共有

Bab 21

作者: Lyla Veil
last update 最終更新日: 2026-01-05 17:08:40

Dinara menggeleng berharap pikirannya tidak jauh memikirkan tentang mantannya itu. Semua sudah masa lalu, ia pun sudah menutup kisah itu sejak lama.

Ia kembali fokus pada pekerjaan di hadapannya.

Sebelum pulang, Dinara menyelesaikan berkas untuk pertemuan besok dengan Prisma Group.

*

Pagi hari, Dinara sudah terlihat sibuk di mejanya. Sesekali terlihat menelepon, lalu mencatatnya. Jam mendekati pukul 10:00, Elang keluar dari ruangannya.

Dinara pun berdiri, bersiap mengikutinya.

“Prisma group sudah datang?” Tanyanya.

“Sudah, Pak. Masih di bawah.” Jawab Dinara.

Elang mengangguk, “Saya ke ruang meeting.”

Dinara mengangguk, mengambil tablet dan jurnalnya lalu mengikuti Elang.

Entah mengapa jantung Dinara berdebar. Entah karena pertemuannya lagi dengan Andaliman. Entah khawatir tidak bisa menutupi bahwa dirinya ada masa lalu dengan Andaliman, di depan Elang. Atau mungkin pertemuan antara Elang dan Andaliman yang bikin dirinya gugup. Sejak semalam pun, ia sulit tidur karena memikirkan pertem
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 22

    ‘Apa maksudnya pakai blazer sampai meeting berakhir?’Dan tentu saja, semua titah Elang Adikara untuknya tanpa penjelasan. Dinara merasa tidak nyaman ditatap seperti itu. Tatapan tajam yang menusuknya.Setelah lebih dari tiga bulan mengikuti ritme Elang Adikara, Dinara sedikit tahu kalimat-kalimat tersiratnya seperti barusan. Bahkan setiap tatapannya. Ada sesuatu yang membuat Elang gusar. Tapi ia tetap tidak tahu isi hati ataupun jalan pikiran atasannya itu. Dan Dinara tak berani menebak-nebaknya. Dinara mengangguk, “Baik, Pak…”“Bagus,” ujar Elang.Kemudian ia menoleh pada makanan yang sudah tersedia di meja makan sofanya.“Ehm, ada yang lain lagi Pak?” tanya Dinara.Elang berpikir sejenak.“Temani saya makan,” titahnya sambil berdiri. Berjalan perlahan menuju sofa.“Hah?” Dinara ternganga.Dinara bergeming. Ia bingung harus bagaimana. Makan bareng bos di ruangannya, jelas tidak pernah dilakukannya. Selama ini, dia hanya memesankan makanan. Kadang mengaturnya di meja sofa, terkadan

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 21

    Dinara menggeleng berharap pikirannya tidak jauh memikirkan tentang mantannya itu. Semua sudah masa lalu, ia pun sudah menutup kisah itu sejak lama.Ia kembali fokus pada pekerjaan di hadapannya.Sebelum pulang, Dinara menyelesaikan berkas untuk pertemuan besok dengan Prisma Group.*Pagi hari, Dinara sudah terlihat sibuk di mejanya. Sesekali terlihat menelepon, lalu mencatatnya. Jam mendekati pukul 10:00, Elang keluar dari ruangannya.Dinara pun berdiri, bersiap mengikutinya.“Prisma group sudah datang?” Tanyanya.“Sudah, Pak. Masih di bawah.” Jawab Dinara.Elang mengangguk, “Saya ke ruang meeting.”Dinara mengangguk, mengambil tablet dan jurnalnya lalu mengikuti Elang.Entah mengapa jantung Dinara berdebar. Entah karena pertemuannya lagi dengan Andaliman. Entah khawatir tidak bisa menutupi bahwa dirinya ada masa lalu dengan Andaliman, di depan Elang. Atau mungkin pertemuan antara Elang dan Andaliman yang bikin dirinya gugup. Sejak semalam pun, ia sulit tidur karena memikirkan pertem

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 20

    Mobil pun melaju, mengantar Dinara hingga tiba di kosan. Seperti biasa, mobil Elang akan pergi jika Dinara sudah masuk kamar.Di ranjangnya, Dinara uring-uringan dan kesal sendiri. Bisa-bisanya Elang membawanya ke dokter kandungan tanpa diskusi dulu.Dinara tak bisa membayangkan nasibnya sampai menunggu dua Minggu lagi. Ia mengelus perutnya lembut. Sebuah harapan tercetus.“Pliss… jangan hamil, aku belum siap…”*Esok harinya, Elang memanggilnya masuk ke ruangan. Saat Dinara masuk, Elang menatapnya dari atas sampai bawah. Terpaku pada sepatu berhak tinggi.“Ganti alas kaki kamu,” ujarnya datar.Dinara bingung, “Maaf, Pak?”“Sepatu kamu terlalu tinggi,” jawab Elang.Dinara menatap sepatunya, selama ini ia sudah terbiasa dengan sepatu seperti itu. Elang tidak pernah protes, tidak ada peraturan khusus soal ini.Elang mengambil sesuatu dari lacinya.“Ini, pakai.”Ia menaruh sandal jepit baru masih dalam plastik di atas mejanya.Dinara tersentak, heran.“Buat saya?”“Iya, dan kamu nggak us

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 19

    Elang mengikuti Dinara, ia berdiri tepat di sisi ranjang itu. Dokter menghampiri Dinara yang telah rebah di ranjang pemeriksaan. Lalu duduk di samping mesin USG. Perawat yang membantu dokter, membuka kemeja yang dikenakan Dinara pada bagian bawah. Meletakkan tisu di bagian karet rok Dinara. Perut ratanya pun terpampang. Lalu, perawat itu memberi gel bening yang langsung terasa dingin di perut. Dinara tersentak, tumbuhnya semakin menegang.Dokter telah siap dengan alat periksa USG di tangannya. Layar tampilan berwarna hitam yang terkoneksi pada layar lebar di depan mereka sudah menyala.“Bapak-Ibu silahkan melihat di layar lebar ya… kita periksa kandungannya.” Ujar dokter itu memberi arahan.Saat alat mulai diletakkan ke perut Dinara, dokter itu kembali bersuara.“Tarik nafas Bu, hembuskan pelan-pelan…”Saat alat itu menempel, Dinara tanpa berpikir meraih tangan Elang yang tepat berada di samping ranjang pemeriksaan. Jari-jari Elang tersentak, dingin tapi ia membiarkan tangan itu di

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 18

    Elang dan Dinara sudah duduk di ruang tunggu dokter kandungan. Ikut mengantri untuk pemeriksaan. Tapi Dinara masih bingung atas tindakan bos-nya itu. Kenapa tiba-tiba membawanya ke dokter kandungan. “Pak, kenapa saya harus periksa ke dokter kandungan?” “Saya ingin memastikan sesuatu,” Elang terlihat tenang seperti biasanya, “beberapa hari ini kamu sering izin sakit,” Dada Dinara terasa ditekan, ia menelan saliva beberapa kali. Tangannya saling bertaut, dingin dan sedikit basah. Pikirannya kembali ke satu kemungkinan yang bahkan tak berani ia sebutkan dalam hati. Di hadapannya, tampak seorang pria menyuapi seorang perempuan hamil kisaran enam bulan, dengan penuh rasa tanggung jawab. Dinara menduga bahwa mereka adalah suami-istri. Dinara mengalihkan pandangannya ke kiri. Kini ia melihat seorang perempuan dan seorang pria bersama satu anak kecil. Anak kecil itu mengelus-elus perut perempuan itu dengan lembut. Perutnya masih terlihat rata. Anak itu seperti bicara pada perut itu

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 17

    Dinara menelan saliva, “Mas, nggak enak kalau ada karyawan lain yang melihat kita… Aku sekretaris Pak Elang. Bos di sini.” Andaliman masih menatapnya dalam. Penyesalan itu muncul begitu saja dari kenangan masa lalu yang tiba-tiba saja terkoyak. Andaliman melepaskan tangannya dari pintu. Dinara segera berbalik, dan membuka pintu itu tergesa.Ada rasa yang entah apa, yang pasti bukan rasa cinta pertama yang pernah manis. Dinara menjaga jarak sepanjang perjalanan menuju lobi.Sebelum berpisah, Andaliman menyentuh lengan Dinara.“Dinara, pikirkan apa yang aku sampaikan tadi.”Dinara menarik tangannya perlahan. Lalu tersenyum,“Sampai ketemu lusa, Mas…”Andaliman mengangguk, lalu pergi dengan mobilnya.Hati Dinara berkecamuk sejak pertemuan dengan Andaliman tadi. Bukan soal romantisme masa lalu. Tapi setelah proyek ini disetujui, Andaliman akan terlibat dengan banyak proyek SHG baik di dalam maupun luar kota. Itu artinya mereka akan sering bertemu.Fakta lain yang tidak bisa diabaikan.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status