MasukFated to a Dragon?! Yeah, right. No chance in hell! Anyways, as they say, when life throws lemons at you, you make lemonade. But Charlotte only knows how to make coffee. So when a handsome stranger waltzes into her coffeehouse, everything changes for the worst. And unlike coffee, she's learned from a string of relationships that humans are more difficult to deal with. However, with the help of her best friend and childhood crush, things aren't looking too grim. She might just be able to deal with these series of unfortunate events. Or so she thought. Not until one drunk night when her most prized possession is gone. Things fall apart quickly, and there's only one person she blames for everything.
Lihat lebih banyak"Kau tidak sedang meminta pendapatku, Ayah. Kau sedang menjualku," suara wanita itu bergetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mendidih di bawah permukaan kulitnya.
Di dalam kamar rias yang luas dan dingin itu, seorang waniga cantik berdiri seperti patung pualam yang dipaksa memakai kain sutra. Gaun pengantin berwarna putih gading itu adalah mahakarya, namun bagi wanita itu, setiap jahitannya terasa seperti duri yang menusuk kulit. Tiga orang penata rias profesional berdiri mematung di sudut ruangan, memegang alat rias dengan tangan gemetar. Mereka tahu benar siapa wanita di depan mereka. Marlina Andreas, satu-satunya pewaris takhta bisnis gelap keluarga Andreas yang memiliki reputasi lebih mematikan daripada kecantikannya. Seorang lelaki paruh baya melangkah masuk, David Andreas, ia memecah keheningan dengan dentuman sepatu kulitnya yang mengilat. Ia tidak datang dengan senyum seorang ayah yang akan melepas putrinya, melainkan dengan tatapan seorang jenderal yang memastikan asetnya aman. "Antonio bukan sekadar rekan bisnis, Marlina. Dia adalah jalur utama kita ke pasar Eropa. Dengan kau di sisinya, posisi Andreas tidak akan tergoyahkan," ucap David datar, sambil menyesap cerutu yang aromanya memenuhi ruangan. Marlina tertawa sinis, sebuah tawa yang kering dan tajam. "Posisi Andreas? Atau posisimu, Ayah? Aku sudah menghabiskan sepuluh tahun terakhir menjadi anjing pelacakmu. Aku membersihkan kekacauan yang dibuat anak buahmu, aku memenangkan negosiasi dengan moncong senjata, dan sekarang kau ingin aku menjadi hiasan di ranjang pria tua itu?" "Jaga bicaramu!" David menghantam meja rias, membuat botol-botol parfum mahal berdenting nyaring. "Aku membesarkanmu bukan untuk menjadi pembangkang. Aku mengajarimu cara menembak agar kau bisa membunuh musuhmu, bukan untuk menodongkan lidah tajammu padaku!" Marlina melangkah maju, membiarkan ekor gaunnya yang panjang terseret kasar. Ia berdiri tepat di depan ayahnya, menantang mata elang yang selama ini ditakuti oleh seluruh mafia di kota ini. "Kau mengajariku bela diri agar aku kuat, Ayah. Dan sekarang, aku cukup kuat untuk mengatakan tidak padamu." Plak! Tamparan itu begitu keras hingga gema suaranya seolah memantul di dinding ruangan. Wajah Marlina terlempar ke samping. Ujung bibirnya pecah, mengeluarkan setetes darah merah yang kontras dengan bedak putih di wajahnya. Namun, Marlina tidak bergeming. Ia tidak meringis, apalagi menangis. Ia perlahan menoleh kembali, menatap ayahnya dengan sorot mata yang jauh lebih dingin daripada sebelumnya. David mencengkeram rahang Marlina, menekannya hingga kuku-kukunya memutih. "Dengar baik-baik, Putriku sayang. Hari ini, kau akan berjalan ke altar itu. Kau akan tersenyum dan menjadi istri Antonio. Jika kau mencoba melarikan diri, aku akan memastikan setiap orang yang pernah kau ajak bicara di luar rumah ini mati dengan cara yang paling menyakitkan. Jangan menguji kesabaranku, Marlina. Kau tahu aku bisa menjadi iblis jika kau memaksaku." David melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan berbalik. "Kunci pintunya dari luar. Jangan biarkan dia keluar sampai waktunya pemberkatan," perintahnya pada dua penjaga bertubuh raksasa di depan pintu. Pintu tertutup dengan dentuman yang memekakkan telinga. Marlina berdiri diam, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Di balik gaun yang tampak rapuh itu, tersimpan tubuh yang terlatih dengan keras. Sejak kecil, ia tidak diberi boneka, ia diberi pistol kaliber sembilan milimeter. Ia tidak diajari menari, ia diajari cara mematahkan leher lawan dalam tiga detik. Marlina Andreas adalah senjata yang diciptakan oleh David sendiri, dan hari ini, senjata itu akan berbalik menyerang penciptanya. "Kalian," suara Marlina rendah, tertuju pada para penata rias yang pucat pasi. "Masuk ke kamar mandi. Sekarang. Jika kalian bersuara sedikit saja, aku tidak menjamin kalian bisa pulang untuk makan malam." Tanpa perlu perintah kedua, mereka berlari masuk ke dalam kamar mandi besar dan menguncinya. Marlina bergerak secepat kilat. Ia menyambar gunting kain besar di atas meja. Dengan beberapa gerakan kasar, ia memotong gaun pengantinnya yang menjuntai, merobek lapisan-lapisan kain brokat yang menghambat langkahnya hingga menyisakan kain putih yang kini lebih mirip tunik pendek. Di balik lipatan kain yang tersisa, ia mengencangkan ikat pinggang kulit berisi pisau lipat yang sudah ia siapkan diam-diam. Ia menuju balkon. Angin malam menerjang wajahnya, membawa aroma kebebasan yang getir. Kamar ini berada di lantai dua, tapi bagi Marlina, ini hanyalah latihan pemanasan. Ia memanjat pagar balkon, lalu dengan gerakan atletis yang sempurna, ia melompat ke dahan pohon ek tua yang menjulang di samping bangunan, merosot turun dengan cekatan hingga kakinya menyentuh tanah tanpa suara. Marlina berlari melewati taman belakang, namun langkahnya terhenti di dekat gerbang samping. Dua bodyguard kepercayaan ayahnya berdiri di sana dengan senjata lengkap. "Nona? Apa yang—" Marlina tidak menunggu pertanyaan itu selesai. Ia melesat seperti anak panah. Dengan satu lompatan, ia melayangkan tendangan lutut ke arah ulu hati penjaga pertama, membuatnya tumbang seketika. Penjaga kedua mencoba menarik senjatanya, namun Marlina lebih cepat. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya hingga terdengar suara krak yang mengerikan, lalu menghantamkan sikunya ke pelipis pria itu. Dua pria dewasa itu ambruk di atas rumput dalam hitungan detik. Marlina berdiri di tengah kegelapan, napasnya memburu, darah di ujung bibirnya kini terasa asin. Ia menatap gerbang besi yang terbuka sedikit, lalu menatap ke arah mansion megah yang kini terasa seperti penjara yang terbakar. Sirene mulai terdengar dari dalam rumah. Ayahnya sudah menyadari mangsanya lepas. Marlina berlari menembus jalanan setapak yang gelap, menuju jantung kota yang asing baginya. Ia menanggalkan tiara berliannya dan membuangnya ke semak-semak. Sambil terus berlari, ia merobek sisa kain brokat yang masih menempel di lengannya, menyisakan pakaian putih compang-camping yang kini kotor oleh tanah dan darah. Ia sampai di sebuah gang sempit yang gelap dan lembap. Suara deru mobil pengawal ayahnya terdengar di kejauhan, menyisir jalanan utama. Marlina menyandarkan punggungnya pada dinding bata yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang sesak. Matanya menatap tajam ke kegelapan di depannya. "Aku tidak bisa kembali," gumamnya pada diri sendiri, suaranya parau namun penuh tekad. "Marlina Andreas sudah mati di dalam mansion itu." Ia menyentuh rambut panjangnya, lalu menatap bayangan dirinya yang samar di genangan air hujan. Dunia ini luas, namun bagi putri seorang mafia, tidak ada tempat yang benar-benar aman. "Aku harus bersembunyi," bisiknya pelan, sementara matanya menyisir sekeliling dengan waspada. "Aku harus menjadi seseorang yang bahkan tidak bisa dikenali oleh bayanganku sendiri." Lampu sorot mobil menyambar ujung gang, membuat Marlina tersentak dan kembali menghilang ke dalam kegelapan malam yang lebih pekat. Ia merenungi dirinya sendiri, menatap langit malam. "Sekarang... kemana aku harus pergi?!" 🍒Hei terima kasih buat yang mau mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya!!(Charlotte’s POV) I wonder how Arthur's holding up. Man, I’ve been dead worried about him since that whole bloody mess went down. I can’t stop thinking about that look on his face; he was so pale and broken up. And to make things worse, I ain’t even got a phone to check if he’s alright. Brilliant, innit? Just so fucking brilliant. I keep pacing the kitchen, every creak of the floorboards winding me tighter. I’d already told Amelia to close up the coffeehouse for a while — we all needed a breather after what happened. Still, my head’s buzzing with questions. If Arthur’s having it rough when he’s barely got his wings, then how bad must it be for the rest of 'em? With a long sigh, I grab a glass and pour myself some cold orange juice. The chill hits the back of my throat, but it doesn’t do much to cool the storm in my head. The telly’s on, and voices are mumbling through the static. One of those news panels that can’t stop running their mouths about murder cases and conspiracies.
(Orlstyne’s POV) Hmm… seems Father’s hunch was right after all — Paesnia’s crawling with all kinds of scum these days. Little rats poking their heads out where they shouldn’t. “Falkon, I’m sorry about that…” Evelyn mumbles, her voice barely audible. I lift my eyes to her, more out of politeness than curiosity. “Cam’s not usually like that. He must be stressed about the cases.” “Cases?” I ask, arching a brow, as I keep my tone casual and unbothered. She’s fidgeting with her fingers again, twisting them over and over like she’s tryna wring the nerves out of her hands. “He’s a… y’know, a cop.” I lean back in my chair with my arms folded loosely. A Variant playing at being a copper, now that’s rich. I let out a short breath filled with half amusement and half boredom. There are bigger things on my mind than her little pet officer. “He’s like a brother to me,” she adds quickly, as if that means something. I give her a faint shrug. Didn’t ask. Don’t care, but... “A brother, eh?
(Cameron’s POV) “Excuse me, Sir, can I get your order?” the lass at the counter says, in a soft tone, but she sounds miles away from where my mind’s at. My eyes are fixed on the far side of the café, and everything inside me boils at the sight of the back of an auburn haired figure. Those shoulders, and giggles: I’d know it anywhere. It's Evelyn. For a milli second, I think my eyes are playing tricks on me. But no, that’s clearly her. Laughing so softly, as she leans forward like she’s with someone she knows well. My heart sinks, then spikes, twisting into something familiar. Like seeing Charlotte with that son-of-a-bitch, Mr. Ruiz. But who’s that bloke sat across from her? He’s grinning a bit too widely, smug as fuck, and too bloody comfortable even though his eyes meet mine. He stares back for a bit, and then winks, like he already knows who I am, before looking back at Evelyn. My fists tighten, and my breath hitches as heat rushes through me. Did she screw me over? Was I not
(Cameron’s POV) Christ, my head’s a bloody mess. I can’t believe I shagged Evelyn while picturing Charlotte beneath me. What the fuck was that? Was I that pent up, that desperate for her? The guilt's killing me, but underneath it all I still feel the raw burn of lust for Charlotte. Her scent’s lodged at the back of my throat, and clawing at it. I stand there with my fingers clenched round a can of juice, as I stare blankly at the vending machine. My mind’s a whirlpool of thoughts, dragging me through every disaster of the last few days. First, it was Jupiter, then Carlstone. And now Ogothr’s vanished. They were responsible for the serial murders everywhere, which was according to plan. And someone's out there neutralising them, undoing every move we've made. But who on earth could it be? Who's even strong enough to oppose us, when we've got a number of powerful Dragons at our side? Fuck, they just had to make work harder for me, since I was supposed to be in charge of el






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak