LOGINMax dan Steven sama-sama menoleh bertukar pandangan sebelum mengedarkan kembali pandangan mereka pada kamar di ruang bawah tanah. Ruangan yang dingin berlantai keramik hitam, sebuah ranjang besar berada di tengah-tengah ruangan dengan seprai merah. Sebuah kursi kulit berwarna merah dengan bentuk tidak lazim membuat Max mengulum tawanya, dia menginginkan kursi itu ada di kamarnya, kursi yang
Suara nafas yang terengah-engah karena panik terdengar di sudut taman apartemen, langit yang gelap, lampu yang temaram, bayangan pohon yang tinggi menjulang disertai gemerisik suara daun yang tertiup angin membuat Rosalia tidak dapat berpikir jernih. Semenjak Hilda menghilang tanpa kabar, dia jadi lebih sering termenung memikirkan keadaan Hilda. Apakah sahabatnya itu dalam keadaan baik-baik saja? Apakah Hilda sedang berada di dalam masalah hingga tidak dapat dia hubungi? Apakah Hilda sengaja menghindari dirinya? Ada banyak pertanyaan di dalam benaknya yang membuatnya terlihat sering termenung dengan wajah murung. Rekan-rekan kerjanya mengira dia mengalami patah hati, tetapi kabar itu terbantahkan saat melihat Rosalia masih dijemput dengan pria yang biasa menjemputnya."Jangan! Aku-""Rosa! ini aku. Ada apa denganmu?"Suara Steven membuat Rosalia merasa lega, dia menatap wajah Steven, mengedipkan matanya dan memastikan kembali jika pria yang ada di hadapannya memang Steven. "Aku
Rosalia mengerutkan keningnya, pesan yang dia kirimkan kepada Hilda tidak juga mendapatkan balasan meskipun sahabatnya itu sudah membacanya. Tidak seperti biasanya, Hilda selalu cepat membalas pesannya. Di dalam pikirannya, Hilda sedang marah karena dia memilih kembali bersama Steven, tetapi semua itu terpatahkan saat dia melihat kedekatan Hilda dan Steven. Tidak ada rasa cemburu di dalam dirinya tentang kedekatan Hilda dan Steven, dia tahu mereka punya masa lalu yang rumit dan untuk saat ini dia sedang belajar percaya pada Steven, belajar untuk jatuh cinta melalui sikap-sikap Steven terhadapnya. Rosalia menggigit bibir bawahnya. Kali ini rasa cemas menyelimutinya. "Bagaimana jika Hilda mengalami musibah di luar negeri?" tanyanya di dalam pikirannya. Sialnya, dia tidak juga mengetahui negara mana yang menjadi tujuan sahabatnya tersebut. Empat minggu telah berlalu sejak dia mengantarkan Hilda ke airport. Di minggu ke tiga dia sempat bertanya kepada beberapa orang terdekat
Adam tertawa sinis saat melihat Damian menekan tombol enter pada keyboard laptopnya dan matanya menangkap alamat email tujuan Damian. "Sekarang kalian bersahabat?" nada suaranya terdengar mengejek. "Bisa dibilang demikian, setidaknya dia tidak lagi tersesat dan obsesinya berada di arah yang tepat. Apa kamu keberatan?""Tidak, apa yang kamu lakukan akan aku dukung selama demi kebaikan Rosy."Damian tersenyum tipis. "Tentu saja semua yang aku lakukan adalah untuk kebaikan Rosy."Adam menganggukkan kepalanya, dengan mata yang masih tertuju kepada sahabatnya yang sekarang menjadi suami dari adiknya. Damian Reeves memang selalu terlihat tenang, justru ketenangan Damian yang membuatnya segera sadar jika Damian adalah sosok yang berbahaya dan beruntung bagi Adam, dia berada di pihak Damian. "Aku dengar seluruh villa terjual dan juga unit apartemen sudah terjual delapan puluh persen di kawasan Genobia, save battery."Adam tersenyum tipis. "Sukses, bagaimana dengan pembangunan resort di Kepu
"Hilda, apa kamu berada di Brighton? Steven mengajakku kencan di atas kapal dan dia mengijinkan aku membawa teman."Hilda mengerutkan keningnya saat mendengar suara Rosalia. Dia memang masih berada di Brighton untuk mengurus kepindahannya ke luar negeri, dia ingin menolak ajakan Rosalia dan dapat dikatakan jika dia merasa kecewa dengan keputusan Rosalia yang kembali kepada Steven Hill.Hilda merasa, bantuan yang diberikan selama ini untuk Rosalia menjadi sia-sia. Pada akhirnya Rosalia kembali terjebak di dalam hubungannya bersama Steven Hill, meskipun gadis itu tahu Steven adalah sosok yang berbahaya. Terakhir, untuk terakhir kalinya dia akan memenuhi permohonan Rosalia sebelum pergi menjauh dan melupakan perasaan sayangnya untuk Rosalia. Hilda memutuskan dengan pergi jauh dari Rosalia agar tidak terlihat lebih jauh lagi dengan hubungan Rosalia dan Steven. ***Steven tersenyum tipis, senyuman yang terlihat manis namun menyimpan sejuta makna. Umpan yang diberikan kepada Rosalia ditan
"Tidak!" Rosalia menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Dia tidak mungkin tahu jika aku adalah kekasih Mattiash." matanya tertuju pada kotak perhiasan di atas meja riasnya. Kesalahannya adalah meninggalkan kalung dengan liontin pemberian kakeknya, Rosalia menyadari jika Steven menyalahkan Rosemary karena dia yang paling sering mengenakan kalung dan liontin tersebut dan tentu saja untuk memakainya dia harus mengiba pada Rosemary. Sekarang, dia sudah membuat duplikat yang serupa, sama persis. Dia akan mengenakannya di kencan berikutnya agar kecurigaan Steven terhadapnya kembali runtuh. Sikap tenang Steven membuatnya sadar akan kata-kata Hilda, jika Steven terlihat aneh. Rosalia mengutuki dirinya yang begitu bodoh karena bisa terjebak kembali di dalam hubungan bersama orang yang seharusnya tidak boleh dia dekati kembali. "Aku tidak peduli dengan ancaman Rosy dan Damian, yang paling utama adalah keselamatanku. Steven harus kembali percaya jika Rosemary adalah mantannya Mattiash." rac
Siang hari yang berada di luar dugaan bagi Rosemary maupun Rosalia, keduanya tanpa sengaja bertemu di pusat perbelanjaan.Rosemary dengan perutnya belum begitu besar sedang menghabiskan waktu dengan mencari perlengkapan untuk calon buah hatinya di saat Damian sedang rapat dan tidak dapat dia ganggu. Sementara Rosalia sedang mencari hadiah untuk ulang tahun Steven."Lama tidak bertemu, Rosa." sapa Rosemary dengan nada ramah. Rosalia berusaha tersenyum meskipun ada rasa canggung di dalam dirinya mendengar sapaan Rosemary. "Apa kabarmu?" Rosemary kembali bersuara."Aku baik, bagaimana denganmu?" balas Rosalia sambil menenangkan perasaannya"Aku? sehat, bahagia dan apakah kamu sudah memberitahu Steven hal yang sebenarnya terjadi Rosa?"Rosalia menggigit bibir bawahnya, tentu saja dia belum mengatakan hal yang sebenarnya kepada Steven. "Rosy, aku-""Selama mantanmu itu tidak mengganggu kehidupanku, aku tidak akan mengganggumu Rosa. Aku sedang hamil, baik aku, Damian dan juga Adam. tidak
Foto-foto mereka berdua di lobby bandara membuat Elizabeth tersenyum senang, di matanya mereka terlihat begitu serasi bersama Damian Reeves.[Pria rahasia Elizabeth Branch][Elizabeth Branch berlibur ke Genobia bersama kekasih rahasianya]Judul yang dia gunakan untuk membuat
Malam yang cerah membuat Rosemary memilih berjalan-jalan di atas geladak, menikmati bintang-bintang yang bertaburan di langit gelap dan memandangi dalamnya lautan.
Aroma kopi dan roti yang baru saja selesai dipanggang tidak juga membuat Rosalia merasa tenang, di hadapannya ada Hilda yang sedang menikmati kopi dan cake vanilla dengan wajah penuh kebahagiaan."Jadi Steven sudah resmi menjadi kekasihmu?"Pertanyaan Hilda membuat Rosemaru
Steven kembali menginjakkan kakinya di Pinehill, dia berada di kamar Mattiash, tidak ada yang berubah dari kamar Mattiash. Dia kembali memandangi kalung dengan liontin khusus berbentuk huruf R, kembali membaca tulisan-tulisan Mattiash."Sialan!" umpatnya.Di layar ponselnya juga ter







