FAZER LOGINDamian duduk diam, jari-jarinya saling bertaut menopang dagu. Matanya tajam menatap desain beberapa villa yang berada di atas meja kerjanya.Suara pintu yang terbuka membuatnya segera menoleh. Adam yang baru saja datang terlihat berjalan dengan santai dengan wajah yang berseri-seri."Wajahmu cerah sekali." nada mengejek terdengar jelas dari suara Damian. "Aku tebak, Gaby masih di sini?""Sialan!" umpat Adam sambil menarik kursi untuknya duduk. "Apa kalian benar-benar serius?""Aku menyukainya, dia gadis yang baik dan tidak merepotkan.""Merepotkan?"Adam menganggukkan kepala saat mendengar pertanyaan Damian dengan nada heran."Dia mandiri, dia juga mengerti jika aku akan mengabaikannya saat bekerja dan dia tidak memintaku selalu ada untuknya."Damian menghela nafasnya saat mendengar jawaban Adam.Mereka duduk saling berhadapan, terhalang oleh meja kerja dan kembali membahas tentang pembangunan properti yang akan berlangsung pada pertengahan musim semi. Enam unit villa harus sudah sel
Rosemary duduk bersandar di dada bidang Damian, kulit mereka yang saling menyentuh selalu memberikan getaran-getaran geli di dalam dada bahkan di dalam perut Rosemary. Jari-jari lentik Rosemary bermain-main tanpa sadar di atas jari-jari Damian yang besar dan kokoh, dia kembali merasakan setiap lekukan dan garis yang begitu dia hafal.Jemarinya mengkait di antara jemari Damian, senyumnya mengembang saat Damian mengggenggamnya dan membawa tangan mereka ke bibir pria itu. Bibir lembut Damian menciumi punggung tangannya, hingga akhirnya kaitan jemari mereka terlepas dan jemari Damian berpindah menuju area sensitifnya."Aku lelah, Damian." protes Rosemary.Mereka baru saja selesai bercinta di atas sofa apartemen mereka, tubuh mereka bahkan masih lengket oleh keringat. Kini, bola mata Rosemary membulat sempurna saat matanya tertuju pada kejantanan Damian yang terlihat kembali mengeras.Bibirnya bisa berkata lelah, tubuhnya juga merasa lelah, tetapi getaran-getaran di dalam tubuhnya membuat
"Pilek?"Rosemary menggelengkan kepalanya, dia bersin-bersin sepanjang sore ini saat menyambut Damian pulang kerja."Pakailah baju yang lebih hangat, Sayang."Tatapannya menyapu penampilan Rosemary yang selalu membangkitkan gairahnya. Rosemary mengenakan gaun pendek bermotif bunga seakan-akan mereka sedang berada di musim panas, gaun tanpa lengan dengan ikatan di leher dan Damian tahu sekali saja dia menarik pita pada tengkuk Rosemary maka gaun itu akan luruh di lantai."Aku mau kamu yang membuatku hangat." goda Rosemary saat membalas ucapan Damian, sebelah matanya berkedip menggoda."Gadis nakal."Damian segera menangkap tubuh Rosemary dan membenamkan tubuh kekasihnya itu di dalam pelukannya. Dia merasa heran pada dirinya yang sanggup menunggu Rosemary memasuki usia dewasanya, bahkan dia berusaha menahan pikiran liarnya saat Rosemary merelakan tubuhnya untuk dia jamah. Dia mencintai Rosemary melebihi apapun, tetapi yang paling utama dari rasa cintanya adalah Rosemary dapat hidup aman
Steven membaca kembali surat milik Mattiash untuk kekasihnya.Dear Rose,Aku mencintaimu..Kamu adalah sinar cerah di dalam kegelapan hidupku, aku mencintaimu.Aku akan tetap mencintaimu, aku tidak akan menyalahkan dirimu.Aku akan menunggu hingga kamu siap menjadi pendamping hidupku, aku akan menunggu hingga kamu siap menjadi seorang ibu.Aku mencintaimu, Rose.Matanya terpejam, helaan nafasnya berlangsung lembut."Jadi perempuan itu menggugurkan kandungannya dan pergi meninggalkan Mattiash?""Benar Steve."Steven menghela nafasnya, dia tidak tahu apa yang sudah dia lakukan di masa lalu. Apakah dia berusaha mencari tahu penyebab kematian Mattiash? Apakah dia berusaha membalas dendam atas kematian Mattiash? atau dia mengabaikan begitu saja hal-hal yang menyebabkan kematian Mattiash."Menurutmu, apa yang harus aku lakukan, Ella?""Anda masih muda, lebih baik memikirkan bagaimana hidup anda berjalan dengan baik. Membalas dendam atau mencari tahu kebenaran hanya akan membuang-buang waktu
Kabut dingin terilhat berarak melalui kaca jendela yang seketika berembun terkena hembusan kabut pada mansion mewah di Pinehill. Steven kembali mencari-cari kepingan ingatannya yang menghilang. Salah satu hal yang membuatnya menjauh dari Giselle dan Max.Dia merasa Giselle dan Max telah menyembunyikan sesuatu darinya, begitu juga Rosalia. Mereka semua seakan-akan menyimpan kepingan yang hilang, entah nama atau peristiwa dan Steven menduga jika semuanya berkaitan dengan masuknya dia ke penjara Kota Waterbay.Steven mulai membakar rokoknya, menghirup aroma kopi yang disajikan oleh pelayan yang rambutnya hampirt memutih seluruhnya. Pelayan setia ayahnya, wanita itu bahkan sudah ada sebelum dia lahir dan sekarang ada di saat dia kehilangan sebagian ingatannya."Seperti apa kekasih Mattiash?"Pertanyaan Steven membuat Ella bertanya-tanya, mengapa tuan mudanya bertanya kembali tentang kekasih kakaknya."Lupakan! Aku hanya merasa beruntung karena aku tidak kehilangan kenanganku bersama Matti
"Selamaaaaaaat!!!" Suara letupan dari botol sampanye yang terbuka diiringi busa yang melimpah dari bibir botol menjadi sambutan dari Hilda saat Rosalia pulang dengan wajah dan rambut yang terlihat berantakan. Aroma tubuh wanita itu bahkan dipenuhi dengan aroma keringat, laut, matahari dan parfum mahal yang bercampur jadi satu. "Aku mau mandi dulu. Rasanya gerah sekali." Hilda menganggukkan kepalanya, matanya kembali tertuju dan mengawasi Rosalia yang berjalan menuju kamar mandi dengan rasa khawatir. Dia memutuskan untuk menyibukkan diri dengan menyiapkan cake, gelas kristal berkaki dan juga garpu untuk menikmati cake buah persik yang sudah dia siapkan. Semua sesuai dengan kesukaan Rosalia. Di dalam kamar mandi, Rosalia menatap wajahnya pada cermin. Wajahnya benar-benar berantakan, matanya terlihat sembab dan bengkak, bedak dan perona pipi yang dia kenakan tidak lagi tertempel rapi pada wajahnya, rambutnya yang selalu tertat
Max dan Steven sama-sama menoleh bertukar pandangan sebelum mengedarkan kembali pandangan mereka pada kamar di ruang bawah tanah. Ruangan yang dingin berlantai keramik hitam, sebuah ranjang besa
Steven kembali menyusuri kamar Mattiash di Pinehill. Tidak ada yang berubah, Ella hanya membersihkan debu-debu yang ada, tidak merubah posisi kamar sesuai dengan permintaannya.
"Coba ini!" Rosemary menyuapkan garlic bread pada Damian yang sedang duduk santai di depan kemudi, dia terus memperhatikan Damian yang mengunyah roti buatannya. "Enak?"Anggukkan kepala Damian membuat Rosemary tersenyum lebar. "Mau kubawakan?""Nanti saja, duduk di sebelahku dan lihat ada rombongan
Di dalam sasana tinju, Steven melampiaskan kekesalannya pada samsak tinju yang berayun-ayun terkena pukulannya.







