หน้าหลัก / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 90 : ARGUMENTASI HUKUM KOMEDI

แชร์

BAB 90 : ARGUMENTASI HUKUM KOMEDI

ผู้เขียน: Yoongina
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-16 09:31:40

Keheningan mencekam menyelimuti teras rumah selama sepuluh detik lamanya. Semua orang terpaku. Tidak ada yang mampu bicara.

Tangan Tiara yang menggenggam keranjang parcel buah terlihat sedikit gemetar. Tatapan Tiara yang terlihat marah, terkunci pada satu titik : Dewa.

​"Ada apa, Tiara?" tanya Dewa akhirnya memecah keheningan. Ia menyadari genggaman tangan Zea di lengannya kian erat, seolah takut suaminya akan direbut paksa detik itu juga.

​"Aku mau bicara!" sahut Tiara dingin. Pancaran
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Chemistry Chapter   BAB 116 : JAKARTA DAN PESANMU

    "Sudah semua?" tanya Dewa saat mereka sibuk mengepak koper baju di kamar utama kediaman Sastrowardoyo. Hari ini, keluarga kecil itu bersiap untuk kembali ke rutinitas mereka di Jakarta. Dewa dengan tegas tetap memilih jalur udara, naik pesawat, agar Zea tidak kelelahan mengingat kehamilan istrinya yang masih muda dan rentan. Sementara itu, Baskara, Lenny, dan Oma Dyah memilih menikmati perjalanan darat santai menggunakan mobil bersama Pak Supri. ​Zea melilitkan syal rajut tipis di lehernya, lalu menepuk-nepuk permukaan koper hitam besar miliknya untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. "Sudah, Kak. Semua baju, vitamin, dan dokumen udah masuk." Ia lalu memiringkan kepala, menatap suaminya. "Oleh-oleh bakpia sama gantungan kunci buat anak kantor Kak Dewa sudah di bawa ke mobil Papa kan, Kak?" ​"Iya, Sayang. Aman, semua kardus oleh-oleh sudah diberesin sama Adi dan dimasukin ke bagasi mobil Papa," sahut Dewa menenangkan. Pria berbalut kemeja flanel abu-abu itu merapikan sisa

  • Chemistry Chapter   BAB 115 : MALAM INDAH YOGYAKARTA

    Kalimat yang meluncur dari spaker ponsel itu bagaikan aliran listrik yang menyengat saraf kedua insan di atas ranjang. Kabar gembira itu meruntuhkan seluruh gairah yang beberapa detik lalu membakar dada Dewa dan Zea. ​Dewa langsung terduduk tegak, matanya melebar sempurna. Sementara Zea, yang berada di atas tubuh suaminya, seketika terpaku sebelum akhirnya membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Air mata keharuan mendadak merebak, menggenang di sudut mata cantiknya. ​"Di! Kamu serius?! Oma sudah sadar?" tanya Dewa memastikan, suaranya yang tadi serak kini berubah tegas. ​"Serius, Mas!" jawab Adi di seberang telepon, napasnya terdengar memburu gembira. "Tadi suster jaga liat jari-jari Oma gerak-gerak, terus pas diperiksa dokter, mata Oma melirik pelan dan mulai panggil nama Mbak Zea! Dokter bilang refleksnya sudah pulih penuh!" ​"Tunggu kami di sana! Lima belas menit lagi kami sampai!" ​Dewa meletakkan ponselnya ke atas meja nakas dan langsung menatap Zea. Tanpa membua

  • Chemistry Chapter   BAB 114 : KEAJAIBAN MALAM

    "Cukup, Sayang... Puas banget kamu tertawakan aku dari tadi!" keluh Dewa sambil membenamkan wajahnya ke bantal. ​Bukannya berhenti, tawa Zea justru makin membahana mengisi setiap sudut kamar. "Habisnya lucu banget, Kak! Fans kamu itu lho... yang bikin aku nggak bisa berhenti tertawa sampai perutku mulas!" sahut Zea di sela tawanya. Kedua tangannya yang berbalut baluran minyak kayu putih bercampur aroma lavender bergerak lembut, memijat punggung tegap Dewa yang terbaring tengkurap di atas kasur. ​Dewa menolehkan kepalanya miring, menatap istrinya dengan sudut mata yang menyipit jahil. "Masih mending fans aku ibu-ibu sosialita, Zea. Coba kalau yang memburu foto tadi anak-anak gadis kuliahan? Bisa-bisa kamu yang kebakaran jenggot di tengah jalan." ​Zea mendengkus, sengaja menekan jemarinya sedikit lebih keras di area bahu Dewa yang kaku. "Oho, coba saja kalau berani! Kalau anak gadis yang minta foto sampai tarik-tarik tangan kamu, aku suruh kamu pulang ke Jakarta sendiri, aku pinda

  • Chemistry Chapter   BAB 113 : JALAN MALIOBORO

    ​"Kak Dewa! Gimana di pengadilan?! Kakak baik-baik saja, kan? Gilang berhasil daftarkan gugatannya nggak?!" suara Zea terdengar cemas di ujung telepon. ​Dewa menatap keluar jendela mobil, melihat pemandangan Kota Yogyakarta yang cerah dan damai. Beban berat yang sempat membayangi keluarga istrinya kini telah sirna sepenuhnya. ​"Dia berhasil mendaftarkannya, Sayang," sahut Dewa lembut. "Tapi itu yang aku harapkan. Aku ingin Gilang berhenti mengganggu Oma Garnis, aku khawatir kalau ini tidak dituntaskan sekarang juga, dia akan kembali mengganggu saat kita sudah pulang ke Jakarta. Untunglah semuanya sudah selesai, Gilang dan Notarisnya langsung ditangkap Polisi di halaman pengadilan atas pemalsuan dokumen. Tim hukum dari Jakarta sudah mengunci seluruh kasusnya." ​Hening sejenak di ujung telepon, sebelum terdengar jeritan kegirangan Zea bersama sorak-sorai Mbok Nah, Oma Dyah dan Lenny di seberang sana. ​"ALHAMDULILLAH! Ya Allah... makasih banyak ya, Kak!" seru Zea haru. "Terus Kak

  • Chemistry Chapter   BAB 112 : KALAH SEBELUM SIDANG

    "Kalau melihat kebodohan yang dilakukan Gilang, Papa yakin kamu bisa menumbangkannya bahkan sebelum masuk ruang sidang, cukup di meja pendaftaran," ujar Baskara tajam, matanya berkilat penuh kekecewaan. "Papa benar-benar tidak habis pikir... apa yang ada di kepala Gilang? Dia pikir kita semua ini bodoh?" ​Dewa menatap cangkir kopi di tangannya dengan rahang yang mengeras rapat. ​"Bukan kita yang dia incar, Pa, tapi Oma Garnis yang sedang lemah. Aku rasa dia pun sedang ketakutan, tidak menyangka kita ada di belakang Oma Garnis dan Opa Darlan," sahut Dewa tajam. "Dia memanfaatkan situasi itu dan terburu-buru sampai lupa dengan tahun pasti kematian Opa Darlan. Pola pikirnya menjadi terlalu sempit hanya karena dibutakan oleh keserakahan harta." ​Dewa menghela napas panjang, menghirup aroma kopi hitam di tangannya sambil berbisik lirih, "Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Oma Garnis... kalau kita tidak ada di sini untuk menjaganya." ​Pria itu meletakkan cangkir ke

  • Chemistry Chapter   BAB 111 : SISA GAIRAH SEMALAM

    ​"Aww! Kamu apa-apaan, sih?!" ringis Dewa memegangi pipinya yang baru saja menjadi sasaran tembak sebuah bantal bulu angsa. ​Pria itu menyapu matanya yang menahan kantuk. Sayup-sayup suara azan subuh baru saja berkumandang dari masjid dekat pendopo, namun bukannya sambutan hangat dari sang istri yang didapatnya, Dewa justru disambut raut wajah Zea yang sudah menekuk persis lipatan serbet. ​"Aku kan lagi hamil, Kak! Kenapa nggak bisa pelan-pelan sedikit, sih?!" protes Zea dengan nada tinggi. Tanpa ampun, tangannya kembali mengangkat bantal kedua tinggi-tinggi di udara, bersiap melayangkan pukulan susulan tepat ke wajah tampan suaminya. ​Dewa tertegun seketika. Otaknya mencoba mencerna dakwaan tak terduga yang baru saja dijatuhkan sang istri di pagi yang hening ini. ​Aku salah apa? Siapa yang tidak bisa 'bermain' pelan? Bukannya semalam... BUG! ​Pukulan bantal kedua sukses mendarat di dada bidang Dewa sebelum sempat pria itu mengajukan pembelaan. Seketika kesadarannya mengula

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status