Compartir

CHAPTER 63

Autor: brokolying
last update Fecha de publicación: 2026-10-02 19:06:33

“Hai, cantik,” sapa Dante ringan, menatap Rea dengan kebaya fit bodynya yang berwarna merah maroon itu.

“Hai, Mas Dante.”

“Hai Bro,” Dante juga tidak lupa menyapa pria yang tengah menggandeng Rea itu.

Rumi yang disapa, menatap temannya tersebut beberapa saat. “Gue nggak nyangka kita bakal ketemu di sini.”

“Well, Pevita juga sahabat gue.”

“Mantan lo maksudnya?” serang Rumi pelan.

Mata Rea sedikit melotot. Dia tidak menyangka pengantin wanita adalah mantan Dante. Sedang Dante hanya sersenyum meng
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 63

    “Hai, cantik,” sapa Dante ringan, menatap Rea dengan kebaya fit bodynya yang berwarna merah maroon itu.“Hai, Mas Dante.”“Hai Bro,” Dante juga tidak lupa menyapa pria yang tengah menggandeng Rea itu.Rumi yang disapa, menatap temannya tersebut beberapa saat. “Gue nggak nyangka kita bakal ketemu di sini.”“Well, Pevita juga sahabat gue.”“Mantan lo maksudnya?” serang Rumi pelan.Mata Rea sedikit melotot. Dia tidak menyangka pengantin wanita adalah mantan Dante. Sedang Dante hanya sersenyum mengangguk sebelum mengalihkan pembicaraan.“Well, harusnya gue yang nggak nyangka bakal ketemu kalian di pesta ini, setelah gosip lo sama mbak gue yang..”“Yang namanya gosip harusnya nggak perlu lo ungkit-ungkit.” Tatapan Rumi mengeras. “Lo tahu kebenarannya seperti apa.”Tanpa menunggu respons Dante, Rumi mengajak Rea menjauh. “Ayo, sayang.”Rea nyaris terseret mengikuti langkah-langkah lebar pria itu. Dia bahkan tidak sempat pamitan pada Dante yang masih berdiri di tempat. Menatap mereka dalam d

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 62

    Sekesal-kesalnya Rea pada Rumi, anak-anak pria itu ternyata mampu meredakan amarahnya. Bagaimana keduanya langsung berhambur memeluk Rea di ruang TV, nyaris membuatnya lupa bahwa dia sedang kesal.Hari itu Rea memastikan anak-anak melakukan kegiatan mereka sesuai jadwal yang sudah ada. Sedang malamnya, dia terpaksa harus mendampingi Rumi menghadiri satu acara yang entah apa.Dia sudah beres berdandan dan memakai gaun saat pria itu keluar dari kamar tidurnya. Mengenakan setelan tuksedo dengan dasi yang lagi-lagi senada dengan gaun Rea.Dia sudah beres berdandan dan memakai gaun saat pria itu keluar dari kamar tidurnya. Mengenakan setelan tuksedo dengan dasi yang lagi-lagi senada dengan gaun Rea.Rea hanya meliriknya sekilas. Tidak ada komentar. Begitu pula Rumi.Mereka langsung turun dan masuk ke mobil. Seperti biasa, Pak Ammar sudah menunggu di balik kemudi.Rea memilih duduk di sisi kanan kursi belakang. Rumi duduk di sebelahnya.Sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama diam.Rea jus

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 61

    Malam itu, ternyata cukup berhasil membuat Rea melepas frustasinya sedikit. Musik-musik keras itu. Goyangan asal-asalan yang mengikuti beat. Nyanyian yang liriknya tidak dia hafal semua. Dan sahabatnya yang membuatnya kerepotan karena pria itu terus-terusan minum.“Jun! Stop nggak! Udah berapa gelas ih!” bentak Rea menepuk punggung pria yang baru saja menegak habis satu gelas gin lagi itu.“Jarang-jarang Re! Buset!”Rea tetap menentangnya. Dia tidak mau pria itu benar-benar mabuk. Siapa yang akan mengantarnya pulang kalau Juna mabuk? Atau bahkan pingsan?Terlebih ketika melihat jam di tangannya, jam itu sudah menunjukkan pukul satu lewat, dini hari, ketika dia menepuk bahu Juna kembali.“Jun, pulang, yuk. Udah jam satu lewat! Besok aku kerja!”Juna yang sudah mabuk hanya menggumam tidak jelas. Akhirnya, karena sahabatnya itu sudah tidak mungkin menyetir, Rea mau tidak mau mengambil alih kemudi mobil Juna.Gadis itu hanya perlu menyetir sekitar dua puluh menitan, sebelum mereka tiba di

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 60

    “Gue tanya sekali lagi, mau lo bawa ke mana pacar gue, Dante?”“Pulang. Kasian Rea udah ngantuk banget nungguin lo kelamaan,” jawab Dante to the point.Sedang Rea hanya melihat bagaimana Rumi dan wanita itu berdiri amat dekat. Amat rapat.“Thank you, tapi Rea biar gue yang antar pulang. Ayo sayang?” ajak Rumi mengulurkan tangannya pada gadis yang terlihat tidak tertarik itu.“Tapi, Pak Rum, kita masih harus review proposal yang tadi.” Maudi yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara. Menyuarakan ketidaksetujuannya dengan kalimat Rumi.Lucunya, si Pak Rum ini lagi-lagi terlihat berpikir. Membuat Rea tak kuasa menahan kesalnya yang sudah tertumpuk.“Udahlah Mas. Nggak usah dibesar-besarkan. Kamu sepertinya masih sibuk, dan aku ngantuk banget,” ucap Rea sendu. Dia benar-benar tidak punya banyak tenaga untuk apapun perdebatan yang ingin Rumi timbulkan.“Kalau gitu aku akan suruh Ammar nganterin kamu pulang.”“Nggak usah. Mas Dante aja. Aku udah naik motornya nih. Sudah pakai helm juga. L

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 59

    “Demi bisa lihat kamu, berapa pun duit yang keluar, aku nggak masalah.”Andai bukan Dante yang mengucapkannya, Rea mungkin saja akan percaya. Tapi pria tersebut terlalu jenaka untuk mengucapkan hal semanis itu.“Mas? Hahaha lucu banget.” Rea terkikik sambil menepak sebelah lengan teman Rumi itu.“Loh, nggak percaya dia.”“Serius ih. Mas kenapa nginap?” ulang gadis tersebut menuntut jawaban yang sungguh-sungguh.“Itu, semalam ada event di ballroom bawah. Aku dapat doorprize nginap semalam. Kan lumayan, Dek,” jujur pria itu akhirnya, sambil menerima tissue yang Rea ulurkan barusan.Gadis itu hanya mengangguk dan melihat Dante mengelap peluhnya.Sambil menunggu anak-anak mandi, Dante menemani Rea ngobrol di sofa ruang keluarga. Gadis itu menceritakan tempat-tempat yang dia dan Rumi kunjungi di Singapore, beserta detail-detail lain seperti cuaca dan makanan-makanannya.Dante mendengarkan semua dengan khusyuk. Dengan serius.Obrolan mereka terus berlanjut sampai akhirnya anak-anak selesai

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 58

    Dan ternyata, gangguan itu masih saja berlanjut di hari kedua sekaligus terakhir mereka di Singapore.Maudi. Telepon dari wanita itu terus masuk ke ponsel Rumi.Saat sarapan, ponsel pria itu berdering. Saat mereka makan siang di Three Meals a Day, panggilan yang sama kembali muncul. Bahkan ketika malamnya mereka makan malam bersama Nico, sahabat Rumi, dan istrinya di SKAI Restaurant, Maudi masih saja menemukan alasan untuk menghubungi pria itu.Dan yang paling bikin Rea sinting adalah, Rumi mengangkat semuanya.Tidak peduli sedang di mana mereka berada, tidak peduli sedang bersama siapa, pokoknya setiap kali nama itu muncul di layar, Rumi selalu mengambil ponselnya.Kadang hanya sebentar. Kadang cukup lama sampai Rea harus memutar otak untuk mencari bahan obrolan dengan sahabat Rumi itu.Rea tidak pernah bertanya apa yang dibicarakan. Tapi malam ini, ketika ponsel itu berbunyi untuk kedua kalinya, Rea menarik benda tersebut.“Mas, makan dulu. Kalau bukan tentang anak-anak dan orang tu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status