เข้าสู่ระบบPernikahan ini hanya kontrak. 1 tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tapi kenapa di malam pertama, Komandan yang terkenal disiplin itu justru mengunci pintu dan berbisik di telinga Velia, "Kontraknya bilang kau istriku, Velia. Dan istri Komandan harus patuh... di ranjang maupun di luar ranjang." Velia pikir dia hanya terjebak nikah. Padahal dia terjebak dalam obsesi tergila milik seorang duda arogan yang tidak akan pernah melepaskannya.
ดูเพิ่มเติมNapas Velia tercekat saat pintu kayu jati itu dibanting tertutup.
Brak! Suara itu membuat tubuh mungilnya yang hanya setinggi 155 cm terkejut. Ia berdiri kaku di tengah kamar pengantin yang terlalu mewah untuk seorang gadis penakut sepertinya. Gaun putih yang dipaksakan padanya terasa gatal dan terlalu longgar di bagian dada. Di luar, suara gamelan pernikahan masih samar terdengar bercampur tawa para tamu undangan. Tapi di dalam sini, hanya ada detak jantungnya yang hampir copot dan aroma parfum maskulin yang menusuk. Dan dia. Komandan Arga Adiwijaya. Pria itu melepas topi baretnya dengan gerakan pelan dan penuh wibawa. Usianya baru 30 tahun, tapi aura di sekelilingnya membuat Velia yang berusia 22 tahun merasa seperti anak SD yang akan dihukum kepala sekolah. Seragam PDL TNI-nya masih rapi, kancing emasnya berkilat, dan medali Satya Lencana di dadanya berkilau tertimpa cahaya lampu temaram. Wajahnya tampan; ya, terlalu tampan untuk seorang duda. Rahangnya tegas, hidung mancung, dan alisnya tebal. Tapi dingin. Sangat dingin. "Jadi, kamu penggantinya?" suaranya rendah, berat, dan menusuk telinga. Velia menunduk dalam. Jari-jarinya yang lentik meremas ujung gaun sampai berkerut. Ia tidak berani menjawab. Sejak kecil, Velia memang penakut. Disuruh presentasi di kampus saja ia bisa pingsan. Kak Rani, kakak kandungnya, seharusnya yang menikah hari ini. Kak Rani yang cantik, pemberani, dan dijodohkan dengan Komandan Arga demi melunasi utang keluarga. Namun Kak Rani kabur bersama pacarnya tadi pagi, meninggalkan surat: "Aku tidak mau menikah dengan duda tua arogan itu!" Akhirnya, Velia yang dikorbankan. "I-Iya, Komandan. Kak Rani kabur." suaranya hampir tidak terdengar. Arga mendekat. Setiap langkah sepatu boots PDL-nya di lantai kayu membuat Velia mundur selangkah, sampai punggungnya yang ramping membentur dinding dingin. Ia sudah tidak bisa ke mana-mana lagi. "Menatap saya, Velia. Itu perintah." Perintah itu bukan permintaan. Velia mengangkat wajahnya yang pucat dengan gemetar. Mata mereka bertemu untuk pertama kalinya. Mata Arga hitam pekat, tajam seperti elang yang mengincar mangsa, sorotnya menilai. "Umurmu 22 tahun. Mahasiswi semester akhir. Tidak punya pacar. Penakut. Alergi debu. Golongan darah O." Arga membaca data di kepalanya seolah Velia adalah laporan intelijen yang harus ia hafal. "Kau tahu apa konsekuensi menggantikan kakakmu menikah dengan saya?" Velia menggeleng cepat, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya yang bulat. "Kontrak sudah ditandatangani orang tuamu di bawah. Satu tahun kau jadi Nyonya Arga Adiwijaya. Tugasmu hanya satu di rumah ini: patuh. Mengerti?" Patuh. Kata itu membuat lutut Velia lemas seketika. "Komandan saya belum siap untuk jadi istri, untuk malam pertama." kalimat itu meluncur disertai isakan. Senyum tipis akhirnya muncul di bibir Arga. Senyum yang membuat semua prajurit di batalyonnya takut dan semua janda di kompleks perumahan TNI terpikat. "Siapa yang bilang kita akan melakukan malam pertama malam ini?" Velia menghela napas lega, bahunya turun. Tapi lega itu hanya bertahan dua detik. "Karena kita akan melakukannya." Arga melanjutkan, tangannya yang besar dan kasar karena latihan terangkat. Jarinya menyentuh dagu Velia dan mengangkatnya paksa agar tidak menunduk lagi. "Kontrak pernikahan, Pasal 4 Ayat 2. Seorang istri Komandan wajib memberikan keturunan. Saya duda, Velia. Anak saya, Bima, umur 4 tahun, butuh ibu. Dan saya butuh istri yang bisa saya atur sepenuhnya, di atas ranjang maupun di luar ranjang." Sentuhannya panas. Berbeda dengan wajahnya yang dingin seperti es. Velia menangis terisak. "Jangan, tolong, saya takut." "Shhh." Arga mendekatkan wajahnya, jarak mereka hanya sejengkal. Napasnya yang beraroma mint dan kopi hitam menerpa wajah Velia, membuat bulu kuduknya berdiri. "Jangan jadi penakut di depanku. Saya tidak suka wanita penakut yang hanya bisa menangis. Saya suka wanita patuh yang tahu kapan harus menangis." Ia melepaskan dagu Velia, lalu berbalik menuju lemari kayu besar. Membuka laci paling atas dan melempar sebuah kotak beludru hitam ke atas ranjang king size. "Buka." Dengan tangan gemetar hebat, Velia membuka kotak itu. Di dalamnya ada gelang emas putih tipis dengan liontin huruf A yang berkilau. Sangat mahal. "Pakai itu. Mulai malam ini, semua orang di markas, dari prajurit sampai ibu-ibu Persit akan tahu kau milikku. Milik Komandan Arga. Tidak ada yang boleh menyentuh apa yang sudah jadi milik Komandan." Velia tidak bergerak. Ia masih memeluk dirinya sendiri di sudut dinding, seperti kucing kecil yang kehujanan. Arga kehilangan kesabaran. Dalam satu gerakan cepat dan terlatih, ia menggendong Velia dengan gaya bridal carry persis seperti pose di sampul novel romantic dan melemparkannya pelan tapi pasti ke atas ranjang yang empuk dan berbau dirinya. Velia memekik tertahan. Gaun putihnya berantakan, rambut panjangnya yang hitam terurai. Arga menyusul naik ke ranjang, menahan kedua sisi tubuh mungil Velia dengan lengannya yang berotot, mengurungnya sempurna. Posisi itu berbahaya. "Tatap saya. Saya bilang tatap saya, Velia." Velia terpaksa menatap dengan mata sembab. Air matanya jatuh satu per satu. "Bagus," bisik Arga, suaranya kini lebih pelan, tapi tetap menguasai. "Tangis itu simpan. Saya akan membuatmu menangis dengan cara lain nanti. Dengan cara yang akan membuatmu memohon untuk tidak berhenti." Jantung Velia berhenti berdetak. Ia memejamkan mata rapat, menunggu yang terburuk terjadi. Ia sudah pasrah. Tapi yang ia rasakan justru selimut tebal yang ditarik Arga untuk menyelimuti tubuhnya yang gemetar kedinginan. "Tidur. Di sebelah sini. Jangan coba-coba kabur lewat jendela. Di bawah ada dua prajurit saya yang berjaga semalaman dengan senjata lengkap." Velia membuka mata perlahan, bingung dan kaget. Arga sudah berbaring di sebelahnya, masih dengan seragam lengkapnya, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. "Malam ini kau aman. Saya tidak pernah menyentuh wanita yang menangis ketakutan. Itu prinsip saya." Ia melirik Velia dari sudut mata. "Tapi ingat, Velia kontraknya satu tahun. Saya punya 365 malam untuk membuatmu berhenti takut padauk dan mulai ketagihan memohon padaku untuk menyentuhmu. Paham?" Lampu dimatikan dengan saklar di samping ranjang. Dalam gelap gulita, hanya ada suara napas Arga yang teratur, berat, dan isak tangis Velia yang ia tahan sekuat tenaga agar tidak terdengar. Malam pertama Velia sebagai istri komandan duda arogan baru saja dimulai. Dan ia sudah terjebak, tidak bisa ke mana-mana lagi.Di ruko biru merah yang catnya masih wangi, ada kaleng baru.Kalengnya warna biru, bekas biskuit lebaran kemarin. Tapi tulisannya baru, tulisan Bima kelas lima pakai spidol hitam tebel: TABUNGAN KULIAH BIMAVelia yang nyuruh ganti tulisan. Dulu tulisannya TABUNGAN RUKO, sekarang ruko udah kebeli seratus juta, jadi ganti.Pagi jam dua, sebelum siram kebun, Bima buka kaleng itu dulu. Isinya baru dua juta dari untung tiga juta kemarin."Bu, kalau kuliah berapa Bu?" tanya Bima pelan sambil masukin receh lima ratusan.Velia lagi ngulek bumbu, berhenti. "Jauh Kak, masih lama. Kakak baru kelas lima.""Tapi nabung dari sekarang ya Bu?" Bima ngot.Velia angguk. "Iya, dari sekarang."Arka yang udah umur dua tahun pas bangun tidur, nyeret ember merahnya, denger kata kuliah."Kuliah apa Bu?" katanya polos."Kuliah Kakak Bima nanti jadi guru," jawab Velia ngawur, biar Arka diem.Jam dua lewat, ritu
Jam satu pagi Blok C No 12 udah rame, padahal ruko udah punya sendiri. Harusnya bisa santai.Tapi Velia bangun jam satu, lebih pagi dari biasanya. Bukan karena takut telat, karena gak sabar."Yah bangun, hari pertama jualan di ruko bagus," bisik Velia bangunin Arga.Arga yang biasanya ngorok kenceng langsung duduk. Bima kelas lima juga udah bangun, padahal alarmnya belum bunyi. Seragam sekolahnya udah disetrika semalam, celemek biru merah barunya udah digantung rapi.Cuma Arka yang masih pulas. Umur dua tahun pas, tidurnya masih meluk ember merah sama kuas cat kemarin. Kakinya masih agak merah bekas ngecat.Velia gendong Arka yang masih ngantuk ke motor listrik. Embernya ikut.Sebelum ke ruko, mampir kebun dulu. Udah jadi ritual.Enam pohon pisang di tanah dua puluh meter itu sekarang udah pada gede-gede. Daunnya lebar-lebar kena lampu jalan.Arka yang udah umur dua tahun pas, walaupun masih ngantuk, turun dari motor langsung nyeret ember merah kecilnya."Siram dulu Bu, baru jualan!"
Pagi ini Blok C No 12 terang tapi kompor mati lagi. Dua hari berturut-turut gak goreng.Bukan karena males. Karena mau bongkar ruko.Velia, Arga, Bima yang udah kelas lima, sama Arka yang udah umur dua tahun pas, berempat jalan kaki ke depan SD. Gak naik motor listrik. Jalan kaki sambil gendong ember, cat, sama kuas.Ruko biru merah yang kemarin baru dibeli seratus juta itu kelihatan jelek kalau diliat deket-deket. Catnya ngelotok, atapnya bocor di pojok, lantai semennya pecah-pecah. Dulu sewa jadi biarin aja, sekarang punya sendiri jadi gatel pengen benerin."Cat biru lagi Bu apa ganti warna?" tanya Bima."Tetep biru sama merah," jawab Velia, "itu udah rezeki kita."Jam enam pagi udah mulai ngecat. Arga naik kursi, ngecat bagian atas yang biru. Velia bagian bawah yang merah. Bima kelas lima kebagian ngecat kusen pintu pakai kuas kecil.Arka umur dua tahun pas kebagian paling penting. Dia duduk di ember cat merah kecil, kuasnya kebesaran, ngecat lantai. Yang kecat malah kakinya sendir
Pagi ini gak ada yang goreng. Kompor mati.Velia pakai baju paling bagus, yang lengan panjang bunga-bunga kecil, yang biasanya cuma dipakai pas lebaran. Bima gak pakai seragam, gak pakai celemek. Pakai baju koko putih yang dulu dipakai pas ngaji. Arka umur dua tahun pas pakai baju baru warna biru, masih kegedean, ember merahnya ditinggal di rumah pertama kali."Bukunya jangan lupa Bu," bisik Bima.Velia gendong tas hitam kecil isinya dua benda: buku tabungan 102 juta sama surat tanah kebun. Arga di depan pakai helm, motor listrik putihnya dicuci semalam, kinclong.Jam sembilan pas berangkat. Bukan ke pasar. Ke depan SD. Ke ruko biru sama merah yang udah tiga tahun mereka sewa tiga juta setahun per ruko.Pak Haji pemilik ruko udah duduk di warung biru merah. Mejanya masih meja Velia, tapi hari ini kosong gak ada pisang."Dateng juga kalian," kata Pak Haji sambil senyum.Velia salim, agak gemetar. Dulu tiap bayar sewa tiga juta Velia nunduk, sekarang mau beli.Bima langsung duduk di kur












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.