เข้าสู่ระบบMarried to her fated mated for years, bound by the dying wish of her mate's father, Imogene's fate hangs on the thin thread of luck as Orion overrides and humiliates her publicly by making her a trophy wife, flashing his Mistress right in her face but an accidental case of a missing necklace becomes the last straw that breaks the Camel's back. Imogene, hurt and broke knowing that the man she loves was willing to get rid of her, signs divorce papers and disappears. Five years later, the tables are turned. It seems like her ex-husband had changed his mind.
ดูเพิ่มเติมBab 1 - Pernikahan Kontrak
Dito menatap lekat-lekat surat kontrak pernikahan di hadapannya, jemarinya gemetar menahan emosi. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa kehidupan sederhana yang dijalaninya akan berubah drastis hanya dalam sekejap. Namun, di sinilah dia sekarang, duduk di ruang tamu keluarga Wijaya, menandatangani dokumen yang akan mengikatnya dengan Putri Sulung mereka, Sari. Pernikahan ini sama sekali tidak didasari oleh cinta. Ini hanyalah sebuah kontrak yang saling menguntungkan bagi kedua keluarga. Keluarga Wijaya membutuhkan seorang menantu pria untuk menjaga eksistensi perusahaan mereka, sementara Dito dan keluarganya membutuhkan uluran tangan untuk mengangkat mereka dari kemiskinan. "Ingat Dito, ini bukan pernikahan biasa," ujar Nyonya Wijaya dengan nada dingin. "Kau hanyalah seorang teknisi sederhana yang kami angkat derajatnya. Jangan pernah lupa posisimu di sini." Dito menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu betul bahwa keluarga Wijaya memandangnya rendah, hanya menjadikannya sebuah alat untuk mempertahankan status mereka. Namun, demi menghidupi keluarganya yang miskin, Dito rela membuang harga dirinya. "Saya mengerti, Nyonya. Saya akan melaksanakan tugas saya dengan sebaik-baiknya," jawab Dito lirih, menandatangani kontrak tersebut. Dari sudut ruangan, Dito menangkap sorot mata Putri Sari yang memandangnya iba. Gadis itu tampak cantik dalam balutan gaun sutra mahal, namun Dito dapat melihat ada kesedihan di sorot matanya. Apakah Sari juga tidak menginginkan pernikahan ini? Setelah upacara penandatanganan selesai, Dito dan Sari diminta untuk menghadap Tuan Wijaya, sang kepala keluarga. Pria paruh baya itu menatap Dito dengan pandangan menelisik, seolah berusaha mencari-cari cela dalam dirinya. "Jadi, kau yang akan menjadi menantu keluarga Wijaya, hm?" ujarnya dengan nada sinis. "Aku harap kau tidak akan mengecewakan kami. Tugasmu adalah menjaga dan melindungi Sari, serta memastikan perusahaan kami tetap berjalan dengan baik. Jika kau berani mengkhianati kami, kau tahu sendiri apa konsekuensinya." Dito mengangguk dengan patuh, menahan gejolak emosi di dalam dadanya. Ia tahu benar bahwa keluarga Wijaya hanya menerima kehadirannya karena terpaksa, bukan karena tulus menerimanya. Ketika Dito dan Sari berjalan menuju kamar mereka, suasana canggung dan kaku terasa begitu kental. Keduanya berjalan dalam diam, tak ada satu pun yang berani memulai percakapan. Dito bahkan ragu untuk sekedar melirik Sari, takut jika gadis itu jijik melihatnya. Setibanya di kamar, Sari langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, menenggelamkan wajahnya di bantal. Dito hanya berdiri kaku di dekat pintu, tak tahu harus berbuat apa. "Maaf...," gumam Sari pelan, air matanya mengalir membasahi bantal. "Maafkan aku, Dito. Aku tahu kau pasti merasa jijik denganku." Dito tertegun mendengar perkataan Sari. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Putri Sulung keluarga Wijaya itu justru merasa bersalah. "Tidak, Nona...," Dito berkata lirih. "Saya yang seharusnya meminta maaf. Saya tahu pernikahan ini hanya kontrak belaka, dan Anda pasti merasa terpaksa." Sari mengangkat wajahnya, menatap Dito dengan mata berkaca-kaca. "Kau salah. Aku... aku bahkan sudah lama menyukaimu, Dito. Tapi aku tahu, kau hanya menganggapku sebagai tuan putri yang tak terjangkau." Dito tertegun mendengar pengakuan Sari. Jadi selama ini, Putri Sulung itu diam-diam menyukainya? Bagaimana bisa? Dito hanyalah seorang teknisi sederhana, jauh di bawah derajat Sari. "Nona Sari, saya... saya tidak tahu harus berkata apa," ujar Dito gugup. "Saya hanyalah seorang pria biasa, tak pantas untuk Anda." Sari bangkit dari tempat tidur, melangkah mendekati Dito. Tangannya terulur, menyentuh lembut pipi Dito. "Itulah yang membuatku semakin menyukaimu, Dito. Kau begitu sederhana, namun baik hati. Aku ingin kau melihatku sebagai diriku sendiri, bukan hanya sebagai Putri Sulung keluarga Wijaya." Dito tertegun, seolah tersihir oleh tatapan Sari. Gadis itu begitu cantik dan rapuh di saat bersamaan. Tanpa sadar, Dito meraih tangan Sari yang berada di pipinya, menggenggamnya erat. "Saya... saya juga menyukai Anda, Nona Sari," bisik Dito tulus. "Meskipun pernikahan ini hanyalah kontrak, izinkan saya untuk berusaha mencintai Anda dengan tulus." Sari tersenyum lembut, air mata bahagia mengalir membasahi pipinya. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Dito, membiarkan bibir mereka bertemu dalam ciuman lembut penuh kerinduan. Malam itu, di bawah sinar bulan, Dito dan Sari berbagi cinta yang tak terduga. Mereka tahu, pernikahan ini mungkin dimulai dengan kontrak, namun cinta yang tumbuh di antara mereka jauh lebih kuat dari sekedar kesepakatan. Sayangnya, kebahagiaannya ini tidak akan bertahan lama. Keluarga Wijaya memiliki rencana lain untuk Dito dan Sari, rencana yang akan menguji cinta mereka sampai batas terakhir.Orion’s POV My eyes fly open as I feel the sleep seeping out of my body.It’s almost dawn and today I resume my post at the borders. My wounds have significantly healed over the night. I’m not exactly thrilled to be reduced to a mere guard but hey, once a soldier always a soldier. I can do this and anything else, I’m just glad she didn’t decide to kill us. I get up and walk to the shower, this has been one of the longest nights of my life. I’m not even sure I slept well. I’m in the bathroom now and my thoughts turn to my mother, I can’t help worrying about her. Will she be alright? She’s a proud woman after all, who has gone through what I would believe is the worst experience of her life, and most importantly—Will she be able to control herself around Xavier? I mean… the last time she was in close proximity to the boy, it had led to what got us into this situation in the first place. And what about me? When my two weeks are up at the borders and I get to guard the boy… I don’t
Sophia’s POVI’m sipping a glass of wine and staring out the window.It's been days since the trial. Days since Imogene…the Supreme alpha decided to forgive my mother and brother, giving them light punishments instead of the death penalty. I was so relieved I wept. ~Flashback~Imogene is sitting on the podium, at the head of the room, eyes powerful and scanning the room. I watch her eyes stop for a flitting second on each face before moving on the next.Her father—Supreme Alpha Jerome per usual stands right beside her. Both father and daughter scan the room and assert their authority through their gaze and silence.The last time we were in these chambers, I had been beside her podium, with Alpha Avery comforting my crying self. Today I wasn’t beside her. And neither was that lying and scheming Arizona. Today, we were just like the rest in the chamber, watching her from below the podium. Whatever her decision will be I see she has put a lot of thought into it and her mind is made u
Imogene’s POV“I don’t know father, do you think I made the right call?” I drop my arrow on the outdoor table and turn my gaze to where Xavier is playing. It’s been a couple of hours since the trial ended and my father and I are in the courtyard.“Setting them free?”“Letting them near my son.”My father turns to me while dropping the last arrow in the quiver. “Imogene my dear, I know you didn’t want to have them killed, even I didn’t want you to begin your reign killing one of our most industrious alpha and warrior.” I turn my head so quickly my neck almost snaps. My father laughs seeing the expression on my face.“Hey… I’m saying you did the right thing sparing their lives. But letting them close to your son? I trust you and I know you’ll have them watched at all times so I’m not worried.”My father and I have been out shooting arrows and sharpening my skills. He’s one hell of a shot. Never missed a target in his prime and from the looks of it has still got it.We’ve been practic
Arizona’s POV I thought surely it would be swift, Imogene sentencing one or both of them to death… at least a stripping of rank. She declared them traitors and ran out of here like she was going to incinerate them as soon as she laid eyes on them. I had grown rather irritated with Sophia and Celine’s crying. Such pitiful fools. I refused to let myself feel sorry for them.I loved him.Loved… that was because watching him look up at Imogene with longing in his eyes, I know fighting to keep what I thought we had would be fighting a losing battle. Not with the kind of power Imogene wields now and of course… a son. A cute little boy who looks just like him, what father wouldn’t want a relationship with him? I could have had that with him. A son, a daughter or more. But I let him talk me into so many abortions.Would things have been different if I had had a son for him despite the rules? Would he have saved that look for me? Would I still have had his mother’s favor? My eyes are draw






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.