LOGINGuys, ini buku belum muncul juga ya di Beranda. The power of pembaca, banyakin komen, ulasan, dan vote GEM biar muncul lagi di Beranda. Yang udah sering vote GEM pertahankan, yang belum pernah jangan bilang males mau vote GEM, males-males ... padahal belum pernah🫵🏻👊🏻
Kepala Kaisar terpelanting ke samping, rahangnya mengeras, lidahnya mengecap rasa logam dari darah yang kembali pecah di sudut bibirnya. Fairish terengah. Tangannya gemetar antara marah, sakit, dan takut. “Jangan panggil nama aku,” ucapnya tajam, bergetar namun penuh tekanan. “Kamu gak punya hak.” Kaisar menoleh perlahan, menatap Fairish. Matanya menyipit, bukan marah—melainkan terkejut melihat sorot kebencian di wajah wanita itu. “Apa yang sebenernya kamu sembunyiin dari aku, Kai?” suara Fairish merendah, namun justru terdengar lebih berbahaya. “Djiwa hamil. Dan aku juga hamil.” Kaisar terdiam. “Satu bulan,” lanjut Fairish, menelan ludahnya berat. “Usia kandungan aku satu bulan lebih. Jadi jawab aku sekarang,” ia melangkah mendekat, jarak mereka tinggal sejengkal, “Di hari yang sama kamu tidur sama aku, kamu juga tidur sama Djiwa?” “Kamu jangan ngawur,” Kaisar akhirnya bersuara, nada suaranya tertahan. “Aku gak tahu kalau dia hamil.” “Itu bukan jawaban yang aku mau denger!” b
Sekar membeku. Fairish refleks mencengkeram ujung meja di sampingnya. Inggrit dan Kaisar membulatkan matanya terkejut. “Kaisar,” lanjut Radja, menatap lurus ke arah sang adik, “Hampir membahayakan nyawa janin itu, karena mendorong Djiwa sampai jatuh.” “Mendorong Djiwa?” Sekar mengulang pelan, dua kata itu meluncur dengan nada skeptis yang tajam. Tatapannya mengeras, menusuk Radja tanpa ragu. “Djiwa yang ceroboh,” lanjutnya dingin. “Jangan kamu balikkan keadaan, Dja. Semalam itu Djiwa yang menabrak Fairish. Mereka sama-sama jatuh. Kenapa justru adikmu yang kamu salahkan?” Radja menghela napas panjang, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi mengganjal dadanya. “Mami bisa tanyakan langsung pada orangnya,” ucapnya tenang, namun tegas. “Dan kalau Kaisar tidak mengaku, saya akan putarkan rekaman CCTV semalam.” Sekar beralih menatap putra bungsunya. Sorot matanya tak lagi menyisakan kehangatan. “Benar begitu, Kai?” tanyanya dingin. Namun bukan hanya Sekar yang terguncang. Inggrit mem
“Mas!” Kaisar cepat-cepat bangkit, tak ingin terlihat lemah di hadapan sang kakak. Radja mengencangkan dasinya dengan gerakan santai. Ia menatap adiknya lurus. Tatapan itu dingin, kosong, dan berwibawa. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. “Kamu sudah lihat ini?” Radja bertanya rendah, suaranya datar. Pria itu meraih iPad di atas meja, menyalakannya dan menunjukkan iPad itu ke arah Kaisar tanpa benar-benar memberikannya. Kaisar melirik sekilas layar itu. Wajahnya mengeras. “Mas, aku bisa jelasin—” Radja melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Tenang, tanpa tergesa. Jarak mereka tinggal sejengkal. “Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun,” ucap Radja lirih. “Saya sudah melihat dan menilai.” Belum sempat Kaisar membuka mulut lagi— BUGH! Pukulan keras melayang tepat ke rahang Kaisar untuk kedua kalinya. Tanpa peringatan. Tanpa amarah berisik. Tubuh Kaisar terlempar lagi ke belakang dan terjungkal ke lantai. Suara benturannya menggema di ruang kerja yang luas. Radja tetap berdi
“Mas …,” lirih Djiwa. Suaranya gemetar, matanya basah menatap Kaisar yang berdiri di hadapannya—dingin, keras, tanpa sedikit pun iba. Kaisar melangkah mendekat. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. “Kamu tuh gak pernah capek bikin masalah, ya?” suaranya rendah tapi menekan. “Gak pernah mikir kalau tiap kecerobohan kamu itu nyeret aku ke posisi paling memalukan.” Air mata Djiwa jatuh satu per satu. Bibirnya tergigit, menahan isak. “Kecerobohan kamu hampir bikin Fairish kehilangan anaknya,” lanjut Kaisar tanpa ragu. “Kamu tahu gak artinya itu? Aku berdiri di depan Mas Sultan dan Fairish sebagai suami yang gagal. Gagal jaga rumah tangga. Gagal jaga istri.” “Kamu boleh marah sama aku, Mas,” suara Djiwa bergetar, nyaris tak terdengar. “Kamu boleh benci aku. Tapi kamu gak berhak dorong aku kayak gitu.” “Semalem aku juga jatuh. Aku juga sakit. Dan sekarang …,” tangannya gemetar menahan sisi ranjang, “Aku baru keluar dari rumah sakit, dan kamu dorong aku lagi.” Kaisar mendengus
“Hamil?” Radja mengulang kata itu dengan nada skeptis. Ada keterkejutan, rasa miris, sekaligus geli yang pahit menyatu di wajahnya. Satu alisnya terangkat dingin. “Dongeng dari mana itu, hm?” Djiwa menelan ludah susah payah. Alih-alih terlihat senang, raut Radja justru mengeras. Reaksi itu membuat dadanya mengempis—bingung, ragu, tak tahu harus bersikap bagaimana. “Djiwa denger dari Mbok Iyam sama Mbok Inem, Mas,” jawabnya pelan. “Semalem … Djiwa gak sengaja denger obrolan mereka di dapur, waktu mau bantu masak.” Ia menunduk. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan. “Tapi—” “Tapi apa?” Radja menyela, suaranya rendah dan mendesak. Djiwa mengangkat wajahnya kembali, menatap lurus. Napasnya tersengal tipis. “Karena itu Djiwa ngerasa—” ucapannya terhenti, tenggorokannya tercekat. “Merasa kecil.” Radja tak memalingkan pandangannya. “Merasa apa, Djiwa?” desaknya, dingin dan tajam. Wanita itu menggigit bibirnya, ragu antara jujur atau menyimpan semuanya sendiri. “Djiwa jadi benci
“Biar saya bantu,” ucap Radja singkat. Ia segera menopang tubuh Djiwa, membantu wanita itu duduk setengah bersandar dengan bantal disusun rapi di belakang punggungnya. Gerakannya cekatan, nyaris tanpa ragu—begitu peduli entah sebagai seseorang yang peduli atau karena di dalam perut wanita itu tumbuh darah dagingnya. Tak lama kemudian, Radja kembali dengan semangkuk sup hangat dan sepiring nasi. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, waktu yang seharusnya Djiwa sudah terlelap, bukan justru memaksa diri untuk makan. Ia duduk di sisi ranjang. “Buka mulut,” perintahnya datar, namun nada itu lebih terdengar sebagai perhatian daripada kekerasan. Djiwa menatap sendok di depan bibirnya, ragu. “Mas … Djiwa tiba-tiba gak terlalu nafsu makan.” Radja tak menurunkan tangannya. Tatapannya justru mengeras, bukan marah—melainkan penuh ketegasan. “Kamu bukan makan untuk diri kamu sendiri sekarang,” katanya pelan. “Ada anak saya di situ.” Kalimat itu membuat dada Djiwa mengha







