LOGINSetelah makan malam, Emran dan Alya pergi bersama Ricky.Vanesa dan Steven berdiri di luar pintu masuk, menyaksikan mobil itu menghilang di kejauhan.Malam tampak kabur.Vanesa menghela napas.Steven merangkul pinggang ramping Vanesa dan mengecup lembut puncak kepala wanita itu. "Ada apa?""Apa malam ini Emran ada memberitahumu sesuatu?""Nggak, kami juga aslinya nggak sedekat itu," jawab Steven dengan suara rendah. "Kamu tahu kan dia pernah mencoba merebutmu dariku. Aku ini tipe yang menyimpan dendam."Vanesa meliriknya dan berkata, "Dasar kekanak-kanakan."Steven terkekeh pelan, "Sudah jam sembilan, bagaimana kalau kita naik ke atas dan menidurkan anak-anak?"Vanesa mengangguk.Keduanya masuk ke dalam rumah bersama-sama....Di kamar anak-anak, pembacaan buku cerita dengan suara yang rendah dan berat seperti alunan selo itu pun terhenti.Steven menutup buku cerita dan melihat ke sampingnya.Vanesa dan kedua anak mereka sudah tertidur.Steven menaruh buku ceritanya ke atas meja, lalu
"Aku tahu Ibu begitu menderita," kata Ricky. "Aku nggak menyalahkan Ibu karena pergi bermain sendirian, aku hanya khawatir apa dia bisa mengurus dirinya sendiri dengan baik.""Dia pasti akan menjaga dirinya sendiri dengan baik. Lagi pula, ayahmu sudah pergi menemuinya dan aku yakin mereka akan segera kembali."Ricky mengatupkan bibirnya dan tampak ragu sejenak sebelum berkata, "Kira-kira kenapa Ayah begitu membenci Ibu?""Maaf, sebenarnya Bibi juga nggak tahu, tapi menurut Bibi ada kesalahpahaman di antara mereka." Vanesa berkata dengan lembut, "Tapi, ini masalah antar orang dewasa dan mereka harus dibiarkan menyelesaikannya sendiri. Tapi, apa pun yang terjadi pada akhirnya, mereka akan selalu menjadi orang tuamu yang paling mencintaimu."...Tiga hari kemudian, Emran memberikan kabar.Alya telah ditemukan.Emran tidak mengatakan apa-apa di telepon, dia hanya mengatakan akan membawa Alya pulang dalam beberapa hari.Ricky ingin melihat Alya.Jadi, Emran mengirimkan sebuah foto kepada an
Steven terkejut mendengar Emran menggunakan kata-kata yang begitu kasar untuk menggambarkan Alya.Dia merasa sikap Emran terlalu seenaknya.Demi Ricky, Steven merasa dia harus mengingatkan Emran beberapa hal."Pak Emran, aku merasa kamu menjadi sangat emosional setiap kali membahas soal Alya."Emran sontak terkejut."Pak Emran biasanya digambarkan cerdas, humoris dan baik hati. Setelah beberapa interaksi, memang benar bahwa penilaian dunia luar terhadap Pak Emran itu benar. Tapi, sikap Pak Emran selalu jadi nggak biasa setiap kali sudah menyangkut Alya."Emran membalas dengan tajam, "Itu karena aku sangat membenci Alya!"Steven mengangkat alisnya. "Benci atau merasa kecewa?"Emran pun tertegun."Setiap kali aku melihat Pak Emran menegur Alya dengan marah, aku selalu melihat semacam rasa frustrasi dalam diri Pak Emran. Seolah-olah ada yang bertentangan dengan keinginan Pak Emran?"Emran membuka mulutnya, tetapi hanya bisa diam.Melihat reaksi Emran, Steven menjadi makin yakin dengan dug
"Biarkan saja aku memerasmu secara moral." kata Vanesa. "Alya adalah ibu kandung Ricky. Sebagai ayahnya, kamu wajb membantu Ricky memastikan keselamatannya.""Iya, iya," jawab Emran. "Aku akan segera menyuruh orang untuk memesan tiket, tapi bagaimana dengan Ricky ....""Aku akan meminta Steven menjemput Ricky sekarang. Kami akan menjaga Ricky sampai kalian pulang dari Tibona.""Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu Steven datang sebelum aku pergi.""Oke."Setelah menutup telepon, Vanesa menatap Steven.Steven berdiri. "Aku ke sana sekarang. Kamu istirahat saja di rumah.""Menyetirlah dengan hati-hati, jangan ngebut.""Oke."...Sekitar 20 menit kemudian, sebuah mobil Bentley hitam melaju ke rumah Keluarga Nantar.Steven keluar dari mobil.Si kepala pelayan melihatnya seolah-olah dia seorang penyelamat dan bergegas menyambutnya."Tuan Steven ...." Kepala pelayan itu tergagap, "Eh, maksudku Pak Steven. Ya ampun, aku ini sudah tua dan pikun. Aku terlalu bersemangat dan jadi salah memang
Ketika Steven mendorong pintu hingga terbuka, Vanesa sedang termangu menatap ponselnya.Steven pun masuk dan menutup pintu.Vanesa mengangkat kepalanya saat mendengar suara itu.Steven meletakkan bubur di meja di samping dan duduk di tepi tempat tidur. "Ada apa?""Emran baru saja meneleponku ...."Vanesa menjelaskan apa yang terjadi kepada Steven.Setelah mendengarkan, Steven mengatupkan bibirnya dan terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku akan menghubungi Risa dan menyuruh orangnya menyelidiki keberadaan Alya."Benar juga, bagaimana Vanesa bisa melupakan Risa!"Kalau begitu, cepatlah telepon dia."Steven mengeluarkan ponselnya dan menelepon Risa.Risa menjawab panggilan itu dengan sangat cepat.Steven menjelaskan situasinya kepadanya dan Risa langsung menyetujuinya.Setelah menutup telepon, Steven berkata, "Mungkin butuh sedikit waktu. Makan bubur dulu."Vanesa mengangguk.Steven mengambil semangkuk bubur dan duduk di samping tempat tidur."Aku bisa makan sendiri.""Biar kusuapi."Vanes
Albert mengangguk. "Baiklah, aku pulang dulu. Nanti kubawakan obat herbalnya kalau sudah siap.""Terima kasih atas bantuanmu."Albert melambaikan tangannya. "Kita kan keluarga, jangan sungkan begitu."Setelah mengantar Albert pergi, Steven kembali ke kamar tidur.Vanesa tertidur nyenyak, tetapi dia masih sedikit berkeringat.Steven dengan lembut mengeringkannya dengan tisu, dia tidak ingin membangunkan Vanesa....Saat malam tiba, Vanesa baru terbangun.Sebuah lampu tidur kecil menyala di dalam kamar.Ketika Vanesa membuka matanya, dia melihat Steven duduk di samping tempat tidurnya.Melihatnya sudah bangun, Steven pun menyentuh wajah Vanesa. "Kamu sudah bangun. Bagaimana perasaanmu?""Perutku sudah nggak sakit lagi." Vanesa menatap Steven. "Sudah berapa lama aku tidur?""Lebih dari setengah hari," kata Steven. "Paman Albert datang dan meresepkan obat. Kamu harus menjaga kesehatanmu baik-baik di masa depan."Vanesa menghela napas dengan tidak berdaya. "Kali ini aneh, rasa sakitnya jauh







