Mag-log in--
Setelah cuma diam setelah menerima perlakuan tidak mengenakan yang diterimanya beberapa detik lalu, Dante Andromeda masih harus melawan keterkejutannya sendiri saat tanpa aba-aba Aurora Jasmeen menarik dasi abu-abu yang ia pakai.Menarik. Secara harfiah. Ditarik sambil dibawa bergerak jalan.Percayalah. Dante tidak pernah diperlakukan demikian. Membayangkannya saja tidak sekalipun. Serius? Diseret-seret sepanjang koridor sekolah.Dante melepas jemari lentik berkutek biru milik Aurora yang dari tadi berhasrat sekali mencengkram dasinya. Wajah cowok berkacamata itu super duper datar. Dia bercanda atau memang sebal saja? Tetapi Dante pikir sepertinya mereka tidak sedekat itu untuk bercanda dan tidak semusuh itu untuk beraksi terlampau memalukan seperti ini.Gadis manis berseragam putih itu sontak berhenti melangkah, yang cantik bermata kucing khas itu sekilas menyirit tak suka. Berbalik menatap laki-laki tinggi yang berdiri di belakangnya dengan muka dingin."Jangan tarik-tarik dasi gue," jelas Dante dengan nada suara pelan yang tegas seraya membenarkan letak dasinya kembali.Aurora mendecih sensi. Sok sekali dia ini.Namun bukannya takut setelah mendengar peringatan dari Dante, Aurora malah beralih meraih tangan Dante. Tidak boleh dasi? Tangan boleh, kan?Belum juga genap dua detik tangan besar cowok itu Aurora genggam, Dante lebih dulu menepis jemari Aurora dan menarik mundur tangannya. Aurora sampai tercengang.Dante mendelik tak terima. "Jangan pegang tangan juga—""Terus gue harus pegang apa?!" selak Aurora sebal."Ya nggak usah pegang-pegang!"Aurora terlihat lebih tak terima. "Lo boleh seenaknya pegang-pegang gue, sementara gue nggak boleh pegang-pegang Lo, gitu?"Astaga.Bukannya beberapa menit yang lalu Aurora menyuruh Dante untuk tidak melakukan hal itu lagi karena dia merasa tidak nyaman? Lalu kenapa Aurora malah melakukan hal yang sama pada Dante padahal tau rasanya setidak nyaman apa.Ish! Dante menghela napas pelan.Memangnya permasalahan utama yang sedang terjadi di sini adalah tentang itu, hah? Tentang pegang-pegang tidak jelas itu?Jelas bukan. Aurora menyeret-nyeret Dante seperti debcolector begini harusnya karena hal yang lebih penting."Lo mau ajak gue ke mana?" tanya Dante kemudian. "Aturan dasarnya itu, ijin sebelum ajak orang lain pergi.""Ambil Coco," sahut Aurora. "Lo yang tinggalin Coco di halaman belakang, jadi Lo juga harus ambil dia."Manusia ini sebenarnya segabut apa sih, sampai perkara menelantarkan tas saja repotnya sudah seperti penelantaran anak.Dante menarik napas dalam sebelum kemudian membuangnya, cowok itu menaikan tangan guna membenarkan letak kacamatanya. Apa Dante benar-benar harus meladeni manusia merepotkan ini sepagian?"Gue nggak bisa ikutin Lo, jam pelajaran—"Tentu saja.Sebelum kata-kata Dante berakhir, Aurora lebih dulu menarik tangan Dante, bukan hanya untuk digenggam, kali ini langsung diseret berjalan menuju halaman belakang."Gue nggak peduli ya sama pelajaran yang Lo agung-agungkan itu," celetuk Aurora penuh kekesalan. "Bodo amat! Intinya sekarang ikut gue! Ini adalah konsekuensi karena Lo ninggalin Coco sendirian! Mending Lo titipin ke Bu Lasmi sekalian daripada ditinggal! Seenggaknya BK lebih layak dari keramik halaman belakang, tau nggak!"Sambil terus berjalan dengan tempo langkah yang cepat, Aurora tak henti-hentinya berbicara, dia bahkan tidak memberi jeda agar Dante tak bisa menyela. Dante pun tidak punya kemampuan untuk melawan si cerewet, dia biasanya tidak banyak bicara. Jadi tidak bisa.Dante juga tak punya keinginan serta kekuatan untuk menolak. Akankah lebih baik ia menurut? Biar permasalahan ini cepat selesai, biar dendam tak jelas yang dimiliki Aurora pada dirinya impas hari ini juga dan cewek itu tak akan lagi mengganggu Dante kedepannya. Benar. Sepertinya begitu saja.Kendati Dante masih berpikir kalau meninggalkan tas di halaman belakang bukanlah perkara besar. Jelas bukan hal besar! Dan ingat apa yang Aurora katakan pada Dante bersama teriakan beberapa saat lalu? Katanya tas itu lebih mahal dari dua ginjalnya. Huft, dasar perempuan.Oke.Dante sudah memutuskan untuk mengikuti ke mana langkah Aurora membawanya. Benar. Turuti saja biar cepat selesai.Mengabaikan beberapa pasang mata yang melihat terang-terangan pemandangan langka antara Ketua OSIS tegas dan Troublemaker langganan BK bergandengan tangan, akhirnya sampailah mereka di tempat yang dituju. Tepatnya pada lorong yang ada tepat sebelum halaman belakang sekolah.Aurora melepaskan tangan Dante yang semula ia genggam. Cewek itu melirik Dante dengan raut wajah dramatis sebelum kemudian menunjuk tas hitam miliknya."Liat! Coco gue!"Dante menatap datar. Kenapa cewek ini lebay sekali. Memangnya apa yang parah? Dante bahkan meletakkan tas itu di atas kursi rusak yang tak terpakai. Bukan di atas keramik atau bahkan tanah langsung.Tiba-tiba saja delikan dramatis di mata Aurora seketika raib. Wajah itu beralih datar dalam satu sekon. Aurora mengedip polos, lalu dengan santainya dia menabok lengan atas Dante."Bilang dong, kalo nggak di tanah," celetuk Aurora sambil nyengir kecil. "Bikin orang panik aja. Kalo tau Coco tidur di kursi kan gue bisa tenang. Dan nggak akan pake nyulik Lo ke sini, Ketos."Dante hanya mendengarkan sembari membalas cengir tanpa dosa itu dengan tatapan dingin.Memangnya Aurora memberi Dante kesempatan untuk bicara?Tetapi daripada mendebat cewek yang sudah jelas tidak akan mau kalah ini Dante lebih tertarik untuk kembali ke kelas karena jam belajar sudah di mulai.Tanpa berniat membuat perkara lain atau mengatakan apapun, Dante membalikan badan, dia membuang napas sembari mengangkat satu buku di tangan. Berniat membaca buku sambil berjalan, namun belum juga genap lima langkahnya tertunaikan. Tiba-tiba saja suara Aurora terdengar kembali memanggil namanya."Dante!"Langkah Dante berhenti. Cowok berkacamata itu memejamkan mata sabar.Niat untuk melunaskan masalah hari ini harus dipenuhi. Dante tak ingin berurusan dengan Aurora besok atau seterusnya.Dante kembali, mendekati Aurora."Mana?" kata Aurora dengan nada panik. Cewek berpipi tembam itu sibuk merogoh isi tasnya sambil terus bertanya lagi. "Cowwo mana?"Dante diam saja."Cowwo mana, ih?" tanya Aurora, sesekali mendongak melirik pada Dante, alisnya bahkan terlihat bertaut khawatir yang jelas tidak dibuat-buat. "Cowwo gue mana?!"Dante benar-benar tidak mengerti apa maksudnya."Cowwo siapa lagi, sih?" balas Dante frustrasi.Aurora benar-benar tidak bisa menemukan Cowwo di manapun. Cewek itu pun berhenti mencari di dalam tas, dia beralih mendongak sepenuhnya, menghadapi Dante."Anjing ucul yang gelantungan di sini!" jawab Aurora sambil menunjuk resleting tasnya. Gantungan boneka anjingnya hilang.Mungkin, membuat nama yang sedikit unik adalah ciri khas Aurora Jasmeen.Dante memejamkan mata sabar. "Ya mana gue tau anjing Lo itu ada di mana."Dan Aurora hanya berdiri diam dengan mata yang terlihat berkaca."Udah, kan?" tanya Dante memastikan. "Tas Lo udah balik, normal no minus, barang Lo nggak ada yang ilang—"Eh.Lah kok nangis!Frustasi yang semula merayap di dalam otak Dante dalam sekejap berubah menjadi rasa panik yang parah.Aurora menangis. Pipi tembam gadis itu mulai digenangi air mata, hidungnya memerah lengkap dengan mata sembab yang sepertinya akan masih terus memproduksi air."C-cowwo il-ang!" kata Aurora diantara isakan. "Cowwo gue nggak boleh ilang, Dante, lu harus cariin."Dante mengedip ragu. Pun dirinya agak gelagapan. Ia tidak pernah dihadapkan dengan tangisan seorang gadis, jadi Dante tak tau harus berbuat apa."E-eh, jangan nangis dong. Besok gue ganti deh bonekanya. Boneka anjing yang lucu kan? Mau berapa? Dua? Lima?"Bukannya tenang. Tangisan Aurora malah menjadi tambah keras."G-ak bisa, Cowwo itu reinkarnasi K-uma. Nggak ada lagi pengganti di dunia."Dante melipat bibir tebalnya ke dalam mulut.Kuma siapa lagi itu? Merek pakaian olahraga?Diantara kebingungan serta rasa gemas yang dirasakan Dante, Aurora masih setia menangis, tiba-tiba dirinya bernostalgia. Dulu sekali, saat anjing rumahnya mati Aurora tidak berhenti menangis tiga hari lamanya, hingga kemudian Papa membawa satu box besar berisi boneka anjing yang mirip dengan Kuma untuk menghiburnya.Setelah waktu berjalan. Boneka-boneka di box besar yang semula penuh itu pun kian berkurang. Hingga sedewasa ini, tinggal satu boneka yang tersisa dan itu adalah Cowwo!Mengingat Kuma lagi, raung tangis yang dikeluarkan Aurora bertambah keras."Kenapa malah tambah nangis, sih?" beo Dante panik, tangannya bergerak-gerak antara hendak memegang Aurora berupaya menenangkan atau tidak.Sebelumnya Aurora menyuruh Dante untuk tidak menyentuhnya lagi, dan Dante juga tidak ingin dituduh mengambil kesempatan di dalam kesempitan, jadi daripada luput akhirnya ia memilih diam.Dante memandang wajah Aurora yang basah. Tiba-tiba terpaku. Para gadis kalau menangis selalu lucu begini, ya? Mata berkaca-kaca, hidung memerah, beberapa butir air mata menggantung di ujung bulu mata, bahkan Aurora menangis tanpa rikuh sambil terus memeluk tas kesayangannya.Dante membuang napas pelan. Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya."Udah jangan nangis," ujar Dante lembut. Mengulurkan sapu tangan yang ia bawa pada Aurora. "Gue harus gimana? Ngomong aja gak apa-apa, tapi jangan nangis."Mendengarnya tangisan Aurora perlahan berhenti. Cewek berponi depan itu mendongak bersama sisa isak yang masih ada. Menatap bergantian antara Dante dan sapu tangan yang disodorkannya."Belum dipake," ujar Dante, merujuk pada sapu tangan itu. Barangkali Aurora curiga kalau sapu tangannya ini merupakan sapu tangan habis pakai.Aurora menarik ingusnya sesekali. Dia pun menerima sapu tangan dari Dante kendati dalam tasnya ada tisyu yang belum dibuka.Tetapi... ini pertama kalinya Aurora menangis di depan orang asing. Dan orang asing itu menawarinya kain kecil untuk mengusap air mata."Cariin. Cowwo. Sekarang. Juga."Dante mengedip. Simpatinya perlahan mengikis."Jujur, Lo cuma mau ngerjain gue, kan?""Ih, enggak," sahut Aurora tidak terima dituduh demikian. Suaranya sengau, khas manusia selesai menangis. "Lo barusan bilang gue boleh minta apa aja yang penting nggak nangis!""Mana ada cewek segede ini nangis gara-gara boneka anjing ilang.""Gak melek Lo? Ini ada, gue buktinya!"Dante mengangkat jemari menekan pangkal hidungnya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pening bukan main."Ini abad dua puluh satu! Lo lahir tahun apa sih, masih ada orang pake sapu tangan," protes Aurora sehabis membuang ingus di sapu tangan yang Dante pinjamkan. "Jangan ngarep gue balikin ini sapu tangan dalam keadaan wangi dan terlipat rapih kayak di drama-drama ya. Kalo mau modus tuh pake cara yang trendi dikit."Harus sekali ya meroasting di saat seperti ini? Lagian... Dante tidak berniat modus! Dante hanya sedikit panik karena ini pertama kalinya ia disandingi gadis menangis.Nyatanya. Pribadi tenang yang tak banyak bicara seperti Dante bisa hilang kontrol begini bila dihadapkan dengan Aurora.Dante menghembuskan napas dalam-dalam. Tanpa mengatakan apapun ia perlahan berjalan mengendap-endap seraya mencari bilamana ada boneka anjing di sana. Dari sudut ke sudut, dibalik kardus bekas, di bawah meja tak terpakai. Tidak ada."Itu di sana tuh coba cari!" titah Aurora terdengar, suara tangisnya juga terdengar mereda.Dante mengabaikan, namun tak urung ia menuruti perintah Aurora, melangkah ke tempat yang gadis itu tunjuk. Dan nihil. Tidak ada."Udah gue bantu cari, meski gue nggak punya kewajiban buat ngelakuin itu." Dengan hela napas Dante bicara. "Dan nggak ketemu, gue ganti aja, gue beliin boneka anjing yang sama—""Gak mau! Gue maunya cowwo! Dia gak bisa digantiin! Lo cari yang bener dong, mata udah empat masih aja—"Oke.Kesabaran Dante sudah habis."Gue balik! Bodo amat sama Cowwo Lo itu! Nangis juga bodo amat gak peduli gue! Cari aja sendiri!""Dante!""Stop panggil-panggil nama gue seolah kita itu kenal deket.""Nggak bisa gitu dong! Lo harus tanggung jawab! Gimanapun juga ini semua nggak akan terjadi kalo Lo nggak ninggalin—"Saat itu, tanpa diduga ada siswi yang mendengar kalimat terakhir Aurora. Jika kalimat Aurora dan mata sembabnya digabungkan menjadi satu, tanpa bisa dicegah situasi itu menciptakan sebuah prasangka.Siswi sekolah yang tak sengaja mendengar itu mengedip canggung sebelum kemudian mengambil langkah mundur beberapa saat kemudian.Aurora membeku satu detik setelah sadar dengan apa yang ia katakan. Kenapa lu ngomong kalimat idiot begitu sih, Ra?! Kalo nanti ada rumor buruk nyebar gimana! Aurora sibuk dengan pikirannya sendiri sampai ia lupa bahwa ada korban lain juga.Iya. Dante.Dante bagaimana? Dante... selesai.Beberapa bulan kemudian. Aula pesta pernikahan sudah ditinggalkan. Di kamar hotel yang tampak berantakan dan memiliki jendela kaca berpemandangan Burj Khalifa itu, pria dan wanita terlelap nyenyak berbalut selimut. Sudah hampir subuh. Setelah semalaman Dante membuat Aurora sibuk. Aurora hanya berharap ia bisa tidur nyenyak, namun mimpinya terlalu tinggi. Saat ia merasakan tangan Dante kembali merayap di perutnya, dengan suara yang serak dan lemah ia berkata. “Orang gila, udah, please, aku ngantuk banget!” Hari pertama pertama pernikahan sungguh menyiksa. Aurora benar-benar tidak tahu bahwa menjadi seorang istri harus sesulit ini. Ia bahkan tidak ingat lagi berapa kali bercinta semalaman, yang Aurora tahu hanyalah ia sudah jadi zombi dan nyawanya hampir hilang. Ia sungguh butuh tidur, benar-benar hanya tidur. Dante tidak menjawab dan hanya terus mencium leher serta pundak Aurora. “Mandi dulu baru tidur,” katanya, licik seperti buaya modus. Aurora sudah tidak peduli lag
Di depan kaca besar kamar mandi hotel Aurora berdiri, melepas handuk kecil yang membalut rambutnya, ponselnya bersandar ke sebuah botol, di layar terlihat dering panggilan video manunggu tersambung. Dan saat panggilan grup itu sudah terjalin stabil, Aurora menunduk, memperlihatkan cincin berlian yang menghiasi jari manisnya, satu tangan lainnya menutupi wajah karena malu. Dua orang yang menjadi lawan bicaranya pun berteriak antusias, makin tak karuan ketika Alda dan Cassy bicara bebarengan membuat Aurora tidak bisa mendengar apa pun yang mereka katakan. Ia segera meng’hust’ dan membuat situasi menjadi kondusif kembali. Bagaimana pun, di antara mereka bertiga seperti tebakan Aurora lah yang pertama akan dilamar dan menikah. Cassy terlalu suka bermain-main, cowok baginya hanya hiburan- kalau bosan maka ganti yang lain, ia belum berpikir untuk menikah sama sekali, sementara Alda juga sedang sibuk-sibuknya dengan studi juga karier, tidak punya gebetan sama sekali. Aurora satu-satunya
Aurora tertawa, tidak berniat menjelaskan. “Tunggu sebentar, aku pamit dulu.” Dengan begitu, Aurora kembali ke TK, berpamit pergi pada salah satu guru yang bertugas- lalu menyapa ibu-ibu yang menunggu anak-anak mereka selesai bersekolah. Tanpa perlu menjelaskan banyak hal pun mereka tahu kalau pria tampan yang mengendarai mobil mahal di sana adalah kekasih si guru muda. Selama tinggal di Jogja, Aurora menempati rumah nenek buyutnya, ia tinggal bersama beberapa sepupu jauh dan seorang bibi. Secara alami, peraturan di sini lebih banyak daripada saat Aurora tinggal bersama orang tuanya. Ketika Dante datang, mereka memiliki batas waktu untuk berkencan- meskipun usia mereka sudah dewasa dan aturan seperti itu seharusnya sudah tidak berlaku, namun Aurora tetap pulang sebelum jam 9. Dante mengenal baik kerabat Aurora di Jogja, dia pun tidak banyak protes, yang bisa dia usahakan hanya bangun lebih pagi agar tidak rugi dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama. Dante menyetir de
4 tahun kemudian. - Tidak ada kesalahpahaman yang tidak bisa diluruskan, pertemuan dan pembicaraan yang baik bisa menyembuhkan segalanya. Aurora belajar mengenai pemahaman itu bertahun-tahun yang lalu. Masa muda yang bodoh mengajarkannya banyak hal, perpisahan tidak menyedihkan, orang hanya perlu terbiasa- meski tidak mudah tapi selama kepercayaan masih ada maka hubungan baik akan tetap terjalin. Menjalani long distance relationship selama 4 tahun lamanya tentu tidak mudah, Aurora tidak akan begitu sombong dengan mengatakan ‘LDR itu gampang’, dari awal pun ini tidak mudah baginya, tetapi sebagai gadis yang selalu diperjuangkan rasanya Aurora tidak punya complain sama sekali. Aurora lulus dengan nilai yang cukup baik. Setelah memikirkannya dengan matang, ia mengambil jurusan ilmu komunikasi dan berkuliah di salah satu universitas unggulan Yogjakarta. Dante menyelesaikan studinya dalam 3 tahun, dan selama waktu itu dia selalu menyempatkan pulang menemui Aurora satu atau dua
Rasa malu Aurora mengalahkan rasa takutnya. Ia langsung berdiri dengan tegang, kedua tangannya menyatu, kepalanya menunduk tak berani diangkat, separuh hatinya mengumpat pada Dante dan separuh lainnya mengumpat diri sendiri— jika saja mereka bisa menunda ciuman itu, maka tidak akan membuat situasi jadi begitu canggung begini. Karena terlalu deg-degan, jemari Aurora menjadi dingin, tak terasa air matanya turun. Saat itu Dante masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi, dia hanya menganggap kalau kehadiran orang tuanya mengganggu. Sementara Wilona dan Juni juga belum mengatakan apa-apa, tetapi Aurora sudah menangis- membuat semua orang seketika terbebas dari kecanggungan. Juni lebih dulu mendekati anak laki-lakinya lalu memukul lengan atasnya cukup keras. Bagaimana pun, selama membesarkan Dante, ia tidak pernah memakai kekerasan, Dante anak yang baik tidak banyak tingkah jadi membesarkannya bukan hal sulit, tetapi kali ini- agaknya Juni sudah tidak gagal mengajari anakny
Rusa tidak tahu bahwa Singa menginginkan tubuh dan nyawanya. Bidadari tidak tahu bahwa selendangnya dicuri dan ia terkurung dalam surga palsu bernama cinta di bumi. Aurora si gadis lugu juga tidak tahu, bahwa pria yang baru dewasa, dengan hormonnya yang seperti bendungan hampir jebol, diam-diam sengaja menahan diri- tidak menciumnya lebih dulu, dia kelaparan namun dia menginginkan buah manis itu yang datang menghampirinya. Aurora mendekatkan wajah, memberikan kecup bibir manis yang Dante inginkan. Hanya satu kali, tidak lama. Tiba-tiba saja dia terkikik. “Kayak apa banget,” celetuk Aurora merasa lucu. “Dicium terus dapet iphone gitu?” Dante diam saja. Dia memutar bola mata ketika Aurora mencubit dagunya dan berkata gemar. “Sugar daddyku brondong ganteng.” Sugar daddy katanya. Saat tiba-tiba Dante menekan pinggang Aurora lebih rapat padanya, hingga sama sekali tidak ada jarak di antara mereka, Aurora tidak lagi mampu tertawa. Kikik lucu yang tadi ia leluasa keluarkan berub
-- Aurora balas dendam kencan membabi buta. Sepertinya Aurora benar-benar serius ketika dia bilang bahwa dia tidak ingin pulang dan ingin pacaran, Dante tidak menolaknya, cowok itu cuma tersenyum kecil dan mengangguk menyetujui permintaan pacarnya itu. Tidak heran, mereka berada di sekolah yang sa
"Bolos?"Kening cowok berkacamata itu mengernyit, siang ini setelah Dante menemui guru BK untuk beberapa keperluan dia dimintai tolong untuk mengantarkan lembaran latihan soal untuk Aurora, awalnya Dante akan memberikan soal itu pada Aurora nanti setelah mereka pulang, namun Bu Lasmi bilang harus seg
“Atututu, kok kamu bisa nyangkut di sana sih, gemoy. Sini-sini aku bantu turun ya,” ujar Aurora pada sesuatu di balik rindang daun pohon depan sekolah. Gadis itu belum sempat melihat Dante yang tak jauh darinya, perhatiannya langsung tertuju pada seekor anak kucing yang kesulitan turun dari atas
Laptop yang masih menyala langsung ditutup tanpa dimatikan lebih dulu, Dante mengambil buku dan tasnya sebelum akhirnya beranjak, mengabaikan teman perempuannya yang kebingungan melihat perubahan sikapnya setelah menerima telepon. Dante dan ketenangan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, jar







