FAZER LOGIN“Kamu mau mulai masuk kantor hari ini, Mas?” Djiwa bertanya sambil memperhatikan Radja yang baru masuk ke wardrobe dan mulai mencari setelan jasnya sendiri. Radja menoleh sekilas, lalu tersenyum kecil. “Iya.” Djiwa langsung bangkit dari duduknya di tepi ranjang. “Kenapa gak bilang dari semalem?” protesnya pelan sambil berjalan mendekati lemari pakaian. “Kan aku bisa siapin semuanya dari tadi malem.” “Semua pakaian saya sudah rapi dan tinggal dipakai,” jawab Radja tenang. “Kamu gak perlu repot.” “Tetep aja.” Djiwa mengambil salah satu setelan jas berwarna gelap lalu menyerahkannya pada sang suami. “Aku pengen jadi istri kayak biasanya, yang siapin semua kebutuhan kamu.” Tatapan Radja melembut tipis. Ia menerima jas itu tanpa banyak bicara, lalu mulai berganti pakaian tepat di hadapan istrinya seperti biasa. Sementara Djiwa berjalan menuju laci kecil tempat jam tangan dan koleksi dasi Radja tersimpan rapi. “Aku ambilin dasi sama jam tangan kamu, ya.” Radja hanya mengangguk pe
Pagi itu Kaisar sibuk menata sarapan di meja makan apartemen tempat Karin bersembunyi. Beberapa kotak makanan yang ia pesan dari luar tersusun rapi di sana. bubur hangat, roti panggang, susu, buah potong, juga makanan yang menurutnya aman untuk ibu hamil. Karena satu hal yang sangat ia sadari, ia sama sekali tidak punya kemampuan memasak. Karin yang baru keluar dari kamar langsung berhenti langkah begitu melihat meja makan sudah penuh. “Mas …,” gumamnya pelan. Ia berjalan mendekat perlahan. “Gimana keadaan Mami?” Kaisar menoleh sekilas, lalu menarikkan kursi untuknya duduk. “Mami membaik,” jawabnya tenang sambil membalik piring di depan Karin. “Apalagi setelah saya bilang kalau menantu kesayangannya baik-baik saja.” Karin terdiam sesaat mendengar kalimat itu. Menantu kesayangan. Entah kenapa dadanya langsung terasa sesak. “Beliau benar-benar khawatir sama kamu,” lanjut Kaisar sambil ikut duduk di samping istrinya. “Sama kamu dan anak yang kamu kandung.” Tatapan Karin perlah
Karin tertawa sumbang, pahit. “Lindungi aku?” ulangnya lirih sambil menggeleng tak percaya. “Kamu pikir aku masih bisa percaya sama kamu, Mas?” Tatapan Kaisar menajam, lurus menembus mata istrinya. “Kamu pikir saya sebodoh itu sampai membiarkan istri saya yang sedang hamil masuk penjara?” Kalimat itu membuat napas Karin tercekat sesaat. Namun amarah dan ketakutan di dalam dirinya jauh lebih besar. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. “Saya benar-benar datang untuk melindungi kamu, Rin.” Kaisar melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan untuk meraih jemari istrinya dengan hati-hati. “Kamu … dan anak kita.” Namun Karin langsung menarik tangannya menjauh. “Kamu bisa apa, Mas?” suaranya pecah penuh emosi. “Ini Mas Radja. Bukan Mas Sultan.” Tatapan Kaisar berubah gelap. Dan Karin tetap melanjutkan. “Dari dulu kamu selalu kalah dari dia.” Tawanya kembali terdengar hambar. “Makanya dulu kamu gak pernah benar-benar suka sama Mas Radja, kan?” Rahang Kaisar langsung menger
“Bagaimana tanggapan kamu soal rekaman di mobil tadi siang?” Pertanyaan itu meluncur tenang dari bibir Radja saat keduanya bersiap tidur malam itu. Namun bagi Djiwa, kalimat sederhana itu terasa seperti hantaman mendadak. Tubuhnya menegang di atas kasur. Tangannya yang baru saja merapikan selimut langsung berhenti bergerak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum menjawab, “Aku … gak tahu harus nanggepin gimana lagi, Mas.” Radja menoleh menatapnya. “Sulit menerima kenyataannya,” ujarnya pelan, “karena dia sahabat kamu?” Djiwa menunduk. Kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. “Aku cuma …,” suaranya mengecil. “Aku gak nyangka. Karin yang selama ini selalu ada buat aku, yang bantu aku di masa-masa sulit ….” Ia menelan ludah dengan susah payah. “Ternyata di balik semua itu, dia punya tujuan lain.” Radja memandang istrinya beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Lalu ia duduk di sisi ranjang, menghadap Djiwa. “Sekarang kamu paham kenapa saya ti
“Gimana dia bisa tahu aku di sini?” gumam Karin dengan suara gemetar. Tubuhnya langsung mundur satu langkah dari pintu, kedua tangan refleks memeluk perutnya, seolah berusaha melindungi bayi di dalam kandungannya dari apa pun yang akan terjadi setelah ini. Tok. Tok. Tok. Ketukan di pintu terdengar. “Saya tahu kamu di dalam,” suara Kaisar terdengar dari luar, dalam dan menekan. “Buka pintunya.” Karin memejamkan mata rapat. Tak bergerak. Tak bernapas dengan benar. “Karin.” Kali ini nada Kaisar lebih rendah, namun jauh lebih mengintimidasi. “Saya bilang buka pintunya.” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Karin. Namun tubuhnya tetap membeku. Sampai suara itu kembali terdengar, lebih dingin. “Kalau kamu tidak buka sekarang, saya akan minta keamanan apartemen membukanya dari luar.” Ada jeda singkat. “Kamu tahu saya bisa melakukan itu.” Napas Karin tersendat, tangannya gemetar hebat. Ia tahu Kaisar tidak sedang menggertak. Dengan langkah lemah, Karin akhirnya mendekat ke pin
Djiwa duduk kaku di kursi penumpang, tubuhnya menegang seperti kehilangan kemampuan untuk bergerak. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan, dingin dan gemetar. Radja baru saja turun untuk menjemput anak-anak mereka di depan kelas. Dan selama beberapa menit itu, dunia Djiwa terasa runtuh. Ia sudah mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap ancaman. Setiap potongan percakapan antara Radja dan Karin yang tersimpan dalam rekaman itu. Napasnya memburu. Dadanya sesak. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mempercayai suaminya. Berjanji berhenti mencurigai. Berjanji tak akan lagi menuduh tanpa bukti. Tapi bukti itu kini ada di hadapannya. Begitu nyata dan menyakitkan. “Jadi …,” bibirnya bergetar pelan. “Karin masuk ke keluarga Reinard cuma buat bales dendam ke Mas Radja?” Air matanya menggenang. “Semua yang selama ini aku ceritain ke dia …,” suaranya mengecil, nyaris tak terdengar. “Dia pakai buat cari celah ngehancurin hidup suami aku?” Tangannya mengepal makin erat
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
Kaisar menghela napas panjang begitu mobilnya masuk gerbang kantor. Langit siang yang terik tak mampu menghangatkan dinginnya pikiran yang menggulung di kepalanya sejak sesi konsultasi tadi. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, iramanya tak beraturan—tanda jelas bahwa hatinya sedang kacau karena renc
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya







