Share

Chapter 33

last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-18 22:44:40

Di ruang komando yang selalu redup, Direktur berdiri memandangi layar utama dalam diam yang panjang. Data anomali dari wilayah Utara telah diperbarui untuk yang kesebelas kalinya dalam dua hari. Grafik yang sebelumnya hanya berupa fluktuasi lemah kini menampilkan pola yang lebih jelas, lebih stabil, dan yang paling penting, objek memberikan sinyal semakin kuat.

Dia tidak tersenyum, begitu juga dengan orang-orang yang ada di laboratorium ini, semuanya jarang tersenyum. Namun di balik ekspresi da
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 42

    Setelah mayat agen itu disembunyikan, suasana di rumah Yoga terasa lebih sepi dari biasanya. Lampu di ruang tamu menyala redup, melemparkan bayangan panjang di dinding. Ibu Yoga sudah dipaksa untuk istirahat di kamar, meski matanya masih terbuka menatap langit-langit dengan penuh kekhawatiran. Sementara Emi duduk di kursi dekat jendela, tangannya masih sedikit gemetar.Yoga masuk setelah mencuci tangan dan wajah di belakang rumah. Bekas darah dan tanah sudah hilang, tapi matanya masih menyimpan sisa ketegangan. Sekarang dia berdiri di ambang pintu, seolah ragu untuk mendekat.“Emi. Kamu lebih baik pulang aja dulu,” kata Yoga pelan.“Aku nggak mau pulang, nggak bisa. Setidaknya nggak untuk malam ini, Mas. Setelah lihat itu, aku… aku takut meninggalkan Mas sendirian.” Emi menggeleng, menolak untuk pulang.Yoga menghela nafas panjang. Sekarang dia duduk di lantai, memunggungi dinding, menutup wajah dengan kedua tangan. Sementara “Karma Hitam” masih berada di ambang batas. Tubuhnya terasa

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 41

    Mayat pria bertopeng itu masih tergeletak kaku di antara akar yang masih setengah melilit. Tidak ada perlawanan terakhir, tidak ada teriakan. Hanya keheningan yang sangat berat setelah tubuhnya berhenti kejang. Yoga berdiri di atasnya, dengan nafas masih belum sepenuhnya stabil, sementara Emi mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi.“Mas… apa dia benar-benar sudah mati?” suara Emi hampir tidak keluar saat bertanya.Yoga tidak langsung menjawab. Dia berlutut, memeriksa sisa-sisa alat di pergelangan tangan pria itu, lalu mengambil lencana yang setengah hancur. Simbol segitiga dengan garis di dalamnya terasa asing, terlalu rapi untuk milik preman atau sindikat biasa. Lalu dia memasukkan lencana itu ke saku, ingin memeriksanya lebih lanjut nanti.“Bawa Ibu pulang,” perintah Yoga pelan tapi tegas. “Jangan biarkan dia melihat lebih banyak.”Emi mengangguk lemah, lalu cepat-cepat menuntun ibu Yoga yang sudah berdiri di kejauhan dengan wajah penuh ketakutan. Setelah keduanya pulang, Y

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 40

    Malam itu Yoga tidak menunggu sampai perasaan was-was karena diawasi datang. Dia yang akan mencarinya sendiri, menemukan kebenaran tentang apa yang sedang terjadi sebenarnya.Dengan langkah yang hampir tidak terdengar, dia menyusuri tepi hutan di sebelah utara desa. Cincin di jarinya berdenyut lebih cepat dari biasanya, panas dan seolah-olah ikut tegang. Akar-akar di bawah tanah juga sudah dia sebarkan secara luas, membentuk jaring yang sangat sensitif. Setiap getaran kecil, setiap perubahan suhu tanah, dia coba baca dan teliti sebaik mungkin.Tiga sensor yang berhasil dia hancurkan kemarin, membuatnya yakin jika masih ada yang tersisa. Mungkin beberapa, bisa jadi kan?Dia berhenti di dekat pohon besar yang akarnya menjulur ke permukaan lalu tangan kanannya menyentuh tanah. Beberapa detik kemudian, sistem di kepalanya menampilkan peringatan baru.[Ding]**Deteksi: Objek bergerak.**Bukan sensor.**Bukan hewan.**Kemungkinan: Manusia dengan interferensi aktif.[Ding]Akhirnya Yoga memb

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 39

    Pagi itu desa tampak tenang, terlalu tenang untuk ukuran hari-hari terakhir yang banyak masalah sebenarnya. Kabar tentang kedatangan Guntur semalam sudah mulai beredar diam-diam di antara warga, meski tidak ada yang berani membicarakannya terlalu keras.Suroto juga terlihat lebih sering keliling bersama beberapa anak buahnya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dia masih berkuasa. Sementara Bu Lurah memilih tetap di rumahnya saja, menghindari pertemuan yang tidak perlu, meski pikirannya terus kembali pada Yoga dan Yoga lagi.Di markas sementara, Guntur menerima laporan singkat tentang pergerakan Bu Lurah dan reaksi warga. Dia hanya mengangguk, lalu berkata pada Suroto, “Tetap tekan dari samping. Jangan buru-buru. Biarkan anak itu merasa terjepit.”Suroto mengangguk, meski di matanya masih tersimpan dendam yang belum padam. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab yang lebih di atas sudah mengambil alih.***Sementara itu, Yoga sudah bangun sejak dini hari. Dia tidak lagi menunggu pe

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 38

    Di rumah kontrakan yang dijadikan markas sementara, ternyata suasana jauh dari tenang daripada anggar tempat latihan bertarung. Meski begitu, bau rokok dan keringat memenuhi ruangan. Guntur duduk di kursi utama dengan kaki tersilang, wajahnya datar, sementara Suroto mondar-mandir seperti binatang yang kekurangan makanan karena terkurung. Beberapa anak buahnya berdiri di sudut, tidak berani berbicara kecuali diminta.“Kau gagal lagi,” kata Guntur akhirnya, suaranya rendah tapi tajam. “Kedua kalinya kau bawa orang, kedua kalinya juga kau pulang dengan ekor di antara kaki. aku jadi mulai bertanya-tanya, Suroto. Sebenarnya, apakah masih pantas kau memegang wilayah ini?”Suroto berhenti merokok, rahangnya mengeras. Dia tidak terima karena diremehkan Guntur akan kegagalan yang beruntun menyingkirkan Yoga.“Bang, anak itu tidak normal. Aku udah bilang dari awal. Kekuatannya itu…”“Aku tau,” potong Guntur. “Aku melihat sendiri bagaimana kekuatannya itu mengalahkan anak buahmu. Justru karena i

  • Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa   Chapter 37

    Setelah motor Guntur semua anak buahnya menghilang, pekarangan rumah Yoga kembali sunyi. Tapi kesunyian itu tidak lagi terasa aman, menurutnya. Debu yang masih beterbangan, tanah juga retak di beberapa tempat, dan bau darah samar masih mengambang di udara. Sementara Yoga berdiri tegak, nafasnya pelan-pelan kembali stabil, namun matanya tidak pernah berhenti menyapu kegelapan di sekeliling desa.[Ding]**Karma Hitam: 99**Peringatan: Ambang batas terakhir. Risiko kehilangan kendali sangat tinggi.[Ding]Sekarang ini, Yoga merasakan detak sesuatu di dalam dadanya yang bukan lagi detak jantung biasa. Ini lebih dalam, lebih gelap, seolah ada makhluk yang menunggu satu alasan saja untuk mengambil alih dirinya.Emi keluar dari rumah dengan wajah pucat. Tangannya gemetar saat memegang bingkai pintu.“Mas… mereka sudah pergi?” tanya gadis itu dengan mata menyapu sekeliling.Yoga tidak langsung menjawab. Dia masih memandang ke arah hutan, seperti ingin memastikan sesuatu.“Mereka pergi. Tapi b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status