Share

Bab 89

Author: Phoenixclaa
last update publish date: 2026-02-28 23:58:12

Elena berjalan cepat meninggalkan ruangan itu, hampir tersandung karena langkahnya terburu-buru.

Paper bag di tangannya terasa jauh lebih berat dari sekadar berisi pakaian. Seolah ada sesuatu yang tak terlihat ikut terbawa bersamanya.

Sementara itu, Miranda berdiri di ambang pintu, mengikuti kepergian Elena dengan tatapan sayu tatapan yang tidak pernah Michel lihat sebelumnya.

Tidak penuh kebencian, tidak penuh intrik… melainkan sesuatu yang jauh lebih rumit.

Di dalam ruangan, begitu pintu tert
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 132 (Keputusan Pergi)

    Elena lalu tersenyum miring.“Jadi dari awal… bukan karena aku ya…” Bisiknya lirih sambil menatap wajah Noah di layar televisi.“Kau memang akan tetap jadi anjing penjaga Blackwood…” Matanya perlahan mengeras.“Membela ayahmu… bahkan kalau dia kriminal biadab sekalipun.”Di layar televisi itu, Harli Blackwood berdiri dengan senyum puas yang begitu dikenalnya, seolah ingin menunjukkan keberhasilannya mengendalikan semua orang di sekitarnya.DEG.Sesuatu di dalam diri Elena runtuh sekaligus meledak bersamaan, ia sampai tak habis pikir pernah menikah dengan pria sekeji iu.BRUK!Bantal sofa melayang keras menghantam layar televisi. Suara benturannya menggema di apartemen yang sunyi.Napas Elena memburu hingga dadanya turun dengan berat. Amarah yang selama ini dipendam rapat akhirnya meluap tanpa sisa.“Aku benci kalian…” teriaknya dengan suara bergetar.Arga sampai keluar dengan panik menanyakan ada apa…namun Elena diam saja sambil berdiri dan berjalan menuju jendela besar apartemen.Pan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 131 (Hidup Setelah Perceraian)

    “Kembali ke keluarga Guzel…sama saja dengan bunuh diri.” Ucapnya setelah banyak pertimbangan.Elena pun benar-benar tidak punya arah. Tidak ada rumah, sandaran, juga tidak ada tempat untuk kembali. Noah bahkan tidak terlihat dimanapun untuk membelanya. Elena hanya bisa meratapi nasib hari itu.Selama ini ia selalu memaksa dirinya terlihat kuat. Berdiri tegak seolah semua hinaan keluarga Blackwood tidak pernah melukainya. Seolah tatapan dingin Harli tidak pernah menghancurkan harga dirinya sedikit demi sedikit.Padahal kenyataannya… ia sudah sangar lelah dan muak dengan semua permainan hidup orang-orang Blackwood.Namun hidup seolah tidak pernah memberi waktu untuk runtuh terlalu lama.Beberapa hari kemudian, setelah berpindah dari hotel murah ke apartemen sewaan kecil dengan koper seadanya, Elena akhirnya mengambil keputusan yang sejak awal ingin ia hindari yaitu menerima warisan yang ditinggalkan Miranda untuknya.Tangannya sempat gemetar ketika membuka map cokelat tua berisi dokume

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 130

    Siang itu… semuanya terjadi jauh lebih cepat dari yang seharusnya.Elena bahkan masih merasa seperti berjalan di dalam kabut saat ia duduk di ruang sidang.Prosesnya… terlalu singkat.Hakim membacakan berkas.Tidak ada perdebatan panjang.Tidak ada mediasi berlarut seperti kebanyakan kasus perceraian di Indonesia.Hanya beberapa pertanyaan formal.Beberapa jawaban singkat.Dan… selesai begitu saja dalam hitungan jam.Bukan hari, minggu, apalagi bulan.Elena jelas tahu… ini tidak normal.Dan ia juga tahu alasannya ini pasti karena pengaruh seorang Harli Blackwood.Pria itu tidak hanya kaya tapi jaringannya sangat luas.Pengacara papan atas, hubungan dengan aparat, hingga “jalur cepat” administrasi yang membuat berkas mereka diproses kilat, mulai dari pendaftaran, sidang pertama yang langsung dianggap final karena kesepakatan kedua pihak, hingga penerbitan akta cerai yang diprioritaskan.Secara hukum… semuanya tetap sah.Namun cara mereka sampai ke titik itu jelas bukan jalur biasa.“Pe

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 129

    Ketegangan di antara mereka terasa semakin pekat.Napas Elena mulai tak beraturan, dadanya naik turun seirama dengan kedekatan yang terlalu cepat berubah dari permainan kata menjadi pelukan intim yang meluruhkan kesadaran.Namun di tengah itu semua…Pikirannya tiba-tiba terlintas pada satu hal.Harli juga Sesil, juga semua kekacauan yang baru saja terjadi.“Elena…” suara Noah kembali rendah, tangannya masih menahan pinggangnya erat, seolah tak ingin memberinya ruang untuk kabur.Namun kali ini…Elena menahan dadanya.“Berhenti.” ucapnya tiba-tiba.Noah mengernyit, sedikit menjauh, menatapnya dengan tatapan tajam dan masih dipenuhi sisa gairah.“Kenapa?” suaranya terdengar berat, jelas belum puas.Elena menatapnya lurus.“Jawab pertanyaanku dulu.” ucapnya dingin.Seketika suasana berubah.Tidak ada lagi godaan ringan.Tidak ada lagi senyum nakal.Hanya ketegangan.“Kau yang membebaskan ayahmu?” ulang Elena, lebih pelan… tapi jauh lebih menekan.Noah terdiam beberapa detik.Tangannya pe

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 128

    Pipi Elena langsung memanas mendengarnya, sambil mencubit bahu pria itu dengan kesal.“Noah… ini bukan waktu yang tepat—”Tapi Noah melanjutkan…“Kau sendiri yang mengajakku tadi siang, dan sekarang kau tidak akan bisa melarikan diri.” Jelasnya tersenyum.Noah merasa cepat atau lambat Elena juga akan menjadi miliknya jadi lebih baik menghangatkan diri lebih cepat.Melihat Elena cemberut ia menunduk lebih dalam.“Aku akan pastikan kau melepaskan semua stressmu malam ini di wajahku…”Mata Elena langsung membulat sempurna, langsung ingin protes namun Noah sudah menariknya cepat keluar.“Elena!” Sesil tiba-tiba memanggil dari belakang.Tapi karena sudah terlanjut di luar ia tidak mendengarnya…Sesil langsung membeku di tempatnya.Tangannya perlahan turun.Matanya kosong… sebelum akhirnya kembali dipenuhi air mata.“Dia…pergi begitu saja” ucapnya dengan suara bergetar.Lira yang berdiri di sampingnya hanya menghela napas pelan.Lalu ia menepuk bahu sahabat baiknya dan berjanji Ayahnya akan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 127

    Elena benar-benar terdiam saat ini, untuk sepersekian detik otaknya mendadak kosong.“Mas…?” ulangnya nyaris tanpa suara, seperti tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.Noah tersenyum tipis dengan mata jahilnya.“Iya,” jawabnya rendah.Tatapannya kemudian turun ke bibir Elena sekilas, lalu kembali naik ke matanya.“Cepat atau lambat… kamu akan terbiasa.”Deg.Jantung Elena seperti dipukul dari dalam.Belum sempat ia membalas, suara langkah kaki tergesa tiba-tiba mendekat dari arah lorong.Seorang petugas polisi keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah serius.“Tuan Noah Blackwood.”Noah langsung mengalihkan perhatian, ekspresinya kembali berubah dingin dalam sekejap.“Ada yang ingin berbicara dengan Anda. Sekarang.”Noah tidak langsung bergerak.Tatapannya masih tertahan pada Elena selama satu detik lebih lama… seolah berat meninggalkannya.Lalu perlahan, tangannya yang tadi melingkar di pinggang Elena turun… namun tidak sepenuhnya lepas. Ujung jarinya masih sempat meraih

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 121

    BRAKK!Pintu kamar Elena terbanting keras hingga menggema ke seluruh lorong mansion.Di ruang kerja, Noah langsung tersentak. Tangannya yang semula bergerak di atas laptop berhenti seketika.Alisnya mengernyit tajam.Ia bangkit cepat, melangkah ke arah jendela besar yang menghadap halaman depan.Da

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 120

    Suasana ballroom itu langsung pecah.“MATIKAN ITU! MATIKAN SEKARANG!!”Harli berteriak histeris, suaranya serak penuh amarah dan rasa malu yang tak terbendung. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menegang jelas.Para pengawalnya langsung bergerak panik, berusaha menerobos ke arah kontrol layar.

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 119

    Elena tersentak keras.Tubuhnya refleks meringkuk, kedua tangannya buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya yang berantakan karena ular liar Noah.Napasnya tersengal, dada naik turun tidak beraturan bukan hanya karena apa yang baru saja terjadi, tapi karena rasa terperangkap… rasa dipergoki… ras

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 117

    Elena tidak menjawab.Ia terdiam beberapa saat, matanya turun perlahan, menghindari tatapan tajam Noah yang terus menunggu jawaban.Sorot mata Noah perlahan berubah, bukan marah apalagi emosi lebih justru merasa kecewa.“Kau lebih memilih diam?” ulangnya pelan.Ia lalu melepaskan pergelangan tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status