로그인"I will give you an interest of one million dollars once we regain our lost glory," Nelly promised. "Really? Are you the only one who doesn't know my net worth?" Ivan questioned. "Fine. What do you want, Ivan?" "Marry me." Nelly Stratford was forced to approach her sworn enemy, the proud Ivan Landers, to beg for money. Their family business was dwindling and her father was in a coma. The money to foot the hospital bill was not in sight. Left with no other option, she accepts his marriage proposal. Nelly spent the next one year proving her worth. She did everything to please Ivan because she had fallen in love with him but his heart was far away. He only loved a certain girl who saved his life seven years ago. Ivan told her to her face that he would never love her. Two weeks later, he came back to the house he shared with her. He saw the divorce papers she left him alongside the ring he gave the girl who saved him seven years ago. Pain and regret burst out in his chest, but this time, he couldn't find her anywhere. When she returns, its not for love this time, but for vengeance. Will she succeed or will she let her love for Ivan take the upper hand?
더 보기“Mi, Ika berangkat dulu.” Zulaika menyambar tanganku. Aku yang tengah mendak meraih pisau selai di atas meja, terpaksa urung sebab tangannya telah menggenggam jemari ini erat.
“Lho, nggak sarapan dulu, Ka?” tanyaku agak heran. Zulaika, anak pertamaku yang sudah menginjak usia 17 tahun tersebut, biasanya tak pernah melewatkan sarapan. Gadis itu paling suka dibuatkan roti panggang yang diolesi selai kacang. Namun, kali ini dia sangat berbeda.
“Buru-buru,” ucapnya sambil mencium tanganku cepat, lalu berlari ke arah depan sana menuju pintu. Rumah minimalis kami yang dapur, ruang tengah, dan ruang tamunya tanpa sekat serta langsung mengarah ke pintu ini memang membuatku langsung bisa memandangi sosok Zulaika yang keluar.
Gadis dengan rambut hitam legam tebal sebahu tersebut sudah menghilang. Tak dapat kutangkap lagi bayangannya dengan kedua mata yang mulai menua. Ya sudahlah. Kalau memang dia tak mau sarapan, itu artinya biar aku saja yang memakan roti panggang kacan ini.
Bila tengah sendiri di rumah begini, aku langsung teringat Ario, anak bungsuku yang sedang mondok di luar kota, serta Mas Danu, mantan suamiku. Dulu, dulu sekali saat rumah tanggaku masih utuh, kami selalu makan bersama di meja ini. Berempat menikmati canda tawa dan hidangan sederhana buatanku. Namun, semua tinggal masa lalu. Tak akan pernah terulang sampai kapan pun.
Ya, aku dan Mas Danu sudah bercerai sejak tiga tahun lalu. Ketika Zulaika berusia 14 tahun dan Ario berusia 13. Perceraian disebabkan karena suamiku yang sudah tak betah menghadapi kesibukanku sebagai bankir. Itu hanya alasan. Keinginan utama lelaki itu ternyata menikahi wanita lain yang selama ini diam-diam dia kencani di belakangku. Aku tak marah. Tak masalah. Tanpa kehadirannya, toh aku masih bisa hidup bersama kedua anak-anakku, meski Ario kini nyantri atas pilihannya sendiri.
Aku yang kini telah pensiun dini dari dunia perbankan dan memilih banting setir membuka pesanan pastry serta merangkai karangan bunga memang tak sesibuk dahulu. Waktuku lebih banyak di rumah. Tanpa dibantu asisten seorang pun, aku tetap bisa mengurusi rumah, Zulaika, dan bisnis kecil-kecilanku. Pesanan kue-kue hanya open pre order dua kali seminggu. Kecuali karangan bunga, itu dapat dipesan kapan pun. Untuk macam-macam momen. Kadang karangan duka cita, perkawinan, naik jabatan, gran openning, dan lain sebagainya. Hasil usahaku bahkan lebih dari cukup untuk biaya kehidupan kami bertiga. Terbukti, aku tak butuh Mas Danu yang memang sudah melupakan kami semenjak perceraian itu datang.
Usai sarapan, aku langsung beres-beres. Hari ini tak ada pesanan kue maupun karangan bunga. Aku jadi pengangguran sehari. Rencananya, akan kunikmati hari ini dengan menonton drama Korea di laptop. Usia memang boleh tua, tapi seleraku dan Zulaika sama, lho. Hehe aku memang menolak tua sepertinya.
Mencuci piring bekas makan sudah. Menyapu juga sudah. Aku langsung masuk ke kamar Zulaika untuk membereskan kamar anak gadis tersebut. Alangkah kagetnya aku dengan tisu yang berserakan di atas tempat tidur. Tisu-tisu bekas pakai itu menggumpal bagai bola-bola dengan jumlah banyak. Zulaika kenapa? Apakah dia habis menangis semalaman? Atau dia sedang pilek? Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Sudah berengkatnya buru-buru, dia tak mau sarapan pula. Bagaimana kalau anak itu memang kurang sehat dan tak ada isi makanan di perutnya? Astaga, gadis itu selalu saja bikin aku khawatir!
Kusapu dengan telaten semua sampah di kamarnya. Ada bungkus snack, tisu-tisu bekas pakai, baju kotor, semuanya campur aduk centang perenang membuat kepala pening. Untung yang di rumah hanya satu anak. Kalau ditambah dengan Ario, tensiku bisa langsung naik drastis.
Tring!
Aku luar biasa kaget saat mendengarkan suara itu. Kutoleh ke arah meja belajar di mana suara tadi berasal. Laptop milik Zulaika tampak belum mati dan tertutup setengah. Aku pun langsung menghentikan aktifitasku dan langsung mendekat ke arah benda pipih empat belas inci dengan warna silver tersebut.
Saat kutegakkan layar laptopnya, ternyata sebuah drama Korea sepanjang tadi terputar dan dimatikan oleh Zulaika volumenya. Langsung kukeluarkan jendela pemutar video tersebut.
“Duh, Ika, kebiasaan banget!” omelku sendirian.
Ketika jendela pemutar video tersebut sudah tertutup, yang terpampang kini adalah jendela mesin pencarian internet yang menunjukkan akun W******p milik Zulaika. Bunyi itulah yang muncul mengejutkanku tadi. Ada notifikasi pesan masuk.
Awalnya, aku ingin menghargai privasi anakku. Namun, lama kelamaan aku jadi penasaran sendiri. Terlebih pesan masuk itu berasal dari sebuah akun yang diberi nama Boo. Bukankah itu seperti nama panggilan sayang untuk seseorang? Apakah Zulaika sudah punya kekasih? Kenapa dia tidak pernah cerita kepadaku?
Dengan tangan yang gemetar, aku membuka pesan dari si Boo. Duduk aku di kursi belajar milik putriku sambil menatap layar laptop dengan degupan jantung yang kencang.
[Bee, pulang sekolah n*****x and chill lagi, ya? Aku beneran pengen. Kamu bikin aku turn on terus semalaman. Hiks, mau, ya? Udah di ubun-ubun ini mah. Serius ☹]
Ada yang terkoyak dalam dada ini. Sakit sekali perasaanku. Bukannya aku ini bodoh dan tak paham apa arti di balik pesan dengan bahasa gaul ini. Terlebih saat membaca kata ‘turn on’. Perasaanku sebagai seorang ibu plus single parent benar-benar hancur lebur tak bersisa.
Tega kamu kepada Mami, Zulaika!
Was it Karma or was the universe on her side? She received the news with mixed feelings. She was happy that he was finally paying for his evil deeds but on the other hand, she wasn't satisfied that this punishment wasn't dished out by her.Nelly received an email from her company the following day. They had a shoot and she was offered the lead role but she declined the offer. She wasn't leaving the country until she had set her father's company, which was now hers where it is supposed to be. Fortunately for her, her efforts were paying off, although bit by bit. The errors of the past generation were gradually giving way for the clean and decent methods of the new generation. Nelly was determined to set the company in transparent basis even if it would take time. Emma was a very sweet child who didn't give her mother any trouble. Her mother had ampl
Nelly was in her father's room with Emma the following morning. She was looking for any document related to work that could help her in what she wanted to do. Emma was there as a form of distraction and at the same time, company.“Mummy look at this,” Emma announced excitedly, raising a colorful book.“Yes, it's nice.”“Mummy, this is beautiful,” Emma called out again, pointing at the aquarium on the television screen.She called her mother's attention twice more until Nelly nearly lost it.“Mummy? Come and take a look at this.”“Emma, I'm busy and I don't l
Ash shook his head, indicating a negative answer. There was nothing else in the phones and they had also completed the task they laid down to help Nelly track down her enemies.They weren't much but they were powerful men involved too. Easton Landers, Ivan Landers, Ethan Stratford and Aria Dean.“Including Amon,” her inner voice said.All these people deserved no ounce of pity. Easton was very meticulous in his dealings that he always escaped being caught even when his men were caught red handed. Somehow, there was always an escape route where he sneaks out of, unscathed. Aria was dead, she would take care of Amon when she travelled back to Germany.“And that's if he'll still be my neighbour. With his job done, he'll flee.” The n
Somewhere in a part of the town was this popular family who didn't bother about the news. In fact, it was the least of their worries. That was the Landers family. The only thing that was set to bother Daisy and Ivan was what her mother had to say. Grandfather had informed them earlier that Lily wanted to speak to them that day.Seated in the living room, Daisy waited almost impatiently for her mother to speak but the latter didn't seem interested in saying anything in a hurry. Providence heard her when her mother cleared her throat and began.“Daisy, as you requested, I'll tell you nothing but the truth about all you need to know of your background.”“Anderson used to be nice and caring but he






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.