LOGINSteven tersenyum miring saat melihat dua orang gadis cantik mendampingi Charles Steele, dia bisa menebak dengan tepat yang mana Rosemary dan yang mana Rosalia.
Ternyata gadis yang disukai oleh kakaknya adalah gadis yang periang, gadis yang mampu membuat suasana menjadi hidup.
Kamu adalah sinar cerah di dalam kegelapan hidupku, aku mencintaimu.
Steven kembali teringat pada baris kalimat yang di tulis oleh Mattiash dan dengan mudah dia menyetujui ungkapan Mattiash tentang Rosemary, jika saja dia tidak tahu apa yang sudah diperbuat oleh gadis itu kepada kakaknya hingga menyebabkan kakaknya mengakhiri hidupnya, mungkin dia juga akan jatuh hati pada pandangan pertama pada sosok Rosemary.
"Steve, bukankah dia gadis galak yang memegang botol pecah di Bar?"
Max menyadarkan ingatannya pada malam di mana mereka melihat Rosemary untuk pertama kalinya. Ternyata dunia terasa sangat sempit.
"Sialan!" umpat Steven.
Dia sama sekali tidak menyangka jika gadis yang mencuri perhatiannya di Bar, gadis yang sekarang terlihat begitu memikat ternyata penyebab kematian kakaknya.
"Apa kamu tertarik balas dendam pada Rosemary? Aku tidak yakin dia-"
"Sudah jelas pasti dia penyebab kematian Mattiash, gadis sebelahnya terlalu lembut untuk menyakiti seekor lalat apalagi perasaan manusia dan dia juga mengenakan kalung yang sama dengan kalung yang disimpan oleh Mattiash."
"Lalu, apa rencanamu?"
"Menghancurkan jiwanya, membuatnya gila akan lebih menyenangkan daripada melihatnya mati."
***
Acara ulang tahun Charles Steele berjalan meriah, sebagian tamu memilih menginap di Waterbay Hotel dan Resort, termasuk Steven dan Max. Mereka berdua punya kepentingan yang sama, mendekati cucu dari Charles Steele.
Ternyata tidak mudah bagi mereka mendekati kedua bunga milik keluarga Steele, saat sarapan mereka akan mendapati keduanya di kelilingi oleh kerabat dan teman mereka.
"Mereka sepertinya tidak akrab."
Anggukkan kepala Steven menyetujui pernyataan Max tentang kedua gadis Steele tersebut.
"Ke mana Rosemary akan pergi?"
"Sepertinya dia akan pergi naik Yacht."
"Apa dia akan pura jatuh di tengah laut dan seorang pangeran menyelamatkannya?" suara Steven terdengar sinis.
"Jangan terlalu membencinya, nanti kamu jatuh cinta benaran. Temani aku mendekati Rosalia."
Mereka tidak mungkin ikut ke dalam yacht, tetapi mereka bisa dengan mudah mengikuti Rosalia yang akan belanja bersama teman-temannya di pusat perbelanjaan yang berada di Waterbay.
Kesempatan emas tidak akan mereka lewati, terlihat Rosalia yang berpisah dengan teman-temannya dan membuat mereka segera mengikuti gadis itu dari kejauhan.
"Apa dia penyuka sesama jenis?" Steve menutup mulutnya, berusaha menahan tawanya yang akan meledak.
"Sialan!" umpat Max.
Dari kejauhan mereka melihat Rosalia berciuman dengan penuh gairah bersama seorang perempuan, selayaknya sepasang kekasih.
"Pantas saja aku melihat ada yang aneh dengan dirinya, aku hanya penasaran."
"Ya, aku paham." Steven mengulum tawanya sambil meninju pelan lengan Max.
Tidak ada gunanya mereka mengikuti Rosalia, tanpa perlu berusaha, sudah dipastikan Max akan mendapatkan penolakan dari Rosalia.
***
Rosemary berusaha menahan alat pancing yang dia pegang, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan ikan yang dia tangkap.
"Damian, Adam, tolong aku!"
Tubuhnya bisa saja ikut tertarik oleh ikan yang menangkap umpannya.
"Putar yang kuat!"
Tangan dengan guratan otot halus segera berada di atas tangannya, hampir saja Rosemary kehilangan konsentrasinya.
"Ikan apa ini? Apa dia putri duyung atau hiu?" omel Rosemary sambil memutar engkol alat pancingnya.
"Konsentrasi, Rosy!"
"Aku sedang konsentrasi, Damian."
Rosemary tidak dapat berkonsentrasi, jantungnya berdebar kencang, dia sudah dapat menebak jika saat ini pipinya akan memerah bagaikan lobster rebus.
"Waaaaaah! Besar sekali!" teriak Rosemary dengan perasaan gembira. "Terima kasih, Damian." tanpa ragu Rosemary memeluk pinggang ramping Damian.
Akhirnya seekor tuna berukuran besar menggelepar di atas geladak yacht.
"Aku akan menghadiahkannya untuk kakek. Dia pasti bangga padaku dan siapa tahu dia akan memberiku yacht."
"Akan aku dukung, jadi aku bisa pinjam punyamu. Belakangan ini Damian sangat pelit meminjamkan kapalnya."
"Hei! Itu karena menemukan banyak sampah yang kamu tinggalkan di kapalku." protes Damian.
"Makanya carilah pacar, bisa-bisa aku kita kamu ga-"
"Aku normal, lihat saja nanti akan kubuat kamu menangis melihat pacarku yang cantik."
Wajah Rosalia menegang saat dia mendapatkan pesan dari Steven. Berjumpa sebagai teman, seperti itulah pesan yang dia dapatkan karena pria itu akan mengunjungi Brighton.Helaan nafasnya terdengar begitu jelas. Dia tidak dapat menolak Steven begitu saja, mereka berpisah baik-baik, penolakannya hanya akan membuat Steven merasa curiga.Rasa resah kembali menghampirinya, topeng mana yang akan dia kenakan saat bertemu dengan pria itu. Apakah dia tetap harus mengenakan topeng kesedihan? Rosalia kembali menghela nafasnya.Hari di mana Steven kembali hadir di hadapannya telah tiba, mereka berdua duduk berhadapan di kafe yang sama, tempat mereka mengucapkan perpisahan. Saat itu Rosalia mengeluarkan kemampuannya untuk menampilkan wajah sedihnya, sekarang dia berusaha memberikan penampilan yang sangat tenang.Angin berhembus sepoi-sepoi membawa rasa sejuk di pagi hari dengan sinar matahari menghangatkan suasana."Apa kabarmu?""Baik, bagaimana denganmu?""Aku sedang mencoba melepaskan masa lalu,
Di dalam kamarnya, di atas kapal pesiar, aroma dari minuman keras dan asap rokok bersatu padu. Steven terduduk di lantai bersandar pada tempat tidur.Rasa sakit di kepalanya telah mereda, meskipun pikirannya tetap saja dipenuhi nama Rosemary Steele."Sialan!" umpatnya. Steven segera meneguk vodka langsung dari botolnya, seharusnya dia menikmati perjalanannya selama dua malam di kapal pesiar mewah ini, tetapi dia justru terpuruk di dalam kamarnya."Apa aku harus membiarkan saja ingatan yang hilang itu?" omel Steven pada udara di sekitarnya.Dia kembali meneguk vodka langsung dari botolnya. Mencoba menghilangkan rasa sakit dan beban pikirannya menggunakan alkohol.Hingga esok pagi, dia terbangun di atas lantai yang dingin. Rasa pusing kembali menghantam dirinya. Rasa sakit menjalar di tubuhnya, dia bahkan harus merangkak menuju kamar mandi.Steven benar-benar merasa kacau. Pencariannya akan ingatannya yang hilang benar-benar menguras pikiran dan tenaganya.Semuanya menjadi tidak berart
Hembusan angin laut membuat kepulan asap rokok yang dia hembuskan menghilang begitu saja. Steven menatap ke arah air laut yang gelap di bawah sana.Dia sedang membayangkan dirinya, jika dia yang jatuh ke bawah sana, sudah dipastikan dia tidak akan selamat, tetapi Rosemary Steele berhasil selamat.Gadis itu berhasil selamat, sedangkan dirinya tetap berada di dalam penjara.Geladak kapal tampak begitu sunyi, hanya ada dirinya ditemani sekaleng bir dan rokoknya. Steven menyandarkan punggungnya pada pagar, kakinya merosot pada lantai kayu yang tampak bersinar tertimpa lampu-lampu kapal.Steven duduk terpaku dengan napas tidak beraturan. Kepalanya berdenyut hebat, seolah potongan-potongan ingatan yang terkubur bertahun-tahun sedang dipaksa keluar sekaligus.Tid
Rosemary.Rosemary.Rosemary.Nama yang membuatnya bertanya-tanya seperti apa sosok perempuan yang telah membuatnya berada di dalam penjara dan rasa penasarannya semakin menjadi-jadi karena dia tidak bisa menemukan sosok Rosemary di dalam mesin pencarian internet.Semua berita tentang Rosemary Steele seperti lenyap atau tepatnya disembunyikan, saat dia mencari sosok Rosalia Steele, dia masih menemuka sosial media atau berita-berita keluarga Steele yang membawa sosok Rosalia, perempuan yang pernah berada di dalam hidupnya, perempuan yang pernah menjadi kekasihnya, tetapi sosok Rosemary Steele benar-benar lenyap dari pemberitaan apapun.Dia tidak dapat bertanya pada Max, Giselle bahkan Rosalia. Dia sadar jika mereka berusaha menyembunyikan sesuatu terhadap dirinya.Steven melempar tablet pintarnya ke atas tempat tidur. Dia mendengus kesal, bahkan pencariannya di Waterbay tentang Rosemary Steele selama tiga hari ini juga tidak membuahkan hasil apapun.Dari balik kaca mata hitamnya, Steve
"Action!" teriak sutradara.Angin laut berhembus kencang hingga menerbangkan helaian rambut milik Elizabeth Branch. Dia berdiri mematung di ujung dermaga kayu, mendengarkan suara ombak yang menghantam tiang-tiang penyangga dermaga.Elizabeth memejamkan matanya, menarik nafas panjang dan menghembuskanna, tidak ada ekspresi lega pada wajahnya yang terlihat wajah sendunya dengan tatapan mata yang dingin."Cut! Kerja bagus Liz! Setelah ini kita ambil adegan dirimu menaiki yacht. Pertahankan ekspresi sedihmu."Elizabeth kembali sadar, dia tidak berakting, dia sedang terbawa suasana. Rasa sesak di dada kembali mendatangi dirinya dan semua karena sosok Damian Reeves yang tiba-tiba hadir kemudian berlalu begitu saja, mengabaikan keberadaannya. Semua sangat menyakitkan ditambah kehadiran perempuan lain yang dicintai pria itu."Kita lanjut lagi. Sekarang kamu berjalan pelan menuju kapal, tetap dengan wajah sedihmu."Elizabeth menganggukkan kepalanya, dia mengikuti arahan sutradara.Wajahnya kem
"Wah, sedang ada syuting film." Rosemary melihat dari jendela kamar di dalam yacht yang bernamakan dirinya."Apa kamu mau menjadi pemeran figuran?" tanya Damian dengan nada resah."Tidak! Kasihan pemeran utamanya nanti akan kalah memukau." jawab Rosemary dengan rasa penuh percaya diri. "Ditambah apa mungkin suamiku rela melihat tubuh istrinya menjadi tontonan?" kali ini nada penuh ledekan disampaikan oleh Rosemary."Benar juga." Damian segera memeluk tubuh Rosemary dari belakang dan ikut melihat adegan pengambilan gambar yang sedang terjadi di dermaga. "Mau sesuatu yang akan membuatmu bergairah, Rosy?" bisik Damian dengan nada rendah yag menggoda.Tubuhnya segera bereaksi melihat posisi Rosemary yang setengah menungging di atas sofa dalam balutan bikini merah. Jakunnya bergerak saat dia menelan liurnya, tubuh yang dulu terlihat lebih kurus dan mungil sekarang terlihat lebih berisi meskipun tetap saja terasa mungil di dalam pelukannya."Aku tahu apa
Steven mengepalkan tangannya saat melihat kemesraan antara Rosemary dan Damian, mereka berdua bergandengan tangan, tertawa bahagia sambil memilih roti dan semua dilakukan di tanah tempat Mattiash bersemayam.Ingin rasanya dia menyeret Rosemary untuk berlutut di atas makam pria yang menderi
Steven kembali menginjakkan kakinya di Pinehill, dia berada di kamar Mattiash, tidak ada yang berubah dari kamar Mattiash. Dia kembali memandangi kalung dengan liontin khusus berbentuk huruf R, kembali membaca tulisan-tulisan Mattiash."Sialan!" umpatnya.Di layar ponselnya juga ter
Steven tersenyum senang dengan bantuan ayah tirinya dia berhasil masuk ke dalam kerja sama penyewaan gudang dari perusahaan besar. Salah satu warisan yang dia dapatkan dari kematian Mattiash membuat hidupnya menjadi lebih mudah, gudang yang dia kira tidak akan berguna di Pinehill sekara
"Apa kamu benar-benar sudah berdamai dengan Rosemary?" Pertanyaan dari Max membuat Steven menganggukkan kepalanya. "Karena obsesiku ingin mencari orang yang menyebabkan Mattiash patah hati, akhirnya aku mendapatkan wanita yang aku cintai selain Giselle." Hubungann







