LOGIN“Mas Radja ke mana, Pak? Kok gak ada di ruangannya?” tanya Djiwa pada Arga yang baru saja masuk ke ruangan Radja. “Eh, Pak Arga mau cari Pak Rajendra juga, ya?” ralatnya cepat.
Arga tersenyum kecil. “Tidak, kok. Saya datang ke sini mau nyimpan berkas-berkas milik Pak Rajendra.” “Oh ...,” Djiwa mengangguk paham. “Tapi Bapak gak tahu Pak Rajendra ke mana?” “Kalau itu saya kurang tahu. Tapi yang jelas, beliau sudah pulang lebih dulu,Pagi itu, langkah Djiwa terhenti begitu memasuki ruang makan. Tatapannya langsung tertuju pada satu pemandangan yang tak ia duga. Radja duduk di kursinya seperti biasa—namun kali ini, Ratu berada di pangkuannya. Keduanya tampak begitu dekat. Seolah tak pernah ada jarak di antara mereka sebelumnya. Sejak kapan? Djiwa menelan ludahnya pelan. Semalam, ia memilih tidak bergabung di meja makan. Dengan alasan sudah kenyang, ia menghindari kebersamaan yang terasa canggung—meninggalkan ketiga anaknya yang sempat bertanya ke mana ia pergi. Dan pagi ini semuanya terasa berubah. “Ratu mau roti lagi, Dad,” ucap bocah itu manja, sambil memeluk leher ayahnya. Radja tersenyum tipis, lalu mengecup kening putrinya tanpa ragu. “Ayo makan yang banyak, biar kuat,” balasnya lembut, nada suaranya jauh berbeda dari dingin yang biasa Djiwa rasakan. Ratu terkikik kecil, tampak begitu nyaman di pangkuan ayahnya. Radja kembali mengecup pipinya sekilas, memperlakukan gadis kecil itu seolah dunia hanya
Tubuh Radja sedikit terhuyung oleh dorongan kecil itu. Ia terdiam. Dua tangan kecil yang melingkar di tubuhnya terasa hangat dan tulus. “Daddy ….” suara Ratu bergetar di dada Radja. Pelukannya semakin erat, seolah takut ayahnya akan menjauh lagi. “Ratu kangen, Daddy,” lirihnya, wajah kecil itu menempel di tubuh sang ayah. “Ratu kangen banget ….” Radja terdiam. Detik itu juga, sesuatu di dalam dirinya runtuh. Perlahan, kedua tangannya terangkat lalu membalas pelukan putrinya. Erat. Hangat. Seolah tak ingin melepas. “Ratu,” suaranya lebih pelan dari biasanya. Bocah itu mendongak, matanya sudah berkaca-kaca. “Maafin Ratu ya, Dad … Ratu gak boleh marah sama Daddy, Ratu salah,” ucapnya terputus-putus, menahan tangis. Rahang Radja mengeras sesaat, bukan karena marah—tapi karena menahan perasaan yang tiba-tiba menyerbu. Tanpa banyak kata, ia membungkuk sedikit, lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. Ratu langsung melingkarkan kedua tangannya di leher ayahnya. Rad
Djiwa membulatkan matanya, terkejut. Dadanya langsung berdegup tak karuan. Dari mana Radja tahu? Tentang dirinya yang setengah hari tidak ada di rumah, tentang Bagas, tentang sekolah Lumina. Radja menghembuskan napas kasar, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi mengendap di dadanya. “Kamu mau bilang ini kebetulan?” suaranya rendah, namun tajam. “Atau … salah paham?” Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk seringai yang nyaris tak terlihat—pahit, dingin. “Terlalu banyak kebetulan dan salah paham yang kamu pakai, Djiwa,” lanjutnya pelan, namun menekan. “Bukannya menghapus kecurigaan saya, justru semakin menguatkannya.” Ia melangkah mendekat satu langkah. “Bahkan bukan cuma kamu,” sambungnya, sorot matanya mengeras. “Saya melihat sendiri, putri saya mulai lebih nyaman dengan laki-laki itu.” Jeda sejenak. “Hebat,” bisiknya dingin. “Kamu berhasil memperkenalkan sosok baru dalam hidup anak saya, tanpa saya tahu.” Djiwa menggigit bibirnya kuat. Rasa perih menjalar hingga ke dada.
“Kamu … apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Djiwa dingin, tatapannya lurus menembus Bagas di hadapannya. Ada jarak yang tiba-tiba tercipta, bukan sekadar antara mantan guru les dan orang tua murid, tapi sesuatu yang lebih tajam lebih berhati-hati. Bagas tampak sedikit terkejut. Apalagi saat beberapa detik sebelumnya, Djiwa dengan refleks meraih tangan Ratu dari genggamannya—seolah sedang menarik anaknya menjauh dari sesuatu yang berbahaya. Padahal mereka saling mengenal. Karena sebelumnya dia sudah mengajar tiga anak kembar itu beberapa bulan. Namun sebelum Bagas sempat membuka suara, Ratu sudah lebih dulu berbicara dengan wajah berbinar. “Mommy, ini Kak Bagas. Dia jadi guru sekarang di sekolah Ratu. Ngajarnya juga di kelas Ratu!” Djiwa menelan ludahnya pelan. Sorot matanya sempat turun ke seragam yang dikenakan Bagas, rapi, lengkap, tak terbantahkan. Ia sebenarnya sudah tahu jawabannya, seragam itu sudah menjelaskan semua. Namun entah kenapa, pertanyaan itu tetap keluar. “B
“Kak … Kak Bagas?” lirihnya. Di sana, beberapa meter di depannya—seorang pria berdiri mengenakan seragam guru SD Lumina, rapi dan profesional. Bagas. Tanpa berpikir panjang, Ratu langsung berlari. “Kak Bagaaaas!” teriaknya nyaring, menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Bagas yang semula sedang berbincang dengan salah satu guru menoleh cepat. Dan detik berikutnya, tubuh kecil itu sudah menabrak pelukannya. Memeluknya erat. Bagas sedikit terkejut, namun refleks tangannya membalas pelukan itu. “Ratu?” ucapnya pelan. Bocah itu mendongak, matanya sudah berkaca-kaca. “Kak Bagas balik?” suaranya bergetar, antara bahagia dan tak percaya. Di belakangnya, Regan dan Naren berhenti melangkah. Keduanya saling berpandangan. Lalu menatap ke arah Bagas yang kini berdiri di tengah lobi sekolah mereka sebagai seorang guru. _____ “Saya cukup terkejut setelah mendapatkan informasi itu, Pak,” ucap Arga siang itu, berdiri di hadapan meja kerja Radja. “Apa ini ada hubungannya dengan kec
Pagi itu, Djiwa terbangun di kamarnya karena cahaya matahari yang menyusup dari celah tirai yang sedikit terbuka. Hangatnya sinar itu jatuh tepat di wajahnya, memaksanya membuka mata perlahan. Tubuhnya masih terbalut selimut tebal. Refleks, ia menoleh ke kanan dan kiri. Kosong. Tak ada sosok Radja di sana. Keningnya berkerut. Ingatannya kembali pada semalam—pelukan hangat itu, tangis yang pecah, dan dirinya yang akhirnya tertidur di ruang kerja. “Mas Radja …,” gumamnya lirih. Lalu ia menghela napas pelan. “Jadi dia gak tidur sama aku?” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Apa dia balik lagi ke ruang kerja setelah anter aku ke sini?” Djiwa mendengus pelan, menahan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang. “Aku kira dia udah maafin aku setelah peluk aku semalem,” lanjutnya pelan. “Tapi ternyata belum tentu.” Senyum tipis terukir di bibirnya, pahit. Seolah ia terlalu cepat berharap. _____ Di sisi lain, Radja sudah tampil rapi dengan setelan kerjanya. Kem
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama
“Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.







