INICIAR SESIÓNDi ruang kerjanya Steven memandangi lembar demi lembar keterangan ahli waris yang dia dapatkan dari pengacara ayahnya dan tentu saja menjadi pengacara Mattiash.
Steven tidak tahu apakah dirinya harus merasa senang dan bersyukur atau merasa bersalah dengan kematian Mattiash.
Sebagai satu-satunya anak yang tersisa, dia berhak mewarisi semua milik ayahnya.
Mansion mereka di Pinehill, surat-surat berharga yang dapat menjamin hidupnya dan juga tabungan milik Mattiash.
Dia tidak membutuhkan itu semua, karena dari ayah tirinya sendiri dia sudah mendapatkan lebih banyak dari warisan yang diberikan Mattiash padanya.
Rasa bersalah karena membiarkan Mattiash sendiri seakan menjadi beban untuknya, dia harus menemukan Rose Steele dan dia harus membalaskan rasa sakit yang didapatkan Mattiash karena perbuatan perempuan itu.
"Steve!"
Suara Max membuat Steven memasang wajah penuh tanda tanya.
"Aku sudah mendapatkan catatan medis kedua gadis Steele, beberapa bulan lalu Rosemary Steele menggugurkan kandungannya."
"Rosemary? Rose!"
Akhirnya dia mendapatkan pencerahan, kepada siapa dia harus membalas dendam kematian Mattiash.
Rosemary.
Rose.
"Aku juga ada berita baik lainnya. Apa kamu mau datang ke acara ulang tahun Charles Steele?"
***
Waterbay Hotel dan Resort terlihat begitu ramai dan dipenuhi kesibukan, pada pintu gerbang terdapat para pekerja yang sedang memasang gerbang mawar beraneka warna yang akan menyambut para pengunjung, berlanjut pada pintu masuk juga terdapat gerbang mawar segar yang memberikan aroma segar di udara pesisir lautan.
"Bagaimana? Apa aku sudah terlihat cantik?" tanya Rosemary sambil mengibaskan rambut cokelat kemerahannya.
"Sangat cantik, apa kamu tidak akan menggunakan kalung dari kakek?" tanya Adam yang memandangi adiknya dengan penuh rasa kagum.
"Jangan bilang siapa-siapa, aku baru saja mendapatkan kalung ruby dari kakek karena aku berhasil mendapatkan nilai sempurna semester ini, terutama Rosa."
"Tenang saja, aku juga baru saja mendapatkan helikopter dari kakek karena aku berhasil mendapatkan surat ijin terbang."
Keduanya tertawa bahagia dengan tatapan saling mengejek.
Gaun merah yang dia kenakan sangat pas dengan kalung berbatu ruby dari kakeknya, tidak hanya kalung, dia juga mendapatkan anting berbatu ruby yang menggantung dengan indah ditelinganya berdampingan dengan berlian-berlian kecil yang hampir memenuhi tepi daun telinganya.
Sepatu sandal merah dengan hak tinggi yang tajam menambah penampilannya. Tangannya segera mengkait di lengan Adam, mereka berjalan menuju lift.
"Rosa!" Rosemary memandangi Rosalia dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Penampilan Rosalia selalu terlihat lembut, gaun berwarna putih yang lebih pantas disebut sebagai gaun pengantin berpadu dengan anting berlian yang menjuntai dan kalung emas dengan inisial R yang sangat mencolok.
"Aku ingin membuat kakek senang." ucap Rosa sambil menyentuh liontin di dadanya.
"Kakek pasti senang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Rosemary dengan nada khawatir.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" balas Rosalia.
Pintu lift yang terbuka membuat pembicaraan mereka terputus.
"Lepaskan saja alas kaki yang menyiksa itu!" bisik Adam saat mereka berada di dalam lift, bahkan di saat mereka berdiri, dia bisa merasakan tubuh adiknya limbung.
"Aku sudah membelinya dengan harga yang sangat mahal. MA-HA-L!" balas Rosemary dengan nada setengah berbisik dan menekankan kata mahal di telinga Adam.
"Apa ada pemuda yang membuatmu jatuh cinta?" bisik Adam kembali.
Adam meringis karena bukan jawaban yang dia dapatkan, melainkan cubitan pada pinggangnya.
Pintu lift yang terbuka membuat mereka segera keluar, Rosemary tetap menggandeng lengan Adam sebagai penopang jalannya.
Dia menatap iri pada Rosalia yang dapat mengenakan sepatu hak tinggi dengan anggun dan elegan, semua mata pasti akan memandang Rosalia dengan penuh kekaguman. Rosalia memang selalu anggun dan elegan, semua orang akan membandingkan mereka dalam kemampuan etika dan tata krama sosial.
"Kamu harus ikut kelas modeling atau-"
Adam kembali meringis, kalimatnya belum juga tuntas saat Rosemary kembali mencubit pinggangnya.
"Aku harus bertemu dengan temanku dulu. Kamu jalanlah sendiri."
"Antar aku sampai bertemu kakek!. Ini perintah atau aku akan memberitahu papa jika kamu menyimpan file dewasa di komputermu."
Rosalia memejamkan matanya, dia baru saja pulang dari kencannya bersama Steven. Perlakuan Steven membuatnya merasa dimabuk cinta, tidak seperti dulu di mana kegiatan mereka lebih banyak dihabiskan dengan bercinta. Kali ini semua kata-kata Hilda terbantahkan, Steven tidak mencari kehangatan tubuhnya. Pria itu bahkan hanya memberikan ciuman selamat malam karena Rosalia harus bekerja keesokan harinya. Semua berjalan begitu lambat dan manis seperti keinginannya jika suatu saat dia kembali menjalin cinta. Dada Rosalia menjadi berdebar-debar dengan sikap manis Steven yang lembut dan penuh perhatian, pria itu juga tidak lagi bicara tentang Rosemary yang membuat dirinya semakin merasa tenang. Tidak ada lagi tatapan penuh dendam si mata Steven, yang dia lihat hanyalah tatap teduh yang membuatnya semakin merasa kali ini mereka berada di hubungan yang benar. Steven berusaha mencintai dirinya dengan perlahan, tetapi pasti begitu juga dengan dirinya. Bukan lagi cinta cinta dipenuhi dengan na
"Steve?" Rosalia segera memayungi tubuh Steven yang basah di bawa guyuran hujan. Wajah pria itu tampak pucat, rambut-rambut kasar tampak tumbuh tidak terawat di wajah Steven. "Apa yang harus aku lakukan, Rosa?" Raut wajah Rosalia tampak bingung melihat penampilan dan mendengar suara parau pria itu. Tanpa ragu dia segera membawa Steven menuju kamar apartemennya. Dia segera membawakan jubah mandi agar pria itu dapat berganti pakaian untuk sementara dan merasa hangat setelah terguyur oleh air hujan, Rosalia segera mengeringkan pakaian basah Steven pada mesin pengering pakaian. Jantungnya berdebar cepat, Steven telah rapi kembali. Wajahnya terlihat bersih setelah bercukur dan tanpa sadar Rosalia memperhatikan tubuh Steven yang terpahat indah, dulu dia tidak begitu memperhatikan Steven. "Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu menangis?" Steven menghela nafasnya. "Aku tidak bisa berpisah denganmu, hidupku menjadi kacau sejak kita berpisah. Aku sudah selesai dengan dendam ku terhadap Ros
Hantaman benda keras hampir menghancurkan tempurung kepala Ella, melihat hasil pemeriksaan dan penjelasan dari dokter membuat tubuh Steven terasa dingin. Di dalam pikirannya, Damian Reeves berusaha membungkam Ella sebagai satu-satunya orang yang mengenal wajah dari kekasih Mattiash. Dia masih menduga jika Rosemary adalah kekasih Mattiash. Sulit baginya untuk membayangkan Rosalia yang memiliki sikap lemah lembut mampu melukai seseorang, ditambah Rosalia juga tidak memiliki seseorang yang bisa diandalkan."Biarkan aku yang menjaga bibi, anda bisa pulang terlebih dahulu."Steven menganggukkan kepalanya. "Apa kamu sama sekali tidak mengenal atau pernah melihat kekasih Mattiash. "Gery terdiam, dia tidak yakin apakah dia dapat mengatakan jika dia pernah melihat kekasih majikan bibinya atau dia diam demi menutupi kesalahannya. Steven menatap tajam ke arah Gery yang terlihat bimbang. "Aku hanya ingin tahu apa kamu pernah melihat perempuan itu atau tidak? Aku tidak akan menghukummu. "Mat
Udara terasa begini dingin meskipun hari ini Pinehill sedang dihujani sinar matahari, kabut sama sekali tidak muncul bahkan langit yang biasanya diselimuti awan saat ini berwarna biru cerah. "Apa maksud kalian?" Steven berjalan mondar-mandir dihadapan tiga pekerja lainnya. Tukang kebun yang biasa merawat tanaman dan rumput mansion, istri dari tukang kebun yang sering membantu Ella membersihkan rumah dan keponakan laki-laki Ella yang juga sering membantu membersihkan serta menjaga rumah. "Bibi dipukul oleh seseorang, sekarang dia mengalami koma." Jawaban dari keponakan laki-laki Ella yang bernama Gary membuat Steven memijat pelipisnya. Dia terlambat datang, seseorang berusaha menghilangkan saksi untuknya. "Apa pelakunya sudah ditemukan? " Ketiga orang tersebut menggelengkan kepala mereka serentak. "CCTV?" "Tidak ada CCTV di tepi hutan, Paman Caine menemukan bibi tergeletak di tepi hutan. " Gary kembali menjawab pertanyaan Steven. "Tepi hutan?" Kali ini mereka bertiga ser
"Tidak bisa, aku tidak akan mengijinkannya." Kening Steven berkerut, dia sudah tahu jawaban yang akan diberikan oleh pria yang ada di hadapannya. Dia hanya sedang mencoba dan juga meyakinkan dirinya jika Rosemary memang bersalah. "Apa kamu pikir aku dan istriku berbohong?" Pertanyaan yang membuat wajah Steven memerah malu seakan-akan dia sedang tertangkap mencuri permen. "Aku mengenal istriku sejak dia masih kecil, hingga dia beranjak dewasa dan menjadi dewasa. Aku selalu mengawasinya dengan baik, bahkan saat dia berada di Waterbay dan aku berada di Brighton, aku masih mengawasinya. Tidak hanya aku, tetapi juga kakaknya, jadi tidak ada celah baginya untuk bermalam dengan seorang pria bahkan sampai hamil. Tidak ada kesempatan yang ku berikan untuk dia mengenal pria lain selain aku dan kakaknya." Steven kehilangan rasa percaya dirinya dan keyakinannya melihat tatapan Damian dan bagaimana pria itu mendominasi dirinya. Dia tahu jika pria yang berada di hadapannya saat ini sedang ti
Rosalia tersenyum tipis, apalagi yang bisa dia lakukan selain memberi semangat kepada Steven yang berniat menyakiti Rosemary serta Damian. Dia masih mendengarkan rencana-rencana Steven untuk menyakiti Rosemary. "Aku dengar dia sedang hamil." ucap Rosalia sambil memandang lurus ke arah Steven. Di mata Rosalia, wajah pria itu sama sekali tidak menyembunyikan rasa terkejutnya, menyakiti Rosemary sama saja menyakiti janin di dalam perut Rosemary dan bagi Rosalia hal tersebut sama saja menabuh genderang perang terhadap Damian Reeves. Sementara Steven tentu saja terkejut, dia tidak bodoh dan mudah baginya untuk paham mengapa Damian Reeves dan Rosemary Steele sangat niat mendatanginya pada malam itu. Semua tentu saja demi keamanan Rosemary dan calon anak mereka. Rasa ragu kembali menyelimuti diri Steven, bagaimana jika Damian Reeves dan Rosemary Steele berbohong padanya, bagaimana jika Rosalia memang tidak ada hubungannya dengan Mattiash. "Anak itu pantas mati, bukankah dia juga
Steven tidak mengingat Rosemary.Steven mencintainya sepenuh hati.Steven pada akhirnya melupakan dendamnya.Rosalia berjalan hilir mudik di dalam apartemennya, memikirkan itu semua.Steven setelah sadar dari tidur panjangnya tiba-tiba saja mengalami amnesia pa
"Dia sudah sadar?" mata Rosemary membulat pada kakak dan suaminya saat mendengar berita terbaru tentang Steven Miller."Ya."Ketiganya terdiam, tenggelam di dalam pikiran masing-masing yang membuat ruangan menjadi terasa dingin."Sepertinya aku harus menjelaskan pada pr
Rosemary menggeliatkan badannya, senyum manis mengembang di bibirnya saat melihat ibunya datang membawakannya sarapan."Damian sedang pergi bersama Adam dan papa."Rosemary yang baru saja bangun segera tersadar, dia terbangun mengenakan piyamanya dan tubuhnya juga terasa bersih.
Sebuah kecupan lembut diberikan Damian pada bibir lembut Rosemary saat mereka berada di kamar, dia tahu jika kekasihnya sedang berakting dan akting Rosemary sangat sempurna. Jika saja Rosemary menjadi seorang aktrid, maka dia dapat meraih pemeran utama wanita terbaik, tetapi semua itu tidak akan







