan halaman mansion yang sunyi. “Masih mikirin Mas Radja, ya?” tanyanya pelan. Kaisar menghela napas panjang, lalu mematikan rokoknya di asbak. “Bukan cuma

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 577

    “Kamu sakit lagi, Mas?” Kaisar mendekat, berdiri di sisi ranjang sang kakak. Radja tak menjawab. Tatapannya jatuh pada kedua kakinya yang tertutup selimut, seolah ada sesuatu yang terus ia pikirkan. “Iya,” sahut Sultan tenang. “Mas Radja sakit sejak di Jerman.” Ia melirik Kaisar dalam. “Sampai Djiwa harus menyusul ke sana untuk menjemputnya.” Kaisar terhenyak. “Sejak kapan? Terus anak-anak gimana?” “Sudah lebih dari seminggu Djiwa di sana,” jawab Sultan. “Anak-anak sama saya di rumah.” Ucapan itu membuat dada Sekar semakin sesak. Tangannya terangkat perlahan, gemetar mengarah pada Radja. Djiwa yang peka langsung mendorong kursi roda itu mendekat ke sisi ranjang. “Ra … d … ja ….” lirih Sekar, suaranya pecah. Air matanya jatuh satu per satu. “I … ni … Ma … mi ….” ia berusaha bicara, namun kata-katanya tersendat. Tangannya meraih tangan Radja dengan susah payah. Tatapannya penuh penyesalan. Seolah ingin mengatakan maaf. Seolah ingin menarik semua yang sudah terjadi. “Ma … a …

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 576

    “Mi,” panggil Kaisar saat memasuki kamar ibunya. Sekar yang tengah menjalani terapi bersama dokter langsung menoleh. Di sisi lain, Karin duduk setia menemani. “Ada apa, Mas?” Karin segera bangkit, menghampiri suaminya. Kaisar menatapnya sejenak. Kali ini, raut wajahnya berbeda—ada kelegaan yang tak bisa disembunyikan. “Mas Radja udah pulang dari Jerman.” Seketika mata Sekar berbinar. Bibirnya bergetar, berusaha merangkai kata. “Ra … d … ja …?” “Iya, Mi,” jawab Kaisar lembut. Wanita itu berusaha bangkit dari duduknya, tubuhnya masih belum sepenuhnya kuat. “Ke … sa … na … ki … ta … ke … sa … na ….” “Tidak perlu, Mi. Biar aku telefon Mas Radja, suruh dia dateng ke sini,” ucap Kaisar. Namun Sekar menggeleng dengan tegas. “Ke ... sa ... na ...!” Kaisar menghela napas ringan. “Lihat kondisi Mami. Daripada kita yang ke sana, lebih baik Mas Radja yang datang ke sini.” “Ke ... sa ... na ....” rengek Sekar pada putra bungsunya itu. Ada jeda panjang. Kaisar langsung sigap menopang t

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 575

    “Mas …?” Sultan menatap kakaknya dengan raut tak percaya. “Kenapa bisa seperti ini?” Djiwa segera menyela, suaranya lembut namun terburu. “Ceritanya panjang, Mas. Nanti kami jelaskan di rumah.” Sultan mengangguk singkat. “Baik. Mobil kalian sudah menunggu di depan.” “Ratu mau ikut Daddy sama Mommy, ya, Om,” ucap gadis kecil itu pelan. Ia mendekat, lalu menggenggam lengan ayahnya dengan hati-hati, seolah takut menyakitinya. Sultan menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. “Iya. Om sama Binar nyusul di belakang, ya.” Ia pun berjalan lebih dulu, menggandeng tangan Binar menuju mobil. Sementara itu, Regan dan Naren memilih tetap bersama orang tua mereka. Tak ada percakapan. Hanya langkah pelan dan tatapan penuh tanya. Saat sampai di mobil, sopir dan Arga sigap membantu Radja berpindah dari kursi roda ke kursi penumpang. Ketiga anak itu memperhatikan tanpa berkedip. Ada bingung. Ada takut. Dan ada perasaan asing melihat ayah mereka seperti itu. Ratu segera naik dan duduk di sam

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 574

    Djiwa merapikan selimut yang menutupi tubuh suaminya. Malam itu, Radja sudah terlelap setelah minum obat. Perlahan, Djiwa naik ke atas brankar, berbaring di sisi kiri sang suami. Tangannya melingkar di pinggang pria itu, memeluknya erat—seolah takut kehilangan lagi. “Cepat sembuh ya, Mas … semoga lusa kita bisa pulang,” bisiknya lirih. Beberapa detik berlalu. Radja yang semula memejamkan mata, perlahan membukanya. Tatapannya lurus ke langit-langit kamar VIP yang sunyi. “Saya … cacat,” gumamnya pelan. Suaranya berat, nyaris tak bernyawa. Djiwa tersentak. Ia langsung mendongak menatap suaminya. “Kamu belum tidur, Mas?” Radja melirik ke arahnya sekilas. “Saya tidak bisa jalan. Kamu tahu itu.” Kalimat itu dingin, penuh tekanan. Djiwa tidak menjauh. Justru ia mengeratkan pelukannya. “Tapi aku bisa,” balasnya tenang. “Kamu punya aku. Dan aku akan jadi kaki kamu.” Radja terdiam. Tatapannya beralih pada wajah istrinya, lama tanpa kata. “Dokter juga bilang kamu bisa pulih,” lanjut Dj

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 573

    “Tadi waktu Mas Regan sama Mas Naren berangkat sekolah, Ratu sempat telepon Mommy,” ucap gadis kecil itu pelan, duduk di atas ranjang sambil memeluk bonekanya. Regan dan Naren yang baru pulang sekolah saling melirik sekilas. “Terus gimana kabar Mommy di sana? Udah ketemu Daddy?” tanya Naren penasaran, langsung duduk di samping adiknya. Wajah Ratu seketika murung. “Daddy lagi sakit, sama kayak Ratu,” lirihnya. “Sakit lagi?” mata Naren membulat. Regan langsung menatap adiknya, berusaha tetap tenang. “Kan Daddy memang udah sakit sebelum ke sana. Mungkin karena kecapekan jadi makin parah. Jangan terlalu dipikirin, yang penting kita doain.” “Aamiin,” sahut Naren dan Ratu bersamaan. Regan kembali bertanya, kali ini lebih lembut, “Terus kamu ngomong apa lagi sama Mommy?” “Mommy bilang nanti bakal telepon lagi kalau Daddy udah bisa ditemuin, terus Mommy juga bilang bakal cepat pulang,” jawab Ratu pelan. Regan mengangguk singkat. “Ya udah, kalau gitu aku mau ganti baju dulu.” _____

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 131

    “Djiwa nggak mau, Mas.” Suara Djiwa terdengar pelan, namun tegas. Tatapannya lurus ke depan, menolak menoleh. Radja melirik singkat ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan. “Maksudnya?” “Djiwa gak mau ke dokter obgyn. Apalagi USG untuk tahu jenis kelamin anak ini.” Sudut bibir Radja terangka

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-24
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 127

    “Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 89

    “Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-21
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status