Share

CHAPTER 78

Author: brokolying
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-25 21:12:45

Semakin keras Rea berusaha bersikap biasa saja, semakin sering pula pikirannya kembali pada sikap dan kalimat Rumi kemarin.

Gadis itu bahkan sudah berjanji ingin mencabut perasaannya pada Rumi sampai ke akar-akarnya, sebelum dia makin tolol karena cinta.

Sayangnya, kita semua tahu perasaan tidak bekerja sesederhana itu.

Setiap hari, Rea masih harus berhadapan dengan Rumi yang dingin, tegas, namun selalu memperlakukannya manis di hadapan orang-orang, seolah-olah Rea benar-benar perempuan yang di
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 83

    “Mas Rumi tahu, Om.” Rea membalas tanpa kehilangan senyumnya. “Makanya, yang dia bawa ke sini saya, bukan perempuan lain.”Kalimat Rea sontak membungkam semua orang di meja makan, termasuk Rajendra.Rea tahu betul posisinya di rumah itu. Dia hanya perempuan yang dibawa Rumi tanpa pemberitahuan, seseorang yang keberadaannya bahkan belum sepenuhnya diterima oleh keluarga pria itu.Namun, setelah Pak Rajendra sengaja mengundang Maudi untuk makan siang dan menjadikannya bahan sindiran di hadapan semua orang, Rea merasa tidak punya alasan untuk terus memasang sikap sungkan.Kalau tuan rumah saja tak berniat menjaga perasaannya, mengapa dia harus repot-repot menjaga perasaan tuan rumah? Lagi pula, Rea bukan tipe perempuan yang akan mundur dan diam saja kalau ada seseorang berusaha membuatnya merasa tidak pantas berada di sana.Selain itu, kontrak Rea dan Rumi juga akan berakhir. Jika setelah makan siang tadi dia mendapat predikat sebagai perempuan kurang ajar di mata orang tua pria itu, ras

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 82

    Emosi Rea yang sudah mendidih sebelumnya, sekarang ditambah lagi dengan celetukan pria itu soal menantu, maka lengkap sudah alasan Rea untuk mencekik pria itu.Namun, dia memilih menahan diri. Mengingat siapa pemilik rumah yang akan mereka masuki, membuat Rea enggan menambah satu masalah lagi.Dia hanya berharap malam ini cepat berlalu.Kediaman keluarga Rajendra tampak megah, dengan arsitektur yang kental akan nuansa Jawa. Pintu kayu berukuran besar menyambut mereka, disusul ruang utama yang dipenuhi furnitur kayu berukir rumit.Mulai dari meja konsol, lemari pajangan, hingga kursi-kursi berukuran besar yang tampak seperti barang antik. Semuanya terlihat mahal, bahkan tanpa perlu mencantumkan harga.Rea melirik salah satu lemari jati dengan ukiran yang begitu detail.‘Perasaan mereka bukan keturunan bangsawan Jawa, deh. Sekaya apa keluarga ini sampai rumahnya begini?’ Rea bertanya-tanya dalam hati.Belum sempat dia mengamati lebih jauh, Nyonya Rajendra sudah mengajak mereka melewati

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 81

    Pintu lift bahkan belum tertutup sempurna ketika Rea menarik tangannya dari cengkeraman Rumi.“Mas! Bisa nggak sih kalau mau ke mana-mana itu bicara dulu? Rencanain dulu?!” protes Rea, menatap pria yang masih lengkap dengan piyamanya tersebut. “Dan, saya punya kaki sendiri. Nggak perlu ditarik-tarik seperti anak kecil begini!”Rumi tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada angka yang terus berubah di atas pintu lift.Rea mengembuskan napas kasar. ‘Astaga!’Begitu pintu lift terbuka, Rumi kembali berjalan lebih dahulu. Rea terpaksa mengikuti langkah panjangnya sampai mereka tiba di parkiran. Pria itu bahkan membukakan pintu mobil untuknya, seolah-olah tidak sedang menyeretnya keluar dari rencana yang sudah dia susun sejak semalam bersama Dante.Rea masuk dengan kesal. Begitu Rumi duduk di balik kemudi, dia langsung menoleh.“Saya nggak bisa kayak gini, Mas. Ini hari libur saya.” Rea berusaha mempertahankan suaranya agar tidak meninggi. “Kita udah sepakat dari awal, kalau weekend tanpa kep

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 80

    “Soalnya, kalau kamu mau, aku nggak keberatan ngabarin kamu terus. Setiap hari kalau perlu.”Rea jelas tidak menyangka kalimat dari Dante itu juga bisa membuat pipinya merona.Padahal Dante tidak melakukan apa-apa. Tidak mendekat seperti yang kerap Rumi lakukan, seolah dia tahu batasnya.“Mas Dante!”“Kenapa?” tanyanya ringan. “Kok mukanya merah?”“Nggak merah ya!”Dante terkekeh. “Tuh merah,” seru pria itu sambil menunjuk satu pipi Rea.“Mas Dante!”Alih-alih merasa bersalah, Dante malah mengulurkan tangan dan mengacak pelan rambut Rea. “Udah, sana masuk.”Rea buru-buru merapikan rambutnya. “Hati-hati di jalan ya Mas.”Dante mengangguk, senyumnya sedikit melunak. “Siap, Tuan Putri.”Akhirnya Rea masuk, dan pria itu pulang.Setelah mandi dan bersiap tidur, Rea baru saja selesai mengoleskan pelembap ke wajahnya ketika ponselnya berdering.Tanpa melihat nama yang tertera di layar, dia buru-buru mengangkatnya.“Halo?”“Halo?”Rea langsung mengenali suara di seberang sana.“Oh! Hay Mas.”

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 79

    Rea meninggalkan penthouse Rumi dengan pikiran yang entahlah. Amburadul? Dan dia menyalahkan perasaannya atas itu.Andai saja dia tidak terbawa perasaan. Andai saja tidak muncul harapan tiap Rumi menyentuhnya. Semua pasti akan baik-baik saja.Dia tidak perlu menjaga jarak pada rumi maupun Dista dan Desta.Dan,Dia tidak akan menerima teror ini.Syukurnya ada Dante. Yang entah kenapa berada di basement Rumi.“Mas Dante? Kok ada di sini? Belum balik?” tanya Rea mendapati pria itu tengah ngobrol dengan Ammar, sopir pribadi Rumi.“Belum. Nunggu kamu,” jawab pria dengan senyuman dan lesung pipinya itu.“Pak Ammar yang bakal nganter aku pulang, Mas.”“Aku udah bilang sama Pak Ammar bisa langsung istirahat aja kok Dek. Kamu, biar aku yang antar. Sekalian aku mau bahas yang tadi.”Rea terdiam sebentar. Dia mentap Pak Ammar, “Pak, yaudah Bapak langsung istirahat aja,” ucap Rea menginstruksikan agar pria itu langsung masuk saja. Beliau punya satu kamar di penthouse Rumi, seperti Bene dan asiste

  • CindeREA: Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 78

    Semakin keras Rea berusaha bersikap biasa saja, semakin sering pula pikirannya kembali pada sikap dan kalimat Rumi kemarin.Gadis itu bahkan sudah berjanji ingin mencabut perasaannya pada Rumi sampai ke akar-akarnya, sebelum dia makin tolol karena cinta.Sayangnya, kita semua tahu perasaan tidak bekerja sesederhana itu.Setiap hari, Rea masih harus berhadapan dengan Rumi yang dingin, tegas, namun selalu memperlakukannya manis di hadapan orang-orang, seolah-olah Rea benar-benar perempuan yang dia cintai. Termasuk di depan anak-anaknya.Namun, di tengah usahanya meredam perasaan sendiri, ada satu masalah yang justru semakin sulit dikendalikan.Teror tidak kunjung berhenti.Setiap kali mendampingi Rumi ke sebuah acara, pesan-pesan aneh itu selalu datang. Kadang berupa foto mereka berdua yang diambil dari kejauhan. Kadang hanya kalimat singkat yang cukup untuk membuat perutnya terasa melilit.Dan malam ini, hal yang sama kembali terjadi.Convention hall hotel milik Rumi dipenuhi anggota k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status