Share

CHAPTER 17

Author: brokolying
last update publish date: 2026-08-10 22:52:41

Nama Amarea Hutama sudah melekat pada gadis itu sejak dua puluh lima tahun yang lalu. Bahkan mungkin sudah sejak dia masih dalam kandungan. Jadi bisa dipastikan, dia sering mendengarnya dari siapapun.

Tapi ketika dua kata itu keluar dari mulut seorang Rumi Rajendra, dengan suara dan intonasinya yang berat, tubuh Rea meresponnya berbeda.

“S-saya mau ke….”

“Tidak usah. Malam ini kamu tidur di sini, kita kembali ke Jakarta besok pagi,” titah Rumi melepaskan pergelangan gadis itu.

“T-tapi Pak….”

“S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 21

    Rea jadi menimbang-nimbang mana yang lebih dia benci. Digosipkan yang tidak-tidak, atau menghadapi pria brengsek itu.Satu hal yang pasti, dia tidak boleh menambah masalah yang tidak penting untuk Rumi. Maka, dengan berat hati, dia berdiam diri di sisi Bara hingga entah sampai kapan. Dia hanya tidak mau terlihat oleh awak media. Dan keputusan itu membuat Bara tersenyum seperti merayakan kemenangan.“Amarea… Amarea. Kenapa sih kamu selalu merepotkan diri kamu sendiri?” timpal pria itu.“Bara, nggak usah bersuara. Bisa nggak? Kalau kamu hanya mau komentarin aku, mending aku turun aja. Apa bedanya kamu sama wartawan itu?”“Karena yang aku omongin fakta semua?” Tentu saja tidak semudah itu membuat pria itu diam.“Bagian mana dari berita itu yang menurut kamu bukan fakta?”“Semuanya,” jawab Bara percaya diri.“Wow.”“Kamu pikir aku bakal percaya kamu beneran sama cowok itu?” tanya Bara menaikkan kedua alisnya.“Kamu nggak perlu percaya. Hubungan saya dengan siapapun bukan urusan kamu.” Rea

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 20

    “Anak-anak sudah tidur?” tanya Rumi ketika Rea mendapatinya bersandar di pintu. Pria itu sudah lengkap dengan piyamanya.“Shhh…” bisik Rea sambil berjinjit keluar kamar si kembar, dan mematikan lampu juga menutup pintunya dengan pelan. “Sudah, Pak.”“Baguslah. Terima kasih kamu jadi repot padahal seharusnya...”“Nggak apa-apa Pak. Pastiin aja uang lembur saya ada nanti,” potong Rea serius. Dia tidak bercanda soal Rupiah.“Ck ck…” pria itu menggeleng mendengar kalimat barusan. Dia juga mengikuti langkah Rea kemudian.“Ya sudah Pak. Saya pulang ya.”“Makan dulu. Kamu belum makan.”Ia memang belum makan. Tadi dia hanya menemani Desta dan Dista. Tidak mengambil untuknya sendiri. “Nggak usah, Pak. Saya lagi kurang nafsu makan,” tolak gadis itu pelan. Entahlah. Suasana hatinya begitu jelek selepas bertemu orang tua bosnya tadi.Sebagai anak tunggal, Rea sejak kecil hampir tidak pernah dimarahi oleh siapapun. Bahkan tidak oleh guru.Jadi, kalimat orang tua Rumi tadi lumayan cukup membuatnya

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 19

    Dalam posisi seperti itu, mustahil Rea bisa melepaskan diri. Bukan sekedar karena posisinya yang kurang ruang, atau karena Rumi terlalu kuat. Tapi karena dirinya sendiri.Sudah menjomblo sekitar tiga tahunan, ini kali pertama seorang pria memeluknya lagi, terlebih sambil tiduran.Dan bagaimana lengan kiri Rumi menyangga kepalanya, lengan kanan bersandar akrab di pinggang dan perutnya, dan wajah pria itu menempel hangat tepat di belakang lekuk antara bahu dan lehernya, membuatnya Rea tidak bisa berpikir jernih.Apakah nyaman?Ya. Rea mengakui itu diam-diam di sudut hatinya yang terdalam.Tapi apakah dia bisa tertidur?Tidak!Sudah berapa jam terlewati, dan matanya masih menyala. Dia biasanya tidur sendiri. Terbiasa begitu, lalu dihadapkan dengan posisi seperti ini secara mendadak membuat tubuhnya bingung harus melakukan apa.Ia seperti menghadapi dua ketakutan. Takut membangunkan Rumi, dan takut merasa terlalu nyaman. Jadilah dia benar-benar tidak bergerak sedikit pun, hingga matahari a

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 18

    Mendengar kalimat itu, Rea tercengang. Mulutnya menganga sedikit, dengan kening yang mengkerut.Entah yang mana yang lebih mengagetkan buatnya. Kalimat Rumi yang menyindir tindakan bodohnya tadi, atau kalimat pria itu yang mengajaknya tidur di atas ranjang yang sama?“Pak! Kan nggak boleh ada sentuhan yang nggak perlu!” tolak Rea mundur selangkah.“Ini perlu. Kita perlu bangun chemistry agar kontrak ini bisa berjalan lebih baik ke depannya,” tutur Rumi mencoba menjelaskan.“Dengan tidur seranjang?” tanya Rea memastikan dia tidak salah tanggap.“Itu bisa bantu buat tumbuhin intimasi emosional antara kita.”“Ilmu dari mana?” serang gadis itu tidak percaya.“Kamu tahu otak manusia itu cenderung lebih mudah familiar dengan seseorang yang sering berada di dekatnya?” jelas pria itu panjang lebar. Dengan sabar.Rea mengangguk ragu. Dia tahu itu sangat masuk akal, tapi…“Begitu kamu familiar dengan saya, mempercayai dan mengandalkan saya akan terasa lebih mudah.”“T-tapi. Bapak yakin hanya tid

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 17

    Nama Amarea Hutama sudah melekat pada gadis itu sejak dua puluh lima tahun yang lalu. Bahkan mungkin sudah sejak dia masih dalam kandungan. Jadi bisa dipastikan, dia sering mendengarnya dari siapapun.Tapi ketika dua kata itu keluar dari mulut seorang Rumi Rajendra, dengan suara dan intonasinya yang berat, tubuh Rea meresponnya berbeda.“S-saya mau ke….”“Tidak usah. Malam ini kamu tidur di sini, kita kembali ke Jakarta besok pagi,” titah Rumi melepaskan pergelangan gadis itu.“T-tapi Pak….”“Saya akan tidur di sofa,” tambah Rumi menatap matanya, lalu turun ke badannya. “Bersih-bersihlah, dan ganti baju itu.”“Ini bersih. Ini baju teman saya yang ta..”“Ganti,” tutup Rumi berjalan ke arah sofa panjang, dan merebahkan tubuhnya di sana.Rea hanya diam dan mengangguk sedikit. Siapa dia mau membantah hal sesepele itu di saat-saat seperti ini? Akhirnya ia berjalan ke arah kamar mandi setelah mengambil tasnya terlebih dahulu.Di dalam sana, di depan cermin besar, dia berdiam diri menatap tu

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 16

    Berdiri di pekarangan depan bangunan itu membuat Rea bingung. Pikirnya, setelah bertahun-tahun, air matanya tidak akan menetes lagi. Tapi ternyata salah besar. Matanya masih berkaca-kaca. Hanya hitungan detik sebelum tangisnya pecah.Terakhir kali dia meninggalkan hotel itu dulu, perasaannya hancur. Dia bahkan tidak kuat untuk sekedar mengunjungi sesekali.Mungkin karena bayangan dan semua memori tentang orang tuanya selalu berhasil kembali, dan sayangnya kerap bergandengan dengan kabar kepergian mereka, juga kabar-kabar kejadian lain yang sampai detik ini masih jadi trauma terbesar gadis itu.“Masuk?” tanya Juna pelan. “Kita bisa check-in kalau lo mau.”“Nggak usah kayaknya Ju. Belum bisa aku,” tolak Rea yang sedang berusaha keras menahan tangisnya.“Atau mau ketemu Om Danu aja?”“Boleh.”Keduanya kemudian berjalan ke arah paling belakang hotel kecil itu. Tempat di mana bekas rumah Rea berada, yang kini sudah ditinggali oleh orang lain. Membuat hatinya lagi-lagi mencelos. Bangunan it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status