Home / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 160 : JEBAKAN RENCANA

Share

BAB 160 : JEBAKAN RENCANA

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-09-08 10:58:23

Tiga Jam Sebelumnya.

​Lampu meja kerja Sagara berpendar redup, memantulkan bayangan gelas bening berisi air putih yang tinggal separuh di sudut meja. Senyum tipisnya mengembang begitu nama Tiara berkedip di layar ponselnya.

​"Dewa ada di sini," bisik Tiara dari seberang telepon. Suaranya bergetar. "Dia baru selesai diskusi dengan seniorku, mbak Kirana. Dia dingin sekali padaku, Sagara. Dia sama sekali tidak mau melihatku."

​Sagara bersandar santai pada kursi kulitnya, menyesap air mineral di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (16)
goodnovel comment avatar
Nopphy_lolipop
okehhhhh. goodnight akak gina 🩷🩷
goodnovel comment avatar
Yoongina
Wkwkwk kak nopphyy bobokk ajaaa aku up besok yaa, ini lg bikin bab tamat nya reygan dulu hehehe, selamat istirahat kak nopphy(^.^)
goodnovel comment avatar
Nopphy_lolipop
up lagi ndak ini, kalow iya aku tungguin dech. kalow tidak aku bobok yaaaaa......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Chemistry Chapter   BAB 199 : LANGKAH MULUS DI KEJAKSAAN AGUNG

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama Griya Zadewa, membiaskan pendar hangat di atas ranjang. Zea terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Rasa cemas dan kelelahan yang menggelayutinya kemarin telah berganti dengan energi baru. Di sampingnya, Dewa masih tertidur lelap dengan satu tangan melingkar di pinggang Zea, menjaga posisi tubuh istrinya agar tetap nyaman. ​Zea tersenyum tipis. Ia mengusap perlahan jemari Dewa yang melingkar di perut buncitnya, lalu melirik alat perekam suara mini berwarna hitam yang tergeletak di atas nakas. ​Baginya, benda kecil itu bukan sekedar bukti kejahatan seorang mantan kekasih yang masih sangat berharap pada suaminya, melainkan kunci yang menjamin kelancaran tahap berikutnya dalam penyusunan skripsinya di Kejaksaan Agung. Intimidasi yang sempat di lakukan Tiara kemarin, sesungguhnya membuat Zea sedikit tertekan walau ia mampu menghadapinya, Zea sempat berpikir kalau Tiara akan bertindak lebih jauh dari sekedar validasi awa

  • Chemistry Chapter   BAB 198 : CHEMISTRY CHAPTER

    Kesedihan yang mendalam membakar dada Dewa saat ia menatap mata bening istrinya. Ia hanya tidak menyangka, Tiara, gadis yang pernah sangat ia cintai, berubah menjadi sosok yang tidak memiliki hati nurani hanya karena cemburu dan obsesinya untuk bisa kembali. Zea sedang hamil besar, dan Tiara justru menjadikan kondisi istrinya sebagai ancaman, yang bagi Dewa, itu adalah sebuah kejahatan yang tidak bisa ia toleransi. Di bawah pendar lampu gantung ruang tengah yang hangat, kejujuran terasa begitu berat untuk diutarakan, namun Dewa tahu ia tak boleh menyembunyikan apa pun dari Zea. ​"Aku... baru saja dari apartemen Tiara, Zea," ucap Dewa lirih. Suaranya serak, seakan ada beban berat yang menghimpit napasnya. ​Jantung Zea berdetak hebat. Pegangan tangannya pada kemeja Dewa melonggar seketika. Sorot matanya memancarkan rasa terkejut sekaligus kecewa yang mulai menggenang di pelupuk mata. "Kak Dewa... menemui Mbak Tiara di apartemennya? malam-malam begini?" ​Dewa cepat-cepat menggen

  • Chemistry Chapter   BAB 197 : JEBAKAN DI LANTAI 12

    FLASBACK DUA JAM SEBELUMNYA. Matahari baru saja terbenam di ufuk barat ketika mobil yang dikendarai Dewa berbelok memasuki area parkir bawah tanah sebuah kompleks apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan. Jarum jam digital di dasbor menunjukkan pukul 18.45 WIB. ​Dewa mematikan mesin. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran jok, memejamkan mata sejenak sambil menghela napas panjang yang begitu berat. Pikirannya terbagi antara bayangan wajah tulus Zea yang sedang hamil tua di rumah, dan ancaman dingin Tiara yang siap menghancurkan masa depan akademis istrinya besok pagi. ​Dewa meraih ponselnya, melihat pesan singkat dari Tiara yang berisi foto meja makan yang sudah ditata romantis dan menunggu kedatangannya. Dengan rahang mengeras dan cengkeraman kuat pada ponselnya, Dewa membuka pintu mobil lalu melangkah menuju lift. ​Ia tahu betul risiko keputusan ini. Namun, membiarkan Tiara bertindak sewenang-wenang tanpa batas di Kejaksaan Agung adalah hal yang tidak bisa ia toleransi. A

  • Chemistry Chapter   BAB 196 : PULANG TELAT

    ​Suara dering telepon mengagetkan Dewa yang baru saja tiba di parkir pengadilan negeri Jakarta Selatan. Ia melirik layar ponsel yang tergeletak di dasbord. Kerutan halus langsung tercipta di dahinya saat melihat nomor kantor tidak dikenal dari area Kejaksaan Agung berkedip di layar. ​Mengira itu adalah panggilan dari klien yang akan ia dampingi di ruang sidang pagi ini, Dewa menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu di telinganya. ​"Selamat pagi," sapa Dewa tegas dan formal. ​Keheningan menggantung selama dua detik, hanya terdengar helaan napas halus di ujung telepon yang sangat ia kenali. Hawa dingin seketika menyelimuti dada Dewa saat suara wanita itu akhirnya terdengar di telinganya. ​"Selamat pagi, Dewa..." panggil Tiara pelan, dengan nada manja sekaligus penuh kemenangan yang dibuat-buat. "Atau harus kupanggil sayang, seperti biasanya?" ​Dewa memejamkan mata sejenak, mengepalkan tangan kirinya di atas kemudi. Tensi di kepalanya langsung naik. "Tiara. Mau apa kam

  • Chemistry Chapter   BAB 195 : PERSETUJUAN TIARA

    Lift berdenting halus saat pintunya terbuka di lantai dua Gedung Bundar. Koridor bagian Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus tampak begitu lengang dan berwibawa. Karpet tebal meredam suara langkah kaki, sementara jajaran foto mantan Jampidsus dan plakat penghargaan yang terpajang di dinding kayu mahoni seolah menegaskan bahwa tempat ini bukan area bermain. ​Zea melangkah keluar dari lift. Perut buncitnya terasa sedikit menegang, reaksi alami tubuhnya menghadapi tensi yang mulai naik. Ia meraba ponsel di saku blazernya, memastikan benda pipih itu tetap berada dalam jangkauannya sebelum menyusuri koridor sesuai petunjuk arah menuju Ruang Subdirektorat Riset dan Pembinaan Penyidikan. ​Tiba di depan pintu kayu tebal berkaca buram dengan papan nama bertuliskan JPU Mutiara Cahaya, S.H., LL.M. Zea berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, mengusap perutnya lembut. Bismillah, ini demi skripsi dan masa depan kita, Biji Wijen, batinnya menenangkan diri. ​Ketukan tiga kali di

  • Chemistry Chapter   BAB 194 : KEJAKSAAN AGUNG

    Pagi ini, suasana di meja makan Griya Zadewa terasa jauh lebih hening dari biasanya. Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui pintu kaca ganda menuju kolam renang, membingkai siluet Zea yang tampak segar dengan blazer rapi menutup kemeja longgar khusus ibu hamil. Di usianya yang menginjak tujuh bulan, kehamilan itu membuat parasnya makin berseri. ​Namun, ketenangan itu sama sekali tak menyentuh pria yang duduk di hadapannya. ​Dewa menatap Zea dengan wajah cemas. Ia mengaduk-aduk sarapannya dengan perlahan, membiarkan uap nasi goreng di piringnya menyapu wajah tampannya yang tampak tegang. Fakta bahwa Zea harus melangkah sendirian ke Gedung Kejaksaan Agung membuat hatinya bergejolak hebat. ​Ia khawatir Tiara akan melakukan hal buruk pada istri dan calon anaknya karena Zea telah menampar gadis itu beberapa waktu lalu. Menyerahkan Zea bersama janin yang dikandungnya ke hadapan Tiara, adalah hal terakhir yang ingin Dewa biarkan terjadi. "Zea," panggil Dewa pelan. Menghenti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status