Share

BAB 84

Author: Langit Parama
last update publish date: 2025-12-26 08:52:51

“Mas Radja,” Djiwa menghampiri pria itu, refleks satu tangannya menutupi hidung ketika aroma alkohol menyergap tajam.

“Djiwa?” mata Radja menyipit. Pandangannya sedikit kabur, namun ia tetap bisa mengenali siluet wanita itu—bahkan di tengah kepalanya yang berat, aroma khas Djiwa tak pernah salah.

“Iya, Mas,” ucap Djiwa pelan. Ia duduk di samping Radja, mengulurkan tangan dan mengusap rahang kokoh pria itu dengan lembut. “Kenapa Mas sampai mabuk begini?”

Radja tak langsung menjawab. Ia han
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Yur Dania
semakin seruuu lanjutkan thoorrr
goodnovel comment avatar
Nadlif Rejeki Reaching
author dan radja sama² butuh dukungan,,,ayo semangat kalian...
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
jiwa ketakutan sama raja
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 480

    “Sayang, saya akan segera melakukan vasektomi,” ucap Radja pelan malam itu, suaranya tenang di tengah hening kamar. Djiwa yang sudah setengah berbaring langsung menoleh, keningnya berkerut. “Kenapa, Mas?” Radja terkekeh pelan. Tangannya terulur, ibu jarinya mengusap lembut pipi istrinya. “Kenapa?” ulangnya pelan. “Supaya saya tidak pernah menghamili kamu lagi.” Djiwa menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Daripada Mas yang vasektomi, mending aku aja yang steril.” Radja terdiam sejenak, matanya menatap dalam. “Kamu sudah disterilkan, sayang.” “Hah?” Djiwa membulatkan mata, jelas terkejut. “Iya,” lanjut Radja tenang. “Dokter melakukannya saat operasi kemarin. Mereka tidak mau ambil resiko, karena kondisi kamu tidak memungkinkan untuk hamil lagi.” Djiwa terdiam. Ada perasaan aneh yang menyelusup—lega, sekaligus kehilangan yang tak bisa dijelaskan. “Kalau gitu … Mas gak perlu vasektomi lagi,” ucapnya pelan. “Aku kan udah steril.” Radja menggeleng tegas, meski senyumnya t

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 479

    “Maaf ya, Bagas. Saya tidak sempat mengabari lebih dulu kalau les anak-anak untuk sementara harus ditunda. Kami masih dalam masa berkabung,” ucap Djiwa lembut, senyumnya tetap hangat meski ada kelelahan yang tersimpan di matanya. Bagas sempat terdiam, sedikit terkejut, lalu segera mengangguk sopan. “Tidak apa-apa, Nyonya,” balasnya, sekilas melirik ke arah dalam mansion yang tampak lebih sunyi dari biasanya. “Kira-kira … saya bisa mulai mengajar lagi kapan?” “Setelah tujuh hari kepergian Sankara,” jawab Djiwa pelan, suaranya tetap tenang. “Baik, Nyonya. Kalau begitu ... saya permisi,” ucap Bagas, menunduk hormat. “Iya, hati-hati di jalan, ya.” Djiwa tersenyum tipis, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Bagas masih berdiri beberapa detik di tempatnya. Ada rasa takjub yang sulit ia jelaskan. Di balik kehilangan sebesar itu, wanita itu masih mampu berdiri tegak, bahkan tetap memikirkan orang lain. Bahkan menyampaikan permintaan maaf langsung padanya, tanpa me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 478

    “Kira-kira ... anak kamu laki-laki atau perempuan, Tan?” tanya Sekar melalui sambungan telepon, nadanya terdengar ringan, namun menyimpan tekanan. Di seberang sana, Sultan terdiam sejenak sebelum menjawab. “Entahlah, Mi. Saat ini saya tidak terlalu memikirkan soal itu.” Jawaban itu membuat Sekar mendengus pelan. “Sekarang sudah ada teknologi USG. Untuk apa ada, kalau tidak kalian manfaatkan?” desisnya, nada suaranya mulai menajam. Sultan menarik napas perlahan, berusaha tetap tenang. “Saya sengaja tidak ingin tahu, Mi. Saya tidak mau Fairish merasa tertekan.” “Terutama kalau jenis kelamin anak kami tidak sesuai dengan harapan Mami,” lanjutnya, kini dengan nada yang lebih tegas. Sekar memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras. “Kamu ini mulai mengikuti jejak Radja rupanya,” ucapnya dingin. “Dan Fairish semakin mirip dengan Djiwa sikapnya.” Kalimat itu menggantung. Namun kali ini, Sultan tidak memilih diam. “Kalau memang begitu,” balasnya pelan, tapi jelas, “Mungkin Ma

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 477

    Tengah malam, saat seluruh rumah terlelap dalam sunyi, Djiwa perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping. Radja tertidur di sana, namun tidak sedekat biasanya. Ada jarak di antara mereka. Bukan karena dingin tapi karena hati-hati. Radja sengaja menjaga jarak, takut tanpa sadar memeluk terlalu erat dan melukai tubuh Djiwa—terutama bagian perutnya yang masih menyimpan luka jahitan yang belum sepenuhnya pulih. Djiwa menatapnya lama. Ada rasa hangat sekaligus nyeri yang tak terucap. Perlahan, ia menyingkirkan selimutnya. Dengan gerakan hati-hati, menahan perih di perutnya, ia turun dari ranjang. Langkahnya pelan. Nyaris tak bersuara. Ia meninggalkan kamar itu menuju satu ruangan yang sejak awal ia siapkan dengan penuh harap. Kamar bayi, milik Sankara. Pintu itu ia dorong perlahan. Ruangan itu gelap. Sunyi. Kosong. Namun justru itu yang membuat dadanya terasa semakin sesak. Djiwa melangkah masuk. Tatapannya menyapu seluruh ruangan—ranjang bayi kecil, mainan yang masih t

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 476

    “Pa … kalau adeknya kembar bisa meninggal, apa adeknya Binar juga bisa meninggal?” Suara Binar terdengar kecil dari jok tengah, setelah mobil mereka perlahan meninggalkan area pemakaman Sankara. Sultan dan Fairish yang duduk di depan saling bertukar pandang sekilas. Sultan, yang sedang menyetir, menarik napas pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis. “Tidak juga, Nak, tapi juga tidak bisa dibilang tidak,” jawabnya hati-hati. Kening Binar langsung berkerut, wajahnya cemberut. “Maksudnya gimana, Pa?” Fairish menoleh ke belakang, menatap putrinya dengan lembut. “Maksud Papa … kita gak pernah tahu rencana Tuhan, Nak,” ucapnya pelan. “Kalau suatu saat Tuhan mengambil sesuatu dari kita, kita memang gak bisa menahannya.” “Tuhan jahat!” seru Binar tiba-tiba, nadanya kesal. Sultan dan Fairish sama-sama tersentak. “Binar ….” tegur Sultan pelan. “Tuhan gak jahat, sayang,” ujar Fairish lembut, berusaha tetap tenang. “Tuhan itu baik. Kalau Dia mengambil adek dari kita, itu bukan

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 475

    Pagi itu, di bawah terik matahari yang menyengat, keluarga besar Reinard berdiri dalam diam di sebuah pemakaman elit di pusat kota. Langit cerah namun tak satu pun hati terasa terang. Hari itu, mereka mengantar kepergian seorang bayi kecil yang diberi nama Sankara Afnan Reinard, putra bungsu Radja dan Djiwa. Djiwa duduk di kursi roda, tubuhnya masih lemah. Di pangkuannya, terbaring sosok kecil yang telah dibungkus kain kafan putih. Putra yang ia perjuangkan dengan seluruh hidupnya. Kedua tangannya memeluk tubuh mungil itu dengan hati-hati. Di sampingnya, Radja berdiri tegak. Rahangnya mengeras, dan tatapannya tak pernah lepas dari Djiwa. Seolah ia lebih takut kehilangan wanita itu, dibanding apa pun di dunia ini. Angin berhembus pelan. Kain kafan itu bergerak sedikit. Djiwa menunduk, menatap wajah kecil yang tak lagi bergerak. Tangannya gemetar saat mengusap lembut bagian kepala bayinya. “Harusnya dia nangis sekarang, harusnya dia hidup ….” Napasnya tercekat. Dadanya sesak ol

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 208

    “Apa?” Linda bergumam pelan, lalu menoleh pada putrinya dengan tatapan yang tak lagi lembut. Ada keterkejutan yang bercampur luka di sana. “Kamu … kamu serius mengatakan itu, Sultan?” “Tentu, Ma,” jawab Sultan tanpa ragu. Suaranya tenang, nyaris datar. “Saya tidak menyampaikan ini untuk memperma

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 213

    Malam itu, suasana makan malam terasa jauh lebih menegangkan dari malam-malam sebelumnya. Udara di ruang makan seolah mengeras, dipenuhi beban yang tak terucap. Setiap orang membawa pikirannya masing-masing, hingga tak satu pun sanggup membuka suara lebih dulu. Sekar yang biasanya menjadi pusat

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 184

    “Mi,” panggil Kaisar sambil melirik Sekar yang duduk di kursi penumpang. Sekar menoleh singkat. “Apa?” Kaisar menggigit bibirnya pelan sebelum akhirnya bicara. “Di antara ketiga anak Mami, apa cuma aku yang berandalan?” Sekar tak langsung menjawab. “Maksud aku,” lanjut Kaisar, matanya tetap fok

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 191

    Fairish menggigit bibirnya kuat-kuat. Tubuhnya menegang, sementara kedua telapak tangannya terasa dingin dan lembap. Sejak terakhir kali ia melihat Inggrit ditampar, pergi dari mansion, lalu perutnya mendadak kram hebat, Fairish seperti kehilangan suara. Tak satu kata pun mampu keluar dari mulutny

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status