Share

Bab 14

Penulis: Lyla Veil
last update Tanggal publikasi: 2025-12-22 14:43:19

“Baik, Pak.”

Dinara mengerjakan file demi file. Dengan Elang yang terus menatapnya. Ditatap terus menerus begitu, membuatnya tak nyaman.

“Bagaimana anak baru itu?” tiba-tiba saja Elang menanyakan Arvin.

Dinara menoleh, “Arvin… dia cekatan Pak, cepat belajar. Dan sekarang sudah lebih mengerti ritme kerja Bapak.”

Elang hanya diam, ia menopang dagu dengan tangannya.

“Bagus, lanjutkan…”

*

Di hari berikutnya,

Dinara dan Arvin makan siang bersama di kafe tepat di seberang gedung SHG. Arvin lebih ban
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 143

    Elang menarik nafas pendek lalu tersenyum tipis. Jemarinya bergerak mencubit pelan hidung Dinara, gemas melihat perubahan suasana hati istrinya yang begitu cepat.“Secara profesional, pekerjaanmu waktu itu memang belum sesuai dengan standar Mas,” ucap Elang jujur, tanpa bermaksud menyudutkan.Dinara sedikit mengerucutkan bibirnya mendengar pengakuan itu, namun ia tetap diam mendengarkan.“Tapi itu wajar, Sayang... Kamu karyawan baru dan belum tahu bagaimana ritme kerjanya Mas. Mas sengaja melibatkan Iwan agar dia bisa membimbingmu pelan-pelan,” lanjut Elang, menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dari sudut pandangnya.Elang kemudian meraih kembali jemari Dinara, menggenggamnya dengan lebih erat. Sorot matanya melunak, memancarkan ketulusan yang mendalam.“Mas sengaja bersikap dingin karena sedang berusaha menjaga jarak aman. Mas tidak mau mengacaukan profesionalitas kerja karena ketertarikan pribadi. Tapi yang paling penting... bagi Mas, keberadaanmu di ruangan itu sudah lebih dar

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 142

    Elang terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis saat ingatannya berputar kembali ke setahun lalu.“Memangnya apa yang kamu ingat tentang hari itu?" tanya Elang balik, alih-alih langsung menjawab rasa penasaran istrinya.Dinara menyandarkan punggungnya ke bantal, matanya menerawang menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tidak luntur.“Aku ingat banget, waktu itu aku keluar dari ruangan Mas dengan lemas. Aku sudah seratus persen yakin kalau aku tidak akan diterima kerja di SHG.”“Kenapa bisa seyakin itu?”“Ya... karena semua pertanyaan Mas waktu itu dingin banget, terus jawaban-jawabanku rasanya kurang memuaskan,” tiru Dinara sambil mengerucutkan bibirnya. “Mas ingat nggak? Waktu aku menjelaskan pengalaman kerja dan strategiku, Mas cuma melihatku dari atas sampai bawah dengan muka datar tanpa ekspresi, lalu cuma bilang ‘oke, silakan keluar’. Siapa yang tidak ciut mentalnya digituin sama CEO langsung?”Elang terkekeh pelan. Ia meraih jemari Dinara, mengus

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 141

    Dinara menahan nafas, meremas selimutnya erat-erat dengan mata melotot ke arah Julia. Ia benar-benar ngeri sahabatnya itu akan langsung dipecat hari ini juga karena kelancangannya.Namun, Elang sama sekali tidak menunjukkan kilat amarah. Pria itu justru mengurai genggaman tangannya dari Dinara, lalu memperbaiki posisi duduknya. Sorot matanya yang tajam dan dingin mengunci pergerakan Julia, membuat suasana kamar seketika diselimuti aura intimidasi khas seorang pemimpin tertinggi korporat.Elang diam selama beberapa saat. Sifatnya yang irit bicara di depan orang lain, kecuali Dinara, membuat setiap detik keheningan itu terasa begitu mencekam bagi Julia yang kini mulai menelan saliva.Setelah memastikan Julia benar-benar mengunci mulutnya, Elang baru membuka suara.“Saya tidak akan mengorbankan istri dan anak saya sendiri,” ucap Elang penuh penekanan yang mutlak. “Dinara... tidak akan tersentuh.”“Dan satu hal lagi,” tambah Elang menegaskan posisinya sebagai pelindung utama di rumah ini.

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 140

    “Sayang... kenapa ada Julia di sini?” tanya Elang, tanpa menoleh ke arah Dinara.Julia yang masih terpaku di ambang pintu makin terkejut. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong saat mendengar bos besarnya yang terkenal sedingin es itu memanggil sahabatnya dengan sebutan yang begitu intim.“Sa-sayang?!” lirih Julia, suaranya hampir habis karena syok.Dinara refleks menyentuh lengan suaminya, mencoba meredam ketegangan. “Hmm... maaf Mas, aku lupa bilang kalau ada Julia...” balas Dinara tak enak hati, melirik Julia dengan perasaan bersalah.“M-Mas... Mas Elang?!” Julia makin bergidik, matanya bergerak liar menatap Elang dan Dinara bergantian. “Ka-kalian?!” Julia menunjuk kedua manusia di depannya dengan tangan yang gemetar akibat rasa tidak percaya yang membuncah.Elang berdeham pendek, berusaha menguasai situasi. Ketegasan seorang pemimpin kembali terlihat di wajahnya. Ia meletakkan mangkuk sup ke atas nakas, lalu menatap Julia lurus-lurus.“Julia, masuk dan tutup pintunya. Dud

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 139

    Elang dengan cekatan mengangkat dan menggendong tubuh ringkih Dinara, membawanya untuk duduk kembali di ranjang. Ia meletakkan bantal di punggung Dinara sebagai sandaran, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi kaki istrinya yang terasa dingin.Kemudian, Elang ikut naik ke atas ranjang dan duduk di tepi tempat tidur itu, melipat kakinya demi bisa menatap langsung sang istri yang masih saja menunduk menyembunyikan wajahnya.“Sayang, dengarkan Mas,” ujar Elang, suaranya mendadak serak, sarat akan penyesalan yang mendalam. Kedua ibu jarinya bergerak lembut, mendongakkan dagu Dinara pelan lalu mengusap air mata yang mulai menetes di pipi istrinya.“Garis samar itu aku yakin artinya positif, Sayang. Kamu sedang mengandung anak kita,” lanjut Elang dengan tatapan paling jujur dan lembut yang pernah Dinara lihat. “Dan... ini sama sekali bukan beban. Ini adalah anugerah yang paling Mas inginkan di dalam hidup Mas.”Dinara tertegun, bibirnya sedikit terbuka mendengarkan penuturan suaminya.E

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 138

    Setelah dokter Taufik pamit undur diri, keheningan kembali menguasai kamar utama. Elang langsung condong ke depan, berniat merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan hangat untuk menumpahkan seluruh rasa haru yang membuncah di dadanya.Namun, tepat sebelum lengan tegap itu melingkar, Dinara sedikit menggeser bahunya, menghindari sentuhan Elang dengan halus.“Mas... aku capek banget. Pengin langsung tidur,” bisik Dinara pelan tanpa menatap mata suaminya.Elang sempat tertegun, tangannya menggantung di udara selama beberapa detik. Namun, melihat guratan lelah dan wajah pucat istrinya, ia langsung memaklumi. Elang mengulas senyum lembut, lalu menarik selimut Dinara hingga sebatas dada.“Ya sudah, kamu tidur, ya. Mas tidak akan mengganggumu.”Malam itu pun berlalu dalam senyap, menyisakan kecamuk pikiran di kepala Dinara hingga ia akhirnya terlelap.Keesokan paginya, sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah gorden.Elang sudah bangun dan mandi lebih dulu. Kemudian Dinara yang bar

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 20

    Ciuman itu penuh kerinduan bukan nafsu yang menggebu. Tangan Dinara bergerak meremas kemeja yang dikenakan Andaliman. Tanpa sadar, ia membalas ciuman itu. Ciuman itu terlalu lama, bahkan hingga suara ramai di luar sudah hilang sejak tadi. Tangan Andaliman dari wajah turun perlahan ke dada Dinara.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 19

    Di ruang Elang Adikara. Sudah tersedia satu meja makan menu sushi. Dinara tidak tahu dengan jelas masing-masing namanya, semua itu ia anggap sushi. Elang sudah duduk di kursi makan. “Kamu temani saya makan di sini…” ‘Menemani makan?’ Dinara menelan saliva. Makan bersama bosnya itu ketika tugas k

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 17

    Dinara menelan saliva, “Mas, nggak enak kalau ada karyawan lain yang melihat kita… Aku sekretaris Pak Elang.” Andaliman masih menatapnya dalam. Penyesalan itu muncul begitu saja dari kenangan masa lalu yang tiba-tiba saja terkoyak. Andaliman melepaskan tangannya dari pintu. Dinara segera berbali

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 18

    Terdengar suara Karin yang masih kesal sendiri. “Din, meetingnya penting banget? Apa nggak bisa digeser?” “Mohon maaf Ibu, hanya Pak Elang saja yang bisa menggeser jadwalnya. Saya tidak berani…” “Ya, sudah!” Klik. Hubungan telepon langsung diputus Karin. Dinara tersentak sedikit, baru kali ini

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status