Share

Chapter 20

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-24 22:30:19

Brakkk!

Pyaar…

“Anj-ing!”

Suroto melempar ponselnya ke dinding hingga pecah berantakan. Ruangan gudang pupuk terasa pengap oleh amarahnya yang membara. Sudah ketiga kalinya Bu Lurah menolak bertemu dengannya dengan alasan “ada keperluan mendadak”.

“Apa-apaan ini?! Alasan teruss!!” raung Suroto sendirian. “Perempuan sialan itu, berani main-main sama aku sekarang?!”

Dia kembali menelepon lagi dengan nomor dan ponsel cadangan. Kali ini Bu Lurah mengangkat, suaranya terdengar agak gugup.

“Ha… haloo
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 57

    Pagi hari, di laboratorium tidak pernah ditandai dengan sinar matahari, melainkan oleh pergantian intensitas lampu dan bunyi pelan sistem ventilasi yang berganti siklus.Di ruang penahanan tingkat tinggi, Yoga sudah dibangunkan secara paksa oleh aliran arus rendah yang dialirkan melalui gelang energi di pergelangan tangannya. Tubuhnya tersentak, napasnya memburu sejenak, lalu dia menatap langit-langit dengan mata yang sudah mulai terbiasa pada cahaya steril itu.Dr. Halim berdiri di balik kaca observasi bersama Vesper dan dua peneliti senior lainnya. Direktur hadir melalui layar di sudut ruangan, wajahnya tetap saja datar.“Hari ini kita masuk ke fase pemetaan mendalam,” kata Dr. Halim. Suaranya tenang, hampir seperti sedang menjelaskan prosedur rutin. “Pemindaian non-invasif kemarin memberikan gambaran kasar. Sekarang kita butuh data yang lebih presisi tentang bagaimana residual energi bergerak di dalam tubuhnya, bagaimana cincin itu mengatur aliran, dan di titik mana resistensi tert

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 56

    Di ruang penahanan tingkat tinggi, Yoga sudah tidak lagi mencoba merobek ikatan energinya. Setiap usaha hanya akan membawa rasa sakit yang semakin tajam dan gelombang penekan yang semakin kuat. Dia terbaring diam di atas platform, mata terbuka menatap langit-langit yang steril, sementara sensor-sensor terus bekerja di sekeliling tubuhnya.Cahaya biru tipis memindai tubuhnya untuk yang kesekian kali. Di balik kaca, Vesper dan Dr. Halim berbicara dengan suara rendah.“Jalur residualnya sangat stabil meski dalam kondisi ditekan,” kata Vesper sambil menunjuk grafik. “Bahkan sekarang pun, cincin itu masih berusaha berkomunikasi dengan tubuhnya. Seolah sedang mencari celah untuk bisa melepaskan diri.”Dr. Halim mengangguk, setuju dengan pandangan rekannya. “Kita naikkan intensitas pemetaan. Saya ingin melihat apa yang terjadi jika kita memaksa residual itu bereaksi tanpa memberi subjek kendali penuh.”Yoga mendengar sebagian percakapan itu melalui sistem komunikasi ruangan yang sengaja dibi

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 55

    Kesadaran Yoga akhirnya kembali secara perlahan, seperti seseorang yang tenggelam dan dipaksa naik ke permukaan. Yang pertama dia rasakan adalah dingin, ya dingin. Bukan dingin hawa malam di desa, melainkan dingin steril yang meresap sampai ke tulang. Yang kedua adalah getaran pelan di jari tengahnya, sebab cincin itu masih ada, masih berdenyut, meski terasa jauh lebih lemah dari biasanya.Dia pun membuka mata, terlihat langit-langit di atasnya berwarna putih kebiruan, mulus tanpa celah, diterangi lampu LED yang tidak menyilaukan tapi juga tidak ramah. Tubuhnya terbaring di atas platform logam yang sedikit condong. Pergelangan tangan dan kaki terikat oleh gelang energi transparan yang berdenyut pelan. Setiap kali dia mencoba menggerakkan jari, gelang itu merespons dengan tekanan dingin yang menekan saraf.Dia sadar jika saat ini sudah tidak berada di desa lagi. Di balik kaca tebal di sebelah kanannya, ada beberapa orang yang berdiri. Mereka mengenakan jas laboratorium abu-abu gelap. S

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 54

    Mereka, “pasukan khusus” yang memang ditugaskan untuk mengintai dan menangkapnya, akhirnya datang lagi , tepat saat Yoga berada di titik terlemahnya.Setelah malam ketika dia hampir saja membunuh anak buah Suroto di depan rumah sendiri, tubuh dan pikirannya yang kacau belum pulih benar. Residual “Karma Hitam” masih bergolak, sekat kesadaran menipis, dan rasa bersalah terhadap ibunya menggerogoti lebih dalam daripada luka apa pun.Yoga tidak bisa tidur. Dia hanya duduk di kebun hingga fajar, menatap tangan yang kemarin penuh darah orang lain. Dan laboratorium tidak menyia-nyiakan celah manis itu.Di pulau yang tidak ada di peta, Direktur memberikan perintah terakhir pada dini hari.“Eksekusi Protokol Penangkapan Penuh. Gunakan penekan frekuensi tingkat tinggi. Target harus hidup. Jika perlu, lumpuhkan total. Jangan beri kesempatan dia mencapai ledakan kedua.”Enam unit Tim Ekstraksi yang sudah diperkuat pun akhirnya diturunkan. Mereka membawa peralatan yang belum pernah digunakan sebel

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 53

    Malam kembali datang, tanpa angin, tanpa jiwa. Yoga sudah merasakan ada yang salah sejak matahari terbenam. Bukan sekadar perasaan diawasi, melainkan sesuatu yang lebih disengaja. Ini semua lebih terarah. Seperti ada tangan yang sedang menarik tali di sekitar lehernya secara pelan-pelan, menunggu dia kehabisan napas.Sekarang Yoga berdiri di kebun belakang dengan tubuh tegang, cincin di jarinya berdenyut tidak beraturan. Di dalam kepalanya, bayangan gelap sudah tidak lagi berbisik. Tapi justru berbicara dengan jelas.[Ding]‘Mereka akan datang lagi. Biarkan saja. Kali ini jangan tahan.’[Ding]Yoga menggigit lidahnya hingga terasa ada darah yang keluar.“Diam.” Yoga seperti memperingatkan dirinya sendiri.[Ding]‘Emi sudah tidak di sini. Ibumu takut. Warga menjauh. Tidak ada lagi yang perlu kamu lindungi. Lepaskan.’[Ding]Kini Yoga menutup telinga, meski dia tahu suara itu berasal dari dalam.Di dalam rumah, ibu Yoga tertidur karena dosis obat yang lebih kuat. Rumah jadi terasa lebih

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 52

    Malam ini adalah malam pertama tanpa ada Emi, rasanya waktu jadi jauh lebih panjang daripada malam-malam sebelumnya. Rumah yang biasanya masih menyisakan kehadiran gadis itu kini hanya diisi oleh napas ibu Yoga yang sesekali terdengar dari kamar, dan keheningan yang menekan dari segala arah.Yoga sendiri sedang duduk di lantai kamar, punggungnya menempel ke dinding, lutut dilipat. Lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, cukup untuk memperlihatkan kontur cincin di jarinya yang kini terlihat lebih gelap.Lalu tiba-tiba…[Ding]Sistem: Tingkat isolasi kritis.Residual Karma Hitam: Aktif dan meningkat.Peringatan: Tanpa jangkar eksternal, risiko hilangnya kendali meningkat drastis dalam 24–48 jam.[Ding]Yoga tertawa rendah, terasa pahit.“Heh, jangkar…” gumamnya. “Mereka bahkan sudah menghitung semua itu.”Bayangan di dalam dirinya tidak lagi hanya menunggu. Dia bisa merasakannya bergerak, menggeser batas-batas kesadaran, menawarkan kekuatan yang lebih besar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status