LOGINDada Tiara terasa meledak. Wajahnya panas sekali, sampai dia sedikit kesulitan bernapas. “Josh?” Mata Tante Ruth terlihat penuh selidik. Dia mendekati sang putra dengan tatapan yang terlihat tajam. Namun seiring langkahnya yang mendekat, senyum perempuan berambut pendek itu muncul perlahan. “Apa… Tiara orangnya?” Tiara spontan melebarkan mata. Meski tidak paham apa yang dimaksudkan Tante Ruth, hatinya tetap berdesir. Mendesirkan rasa takut. Dia masih trauma dengan salah paham yang terjadi antara dirinya dan Eva. Josh terdengar berderai tipis. “Aku bikinin cokelatnya dulu ya, jadi kita bisa bicara lebih rileks.” “Aku nggak! Eh, m-maksudnya… m-makasih, tapi nggak usah.” Suara Tiara bergetar. “A-aku harus beres-beres, k-karena besok aku mau pergi keluar kota.” Tante Ruth dan Josh berpandangan. Tiara cepat mengangguk, untuk meyakinkan perkataanya sendiri. “J-jadi sebenarnya aku ke sini mau pamit sekalian.” Takut-takut dia menatap Josh. “G-gimana cara pamit untuk keluar dari kost-nya?
Tiara dan Josh berbarengan mendongak, saling menatap dalam jarak yang begitu dekat. Entah siapa yang memulai, keduanya sama-sama melempar senyum.“Tiara,” desis Josh lirih. “Kamu cantik sekali.”Tiara terkesiap, cepat-cepat menunduk. Malu, takut dan perasaan-perasaan aneh menjadi tumpang tindih. Sementara dadanya berdentum terus menerus.“Tiara—”“Tablet-nya?” potong Tiara cepat. Berusaha menetralkan suasana.“Aman kok,” sahut Josh. Nadanya kentara bergetar, tidak tenang seperti biasanya. Dia terlihat menggeser sedikit, mengikis jarak meski tidak selebar awalnya.“Aku nyalain tabletnya ya?” kata Josh lagi. Suaranya sudah terdengar sedikit lebih tenang. Dia menoleh. “Tablet baru ya?”Tiara mengangguk. Tangannya sudah mulai dingin. “Yang kemarin punya Eva, udah diminta balik. Semuanya, sampai ke alat-alat yang bikin konten itu, jadi aku beli sendiri….”“Oh.” Josh mengangguk-angguk.‘Astaga…,’ keluh Tiara dalam hati. Dia tidak bermaksud mengadu, tadi hanya topik itu yang terlintas di ota
Tiara tercenung agak lama, memandangi layar ponselnya. Saat ini dia memang belum ingin bertemu Ayah, karena jujur masih ada sakit hati dengan peristiwa yang kemarin-kemarin. Namun sebenarnya dia rindu pada sosok lelaki itu.Ayah yang juga jadi ibunya sejak dia piatu di usia tiga belas tahun, yang rela melakukan apa saja demi dirinya, yang membersamai masa remaja hingga dewasa. Hanya Ayah yang ada dalam hidup Tiara, sampai pada akhirnya Dion mulai intens mendekatinya.“Ti, cowok yang sering datang itu pacar kamu?” tanya Ayah waktu itu.Tiara menelan ludah, takut Ayah marah seperti saat dia pernah didekati beberapa lelaki semasa sekolah dulu. Namun ternyata kali ini Ayah mengelus punggungnya dan lanjut bicara. “Kenalin sama Ayah, Ayah pasti merestui kalau niat cowok itu bener. Ngomong-ngomong kalian ketemu di mana?”“Di tempat kerja, Yah.” Tiara masih menunduk.Ayah mengangguk-angguk. Senyumnya tampak melebar. “Sekantor?”“Bukan, dia sales cat yang sering datang ke kantor untuk nawarin
“Aku punya bayi tujuh bulan, Kak. Sedih banget tiap liat dia rewel karena kelaparan, istriku kadang ikutan nangis.” Bayu melempar senyum getir. Matanya memperlihatkan riak-riak air. “Aku tau pernah salah sangka, pernah ngata-ngatain Kak Tiara juga, maafin aku ya, Kak.”Tiara menatap bimbang. Dia tidak pernah menyimpan dendam pada Bayu, alasan dia memblokir akun sosial media Bayu juga untuk menjaga perasaan Eva.“Usaha Kakak sama Kak Eva lancar kan? Kayaknya banyak pesanan masuk ya, aku kadang kepoin konten Kakak pakai akun aku yang lain.” Bayu menyeringai. Kemudian cepat menunduk, sembari mengusap sudut matanya. “Kalau gini beneran nyesel banget, pernah bikin salah sama Kak Eva, sama Kak Tiara.”“Aku sama Bang Farel kayak kena karma,” lanjut Bayu. “Orderan sepi, tiap ngerjain proyek ada… aja alat yang rusak. Akhirnya klien pada nggak percaya sama Bang Farel.”Tiara akhirnya tersenyum, meski hanya senyum tipis. Bukan mentertawakan cerita soal karma, tapi entah mengapa ada kelegaan yang
“Tiara, ada kabar baik. Orang yang pesan buku kemarin minta kerja sama lagi, tapi sekarang minta spesifik tentang serangga. Coba kamu cari empat atau lima serangga, terus ajukan ya.” Suara Josh terdengar tenang. Meski suaranya seperti bersaing dengan bunyi deru kendaraan dan klakson yang bersahutan, mungkin karena pria itu masih jogging di jalan besar.Tiara menggigit bibir, seraya mengatur desah napasnya agar lebih teratur. Itu memang kabar gembira, kalau saja masih ada Eva dan peralatannya. “Tiara? Halo…?” Suara Josh kini ditimpali derai ringan. “Apa tiba-tiba kamu ketiduran?”“E-eh, maaf.” Tiara menelan ludah. Mencoba ikut berderai. “Tapi… hubungan aku sama Eva belum membaik. Kamu pasti udah denger kan?”Josh sepertinya menghela napas. Suara tarikannya terdengar halus sampai ke telinga Tiara. “Sorry, bukan niat menggurui ya, tapi ini kerjaan profesional. Membangun reputasi itu penting, apalagi untuk kamu yang sedang merintis.” Pria tinggi seratus delapan puluh tiga itu seperti se
“Aduh, s-sambelnya pedes banget ternyata.” Tiara cepat-cepat membuat alibi. Tangannya bergetar saat mengambil gelas. Dan terus gemetaran sepanjang dia menyesap teh di dalamnya.Dia merasa Tante Ruth sedang menyindirnya. Mungkinkah saat bertelepon tadi Eva juga melontarkan prasangka antara dirinya dengan Josh? Soalnya saat Samudera berkata begitu, Tiara yakin pasti sumbernya dari Eva, sebab yang dia tau Samudera tidak mengenal Josh.“Kamu nggak apa-apa, Tiara?” tanya Tante Ruth sembari mengulurkan tisu. “Sambelnya memang pedes banget, Tante pikir kamu biasa makan pedes… tapi nggak nyangka sampai mukamu merah semua gitu. Meler lagi.” Dia menceplos derai ringan.“Iya, Tan, pedes banget. Keselek jadi tambah kerasa pedes?” Tiara tertawa sumbang. Mengelap seputar hidung, yang ternyata memang mengeluarkan cairan.“Duh, jangan-jangan karena kamu kaget sama pertanyaan Tante tadi?” Mata perempuan berambut cepak itu mencorong jenaka. “Maaf ya kalau itu yang bikin kamu keselek.”Tiara meringis. O







