Share

Bab 70

Penulis: Lyla Veil
last update Tanggal publikasi: 2026-03-23 02:25:34

Setelah Karin pergi, kini giliran Paman Johan yang mendekati. Dinara waspada. Saat mendekati, ia sangat ramah dan murah senyuman. Tapi begitu jarak mereka sangat dekat, kalimat Paman Johan penuh ancaman membuat Dinara bergidik.

“Kamu terlalu ceroboh, Dinara,”

Dinara tertegun, kakinya terpaku di lantai marmer yang dingin. Ia mencoba mengatur nafasnya yang mendadak tidak beraturan.

“Maksud Bapak apa?”

Paman Johan melangkah maju, memperpendek jarak hingga Dinara bisa mencium aroma cerutu dari na
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 124

    Dinara menatap deretan layar itu dengan perasaan campur aduk. Ia merasa aman, namun di sisi lain, ia menyadari betapa ketatnya Elang menjaganya atau mungkin, mengurungnya.“Ternyata Pak Elang seserius itu soal keamanan ya?” tanya Dinara sambil menata piring makanan di atas makan.Bastian berdiri dengan sikap tegap, menjaga jarak yang sopan. “Tuan tidak pernah main-main jika sudah menyangkut hal yang berharga baginya, Bu. Tugas saya memastikan tidak ada satu pun debu yang bisa melukai Ibu tanpa seizin beliau.”Dinara tersenyum tipis, lalu menarik kursi dan duduk di meja makan paviliun itu. “Boleh saya bertanya sesuatu, Pak?”“Silakan, Bu. Selama itu dalam kapasitas saya untuk menjawab,” balas Bastian dengan tenang.“Sudah berapa lama Bapak bekerja membantu Pak Elang?” tanya Dinara penasaran.Bastian tidak langsung menjawab, ia tampak menimbang sejenak seberapa banyak informasi yang bisa ia bagikan. Melihat keraguan itu, Dinara mempersilakan, “Silakan duduk dulu, Pak.”Bastian akhirnya

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 123

    “Jangan pikirkan dia,” jawab Elang datar, suaranya berubah dingin begitu nama Karin disebut. Ia merapikan sisa pakaiannya, lalu menatap Dinara yang masih berada di atas ranjang. “Urusan Karin adalah tanggung jawabku. Kamu jangan khawatir.”Tiga hari berlalu seperti mimpi yang terisolasi dari dunia luar. Dinara benar-benar menjalankan perannya sebagai istri dengan sepenuh hati. Menyiapkan keperluan Elang, menemaninya makan, dan memberikan seluruh perhatian yang selama ini Elang dambakan. Namun, masa bulan madu itu harus berakhir. Elang harus kembali ke kantor untuk menghadapi rutinitas lagi.Pagi itu, Dinara membantu Elang memasangkan dasinya. “Mas,” panggil Dinara pelan setelah usai membantu suaminya berpakaian.“Ya?” Elang menunduk, menatap wajah istrinya yang tampak sendu.Dinara menyerahkan sebuah amplop putih pada Elang. “Ini surat pengunduranku. Aku rasa... tidak akan benar jika aku kembali ke kantor sebagai sekretarismu.”Elang menerima amplop itu tanpa terkejut. Ia sudah mendu

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 122

    Setelah membersihkan diri pasca-aktivitas intim di kamar mandi, mereka beristirahat di balkon kamar. Sore itu terasa hangat. Dinara menyandarkan kepalanya di dada Elang, sementara pria itu melingkarkan lengannya di perut Dinara.“Malam itu... aku merasa sudah kehilangan segalanya,” ujar Elang tiba-tiba, seolah baru saja menemukan keberanian untuk menjawab pertanyaan Dinara sebelumnya.Dinara terdiam, memberikan ruang bagi Elang untuk melanjutkan ceritanya.“Dikhianati oleh orang-orang yang paling aku percaya dan terjebak dalam tuntutan yang tidak masuk akal,” lanjut Elang dengan suara rendah yang sedikit berat. “Aku merasa kehilangan arah, seolah hanya bertahan hidup tanpa tujuan. Tidak ada gairah sama sekali dalam diriku.”Dinara mengubah posisi duduknya agar bisa menatap wajah suaminya secara langsung.“Bahkan aku tidak berminat untuk menyentuh Karin atau perempuan mana pun,” tambah Elang. Ia menatap Dinara dengan pandangan yang jauh lebih tenang dibandingkan malam pertama mereka di

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 121

    Mobil hitam itu perlahan memasuki halaman sebuah rumah yang sangat artistik. Arsitekturnya terlihat modern namun tetap hangat dengan sentuhan kayu dan pencahayaan yang tertata apik. Dinara menatap ke luar jendela dengan dahi berkerut, merasa asing dengan lingkungan perumahan elit yang sangat tenang ini.“Kita ke rumah siapa ini, Mas?” tanya Dinara penasaran.“Ini rumah kita,” jawab Elang singkat.Dinara menoleh tak percaya ke arah suaminya. “Rumah kita? Aku pikir kita akan ke apartemen.”Elang menatap mata Dinara dalam-dalam saat mobil berhenti sempurna di depan teras. “Aku ingin kamu punya ruang yang lebih lega, tempat di mana kamu bisa merasa senang dan aman.”Bastian turun lebih dulu untuk membukakan pintu bagi mereka. Begitu Dinara melangkah keluar, ia disambut oleh tanaman bunga yang indah dengan desain taman minimalis yang menyejukkan mata.“Rumah ini sudah atas namamu,” tambah Elang sambil merangkul pinggang Dinara, membimbingnya menuju pintu utama yang besar.Dinara nyaris ter

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 120

    “Jika Dinara mendapatkan mahar satu unit rumah, apakah saya juga bisa dibelikan rumah?” tanya Ibrahim tanpa basa-basi.“Abang!” Dinara menyela dengan nada tak percaya. Ia merasa kakaknya benar-benar memanfaatkan keadaan.Namun, Elang tetap tenang. Ia menatap Ibrahim dengan raut wajah yang sulit ditebak. “Abang tenang saja, saya tidak akan membiarkan keluarga Dinara dalam kesulitan.”Jawaban itu seketika membuat senyum Ibrahim mengembang lebar. Ia merasa telah mendapat jaminan yang pasti dari calon adik iparnya yang kaya raya ini.“Baiklah kalau begitu. Ayo, siap menikah sekarang?” tanya Ibrahim penuh semangat.Elang mengangguk dan mendekati Ibrahim. Saksi-saksi yang sudah menunggu segera dipersilakan masuk ke dalam ruangan yang terbatas itu. Bastian duduk dengan tegap di sisi kanan Elang sebagai saksi dari pihak pria.Prosesi akad pun dimulai. Elang hanya membutuhkan satu kali latihan singkat sebelum akhirnya dengan mantap mengucapkan kalimat ijab kabul di depan Ibrahim. Suaranya terd

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 119

    Dalam perjalanan menuju rumah Ibrahim, Elang meminta sopir berhenti beberapa kali. Ia turun untuk membeli berbagai macam hantaran; mulai dari aneka makanan, parsel buah-buahan segar, hingga rangkaian bunga yang indah. Dinara berkali-kali mengingatkannya bahwa bawaan itu sudah terlalu banyak, namun Elang bersikeras. Ia ingin memberikan kesan pertama yang tak terlupakan bagi calon kakak iparnya.Setibanya di depan rumah kontrakan Ibrahim, Dinara tertegun. Suasananya tampak jauh lebih ramai dari biasanya, rupanya kakaknya telah mengundang tetangga dekat rumah untuk ikut berkumpul.Di antara kerumunan itu, sebuah mobil hitam sudah terparkir rapi di bahu jalan. Seorang pria berbadan kekar dengan penampilan serba hitam keluar dari balik pagar dan langsung menghampiri mobil yang ditumpangi Elang dan Dinara. Dengan sigap, ia membukakan pintu dan menyambut kedatangan bos besarnya.“Pak Elang,” sapa pria itu dengan nada suara yang tegas dan berwibawa.Elang turun dari mobil, menyambut uluran ta

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 41

    “Pak... Elang... Adikara... bos yang dingin... tapi...” rintih Dinara, suaranya nyaris hilang.Mendengar namanya disebut lengkap dengan nada serapuh itu justru membuat Elang semakin kehilangan kendali. Sisi gelapnya yang suka ‘menghukum’ Dinara bangkit. Ia sengaja menarik diri sejenak, membiarkan D

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 42

    Elang membuka mata, tatapannya kembali tajam dan dingin meski nafasnya masih memburu. Ia menatap Dinara yang terkulai lemas di dadanya, benar-benar kehilangan daya.Elang menarik nafas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasannya yang sempat tercerai-berai. Sebagai penutup dari akti

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 37

    Pikiran Dinara mulai berkelana liar, membayangkan skenario terburuk. Kegelisahannya memuncak saat pelayan mulai menghidangkan sate dengan guyuran saus kacang yang kental di atas meja. Nafas Dinara tertahan. Ia tahu betul, Elang tidak bisa menyentuh makanan itu. Memberikan saus kacang pada Elang sam

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 35

    Dinara duduk di samping Julia, terdiam. Mulai memikirkan skenario Julia yang adalah solusi dari rumor itu, juga dari hukuman bosnya yang semena-mena.Apa yang disampaikan Julia, mulai terasa masuk akal. Menerima Andaliman kembali, untuk menjauhi Elang Adikara.Malam itu, Dinara sulit tidur, ia memi

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status