Share

152 (Gagal Wikwik)

Author: Phoenixclaa
last update publish date: 2026-07-07 21:55:28

"Ibu...?"

Suara kecil itu memecah keheningan kamar seperti petir di tengah malam.

Daun pintu yang semula hanya terbuka sedikit kini terdorong perlahan. Cahaya redup dari lorong menyusup masuk, membelah suasana yang beberapa detik sebelumnya dipenuhi gejolak emosi.

Elena membeku, seluruh darah di wajahnya seakan menghilang dalam sekejap.

"Noah..." Bisikannya dipenuhi kepanikan.

Tanpa perlu diperintah, Noah langsung melepaskan kedua tangannya dari pinggang Elena dan mundur satu langkah. Wajah pri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   152 (Gagal Wikwik)

    "Ibu...?"Suara kecil itu memecah keheningan kamar seperti petir di tengah malam.Daun pintu yang semula hanya terbuka sedikit kini terdorong perlahan. Cahaya redup dari lorong menyusup masuk, membelah suasana yang beberapa detik sebelumnya dipenuhi gejolak emosi.Elena membeku, seluruh darah di wajahnya seakan menghilang dalam sekejap."Noah..." Bisikannya dipenuhi kepanikan.Tanpa perlu diperintah, Noah langsung melepaskan kedua tangannya dari pinggang Elena dan mundur satu langkah. Wajah pria itu yang tadi dipenuhi kerinduan kini berubah tegang.Elena buru-buru merapikan pakaian tidurnya yang berantakan. Jemarinya gemetar saat menarik kembali bahu bajunya hingga menutupi tubuhnya yang tadi terbuka. Napasnya masih memburu, membuatnya harus memejamkan mata sejenak sebelum memaksakan senyum setenang mungkin.Sedangkan Noah juga merapikan kemeja dan celananya karena barangnya sudah sangat ingin keluar tadinya."Iya, Sayang?" jawab Elena cepat menutupi Noah yang masih merapikan diri dan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   151 (Kenyotan Liar Noah)

    "Aku memanjat." Jawab Noah santai.Bahkan pria itu terlihat begitu singkat, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.Tapi Elena kaget bukan main, "Apa?"Ia menatap Noah beberapa detik, berusaha memastikan dirinya tidak salah dengar.Lalu tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Elena bergegas menuju jendela yang masih terbuka beberapa sentimeter.Begitu tubuhnya sedikit condong ke luar, napasnya langsung tertahan.Di halaman rumah, sebuah tangga aluminium tergeletak miring di atas tanah. Salah satu sisinya bahkan masih menempel pada pagar. Tak jauh dari sana, Devon duduk di kursi lipat dengan kedua tangan terlipat di dada, sesekali mendongak ke arah jendela kamar Elena, jelas sedang berjaga.Tangga itulah yang rupanya sempat terjatuh hingga menimbulkan suara keras, membuat Elena panik dan memeriksa seluruh rumah beberapa saat yang lalu.Perlahan Elena menoleh kembali.Tatapannya kini dipenuhi rasa tidak percaya."Kau... gila?"Noah hanya mengusap tengkuknya pelan. Seny

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   150 (Lidah Sumber Masalah)

    "Apa maksudmu mengatakan itu?" Ulang Elena lagi.Ia menatap Noah lurus tanpa sedikit pun keraguan, membuat pria itu merasakan dadanya semakin sesak.Noah langsung mengembuskan napas pendek. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya perlahan mengepal. Ia baru menyadari bahwa pilihan kata-katanya barusan telah melukai Elena jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan."Aku tidak bermaksud merendahkanmu," jelasnya cepat. Nada suaranya dipenuhi penyesalan, berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya."Oh?" Ucap Elena tersenyum getir."Lalu bagaimana aku harus mengartikannya?" tanyanya pelan. "Kau mengatakan seolah aku melakukan semua ini demi mendapatkan pengakuan dari keluargamu."Noah spontan melangkah satu langkah lebih dekat. Wajahnya dipenuhi kecemasan."Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kau merasa harus melakukan apa pun demi keluargaku. Aku tidak ingin kau terbebani karena—""Aku tidak pernah berpikir ingin terlibat lagi dengan keluargamu."Elena lang

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   149 (Salah Paham)

    Inara berdiri mematung sambil memegang lehernya yang masih terasa nyeri tetapi harga dirinya jauh lebih terluka.Air mata yang tadi jatuh kini sudah mengering, berganti dengan tatapan merah penuh kebencian.Perlahan ia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar tetapi bukan karena sedih. Melainkan karena marah yang membuatnya terguncang. Ia sama sekali tidak terima di perlakukan seperti tadi oleh Noah, hanya karena Elena. Akhirnya, ia menghubungi sebuah nomor dan tidak ada hitungan menit panggilan sudah tersambung. "Inara?" suara seseorang terdengar dari seberang sana.Inara menatap kosong ke luar jendela, lalu sudut bibirnya terangkat tipis dengan tatapan sinis."Pastikan semuanya beres." Nada suaranya lirih tapi dingin. "Saya tidak peduli bagaimana caranya." lanjutnya.Setelah itu sambungan terputus, tatapan Inara semakin gelap."Elena..." bisiknya pelan."Kita lihat sampai kapan keberuntunganmu bertahan."…Di luar ruang CEO...Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah tegan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   148 (Wanita Pecundang)

    Inara langsung tersenyum penuh kemenangan begitu melihat ekspresi Nyonya Garli. Wanita itupun buru-buru melangkah mendekat sambil melipat tangan di dada.“Ituuu nek, yang sudah menggoda Tuan Noah juga.” Ucap Inara di sertai tatapan penuh penghinaan.“Dasar wanita murahan. Baru beberapa hari lalu menggoda Noah sekarang sudah menggoda pria lain juga.” sindirnya sambil melirik Arga sinis. “Memang kelasnya cuma begitu.” Lanjutnya sinis.DEGG.Rahang Arga langsung mengeras, Elena juga tampak menahan emos.Namun sebelum suasana semakin memanas, Nyonya Garli mendadak berjalan mendekat. Gerakannya elegan namun tegas hingga semua orang otomatis diam.Wanita tua modis itu lalu melangkah perlahan mendekati Elena.Tok.Tok.Tok.Suara hak sepatu mahalnya menggema di seluruh café membuat Elena tanpa sadar menelan ludah gugup, tatapan Nyonya Garli sulit dibaca.Sementara Inara langsung tersenyum puas karena mengira nenek Noah itu, akhirnya benar-benar marah.“Nenek memang harus memberi pelajaran pa

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 148 (Godaan Arga)

    “Diamlah.” bisik Arga tenang. “Sebentar lagi selesai.”Tatapan Elena langsung goyah. Arga membuka tutup kecil salep di tangannya lalu mengoleskannya sangat pelan ke bekas merah di leher Elena.Sentuhan jarinya begitu hati-hati.“Ah…” Elena refleks mengernyit kecil. Arga justru meniup bagian leher wanita itu perlahan setelah mengoleskan salep.“Mhh…” Elena spontan mendesah geli kecil hingga bahunya ikut bergetar dan sialnya…suara kecil itu justru membuat tatapan Arga berubah lebih dalam.Senyum miring tipis muncul di bibir pria itu, “Dasar…” gumamnya pelan sebelum menjentik dahi Elena lembut. “Tahanlah.”“Elena langsung manyun kesal sambil memegangi dahinya. “Sakit tahu.”Tapi Arga malah tertawa kecil lalu mulai memasangkan syal tadi perlahan di leher Elena hingga bekas merah itu tertutup sempurna.Gerakan pria itu sangat dekat, bahkan Elena bisa mencium samar aroma parfum Arga yang menenangkan berbeda jauh dengan milik Noah yang terlalu menusuk di hidung.Setelah selesai, Arga tidak l

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 117

    Elena tidak menjawab.Ia terdiam beberapa saat, matanya turun perlahan, menghindari tatapan tajam Noah yang terus menunggu jawaban.Sorot mata Noah perlahan berubah, bukan marah apalagi emosi lebih justru merasa kecewa.“Kau lebih memilih diam?” ulangnya pelan.Ia lalu melepaskan pergelangan tangan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 112

    Miranda dan Elena sama-sama menoleh ke belakang.Di sana, Michel sudah berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang. Wajahnya penuh amarah, matanya tajam menatap mereka berdua.“Sedang apa kalian di sini?” bentaknya tanpa peduli bahwa beberapa tamu mulai melirik ke arah mereka.Miranda langsung be

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 111

    Elena menoleh perlahan.Di sana, Harli berdiri menatapnya. Wajah pria itu kaku, rahangnya mengeras, dan sorot matanya dipenuhi kemarahan yang nyaris tak disembunyikan.“Mas Harli…” suara Elena keluar pelan.Namun Harli tidak menjawab.Tanpa sepatah kata pun, pria itu tiba-tiba meraih lengannya deng

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 104

    Harli tidak langsung menjawab pertanyaan Elena.Sebaliknya, pria itu menatapnya beberapa detik dengan wajah dingin tanpa ekspresi.Lalu tiba-tiba tangannya terangkat.PLAK!Bukan menampar lagi, namun ia mendorong pipi Elena keras ke belakang dengan telapak tangannya.Kepala Elena langsung terhuyung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status