LOGINAruna melamar sebagai sekretaris pribadi CEO Elion Group bukan karena ambisi, melainkan karena dendam. Kematian adiknya, Aira, meninggalkan satu nama yang terus menghantui pikirannya: Ravian Elarion. Bagi Aruna, Ravian adalah pria berkuasa dengan masa lalu yang patut dicurigai. Menjadi sekretarisnya berarti berada cukup dekat untuk mengamati, mengumpulkan bukti, dan suatu hari menjatuhkannya. Semua berjalan sesuai rencana hingga Aruna mulai melihat sisi Ravian yang tidak pernah muncul di hadapan publik. Ravian Elarion kerap menghilang, menyembunyikan pengobatan, dan mengalami saat-saat ketika pikirannya runtuh sepenuhnya. Dalam kondisi paling rapuh itulah, Aruna justru berada paling dekat. Bukan sebagai sekretaris, melainkan sebagai satu-satunya orang yang memilih untuk diam dan tidak bertanya. Tanpa disadari, hubungan mereka berubah. Aruna datang dengan agenda tersembunyi, namun perlahan terikat secara emosional pada pria yang seharusnya ia benci. Sementara Ravian mulai bergantung pada satu orang yang menyimpan niat paling berbahaya dalam hidupnya. Ketika potongan masa lalu keluarga Elarion mulai terkuak tentang identitas yang disembunyikan dan kebenaran di balik kematian Aira, Aruna dipaksa memilih: meneruskan dendamnya, atau berhenti sebelum segalanya hancur, termasuk dirinya sendiri.
View MoreAruna berdiri di depan gedung Elion Group tanpa menengadah.
Ia tidak perlu melihat ke atas untuk tahu betapa tingginya bangunan itu. Selama tiga tahun terakhir, gedung ini sudah cukup sering muncul di kepalanya dalam potongan berita, laporan perusahaan, dan satu nama yang terus diulang oleh media. Ravian Elarion. CEO Elion Group. Nama itu selalu muncul setelah satu peristiwa yang tidak pernah selesai di hidup Aruna yaitu kematian adiknya. Aira. Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana hubungan itu dimulai. Aira tidak pernah menyebut nama, tidak pernah membawa pulang cerita. Ia hanya mengatakan satu hal, berulang kali, dengan nada yang selalu sama pelan dan tertahan namun tersenyum senang. “Aku lagi dekat sama orang kantor.” Aruna tidak bertanya lebih jauh. Ia baru tahu setelah Aira meninggal, setelah berita menyebar, setelah semua orang mulai berbisik: "Aira berpacaran dengan CEO Elion Group". Keadaan sang adik setelah proses autopsi begitu mengenaskan, dikatakan bahwa terdapat banyak kekerasan fisik dan cekikan di leher Aira adalah hal terakhir yang membunuhnya. Bagaikan disambar petir, orang-orang berkata ia meninggal karena sakit, bunuh diri, dan sebagainya. Namun yang didapatinya malah ternyata sang adik meninggal karena menjadi korban kekerasan? pihak rumah sakit mengatakan bahwa dari bekas cekikan itu sangat besar kemungkinan pelakunya adalah laki-laki. Seluruh matanya menjadi gelap, ia tahu bahwa tempat terakhir yang dikunjungi sang adik adalah kediaman pria itu, CEO Elion Group. Dan saat itu, nama yang tercatat sebagai CEO adalah Ravian Elarion. Tidak ada nama lain. Tidak ada penjelasan lain. Bagi Aruna, itu sudah cukup. Ia melamar sebagai sekretaris dengan persiapan matang dan niat yang tidak pernah ia tulis di mana pun. Ia tidak datang untuk membangun karier. Ia datang untuk mendekat. Wawancara berlangsung cepat. Terlalu cepat untuk posisi yang seharusnya krusial. Aruna menjawab semua pertanyaan seperlunya, tidak lebih, tidak kurang. Ia tidak berusaha terlihat istimewa. Ia hanya perlu diterima. “CEO akan menemui Anda sekarang,” kata staf HR singkat. Aruna berdiri, langkahnya stabil ketika memasuki ruang kerja Ravian Elarion. Ruang itu sunyi dan bersih, nyaris tanpa jejak kehidupan pribadi. Ravian berdiri di dekat jendela, membelakanginya, seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan segalanya dari jarak aman. “Duduk,” katanya tanpa menoleh. Aruna pun duduk. “Kenapa melamar sebagai sekretaris pribadi saya?" Pertanyaan itu terdengar datar. Tidak ramah. Tidak tertarik. Aruna sudah hafal jawabannya. “Saya terbiasa bekerja langsung dengan pengambil keputusan,” katanya tenang. “Dan saya tidak tertarik pada posisi yang setengah-setengah.” Ravian berbalik. Tatapannya tajam dan dingin. Tidak ada emosi di sana, hanya penilaian. Aruna tidak menghindar. Ia sudah terlalu lama menunggu momen ini untuk merasa gentar. “Posisi ini menuntut loyalitas,” ujar Ravian. "Dan saya tidak menyukai orang yang membawa urusan pribadi ke pekerjaan.” “Saya datang untuk bekerja,” jawab Aruna. Hening. Beberapa detik berlalu sebelum Ravian mengangguk tipis. “Mulai hari ini,” katanya, “Anda sekretaris saya.” Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada senyum. Namun Aruna tahu, ia sudah berada cukup dekat. Sore itu, Aruna duduk di meja kerjanya yang baru, tepat di luar ruang CEO. Ia membuka buku agenda kosong dan menulis satu kalimat pendek di halaman pertama. Tujuan: Ravian Elarion. Ia menutup buku itu perlahan. Aruna tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik kematian Aira. Namun satu hal yang ia yakini selama 3 tahun ini, bahwa pria itulah yang telah membunuh adiknya. Dengan aura dingin, mata berwarna biru dan tatapan yang tanpa ampun itu, membuat Aruna tersenyum tipis. "Benar-benar wajah seorang pembunuh."Pintu kaca gedung terbuka otomatis saat mereka mendekat.Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut.Lobi J Corps terlihat mewah, tapi dengan gaya yang berbeda dari Elion.Bukan elegan.Lebih ke… mencolok.Terlalu banyak marmer.Terlalu banyak emas.Terlalu banyak hal yang seolah ingin berkata “kami kaya”.Aruna berjalan setengah langkah di belakang Ravian seperti biasa.Pegawai di lobi yang melihat kedatangan Ravian segera berlari kecil menghampiri. "Selamat datang Pak Ravian Elarion, saya akan memandu anda ke ruangan."Ravian tidak membalas apapun, namun pegawai itu langsung menuntunnya dan Ravian juga langsung mengikuti dari belakang. Aruna mengikuti di belakang Ravian, matanya menyapu lorong panjang yang dipenuhi lukisan besar dan lampu gantung berlebihan.Semakin masuk ke dalam, suasananya semakin sunyi.Hingga akhirnya mereka berdiri di depan pintu ruangan yang begitu besar dan mewah. 'Sepertinya CEO perusahaan ini benar-benar ingin menunjukkan kalau dia kaya.' Ba
Aruna keluar dari apartemen Vio dengan langkah pelan.Lorong apartemen sunyi.Hanya suara langkahnya sendiri yang terdengar.Pukul sudah lewat tengah malam.Udara terasa lebih dingin dari biasanya.Ia menekan tombol lift tanpa benar-benar sadar.Pikirannya masih tertinggal di ruang tamu tadi.Di kata-kata Vio.Di foto dokter.Dan entah kenapa… di senyum Ravian sore tadi.Pintu lift terbuka.Aruna masuk.Bersandar di dinding.Menatap pantulan dirinya di cermin.Wajahnya terlihat lelah.Bukan karena pekerjaan.Tapi karena pikirannya yang tak berhenti berjalan."Aku harus segera pulang, besok masih banyak yang harus dilakukan."Termasuk untuk mencari tahu, apakah dokter itu sungguhan dokter Ravian. Pintu lift terbuka di lantai parkir.Langkahnya kembali terdengar pelan di ruangan luas itu.Mobilnya menyala dengan bunyi halus.Ia keluar dari area apartemen dan menyusuri jalanan kota yang hampir kosong.Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis tak berujung di depan matanya.Sepanjang per
Bel pintu restoran berdenting pelan saat Aruna masuk.Aroma makanan hangat menyambut.Tempat itu sama seperti biasa.Tenang.Akrab.Dan terasa nyaman.Vio sudah duduk di meja pojok.Topi hitamnya masih terpasang, dan ekspresinya selalu santai seperti biasanya. Ia langsung berdiri begitu Aruna mendekat.“Kau lama sekali.”“Aku dari luar kantor.”"Sepertinya kau bekerja keras setiap harinya." Vio kembali duduk setelah membantu menarik kursi untuk Aruna duduk. "Ya, begitulah." Ia tak akan bilang bahwa ia selesai menghabiskan waktu dengan es krim dan wahana permainan. "Jadi, hal penting apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanya Aruna dengan cepat, sebelum Vio mulai menanyainya apa saja yang ia lakukan hari ini. "Ah benar," Vio segera mengeluarkan tabletnya dan meletakkan di atas meja. "Aku menemukan hal baru," ia menggeser layar-layar tabletnya dan membuka ke aplikasi Galeri. Aruna bisa menebak bahwa hal penting ini berupa gambar. Dan saat Vio tengah mencari-cari gambar untuk dit
Kabin bianglala berhenti beberapa detik di puncak.Tidak bergerak.Seolah sengaja memberi waktu lebih lama pada pemandangan itu.Dan pada mereka.Lampu kota di bawah sudah menyala penuh.Langit tinggal menyisakan garis oranye tipis di ujung barat.Ravian tidak mengalihkan pandangannya dari Aruna.“Aneh ya,” ucapnya pelan.“Apa, Pak?”“Aku merasa hari ini kau yang membawaku keluar… tapi entah kenapa rasanya seperti aku yang sedang melihatmu keluar dari sesuatu.”Aruna terdiam.Kalimat itu terasa terlalu dekat.Terlalu tepat.Ravian menyandarkan kepalanya ke kaca.“Sejak tadi, kau terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras. Bukan tentang pekerjaanku. Tapi tentang dirimu sendiri.”Aruna refleks mengalihkan pandangan.Ke luar.Ke kota.Ke mana saja asal bukan ke pria di depannya.Bianglala mulai bergerak turun perlahan.Suara wahana mulai terdengar lagi dari bawah.Aruna akhirnya menoleh.Menatap Ravian dengan sorot yang sulit dijelaskan."Apakah anda ingin kembali bekerja lembur?"






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.