로그인Hari-hari berikutnya berlalu seperti siksaan yang lambat bagi Dinara. Sejak malam panggilan telepon itu, Elang benar-benar tidak kembali ke rumah. Pria itu seolah ditelan oleh badai masalah yang mencuat ke media.Julia yang tinggal bersamanya pun ikut didera rasa resah yang mendalam. Setiap malam pulang dari kantor, hatinya selalu mencelos melihat sahabatnya itu dirundung rindu yang begitu pekat. Wajah Dinara selalu tampak sendu, matanya sering kali menatap kosong ke arah jendela kamar, menantikan kepulangan sang suami yang tak kunjung tiba. Padahal, Julia sendiri hampir setiap hari melihat sosok Elang Adikara di kantor.“Pak Elang itu beneran super sibuk sekarang, Din. Dia nyaris nggak pernah keluar dari ruang rapat,” ujar Julia suatu malam, mencoba memberikan pengertian saat mereka sedang duduk bersama di ruang tengah.Dinara hanya mengangguk pelan tanpa suara.“Tapi lo tahu nggak yang bikin anak-anak kantor makin merinding?” lanjut Julia lagi, berusaha memancing perhatian Dinara. “
Dinara menarik nafas dalam-dalam, perlahan menghapus sisa air mata di pipinya. Menangis dan meratapi nasib tidak akan mengubah keadaan. Naluri sebagai mantan sekretaris pribadi andalan Elang Adikara seketika bangkit di dalam dirinya. Ia yakin, gosip murahan ini disebar oleh Karin Wicaksana dan ini pasti memiliki tujuan lain. Ia tidak boleh tinggal diam melihat nama baik suaminya dihancurkan.Dinara teringat sesuatu. Bukti penting.Ia segera turun dari ranjang perlahan dan melangkah menuju lemari pakaian besar milik Elang. Dengan cekatan namun hati-hati, jemarinya membuka laci demi laci di dalam sana, mencari ponsel lamanya yang rusak dan masih disimpan suaminya. Setelah memeriksa beberapa sudut, netra Dinara berbinar saat menemukan benda persegi itu tersimpan di salah satu laci bagian dalam.Tanpa membuang waktu, Dinara langsung menghubungi Bastian, orang kepercayaan Elang Adikara yang selalu bisa ia andalkan.Begitu Bastian tiba di rumah atas permintaannya, Dinara langsung menyerahka
Paginya, Dinara meremas remote televisi di tangannya dengan sangat erat. Tatapannya terpaku lurus pada layar datar di dinding kamar yang sedang menayangkan berita kilas utama saluran gosip nasional.Di layar itu, wajah tampan Elang Adikara terpampang jelas dengan tajuk berita yang membuat dada Dinara berdenyut nyeri.“Skandal Panas CEO SHG: Elang Adikara Diduga Selingkuh dan Telantarkan Keluarga?”Narator televisi mulai membacakan berita dengan nada provokatif, menyebut Elang sebagai pria yang tidak bertanggung jawab dan menyalahgunakan kekuasaannya demi menutupi hubungan gelap. Gosip liar yang entah dari mana, rupanya telah pecah dan menggelinding menjadi bola api liar di ranah publik pagi ini.Kamera televisi kemudian berganti mempelihatkan visual langsung di area pekarangan gedung SHG. Begitu mobil mewah Elang berhenti, puluhan awak media dan lampu kilat kamera langsung mengepung pintu mobil.Saat Elang melangkah keluar dengan setelan kerja yang rapi, para wartawan langsung menyerb
“Din, gue boleh masuk nggak? Pak Elang udah jalan tuh...”Suara pelan Julia terdengar dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Setelah memastikan mobil bos besarnya itu benar-benar bergerak meninggalkan pekarangan rumah, barulah Julia berani memunculkan kepalanya.Dinara yang masih berbaring di atas kasur menoleh ke arah pintu, lalu tersenyum tipis. “Masuk aja, Jule...”Julia melangkah masuk dengan menghembuskan napas lega, seolah baru saja lolos dari pengawasan. Ia berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di tepi kasur sambil menatap wajah sahabatnya dengan penuh perhatian.“Masih mual nggak lo?” tanya Julia, langsung membuka obrolan dengan nada khawatir.Dinara mengubah posisinya menjadi sedikit bersandar pada bantal. “Berkurang, Jule. Tapi gue harus ke dokter kandungan untuk memastikan semuanya.”“Iya, bener. Harus banget dicek ke dokter spesialis kandungan biar lo tenang,” dukung Julia cepat. Namun, setelah urusan mual selesai dibahas, rasa penasaran yang sejak tadi pagi ditahan
Elang menarik nafas pendek lalu tersenyum tipis. Jemarinya bergerak mencubit pelan hidung Dinara, gemas melihat perubahan suasana hati istrinya yang begitu cepat.“Secara profesional, pekerjaanmu waktu itu memang belum sesuai dengan standar Mas,” ucap Elang jujur, tanpa bermaksud menyudutkan.Dinara sedikit mengerucutkan bibirnya mendengar pengakuan itu, namun ia tetap diam mendengarkan.“Tapi itu wajar, Sayang... Kamu karyawan baru dan belum tahu bagaimana ritme kerjanya Mas. Mas sengaja melibatkan Iwan agar dia bisa membimbingmu pelan-pelan,” lanjut Elang, menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dari sudut pandangnya.Elang kemudian meraih kembali jemari Dinara, menggenggamnya dengan lebih erat. Sorot matanya melunak, memancarkan ketulusan yang mendalam.“Mas sengaja bersikap dingin karena sedang berusaha menjaga jarak aman. Mas tidak mau mengacaukan profesionalitas kerja karena ketertarikan pribadi. Tapi yang paling penting... bagi Mas, keberadaanmu di ruangan itu sudah lebih dar
Elang terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis saat ingatannya berputar kembali ke setahun lalu.“Memangnya apa yang kamu ingat tentang hari itu?" tanya Elang balik, alih-alih langsung menjawab rasa penasaran istrinya.Dinara menyandarkan punggungnya ke bantal, matanya menerawang menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tidak luntur.“Aku ingat banget, waktu itu aku keluar dari ruangan Mas dengan lemas. Aku sudah seratus persen yakin kalau aku tidak akan diterima kerja di SHG.”“Kenapa bisa seyakin itu?”“Ya... karena semua pertanyaan Mas waktu itu dingin banget, terus jawaban-jawabanku rasanya kurang memuaskan,” tiru Dinara sambil mengerucutkan bibirnya. “Mas ingat nggak? Waktu aku menjelaskan pengalaman kerja dan strategiku, Mas cuma melihatku dari atas sampai bawah dengan muka datar tanpa ekspresi, lalu cuma bilang ‘oke, silakan keluar’. Siapa yang tidak ciut mentalnya digituin sama CEO langsung?”Elang terkekeh pelan. Ia meraih jemari Dinara, mengus
‘Ah, jelas-jelas ini bukan urusanku!’ pikir Dinara cepat.Sesaat kemudian mereka pun masuk ke dalam kamar. Masih terdengar suara manja Karin dan tawanya yang menghilang bersamaan dengan pintu tertutup.Dinara meninggalkan hotel itu dengan perasaan yang campur aduk.Saat tiba di salon, Julia masih d
Keesokan harinya, Dinara mengerjapkan mata ketika cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar hotel itu. Tubuhnya terasa hangat, terbingkai dalam pelukan Elang Adikara. Ia menoleh ke samping, menatap wajah pria itu yang begitu tenang, damai dengan nafas teratur.‘Hah! Pak Elang… apa yang s
“Iya, Pak.” Jawabnya pelan sambil berdiri.Ia mengambil tablet, dan berjalan menuju ruangan dimana bos-nya berada. Menarik nafas dalam sebelum membuka pintu.Dinara pun masuk, mendekati meja bos-nya. Mata Elang masih terpaku di depan layar laptop.“Batalkan agenda ke Puncak. Saya sedang tidak enak
Air masih mengalir deras, suaranya menenggelamkan dunia di luar kamar mandi.‘Belum? Yang benar saja!’ batin Dinara, nafasnya belum juga kembali teratur.Belum sempat ia mencerna apapun, Elang kembali menciumnya. Kali ini tidak tergesa. Lebih lembut, lebih dalam seolah ada sesuatu yang ingin disamp







