LOGINRaia masih sulit menjelaskan kenapa semua bisa terjadi sampai sejauh ini. Kenapa seorang Aksenna Dhanendra, atasannya yang baru itu bisa jadi manusia paling menggoda belakangan ini.Aksenna.Bahkan nama itu mulai terasa akrab dan tak asing terucap dari bibirnya. Raia mulai menyukai semuanya. Suara berat dan dalamnya. Puppy eyesnya, termasuk senyuman tipis yang menyebalkan itu.Dan juga—urat-urat yang samar bertonjolan di punggung tangannya. Kotak-kotak di abs-nya. Terlebih lagi ... the way he kissed, dan apa yang dia lakukan di—ranjang. It so deym!‘uhuk!’ Ia mengusir bayangan mesum itu. Lalu terbersit satu hal di pikiran Raia. ‘Masa sih Aksenna masih single?’Cowok dengan posisi mentereng. bodi all muscle, dan pembawaan sekelas bos besar di NusaBuy itu rasanya terlalu mustahil kalau tidak punya pawang di luar sana.‘Tapi, pikir nanti aja, Raia. Sekarang urus yang lebih krusial dulu.’ batin Raia memperingatkan dirinya sendiri dengan buru-buru.Ia merogoh saku celana piyamanya, mengam
Kesadaran Raia masih tertinggal separuh di alam mimpi saat hidungnya mendadak mengenali wangi yang salah.Wangi yang sukses membuat matanya melebar.Ia mengerjap beberapa kali. Menatap langit-langit kamar yang asing, lalu melirik selimut linen gelap yang membungkus tubuhnya di atas ranjang king-size super luas.Fix, ini kamar Aksenna."Sialan," umpat Raia pelan, langsung duduk tegak dengan jantung yang serasa melorot hingga ke perut.Otaknya berputar cepat merangkai memori semalam. Terakhir yang ia ingat, ia sedang mendengarkan Aksenna menjelaskan grafik pasar, lalu matanya terasa sangat berat, dan ... 'oh, oke gue ketiduran'.Belum sempat Raia menyusun rencana kabur demi menyelamatkan sisa gengsinya, pintu kamar mandi di sudut ruangan mendadak terbuka.Aksenna melangkah keluar dengan bertelanjang dada, hanya mengenakan celana boxer hitam longgar yang bertengger pas di pinggang kokohnya.Sisa air mandi itu masih membasahi dada dan punggung bidangnya, sementara rambut hitamnya yang aca
Bagi Aksenna, hidup adalah sebuah persamaan matematika yang harus diselesaikan dengan presisi. Tidak ada ruang untuk variabel liar, tidak ada toleransi untuk kesalahan, dan tentu saja, tidak ada tempat untuk kekacauan domestik.Setidaknya, itu prinsip yang ia pegang teguh sebelum sebuah pintu apartemennya bergeser terbuka dan aroma harum gyudon serta sup miso menyergap indra penciumannya.Dan sebelum bibir di depannya ini terlalu sayang untuk diabaikan.“So, you are my dinner …”Belum sempat Raia membalas, Aksenna sudah membungkam bibirnya. Pagutan yang menyusul langsung memutus ruang bagi Raia untuk berkelit.“Emmpph,” tangan Raia yang semula menahan dada Aksenna perlahan merayap naik, mencengkeram kerah kemeja putih pria di depannya.Aksenna mempererat cengkeraman tangannya di pinggul Raia, mengangkat sedikit tubuhnya agar menempel rapat pada dada bidang miliknya.Lekukan bibir itu terasa lembut dan pas di bibirnya. Aksenna sendiri tidak bisa membohongi diri; ia benar-benar kecandua
Langit di balik jendela apartemen Aksenna perlahan-lahan berubah warna dari jingga kemerahan menjadi temaram keunguan.Raia melirik jam di dinding; pukul enam lewat sepuluh menit. Suasana di dalam unit terasa senyap dan kosong. Ia meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu melangkah ke area dapur pantry.‘Jangan overthink, Raia. Fokus.’Ia menarik napas panjang, menepis sisa obrolan siang tadi bersama Dira. Tentang Aldi. Tentang utang. Tentang Aksenna.Terlalu banyak yang harus dicerna oleh isi kepalanya saat ini.‘Do something, Raia!’Ia melangkah ke arah sudut dapur, menarik gagang pintu kulkas dua pintu berukuran besar yang langsung memancarkan cahaya putih terang ke wajahnya.Jemarinya telaten menyusuri rak demi rak, memilah bahan-bahan segar yang tersisa di sana.Sebungkus tahu sutra yang lembut, daun bawang segar, beberapa butir telur, hingga paketan daging sapi iris tipis shortplate yang tersimpan di dalam chiller.Membakar kalori di depan kompor malam ini jauh lebih masuk akal
Kafe industrial di Distrik Utama selalu ramai, bahkan pukul tiga siang. Aroma kopi panggang menyambut Raia begitu ia mendorong pintu kaca. Matanya menyapu ruangan, menemukan Dira melambaikan tangan dari sudut dekat jendela.Tanpa basa-basi, Raia menarik kursi dan duduk. Es kopi susu aren favoritnya sudah tersaji, berpadu croissant mentega."Muka lo kusut banget, Ra. Kayak cucian belum disetrika! Tuh kopi lo udah ada," komentar Dira tanpa saring.Raia menghela napas, meneguk es kopinya. "Thanks. Gue baru dari rumah sakit.""Siapa yang sakit? Ponakan?""Iya. Udah aman. Dan bukan itu masalahnya." Raia mendengus sinis, jemarinya memainkan sedotan. "Aldi. Abang gue. Bener-bener tahu cara bikin darah gue mendidih."Dira mencondongkan tubuh. "Kenapa lagi si parasit itu?""Dia mepet gue di basement. Ngatain gue macam-macam. Nuduh gue jadi gundik karena dia tau gue yang bayarin utang dia." Raia menceritakan semuanya dengan nada rendah, api kemarahannya kembali menyala."Anjir!" Dira menggebrak
Tanpa membuang waktu untuk berdebat kosong, ia maju selangkah, menatap manik mata kakaknya tanpa gentar sedikit pun. Harga dirinya baru saja diinjak-injak di tempat parkir yang sepi, dan batas sabarnya benar-benar telah habis."Gue jadi gundik atau enggak, setidaknya uang yang gue pake buat nutupin hidup lo bukan hasil dari ngemis atau mojokin anak kecil kayak lo! Lo sibuk ngurusin sumber uang gue, tapi lupa kalau beras yang dimakan anak-bini Lo di rumah itu dari keringet gue. Kalau mau harga diri lo dihargai, minimal berhenti jadi parasit."“"Sok suci banget lo! Gampang ya ngomong gitu karena lo tinggal nungging atau jual diri ke bos lo, sementara gue harus banting tulang nyari kerja serabutan! Jangan sok bangga jadi pahlawan kesiangan kalau duit lo haram!"Mendengar tuduhan murahan itu, mata Raia membelalak lebar. Darahnya mendidih hingga rasanya ingin meledak detik itu juga. Tanpa pikir panjang, tangan Raia terayun begitu saja.Plak!Suara tamparan keras memecah hening koridor base







