LOGINReminder: Jangan lupa vote GEM, tinggalkan jejak komen, dan ulasan bintang lima Visualisasi tokoh lengkap, cek di igehku: @langit_parama jangan lupa follow, ya🫰🏻
Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama. Tangannya perlahan turun mengusap perutnya, gemetar. “Dengar, ya, sayang …,” bisiknya nyaris tak terdengar. “Kamu memang gak diharapkan keluarga ini, tapi kamu harus tetap kuat. Karena Mama berharap kamu lahir ke dunia.” Mbok Iyam menelan ludah berat, lalu berdiri sedikit ke depan, seolah ingin melindungi tubuh rapuh itu dari kata-kata yang bahkan belum sempat diucapkan langsung ke wajah Djiwa. “Kita ke paviliun belakang aja yuk, Non,” ajak Mbok Iyam lembut, kedua tangannya mengusap bahu Djiwa pelan, seolah menenangkan gemetar yang tak terlihat. Djiwa terdiam beberapa detik. Wajahnya masih pucat, matanya kosong seperti menahan sesuatu yang berat di dada. Lalu ia mengangguk kecil, pat
“Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radja bersikap dingin dan tak peduli pada anaknya—orang rumahnya selalu telat menjemputnya, seolah tak ingat memilikinya. Bahkan sang ibu sendiri. Inggrit tak begitu peduli pada Anggita karena dia darah daging Dante, pria yang ingin Inggrit lupakan dari hidupnya. “Hai, Anggita,” sapa seseorang yang berdiri menjuang di hadapan Anggita, sosok yang tak asing. “Om lagi?” ucap bocah itu ketus, bibirnya mencebik. Dante menyeringai miring. “Kamu belum dijemput?” tanyanya dengan nada rendah, namun suara itu tetap berat dan dalam. Anggita hanya menggeleng singkat. Tatapan polos bocah itu masih teralihkan pada mobil-mobil yang keluar masuk ke dalam halaman sekolahnya. “Biar Om antar ke rumah kamu, m
Kepala Kaisar terpelanting ke samping, rahangnya mengeras, lidahnya mengecap rasa logam dari darah yang kembali pecah di sudut bibirnya. Fairish terengah. Tangannya gemetar antara marah, sakit, dan takut. “Jangan panggil nama aku,” ucapnya tajam, bergetar namun penuh tekanan. “Kamu gak punya hak.” Kaisar menoleh perlahan, menatap Fairish. Matanya menyipit, bukan marah—melainkan terkejut melihat sorot kebencian di wajah wanita itu. “Apa yang sebenernya kamu sembunyiin dari aku, Kai?” suara Fairish merendah, namun justru terdengar lebih berbahaya. “Djiwa hamil. Dan aku juga hamil.” Kaisar terdiam. “Satu bulan,” lanjut Fairish, menelan ludahnya berat. “Usia kandungan aku satu bulan lebih. Jadi jawab aku sekarang,” ia melangkah mendekat, jarak mereka tinggal sejengkal, “Di hari yang sama kamu tidur sama aku, kamu juga tidur sama Djiwa?” “Kamu jangan ngawur,” Kaisar akhirnya bersuara, nada suaranya tertahan. “Aku gak tahu kalau dia hamil.” “Itu bukan jawaban yang aku mau den
Sekar membeku. Fairish refleks mencengkeram ujung meja di sampingnya. Inggrit dan Kaisar membulatkan matanya terkejut. “Kaisar,” lanjut Radja, menatap lurus ke arah sang adik, “Hampir membahayakan nyawa janin itu, karena mendorong Djiwa sampai jatuh.” “Mendorong Djiwa?” Sekar mengulang pelan, dua kata itu meluncur dengan nada skeptis yang tajam. Tatapannya mengeras, menusuk Radja tanpa ragu. “Djiwa yang ceroboh,” lanjutnya dingin. “Jangan kamu balikkan keadaan, Dja. Semalam itu Djiwa yang menabrak Fairish. Mereka sama-sama jatuh. Kenapa justru adikmu yang kamu salahkan?” Radja menghela napas panjang, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi mengganjal dadanya. “Mami bisa tanyakan langsung pada orangnya,” ucapnya tenang, namun tegas. “Dan kalau Kaisar tidak mengaku, saya akan putarkan rekaman CCTV semalam.” Sekar beralih menatap putra bungsunya. Sorot matanya tak lagi menyisakan kehangatan. “Benar begitu, Kai?” tanyanya dingin. Namun bukan hanya Sekar yang terguncang. Inggrit mem
“Mas!” Kaisar cepat-cepat bangkit, tak ingin terlihat lemah di hadapan sang kakak. Radja mengencangkan dasinya dengan gerakan santai. Ia menatap adiknya lurus. Tatapan itu dingin, kosong, dan berwibawa. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. “Kamu sudah lihat ini?” Radja bertanya rendah, suaranya datar. Pria itu meraih iPad di atas meja, menyalakannya dan menunjukkan iPad itu ke arah Kaisar tanpa benar-benar memberikannya. Kaisar melirik sekilas layar itu. Wajahnya mengeras. “Mas, aku bisa jelasin—” Radja melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Tenang, tanpa tergesa. Jarak mereka tinggal sejengkal. “Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun,” ucap Radja lirih. “Saya sudah melihat dan menilai.” Belum sempat Kaisar membuka mulut lagi— BUGH! Pukulan keras melayang tepat ke rahang Kaisar untuk kedua kalinya. Tanpa peringatan. Tanpa amarah berisik. Tubuh Kaisar terlempar lagi ke belakang dan terjungkal ke lantai. Suara benturannya menggema di ruang kerja yang luas. Radja tetap berdi
“Mas …,” lirih Djiwa. Suaranya gemetar, matanya basah menatap Kaisar yang berdiri di hadapannya—dingin, keras, tanpa sedikit pun iba. Kaisar melangkah mendekat. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. “Kamu tuh gak pernah capek bikin masalah, ya?” suaranya rendah tapi menekan. “Gak pernah mikir kalau tiap kecerobohan kamu itu nyeret aku ke posisi paling memalukan.” Air mata Djiwa jatuh satu per satu. Bibirnya tergigit, menahan isak. “Kecerobohan kamu hampir bikin Fairish kehilangan anaknya,” lanjut Kaisar tanpa ragu. “Kamu tahu gak artinya itu? Aku berdiri di depan Mas Sultan dan Fairish sebagai suami yang gagal. Gagal jaga rumah tangga. Gagal jaga istri.” “Kamu boleh marah sama aku, Mas,” suara Djiwa bergetar, nyaris tak terdengar. “Kamu boleh benci aku. Tapi kamu gak berhak dorong aku kayak gitu.” “Semalem aku juga jatuh. Aku juga sakit. Dan sekarang …,” tangannya gemetar menahan sisi ranjang, “Aku baru keluar dari rumah sakit, dan kamu dorong aku lagi.” Kaisar mendengus







