LOGINAruna melamar sebagai sekretaris pribadi CEO Elion Group bukan karena ambisi, melainkan karena dendam. Kematian adiknya, Aira, meninggalkan satu nama yang terus menghantui pikirannya: Ravian Elarion. Bagi Aruna, Ravian adalah pria berkuasa dengan masa lalu yang patut dicurigai. Menjadi sekretarisnya berarti berada cukup dekat untuk mengamati, mengumpulkan bukti, dan suatu hari menjatuhkannya. Semua berjalan sesuai rencana hingga Aruna mulai melihat sisi Ravian yang tidak pernah muncul di hadapan publik. Ravian Elarion kerap menghilang, menyembunyikan pengobatan, dan mengalami saat-saat ketika pikirannya runtuh sepenuhnya. Dalam kondisi paling rapuh itulah, Aruna justru berada paling dekat. Bukan sebagai sekretaris, melainkan sebagai satu-satunya orang yang memilih untuk diam dan tidak bertanya. Tanpa disadari, hubungan mereka berubah. Aruna datang dengan agenda tersembunyi, namun perlahan terikat secara emosional pada pria yang seharusnya ia benci. Sementara Ravian mulai bergantung pada satu orang yang menyimpan niat paling berbahaya dalam hidupnya. Ketika potongan masa lalu keluarga Elarion mulai terkuak tentang identitas yang disembunyikan dan kebenaran di balik kematian Aira, Aruna dipaksa memilih: meneruskan dendamnya, atau berhenti sebelum segalanya hancur, termasuk dirinya sendiri.
View MoreChapter 1. Zombie (i)
February twelve, Two thousand and twenty-seven.
Eight o'clock.
It was a very busy day at the Center for Disease and Pandemic District Hospital, Washington, DC. A big Laboratory and often used by the Militants. The building was so high and big, and had three entrances; The Front, Left Side, and Backside.
It's painted with white colour and so many staff members work therein and each of them has his or her position. Luis George is forty-one years old and was born in Georgia. He is six-point forty-five feet tall with black hair and brown colored eyes. One could say he's slim.
He was Married to Anabel Williams, and he also works as an Assistant staff at the Center for Disease and Pandemic District Hospital, Washington, DC. He mostly works on blood samples in the Laboratory.
In his mind, he wants to help his family but is that what he wants? Or he needs to fight for his family. A phrase people commonly associate with him is… “No man, for any considerable period, can wear one face to himself and another to the multitude, without finally getting bewildered as to which may be the truth.”
Luis with anxiety dropped the blood sample of a Zombie on the desk of Mrs Jane Raymond and tells her an anonymous person delivered it to the DC that very morning. The Package Read- “A Community is full of Zombies searching for it.”
Mrs Jane Raymond is the Director of the District Hospital located in Washington, DC as well. She is forty-four years old. Born in New York in the United States of America and works as Director at Center For Disease and Pandemic District Hospital, Washington, DC.
She is six point eighty feet tall. Her hair—whine deep-coloured and eyes colour black. She is chubby and intelligent.
After going through the report that was given to her by Luis, She placed a call to the Mr President Office; an order was given by the Mr. president to find the community and blow it off completely. But Luis George felt reluctant to the order because he wants them to find a solution to it.
Such as creating a vaccine. Luis gave that information because he thought they could get a cure for those zombies, but Jane wanted them to kill all the zombies at once without caring.
Mrs Jane Raymond orders the two computer analysts in the laboratory to look for the community by tracking it on the system so that they can confirm if the information was true, or a made-up claim.
On that fateful day,
Mrs Jane Raymond was having an Unpleasant Problem, she was weak, dull and had a tired look over her face; Then she decided to inject herself to relieve the pain. Immediately she took the white syringe and wanted to inject herself, a warning bell rang from Fred and Stone.
Fred is forty-one years old; Born in Italy. He works as a Computer Analysis In the Center for Disease and Pandemic District Hospital, Washington, DC. His five-point forty, five-foot-tall With medium blonde hair and black colored eyes and has a muscular body.
Whilst;
Stone is thirty-five years old; Born in Mexico. He also works as a Computer Analysis In Center For Disease and Pandemic District Hospital, Washington, DC. He is six-point sixty-foot tall, with short gold hair. Furthermore, he also had black eyes and looked Slim.
Suddenly, Mrs Jane Raymond heard the warning alarm. She put the syringe in her lab coat that she was wearing. Then rushed to Fred and Stone post. Fred explained to her that it was somewhere in Tacoma. Then Mrs Jane Raymond walked up to the DC pilot.
Mr Gomez was told to get prepared in the next twenty minutes because they would be leaving to search for the community in Tacoma. She wanted to check how big the community was.
Mr Gomez is forty-three years old, Born in Mexico. Works as Pilot in the Center for Disease and Pandemic District Hospital, Washington, DC. Mrs Jane Raymond ran into Joseph while she was coming from Gomez's office.
After she closes Gomez's door, she turns right and heads to her office; the office is not that far from Mr Gomez's own. Mr Joseph was on his way to Gomez's office when he met Mrs Jane entering her office.
She asked him to get prepared that he would be following her to the scene. Joseph is twenty-eight years old and works as a file keeper in the Center for Disease and Pandemic District Hospital, Washington, DC.
Luis overheard Mrs Jane and Joseph's conversation. Then he walked into Joseph's office to wait for him. Suddenly, Joseph entered his office with his mistress Casandra by his side.
He was kissing Casandra and holding her tight to himself, without knowing that someone was inside his office already. He was about to lock his office door when Luis cleared his throat, by faking a cough.
Joseph and Casandra were so shocked and quickly split up whilst Casandra rushed out of the office. Luis moved closer to Joseph and asked; “You love her?” Then Joseph smiles without uttering a word.
“Guess your wife should know about this, right?” Luis said as he smiled.
“Are you threatening me?”
“No! I just don't want that poor woman to be heartbroken”.
“What do you want?” Joseph asked with a frown.
“Good question!” Luis smiles at Joseph and both of them go out and go straight to Jane's office, but she wasn't there. She was talking to one of the DC Security officers, then she sighted Joseph and Luis coming towards her. She had to excuse herself from moving closer to them.
Not only that, but she as well told Joseph that they should be leaving now.
“Hmm, I am sorry, my wife has a…
Pintu kaca gedung terbuka otomatis saat mereka mendekat.Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut.Lobi J Corps terlihat mewah, tapi dengan gaya yang berbeda dari Elion.Bukan elegan.Lebih ke… mencolok.Terlalu banyak marmer.Terlalu banyak emas.Terlalu banyak hal yang seolah ingin berkata “kami kaya”.Aruna berjalan setengah langkah di belakang Ravian seperti biasa.Pegawai di lobi yang melihat kedatangan Ravian segera berlari kecil menghampiri. "Selamat datang Pak Ravian Elarion, saya akan memandu anda ke ruangan."Ravian tidak membalas apapun, namun pegawai itu langsung menuntunnya dan Ravian juga langsung mengikuti dari belakang. Aruna mengikuti di belakang Ravian, matanya menyapu lorong panjang yang dipenuhi lukisan besar dan lampu gantung berlebihan.Semakin masuk ke dalam, suasananya semakin sunyi.Hingga akhirnya mereka berdiri di depan pintu ruangan yang begitu besar dan mewah. 'Sepertinya CEO perusahaan ini benar-benar ingin menunjukkan kalau dia kaya.' Ba
Aruna keluar dari apartemen Vio dengan langkah pelan.Lorong apartemen sunyi.Hanya suara langkahnya sendiri yang terdengar.Pukul sudah lewat tengah malam.Udara terasa lebih dingin dari biasanya.Ia menekan tombol lift tanpa benar-benar sadar.Pikirannya masih tertinggal di ruang tamu tadi.Di kata-kata Vio.Di foto dokter.Dan entah kenapa… di senyum Ravian sore tadi.Pintu lift terbuka.Aruna masuk.Bersandar di dinding.Menatap pantulan dirinya di cermin.Wajahnya terlihat lelah.Bukan karena pekerjaan.Tapi karena pikirannya yang tak berhenti berjalan."Aku harus segera pulang, besok masih banyak yang harus dilakukan."Termasuk untuk mencari tahu, apakah dokter itu sungguhan dokter Ravian. Pintu lift terbuka di lantai parkir.Langkahnya kembali terdengar pelan di ruangan luas itu.Mobilnya menyala dengan bunyi halus.Ia keluar dari area apartemen dan menyusuri jalanan kota yang hampir kosong.Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis tak berujung di depan matanya.Sepanjang per
Bel pintu restoran berdenting pelan saat Aruna masuk.Aroma makanan hangat menyambut.Tempat itu sama seperti biasa.Tenang.Akrab.Dan terasa nyaman.Vio sudah duduk di meja pojok.Topi hitamnya masih terpasang, dan ekspresinya selalu santai seperti biasanya. Ia langsung berdiri begitu Aruna mendekat.“Kau lama sekali.”“Aku dari luar kantor.”"Sepertinya kau bekerja keras setiap harinya." Vio kembali duduk setelah membantu menarik kursi untuk Aruna duduk. "Ya, begitulah." Ia tak akan bilang bahwa ia selesai menghabiskan waktu dengan es krim dan wahana permainan. "Jadi, hal penting apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Aruna dengan cepat, sebelum Vio mulai menanyainya apa saja yang ia lakukan hari ini. "Ah benar," Vio segera mengeluarkan tabletnya dan meletakkan di atas meja. "Aku menemukan hal baru," ia menggeser layar-layar tabletnya dan membuka ke aplikasi Galeri. Aruna bisa menebak bahwa hal penting ini berupa gambar. Dan saat Vio tengah mencari-cari gambar untuk dit
Kabin bianglala berhenti beberapa detik di puncak.Tidak bergerak.Seolah sengaja memberi waktu lebih lama pada pemandangan itu.Dan pada mereka.Lampu kota di bawah sudah menyala penuh.Langit tinggal menyisakan garis oranye tipis di ujung barat.Ravian tidak mengalihkan pandangannya dari Aruna.“Aneh ya,” ucapnya pelan.“Apa, Pak?”“Aku merasa hari ini kau yang membawaku keluar… tapi entah kenapa rasanya seperti aku yang sedang melihatmu keluar dari sesuatu.”Aruna terdiam.Kalimat itu terasa terlalu dekat.Terlalu tepat.Ravian menyandarkan kepalanya ke kaca.“Sejak tadi, kau terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras. Bukan tentang pekerjaanku. Tapi tentang dirimu sendiri.”Aruna refleks mengalihkan pandangan.Ke luar.Ke kota.Ke mana saja asal bukan ke pria di depannya.Bianglala mulai bergerak turun perlahan.Suara wahana mulai terdengar lagi dari bawah.Aruna akhirnya menoleh.Menatap Ravian dengan sorot yang sulit dijelaskan."Apakah anda ingin kembali bekerja lembur?"
Mereka berjalan pelan menjauh dari area rollercoaster.Langkah Ravian masih sedikit tidak stabil.Bukan karena lemah.Tapi karena tubuhnya masih mencoba mengejar napas yang tadi sempat tertinggal di tikungan-tikungan tajam itu.Aruna berjalan di sampingnya tanpa bicara.Sesekali melirik.Memastikan
Aruna mengedip pelan.“…Es krim, Pak?”Ravian sudah mengambil jasnya dari sandaran kursi.“Sekarang.”Tanpa Aruna sempat berpikir lama, mereka berdua sudah berada di dalam Super Mart yang hanya berjarak 7 menit jika berjalan kaki dari Elion Group. Aruna sesekali melirik ke arah pria yang duduk di
Dua hari berlalu tanpa apa pun. Ravian tetap bekerja dari kantor seperti biasa. Aruna bolak-balik membawa dokumen, rapat, laporan, semuanya berjalan normal. Siang itu, ketika Aruna kembali dari ruang arsip dengan setumpuk map di tangannya ia melihat seseorang duduk di kursi tunggu depan ruang
Pagi itu, Aruna datang lebih awal dari biasanya.Bukan karena pekerjaan.Tapi karena ia tidak ingin terlalu lama sendirian dengan pikirannya.Elion Group masih setengah terjaga. Lampu lorong menyala terang. Udara gedung terasa dingin dan terlalu bersih.Ia baru


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.