Share

Bab 88

Author: Phoenixclaa
last update publish date: 2026-02-28 23:44:28

Di luar ruangan, Miranda berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Tumit sepatunya berdetak keras di lantai, namun langkahnya mulai goyah.

Ia berhenti di dekat dinding, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.

Tangannya menutup mulut, menahan perasaan yang sejak tadi menekan dadanya.

Dan tiba-tiba masa lalu itu menyeruak seperti bayangan hitam yang selama bertahun-tahun ia kubur.

Dua puluh tahun lalu…

Miranda, masih muda, masih polos, berdiri dengan mata bengkak di depan sebuah rumah kayu s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 115

    Elena berlari turun ke ruang tamu, dadanya naik turun tak beraturan karena penasaran tapi ternyata tidak ada siapapun.Hingga tiba-tiba suara langkah kaki pelan terdengar dari arah tangga.Semua orang refleks menoleh, dan detik berikutnya—Waktu seolah berhenti bagi Elena.Seorang wanita berdiri di sana.Elena tak bisa membendung rasa kagetnya setelah mencarinya berminggu-minggu…“Ibu…?” suara Elena bergetar hebat.“Elena…” balasnya lirih.Tanpa berpikir panjang, Elena berlari kearahnya.Air matanya jatuh deras saat ia memeluk wanita itu erat-erat, seolah takut sosok di depannya akan menghilang lagi jika ia melepaskannya.“Ibu… ini benar-benar Ibu…?” suaranya bergetar hebat.Rania mengangguk sambil memeluk Elena kembali.“Iya… Nak… Ibu di sini…”Tubuh Elena gemetar dalam pelukan itu.Semua rasa sakit, rasa bersalah, dan ketakutan tak bisa bertemu lagi dengan ibunya…seakan runtuh dalam satu waktu.“Ibu sehat… Ibu baik-baik saja…” bisik Elena sambil menangis.Dan memang Rania terlihat j

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 114

    Elena menghela napas pelan lalu menatap Noah dengan sedikit kesal.“Noah… tolong jaga pikiranmu.” Ucapnya malas.Noah mengangkat alis, jelas tidak merasa bersalah sedikit pun.“Pikiranku?” ulangnya santai.Elena tidak menjawab. Ia hanya turun dari ranjang dengan hati-hati, menahan rasa perih di punggungnya.“Konferensi pers hampir dimulai,” katanya pelan. “Aku harus bersiap.”Ia berjalan ke lemari mengambil gaun yang sudah disiapkan Bi Darti.Noah tetap berdiri di sana sambil bersandar di kusen pintu, menonton setiap gerakan Elena dengan senyum tipis yang menggoda.“Elena…”“Apa lagi?” balas Elena tanpa menoleh.“Kau benar-benar akan berganti baju… sementara aku masih di sini?”Elena berhenti sebentar.Ia menoleh sekilas dengan tatapan tajam.“Kalau kau tidak ingin melihat, keluarlah.”Noah justru tertawa pelan.“Sekarang kau menantangku.”Elena mendengus kecil, lalu dengan cepat melepas pakaian rumahnya dan mengganti dengan pakaian dalam saja sebelum mengambil gaun yang akan dipakai.

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 113

    Harli terdiam beberapa detik setelah pertanyaan Elena menggantung di udara.Ruangan kerja yang luas itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Hanya suara napas Elena yang sedikit tidak teratur yang terdengar di antara mereka.Tatapan Harli lalu berubah dingin.Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena dengan mata yang menyipit perlahan, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam kepalanya.Lalu ia menghela napas kasar dengan ekspresi tidak senangnya.“Keluar.” Bentaknya tajam.Elena tertegun menunggu jawaban yang di inginkan.“Mas ku mohon jawab dulu.” Pinta Elena memelas.“Keluar dari ruang kerjaku!” bentak Harli melanjutkan.Suaranya begitu keras hingga membuat Elena refleks mundur satu langkah.Elena menelan ludah.Hanya saja, sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, Harli sudah berjalan beberapa langkah mendekatinya.Tatapannya menusuk tajam.“Dan bersiaplah… tiga jam lagi.”“Kita akan mengadakan konferensi untuk klarifikasi,” lanjut Harli dengan suara dingin.Dalam sek

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 112

    Miranda dan Elena sama-sama menoleh ke belakang.Di sana, Michel sudah berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang. Wajahnya penuh amarah, matanya tajam menatap mereka berdua.“Sedang apa kalian di sini?” bentaknya tanpa peduli bahwa beberapa tamu mulai melirik ke arah mereka.Miranda langsung berubah sikap.“Michel, sayang—”Tapi Michel memotong dengan suara lebih keras.“Ibu pikir aku tidak dengar?” katanya tajam. “Ibu bilang ibu… ibu kandungnya?”Beberapa sosialita di sekitar mereka mulai berbisik-bisik.Miranda jelas menyadari situasi itu berbahaya.Ia segera meraih lengan Michel.“Cukup. Ikut Ibu.”Michel sempat ingin menolak, namun Miranda menariknya dengan tegas. Elena yang tidak ingin keributan makin besar akhirnya ikut berjalan di belakang mereka.Mereka keluar dari pintu samping mansion menuju halaman depan.Udara malam terasa lebih dingin. Tidak ada wartawan, tidak ada tamu lainnya hanya lampu taman yang menyinari halaman luas itu.Begitu mereka berhenti, Miranda langsung

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 111

    Elena menoleh perlahan.Di sana, Harli berdiri menatapnya. Wajah pria itu kaku, rahangnya mengeras, dan sorot matanya dipenuhi kemarahan yang nyaris tak disembunyikan.“Mas Harli…” suara Elena keluar pelan.Namun Harli tidak menjawab.Tanpa sepatah kata pun, pria itu tiba-tiba meraih lengannya dengan kasar.Tarikan itu begitu kuat hingga membuat Elena tersentak.“Mas—”Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Harli sudah menyeretnya menjauh dari keramaian. Sepatu Elena hampir terseret di lantai saat pria itu membawanya ke sudut ruangan yang jauh dari sorotan kamera dan para tamu.Begitu mereka berhenti di tempat yang lebih sepi, Harli langsung berbalik menghadapnya.Tatapannya tajam.“Dari mana saja kau?” bentaknya dingin, dan penuk tekanan.Elena menatapnya, jantungnya berdetak tidak teratur.“Aku… Mas Harli, aku—”“Cukup.” Harli memotongnya dengan suara keras.Pria itu melangkah lebih dekat, tubuhnya menjulang tinggi di hadapan Elena. Sorot matanya dingin seperti pisau yang siap me

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 110

    Di rumah sakit, Revan baru saja selesai memeriksa tekanan darah Rania ketika pintu ruang rawat terbuka keras.Beberapa pria berpakaian hitam masuk tanpa mengetuk.Revan langsung berdiri siaga.“Ada apa ini?”Namun dua pria sudah berdiri di sisi tempat tidur.Revan menatap tajam dan mencoba menghalangi.“Pasien ini belum boleh dipindahkan.” Ucapnya tegas.Pria yang memimpin rombongan itu hanya menatapnya dingin.“Perintah dari atas.”Revan mengepalkan tangan.“Dari siapa?”Dua pria itu tidak menjawab lalu dengan terampil mengurus alat medis dan memindahkan Rania ke brankar.“HEY!” bentak Revan.Ia mencoba menghentikan mereka, tapi salah satu pria langsung menarik kerah bajunya.BUGH.Sebuah pukulan menghantam perutnya.Revan terhuyung, napasnya terputus.Namun ia tetap mencoba berdiri.“Kalian tidak bisa—”Pukulan kedua menghantam wajahnya.BRUK.Tubuhnya jatuh keras ke lantai.Di pintu, direktur rumah sakit berdiri dengan wajah pucat.“Maaf dokter… ini perintah.”Revan hanya bisa mena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status