LOGINBonus up Bab Weekend, selamat membaca☆☆☆
Ketua Majelis Hakim mengetuk palu menenangkan ruangan, lalu menatap ke meja Penggugat. "Saudara Kuasa Hukum Penggugat, silakan memberikan tanggapan." Dewa menghela napas pelan. Tanpa raut panik sedikit pun, pria itu berdiri anggun menarik pelan jas hitamnya. Ia merapikan letak kacamata berbingkai tipisnya, memancarkan aura dingin yang seketika membungkam seluruh ruangan. Bayangan wajah Zea sejenak melintas di kepalanya. Apa yang ia takutkan terjadi. Ia tidak ingin Zea dijadikan senjata oleh Sagara untuk melawannya di pengadilan. Dan itu juga salah satu alasan Dewa memilih untuk menyembunyikan status mereka demi menjaga Zea paling tidak sampai gadis itu memperoleh gelar sarjananya. "Terima kasih, Yang Mulia Majelis Hakim," ujar Dewa dengan suara basnya yang tenang namun berwibawa. "Sangat menggelikan melihat bagaimana Pihak Tergugat mulai menggunakan gosip dan asumsi pribadi untuk menutupi ketidakmampuan mereka membantah keabsahan bukti material." Sagara mengeraskan rahangny
Sedan hitam Dewa akhirnya tiba di area parkir kantor hukum Adiraja & Partners. Membutuhkan usaha ekstra bagi Dewa untuk menenangkan Zea yang sempat berontak ingin ikut. Setelah memegang janji bahwa tidak akan ada hal aneh di antara dirinya dan Tiara, gadis itu akhirnya mengijinkan Dewa pergi. Gedung yang biasanya sudah sepi pada pukul sembilan malam itu kini masih menyisakan pendar cahaya dari balik kaca ruang kerja utama di lantai dua. Dewa melangkah cepat menaiki tangga, merapikan kemeja abu-abunya yang sedikit kusut, lalu mendorong pintu ruangan dengan satu gerakan tegas. Di dalam sana, Tiara berdiri membelakangi pintu, menatap deretan piala dan plakat penghargaan di rak kayu mahoni. Mendengar langkah kaki Dewa, perempuan itu berbalik. Sepasang matanya yang sembab menunjukkan bekas tangis, namun binar kerinduan yang mendalam terpancar jelas saat tatapannya jatuh pada Dewa. "Dewa..." bisik Tiara, melangkah mendekat tanpa ragu. Dewa tetap berdiri berjarak dua meter di depa
"Maaf, Saga. Aku tidak bisa membantumu." Ujar Tiara dengan wajah emosi. "Sepertinya, Dewa benar-benar sudah melupakan aku." Sagara tersenyum Pahit. Ia sudah buntu sekarang. Sepertinya Sadewa Adiraja akan kembali mengalahkannya di pengadilan minggu depan. Ide menyingkirkan laki-laki itu pun dengan bantuan Tiara, tetap tidak bisa menyeretnya keluar dari kasus ini. "Sayang sekali. Mengabaikan gadis secantik kamu dan memilih berdiri menindungi Prof Subroto. Aku pikir dia terlalu terobsesi dengan sebuah kemenangan." "Aku rasa bukan karena itu." Sagara mengerutkan keningnya dalam. "Maksudmu? karena apa?" pancingnya dengan nada suara rendah. "Tentu saja karena tunangannya." "Tunangan? Dewa sudah bertunangan?" "You kidding me?!" ujar Tiara tertawa hampa. "Tidak mungkin kamu tidak tahu dia dijodohkan oleh keluarga Adiraja dengan seorang mahasiswi di Universitas Erlangga!" "Apa?! mahasiswi Universitas Erlangga? siapa?" Tiara memutar bola matanya malas. Ia meraih gelas minuman
Zea yang tadinya bersandar manja sontak menegakkan tubuhnya, mengerjap-ngerjap bingung melihat perubahan ekspresi calon suaminya. "Hah? A-aku bilang apa emangnya?" Rahang Dewa mengeras. Ia menatap lurus manik mata Zea tanpa berkedip. "Kamu bilang tadi... kamu makan es krim sama siapa?" tanya Dewa, setiap suku kata diucapkannya dengan penekanan. "Sagara?" Zea menelan ludahnya susah payah karena tenggorokannya mendadak terasa kering. Gadis itu baru saja tersadar, karena terlalu asyik menginterogasi Dewa soal Tiara sampai-sampai keceplosan membongkar rahasianya sendiri, bahwa ia tadi sempat jalan berduaan dan makan es krim bersama Sagara, musuh bebuyutan Dewa di ruang sidang. Laki-laki yang atas pedintah Dewa harus ia jauhi sejauh mungkin. "Eh..." Zea tersenyum kaku, mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana yang mendadak tegang. "Itu... anu, Kak... Tadi kan aku cuma... eh?" Belum sempat Zea merangkai alasan atau kata pembelaan, Dewa perlahan melepaskan rangkulannya da
"Bagaimana kondisinya sekarang?!" "Pasien saat ini sedang dalam penanganan tim medis kami akibat benturan. Pihak keluarga diminta untuk segera datang ke rumah sakit guna pengurusan tindakan medis lebih lanjut." "Saya segera ke sana," cetus Dewa cepat, langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu balasan. Dewa menyambar kunci mobil dengan gerakan terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang tanpa ekspresi kini tampak sepucat kertas, diwarnai kepanikan luar biasa yang gagal ia sembunyikan. "Mas Dewa? Ada apa?" Dika berdiri dari kursinya, matanya membelalak melihat ekspresi sang atasan. "Rapat kita gimana? Pembahasan bukti blok C belum selesai—" "Rapat ditunda. Tangani sisanya, Dika," potong Dewa dingin, suaranya penuh akan perintah yang tak bisa dibantah. Tanpa mempedulikan tatapan terperangah dari seluruh tim hukumnya, Dewa membalikkan badan dan melangkah selebar mungkin menerobos pintu kaca ruang rapat, meninggalkan area perkantoran dengan berlari. *** Langka
Langkah kaki Zea yang menghentak keras membelah kesunyian koridor Fakultas Hukum. Air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya tidak dibiarkan jatuh begitu saja. "Bisa-bisanya!" gerutu Zea seraya mengusap kasar sudut matanya. "Tadi pagi cemburu-cemburu nggak jelas gara-gara Sagara! Nyuruh gue nulis lima lembar resume tulisan tangan sampai jari gue mau copot! Eh, jam dua siang malah ngacir pergi mesra-mesraan sama si Tante Genit!" Zea menghentak tas-nya yang sempat merosot dari bahunya dengan kasar, lalu melangkah lebar-lebar menuju gerbang kampus. Pikirannya sudah tidak bisa diajak berpikir jernih. Logika dan gengsinya, kalah oleh rasa cemburu dan rasa dikhianati. Kalau Dewa pikir dia bisa mempermainkan perasaan Zea begitu saja, maka Dewa salah besar! BUGH!! "Aduh!" Zea mengaduh kencang saat dahi mulusnya menghantam dada bidang seseorang yang berdiri kokoh tepat di depan gerbang. Benturan yang cukup keras itu membuat Zea terdorong ke belakang dan hampir saja jatuh terl







