แชร์

CHAPTER 12

ผู้เขียน: brokolying
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-05 22:15:09

Seminggu berlalu sejak pernyataan Rumi beredar di media-media. Pernyataan yang sukses membuat kehidupan Rea jauh lebih merepotkan dari sebelumnya.

Pada hari kerja, setiap pukul tujuh pagi, sopir pribadi bosnya itu akan menjemputnya di apartemen, dan membawanya ke penthouse. Begitupun saat jam kerjanya usai. Dia benar-benar tidak dibiarkan pulang pergi sendirian, mengingat wajahnya sudah tersebar kemana-mana.

Meski identitasnya belum terekspos masif, tapi dia tidak menyangka hanya dengan fotonya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 22

    Rea cepat-cepat meninggalkan kawasan pusat perbelanjaan itu, secepat kakinya bisa menerjang genangan hujan yang makin lama makin deras. Air matanya tetap menetes, bahkan hingga di dalam taksi yang berhasil dia berhentikan.Bara, pria itu, kembali membuatnya kecewa lagi dan lagi.Tapi entahlah. Bagi Rea, bukan seberapa kasar kalimatnya. Tapi fakta bahwa pria yang sama, pernah begitu dia cintai. Membuat semua hal yang keluar dari mulutnya menjadi begitu perih buat gadis itu.Sekarang, pasca kejadian itu, Rea selalu cemas kemana-mana sendiri.Dia merasa dunia mulai terlalu keras padanya dengan melemparkan Bara dan wartawan di waktu yang bersamaan. Dan tidak cukup itu saja….“Jelasin ini ke Papa dan Mama sekarang juga!” bentak Tuan Rajendra yang baru saja masuk bersama istrinya ke ruang kerja Rumi beberapa detik yang lalu, sambil membanting tablet tipis ke paha anaknya.Bahkan sebelum Rea dan Rumi membaca, mereka berdua sudah tahu apa yang pria itu maksud. Mereka sudah membahas itu sejak

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 21

    Rea jadi menimbang-nimbang mana yang lebih dia benci. Digosipkan yang tidak-tidak, atau menghadapi pria brengsek itu.Satu hal yang pasti, dia tidak boleh menambah masalah yang tidak penting untuk Rumi. Maka, dengan berat hati, dia berdiam diri di sisi Bara hingga entah sampai kapan. Dia hanya tidak mau terlihat oleh awak media. Dan keputusan itu membuat Bara tersenyum seperti merayakan kemenangan.“Amarea… Amarea. Kenapa sih kamu selalu merepotkan diri kamu sendiri?” timpal pria itu.“Bara, nggak usah bersuara. Bisa nggak? Kalau kamu hanya mau komentarin aku, mending aku turun aja. Apa bedanya kamu sama wartawan itu?”“Karena yang aku omongin fakta semua?” Tentu saja tidak semudah itu membuat pria itu diam.“Bagian mana dari berita itu yang menurut kamu bukan fakta?”“Semuanya,” jawab Bara percaya diri.“Wow.”“Kamu pikir aku bakal percaya kamu beneran sama cowok itu?” tanya Bara menaikkan kedua alisnya.“Kamu nggak perlu percaya. Hubungan saya dengan siapapun bukan urusan kamu.” Rea

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 20

    “Anak-anak sudah tidur?” tanya Rumi ketika Rea mendapatinya bersandar di pintu. Pria itu sudah lengkap dengan piyamanya.“Shhh…” bisik Rea sambil berjinjit keluar kamar si kembar, dan mematikan lampu juga menutup pintunya dengan pelan. “Sudah, Pak.”“Baguslah. Terima kasih kamu jadi repot padahal seharusnya...”“Nggak apa-apa Pak. Pastiin aja uang lembur saya ada nanti,” potong Rea serius. Dia tidak bercanda soal Rupiah.“Ck ck…” pria itu menggeleng mendengar kalimat barusan. Dia juga mengikuti langkah Rea kemudian.“Ya sudah Pak. Saya pulang ya.”“Makan dulu. Kamu belum makan.”Ia memang belum makan. Tadi dia hanya menemani Desta dan Dista. Tidak mengambil untuknya sendiri. “Nggak usah, Pak. Saya lagi kurang nafsu makan,” tolak gadis itu pelan. Entahlah. Suasana hatinya begitu jelek selepas bertemu orang tua bosnya tadi.Sebagai anak tunggal, Rea sejak kecil hampir tidak pernah dimarahi oleh siapapun. Bahkan tidak oleh guru.Jadi, kalimat orang tua Rumi tadi lumayan cukup membuatnya

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 19

    Dalam posisi seperti itu, mustahil Rea bisa melepaskan diri. Bukan sekedar karena posisinya yang kurang ruang, atau karena Rumi terlalu kuat. Tapi karena dirinya sendiri.Sudah menjomblo sekitar tiga tahunan, ini kali pertama seorang pria memeluknya lagi, terlebih sambil tiduran.Dan bagaimana lengan kiri Rumi menyangga kepalanya, lengan kanan bersandar akrab di pinggang dan perutnya, dan wajah pria itu menempel hangat tepat di belakang lekuk antara bahu dan lehernya, membuatnya Rea tidak bisa berpikir jernih.Apakah nyaman?Ya. Rea mengakui itu diam-diam di sudut hatinya yang terdalam.Tapi apakah dia bisa tertidur?Tidak!Sudah berapa jam terlewati, dan matanya masih menyala. Dia biasanya tidur sendiri. Terbiasa begitu, lalu dihadapkan dengan posisi seperti ini secara mendadak membuat tubuhnya bingung harus melakukan apa.Ia seperti menghadapi dua ketakutan. Takut membangunkan Rumi, dan takut merasa terlalu nyaman. Jadilah dia benar-benar tidak bergerak sedikit pun, hingga matahari a

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 18

    Mendengar kalimat itu, Rea tercengang. Mulutnya menganga sedikit, dengan kening yang mengkerut.Entah yang mana yang lebih mengagetkan buatnya. Kalimat Rumi yang menyindir tindakan bodohnya tadi, atau kalimat pria itu yang mengajaknya tidur di atas ranjang yang sama?“Pak! Kan nggak boleh ada sentuhan yang nggak perlu!” tolak Rea mundur selangkah.“Ini perlu. Kita perlu bangun chemistry agar kontrak ini bisa berjalan lebih baik ke depannya,” tutur Rumi mencoba menjelaskan.“Dengan tidur seranjang?” tanya Rea memastikan dia tidak salah tanggap.“Itu bisa bantu buat tumbuhin intimasi emosional antara kita.”“Ilmu dari mana?” serang gadis itu tidak percaya.“Kamu tahu otak manusia itu cenderung lebih mudah familiar dengan seseorang yang sering berada di dekatnya?” jelas pria itu panjang lebar. Dengan sabar.Rea mengangguk ragu. Dia tahu itu sangat masuk akal, tapi…“Begitu kamu familiar dengan saya, mempercayai dan mengandalkan saya akan terasa lebih mudah.”“T-tapi. Bapak yakin hanya tid

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 17

    Nama Amarea Hutama sudah melekat pada gadis itu sejak dua puluh lima tahun yang lalu. Bahkan mungkin sudah sejak dia masih dalam kandungan. Jadi bisa dipastikan, dia sering mendengarnya dari siapapun.Tapi ketika dua kata itu keluar dari mulut seorang Rumi Rajendra, dengan suara dan intonasinya yang berat, tubuh Rea meresponnya berbeda.“S-saya mau ke….”“Tidak usah. Malam ini kamu tidur di sini, kita kembali ke Jakarta besok pagi,” titah Rumi melepaskan pergelangan gadis itu.“T-tapi Pak….”“Saya akan tidur di sofa,” tambah Rumi menatap matanya, lalu turun ke badannya. “Bersih-bersihlah, dan ganti baju itu.”“Ini bersih. Ini baju teman saya yang ta..”“Ganti,” tutup Rumi berjalan ke arah sofa panjang, dan merebahkan tubuhnya di sana.Rea hanya diam dan mengangguk sedikit. Siapa dia mau membantah hal sesepele itu di saat-saat seperti ini? Akhirnya ia berjalan ke arah kamar mandi setelah mengambil tasnya terlebih dahulu.Di dalam sana, di depan cermin besar, dia berdiam diri menatap tu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status