Share

Bab 64

Author: Iyustine
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-15 14:20:03

Notifikasi berbunyi. Uang dua puluh lima juta rupiah dari Bu Nita sudah masuk ke rekeningnya. Pevita tersenyum puas.

“Lima juta pakailah buat mempercantik diri lagi, Sayang. Jangan mau kalah sama Tiara,” Bu Nita.

Pevita tertawa. “Ya nggak mungkin lah, Bun. Perempuan tua itu cuma potong rambut sama ganti gaya baju aja. Ngikutin gayaku dia. Mukanya mah ya masih biasa, tetep tua. Beda lah sama kulit kencangku yang glowing ini.”

Bibir Pevita menjungkit miring. Meski di dalam hati dia mengakui Tiara
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 65

    “Kakak marah ya?” Suara Eva terdengar tercekat.Tiara menelan ludah dulu sebelum tanpa sadar menggeleng dan menjawab. “Aku cuma kaget aja, Va. Mendadak banget.” Tawanya meletus lebih hambar. “Iya, Kak. Maaf ya… tapi aku tetep akan bantu Kakak untuk dapat klien.” “Makasih, Eva, tapi Papi kamu betul, lebih baik kamu fokus dulu ke kuliah. Setelah selesai baru bangun bisnis, mungkin malah jadi perkembangan bisnis kita lebih cepat—”“Nah, persis Papi ngomong gitu, Kak.” Eva sepertinya tidak sadar telah memotong ucapan Tiara. Keduanya tertawa. “Atau… Kak Tiara langsung ke Bang Josh?” ujar Eva setelah tawa mereka terurai. “Sebenarnya proyek kita itu juga dari Bang Josh, yang awal waktu sama… Bayu juga Bang Josh yang cariin.” Eva tampak enggan menyebut nama Farel.“Oke… eh, tapi tabletnya?” “Pakai dulu, Kak. Kalau Kakak sungkan anggap aja sewa, tiap bulan Kakak traktir aku kopi ya.” Eva tertawa lagi. Terdengar sudah tawa ceria seperti biasa. “Terus kalau aku boleh saran, Kakak lebih akt

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 64

    Notifikasi berbunyi. Uang dua puluh lima juta rupiah dari Bu Nita sudah masuk ke rekeningnya. Pevita tersenyum puas.“Lima juta pakailah buat mempercantik diri lagi, Sayang. Jangan mau kalah sama Tiara,” Bu Nita.Pevita tertawa. “Ya nggak mungkin lah, Bun. Perempuan tua itu cuma potong rambut sama ganti gaya baju aja. Ngikutin gayaku dia. Mukanya mah ya masih biasa, tetep tua. Beda lah sama kulit kencangku yang glowing ini.”Bibir Pevita menjungkit miring. Meski di dalam hati dia mengakui Tiara sekarang terlihat jauh lebih muda dan segar, tapi baginya penilaian ibu mertuanya ini terlalu berlebihan. Sampai menyangka Tiara operasi plastik.“Kalau gitu buat beli baju atau apa aja yang kamu suka ya.” Bu Nita mengakhiri telepon.Pevita mendesah panjang, lalu merebahkan badan, memandang langit-langit di kamar kontrakannya. Tanpa sadar mengangguk-angguk, manakala mengingat perkataan Indah. Statusnya sebagai istri Dion memang layak diperjuangkan mati-matian.Punya mertua yang percaya penuh pa

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 63

    Lagi, Tiara dan Eva saling berpandangan. Dan mengernyit bersamaan.“Widi,” kata Pevita. Seulas senyum lebar menghias wajahnya. “Widi bisa jadi saksi kalau aku sebenarnya nggak dicerai dari Mas Dion, cuma disembunyikan di kost—”“Apa? Jadi kamu diusir dari rumah dan disuruh nge-kost? Sukurin… emang pantas sih perempuan nggak bener kayak kamu dibuang.” Eva tak dapat lagi membendung komentar pedas yang sedari tadi ditahannya.Wajah Pevita tampak memerah. Dadanya juga kentara naik turun. “Terserah apa katamu,” ujarnya dengan nada kesal. “Tapi aku menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan. Kita berdua sama-sama menginginkan perceraian itu terjadi kan?”Eva terlihat hendak menyahut, tapi tangan Tiara terburu bergerak menggenggam tangannya. Kode agar gadis itu diam dulu.“Aku yakin kamu tertarik, Mbak. Karena kunci dari gugatanmu itu kan perkara suamimu menikah lagi sama aku.” Senyum Pevita kembali muncul. Merah di wajahnya berangsur-angsur menghilang. “Berikan nomor Widi, biar nanti a

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 62

    Pevita tersenyum kecut. Apa daya, sebab mungkin saat ini hanya Vian yang bisa membantu melanggengkan tujuannya, jadi sekali ini dia rela harus menjilat ludahnya sendiri. Namun dia tidak ingin secara terang-terangan mengajak mantan kekasihnya itu ke tempat tidur. Bisa besar kepala dia.‘Najis! Gue terpaksa ya, karena ini menyangkut soal nyawa. Sodara gue butuh darah.’ Ketik Pevita sebagai balasan dari pesan Vian yang menggoda. Vian adalah seorang staf senior di sebuah pusat kesehatan, dan hanya itu yang terlintas di kepala Pevita untuk memulai aksinya.Tak perlu menunggu lama, telpon Pevita berdering. Tentu saja dari Vian.Tawa lelaki itu memenuhi gendang telinga Pevita begitu panggilan tersambung. “Alamak bidadariku, kenapa harus pura-pura? Kangen mah kangen aja, pen ciuman ya hayuk. Aku tau suami tuamu nggak akan bisa meladeni ke-hyper-an kamu kan?”Pevita meremas ponselnya, menahan darah yang bergejolak. “Gue serius ya, ada sodara gue yang butuh darah AB, lo bisa usahain nggak? Dua

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 61

    ‘Ah, pikiran apa ini,’ keluh Pevita dalam hati. Masa iya dia harus terjerumus cara-cara licik begitu. Dia menarik napas panjang, berdoa semoga percintaan terakhirnya dengan Dion yang kemarin bisa benar-benar membuatnya hamil.“Sekarang kamu hepi-hepi aja, Pev. Bunda kirim uang ya, perawatan ke salon biar nggak kalah sama Tiara.”Pevita tersenyum kecil. Se-berubah apa sih Tiara itu, sampai mertua dan suaminya menyangka perempuan tua itu melakukan operasi plastik? Sewaktu mereka bertemu di mall juga penampilannya masih mirip babu yang sedang jalan-jalan bersama dua majikannya.Panggilan ditutup. Namun tak berapa lama kembali berbunyi, notifikasi pesan dari Indah. Memberitahu kalau dia perlu bantuan Pevita untuk menutupi rencana kencannya dengan manager keuangan.‘Gue bilang ke ibu gue pergi dua hari bareng lo, Pev. Please ngumpet dulu besok sama lusa ya, takut nggak sengaja lo ketemu keluarga gue.’Pevita menghela napas. Dia dan Indah memang sama-sama mengencani manager beristri di temp

  • Cinta Kedua Setelah Menjanda   Bab 60

    Bu Nita menghela napas. “Ya nggak dengan cara merendahkan dirimu juga, Dion.”“Merendahkan diri gimana? Justru itu menunjukkan kalau aku masih mengingat kesukaan istriku, pasti Tiara senang.” Dion menghisap rokoknya dalam-dalam.Perempuan enam puluh tujuh tahun itu kembali menghela napas. “Ya… besok Bunda belikan. Sekarang tidurlah, Bunda liat kamu ini sering banget duduk di sini sampai malam. Nggak baik buat kesehatan kamu.”Dion gegas mematikan api rokoknya, dan meninggalkan puntungnya di asbak. Dia bangkit. Menatap ibunya. “Besok tolong Bunda ikut bujuk Tiara ya.” ***Jam setengah satu, Dion sudah berada di ruang tunggu pengadilan. Duduk tidak tenang, menggoyang-goyangkan kaki. Sebentar-bentar dia melongok ke pintu masuk.Sementara sekotak pastel ayam dan sekotak siffon keju, mengisi bangku di antara Dion dan sang ibu. Bu Nita tampak sama gelisahnya dengan Dion, tapi dia masih terlihat bisa mengendalikan diri. Sibuk dengan ponselnya. “Ngobrol sama Pevita?” Dion melongok layar pon

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status