LOGINSetelah makan malam di Jimbaran yang agak tenang, Andaliman akhirnya membawa mobil kembali menuju villa. Villa mewah itu memiliki arsitektur yang menawan dengan empat kamar utama, dua kamar di sayap kanan dan dua di sayap kiri, dipisahkan oleh kolam renang jernih dan taman estetik yang diterangi lampu-lampu temaram di bagian tengah.Karin dengan penuh perhatian mengantar Paman Johan menuju kamarnya di sayap kiri. Kamar pria itu berada tepat di sebelah kamar Dinara. Merasa lelah secara batin setelah seharian melewati situasi yang berat, Dinara segera pamit untuk masuk ke kamarnya lebih dulu. Ia butuh ruang sendiri. Air hangat di bawah pancuran menjadi pelariannya, berharap semua beban dan aroma cendana yang melekat bisa luruh bersama air.Setelah mandi, Dinara segera merebahkan diri di ranjang empuknya. Ia mengecek ponsel yang penuh dengan notifikasi dari Julia, sahabatnya yang selalu antusias menanyakan perkembangan hubungannya dengan Andaliman. Namun, perhatian Dinara teralihkan. Di
Andaliman membawa mereka menuju destinasi pertama di siang yang teduh itu. Ia menurunkan penumpang di pintu masuk utama, lalu mengambil parkir di area parkir mobil. Sejenak segera bergabung bersama yang lain di pintu masuk. Dinara sudah memegang tiket masuk untuk para atasannya. Segera mereka memasuki area amfiteater untuk menonton pagelaran Tari Kecak. Dinara memberi ruang untuk para atasannya mengambil duduk lebih dulu. Ia sudah berusaha mengambil posisi paling pinggir, berharap bisa menjadi penonton yang nyaman. Nyatanya, seseorang membuatnya terjepit di posisi yang jauh dari kata nyaman.Di barisan kursi kayu itu, Karin duduk kaku di tengah, diapit oleh Elang dan Paman Johan. Sementara Dinara, ia ditarik oleh Andaliman untuk duduk di sisinya. Namun, entah bagaimana Andaliman mengatur posisi, Dinara justru berakhir duduk tepat di antara Elang dan Andaliman. Ia terjepit di tengah dua pria yang memiliki aura yang sama-sama mengintimidasi.Begitu suara "Cak-cak-cak" mulai menggema da
Sepanjang perjalanan menuju bandara, perasaan Dinara semakin resah. Ia tahu rahasia besar antara si paman dan istri bosnya. Tapi di sini, di antara mereka, ia harus diam menyimpannya dan ini sungguh beban berat yang harus dipikulnya sendirian. Ingin rasanya menumpahkan semuanya pada Elang, bagaimana kelakuan istrinya di belakangnya. Tapi ia tak sampai hati menyampaikannya, karena ia sendiri punya dosa besar pada istri bosnya.Dinara menyisipkan jari di antara syal yang melilit lehernya, entah rahasia yang mana yang membuatnya sulit bernafas dan bergerak.‘Biarlah... aku menyimpan ini sendiri,’ batinnya pilu, tangannya meremas roknya.Mobil sudah memasuki area kedatangan di bandara.Karin menunjuk ke arah Paman Johan, “Itu dia... berhenti di sana!” pintanya pada Andaliman.Mobil pun berhenti tepat di depan Paman Johan berdiri. Seorang pria tua yang terlihat masih kuat, mengenakan kemeja polos yang kusut dengan celana beggy. Di tangannya menjinjing satu tas travelling. Ia melambai dan t
Dinara masuk ke dalam mobil dengan gerakan kaku, seolah seluruh sendinya baru saja membeku. Ia duduk di kursi semula, tepat di samping Andaliman yang sudah memegang kemudi. Di belakang, Elang dan Karin sudah duduk berdampingan.“Maaf... agak lama...” ujar Dinara saat masuk.Begitu pintu ditutup dan kabin mobil menjadi ruang sempit, aroma parfum cendana yang tipis namun sangat berkarakter menguar kuat dari arah Dinara. Itu bukan aroma sembarangan, itu adalah jejak Elang yang tertinggal setelah keintiman gila di toilet tadi.“Nggak apa-apa, Din...” ujar Andaliman penuh kelembutan.Andaliman mengerutkan kening, hidungnya menangkap aroma yang sangat familiar. Karin pun sama, ia mendekat ke celah kursi depan dengan raut heran.“Lho, Dinara? Parfummu wanginya persis seperti Pak Elang?” tanya Karin langsung, matanya memicing. “Wanginya... identik sekali.”Jantung Dinara nyaris copot. Ia sudah membuka mulut untuk mengarang dusta tentang parfum murah meriah, namun suara bariton di belakangnya
Seketika, atmosfer di dalam bilik berubah menjadi sangat mencekam. Elang langsung menempelkan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat mutlak pada Dinara untuk tidak bergerak dan tetap diam. Matanya yang tajam menatap pintu bilik, lalu ia menggerakkan bibirnya tanpa suara, mengeja satu nama yang membuat jantung Dinara seolah berhenti berdetak... “Karin.”Dinara refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Ia bahkan takut untuk sekadar bernafas, khawatir suara sekecil apa pun bahkan gesekan kain bajunya akan terdengar oleh istri bosnya itu.Namun, bukannya menjauh untuk memberi ruang, Elang justru kembali menekan tubuh Dinara ke dinding. Di tengah risiko yang begitu besar, ia menarik tangan Dinara dari menutup mulutnya lalu mendaratkan ciumannya yang kedua. Kali ini lebih dalam, lebih menuntut, seolah pria itu sedang sengaja menantang praharanya sendiri.Dinara hampir memekik karena terkejut. Gila! Elang benar-benar gila melakukan ini saat istrinya mungkin hanya berjarak s
Saat telapak tangan pria itu mulai mengusap lembut bagian intinya di balik lapisan tipis yang tersisa, sebuah sengatan listrik yang menyakitkan sekaligus memabukkan menghantam kesadaran Dinara.Detik itu juga, pertahanan Dinara runtuh. Ia tidak bisa lagi berpura-pura tenang saat nafasnya sudah mulai tidak beraturan.BRAK.Dinara berdiri dengan sangat cepat hingga kursinya berderit keras di atas lantai marmer, memutus paksa kontak kulit yang membakar itu. Suara itu seketika menghentikan gelak tawa Karin dan obrolan Andaliman. Keduanya serentak menoleh ke arah Dinara dengan tatapan bingung.Andaliman menatapnya dengan raut penuh kekhawatiran. Di sisi lain, Elang tetap duduk dengan posisi yang sangat tenang. Ia perlahan mengangkat tangannya dari bawah meja, lalu meraih gelas air putih dan meminumnya dengan gerakan yang sangat elegan, seolah ia tidak baru saja melakukan sesuatu yang bisa membuat seorang perempuan tersengat. Hanya ada satu hal yang berbeda, sudut bibirnya sedikit terangka






![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
