Share

Bab 21

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-01-05 17:08:40
“Dinara…” suara Elang penuh tekanan.

Dinara menoleh pada bos-nya,

“M-maaf, Pak… filenya salah kirim ke…” lalu ia menoleh pada Andaliman, “... Pak Andaliman.”

Semua terkejut, bisik-bisik terdengar samar.

“Kamu…” geram Elang.

“Maaf, Pak…”

Andaliman membuka email-nya, ia tersenyum kecil.

“Oh, email ini… Pak Elang jangan khawatir, file ini aman di tangan saya. Saya juga belum membukanya.”

Ia mengklik sesuatu di ponselnya, “Nah… saya sudah menghapusnya.”

Pria itu mengulurkan ponselnya, “Sil
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 147

    Hari-hari berikutnya berlalu seperti siksaan yang lambat bagi Dinara. Sejak malam panggilan telepon itu, Elang benar-benar tidak kembali ke rumah. Pria itu seolah ditelan oleh badai masalah yang mencuat ke media.Julia yang tinggal bersamanya pun ikut didera rasa resah yang mendalam. Setiap malam pulang dari kantor, hatinya selalu mencelos melihat sahabatnya itu dirundung rindu yang begitu pekat. Wajah Dinara selalu tampak sendu, matanya sering kali menatap kosong ke arah jendela kamar, menantikan kepulangan sang suami yang tak kunjung tiba. Padahal, Julia sendiri hampir setiap hari melihat sosok Elang Adikara di kantor.“Pak Elang itu beneran super sibuk sekarang, Din. Dia nyaris nggak pernah keluar dari ruang rapat,” ujar Julia suatu malam, mencoba memberikan pengertian saat mereka sedang duduk bersama di ruang tengah.Dinara hanya mengangguk pelan tanpa suara.“Tapi lo tahu nggak yang bikin anak-anak kantor makin merinding?” lanjut Julia lagi, berusaha memancing perhatian Dinara. “

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 146

    Dinara menarik nafas dalam-dalam, perlahan menghapus sisa air mata di pipinya. Menangis dan meratapi nasib tidak akan mengubah keadaan. Naluri sebagai mantan sekretaris pribadi andalan Elang Adikara seketika bangkit di dalam dirinya. Ia yakin, gosip murahan ini disebar oleh Karin Wicaksana dan ini pasti memiliki tujuan lain. Ia tidak boleh tinggal diam melihat nama baik suaminya dihancurkan.Dinara teringat sesuatu. Bukti penting.Ia segera turun dari ranjang perlahan dan melangkah menuju lemari pakaian besar milik Elang. Dengan cekatan namun hati-hati, jemarinya membuka laci demi laci di dalam sana, mencari ponsel lamanya yang rusak dan masih disimpan suaminya. Setelah memeriksa beberapa sudut, netra Dinara berbinar saat menemukan benda persegi itu tersimpan di salah satu laci bagian dalam.Tanpa membuang waktu, Dinara langsung menghubungi Bastian, orang kepercayaan Elang Adikara yang selalu bisa ia andalkan.Begitu Bastian tiba di rumah atas permintaannya, Dinara langsung menyerahka

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 145

    Paginya, Dinara meremas remote televisi di tangannya dengan sangat erat. Tatapannya terpaku lurus pada layar datar di dinding kamar yang sedang menayangkan berita kilas utama saluran gosip nasional.Di layar itu, wajah tampan Elang Adikara terpampang jelas dengan tajuk berita yang membuat dada Dinara berdenyut nyeri.“Skandal Panas CEO SHG: Elang Adikara Diduga Selingkuh dan Telantarkan Keluarga?”Narator televisi mulai membacakan berita dengan nada provokatif, menyebut Elang sebagai pria yang tidak bertanggung jawab dan menyalahgunakan kekuasaannya demi menutupi hubungan gelap. Gosip liar yang entah dari mana, rupanya telah pecah dan menggelinding menjadi bola api liar di ranah publik pagi ini.Kamera televisi kemudian berganti mempelihatkan visual langsung di area pekarangan gedung SHG. Begitu mobil mewah Elang berhenti, puluhan awak media dan lampu kilat kamera langsung mengepung pintu mobil.Saat Elang melangkah keluar dengan setelan kerja yang rapi, para wartawan langsung menyerb

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 144

    “Din, gue boleh masuk nggak? Pak Elang udah jalan tuh...”Suara pelan Julia terdengar dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Setelah memastikan mobil bos besarnya itu benar-benar bergerak meninggalkan pekarangan rumah, barulah Julia berani memunculkan kepalanya.Dinara yang masih berbaring di atas kasur menoleh ke arah pintu, lalu tersenyum tipis. “Masuk aja, Jule...”Julia melangkah masuk dengan menghembuskan napas lega, seolah baru saja lolos dari pengawasan. Ia berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di tepi kasur sambil menatap wajah sahabatnya dengan penuh perhatian.“Masih mual nggak lo?” tanya Julia, langsung membuka obrolan dengan nada khawatir.Dinara mengubah posisinya menjadi sedikit bersandar pada bantal. “Berkurang, Jule. Tapi gue harus ke dokter kandungan untuk memastikan semuanya.”“Iya, bener. Harus banget dicek ke dokter spesialis kandungan biar lo tenang,” dukung Julia cepat. Namun, setelah urusan mual selesai dibahas, rasa penasaran yang sejak tadi pagi ditahan

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 143

    Elang menarik nafas pendek lalu tersenyum tipis. Jemarinya bergerak mencubit pelan hidung Dinara, gemas melihat perubahan suasana hati istrinya yang begitu cepat.“Secara profesional, pekerjaanmu waktu itu memang belum sesuai dengan standar Mas,” ucap Elang jujur, tanpa bermaksud menyudutkan.Dinara sedikit mengerucutkan bibirnya mendengar pengakuan itu, namun ia tetap diam mendengarkan.“Tapi itu wajar, Sayang... Kamu karyawan baru dan belum tahu bagaimana ritme kerjanya Mas. Mas sengaja melibatkan Iwan agar dia bisa membimbingmu pelan-pelan,” lanjut Elang, menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dari sudut pandangnya.Elang kemudian meraih kembali jemari Dinara, menggenggamnya dengan lebih erat. Sorot matanya melunak, memancarkan ketulusan yang mendalam.“Mas sengaja bersikap dingin karena sedang berusaha menjaga jarak aman. Mas tidak mau mengacaukan profesionalitas kerja karena ketertarikan pribadi. Tapi yang paling penting... bagi Mas, keberadaanmu di ruangan itu sudah lebih dar

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 142

    Elang terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis saat ingatannya berputar kembali ke setahun lalu.“Memangnya apa yang kamu ingat tentang hari itu?" tanya Elang balik, alih-alih langsung menjawab rasa penasaran istrinya.Dinara menyandarkan punggungnya ke bantal, matanya menerawang menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tidak luntur.“Aku ingat banget, waktu itu aku keluar dari ruangan Mas dengan lemas. Aku sudah seratus persen yakin kalau aku tidak akan diterima kerja di SHG.”“Kenapa bisa seyakin itu?”“Ya... karena semua pertanyaan Mas waktu itu dingin banget, terus jawaban-jawabanku rasanya kurang memuaskan,” tiru Dinara sambil mengerucutkan bibirnya. “Mas ingat nggak? Waktu aku menjelaskan pengalaman kerja dan strategiku, Mas cuma melihatku dari atas sampai bawah dengan muka datar tanpa ekspresi, lalu cuma bilang ‘oke, silakan keluar’. Siapa yang tidak ciut mentalnya digituin sama CEO langsung?”Elang terkekeh pelan. Ia meraih jemari Dinara, mengus

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 15

    Elang mengemudikan mobilnya, mengantar Dinara hingga sampai di kosan. Mobil itu masih parkir di depan kosan. Hingga Dinara masuk ke kamar, mobil hitam itu baru berjalan.Ia merebahkan diri perlahan di ranjangnya. Pikirannya berputar soal kepindahan Arvin, kerjaan kantor dan sikap Elang Adikara.Apa

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 14

    “Baik, Pak.”Dinara mengerjakan file demi file. Dengan Elang yang terus menatapnya. Ditatap terus menerus begitu, membuatnya tak nyaman.“Bagaimana anak baru itu?” tiba-tiba saja Elang menanyakan Arvin.Dinara menoleh, “Arvin… dia cekatan Pak, cepat belajar. Dan sekarang sudah lebih mengerti ritme

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 11

    Dinara menatap kotak itu. Pikirannya langsung bercabang. Apa maksud pria ini? Apakah ia ingin ‘membayar’ dirinya dengan … barang?“Maaf Pak, saya bukan barang yang dibayar baik dengan uang maupun perhiasan!”Elang terdiam, menatap Dinara yang jelas tidak suka tindakannya. Ia pun menarik kotak itu l

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 10

    “Apa kamu nggak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?!” ujar Elang tegas.Karin tidak menjawabnya, perempuan itu seolah malah lebih tertarik dengan reaksi Dinara.Dinara yang berdiri diam, akhirnya menyapa istri bos-nya itu.“Selamat siang Bu Karin. Pak Elang, saya permisi dulu…”Elang mengangguk.“

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status